Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 69


__ADS_3

"Lihat lebih dekat, apakah ini berbeda dari yang kamu lihat saat pertama kali masuk? Saat kamu membawaku masuk, meskipun aku tidak bangun, aku benar-benar merasakan air di kolam. Rasanya sudah berubah di bandingkan dengan air yang kamu berikan kepadaku sebelumnya, air ini lebih banyak kekuatan dan membangkitkan kekuatanku," terka Abyan.


Pada saat itu, Abyan memang tidak bisa membuka mataya dan berbicara, tapi kelima inderanya lebih tajam. Ia tidak yakin, bahwa sesuatu yang ia tidak tahu benar-benar terjadi hari itu.


"Berbeda?" Natha menarik pandangannya dari Abyan dan melihat sekeliling.


Abyan tidak tergesa untuk membuat Natha mengetahuinya. Tetapi melihat setiap sudut dengan hati-hati, tampak biasa saja. Untuk saat ini tampak tidak berbahaya untuk Natha, tapi Abyan tidak menjamin apakah tempat ini tidak akan berbahaya di masa depan.


"Aku menemukannya!" tunjuk Natha pada stalagmit di tengah kolam dan berkata, "Akarnya. Yang awalnya berwarna abu-abu putih, menjadi merah."


"Merah?" Mata Abyan tajam dan lampu yang menyala tampak menyapu.


Akar stalagmit memang berwarna merah seakan berlumuran darah. Abyan secara naluriah melirik tangan Natha. Setelah beberapa saat, Abyan mengeluarkan pisau yang di bawanya dan membuat luka di telapak tangannya.


"Abyan!" teriak Natha tanpa sadar. Gerakan Abyan terlalu cepat, Natha tidak punya waktu untuk menghentikannya. Saat Natha akan mengulurkan tangannya, telapak tangan Abyan sudah jatuh ke dalam kolam.


Segera setelah itu, permukaan kolam berfluktuasi. Seolah-olah tanpa sadar, darah berkumpul menuju akar stalagmit.


Natha langsung menyeret Abyan berjongkok ke tepi kolam. Lalu dia mengambil Air di tangannya untuk membersihkan luka di tangan Abyan.


Abyan tidak menolak. Dia melihat kecepatan penyembuhannya, "Benar saja. Itu tidak menyatu."


Natha menarik nafas lega melihat tangan Abyan kembali pulih seperti sebelumnya. Lalu bertanya-tanya, "Apa yang tidak menyatu?"


"Itu hanya tebakan dan tidak bisa di gunakan dengan dasar fakta." Abyan menarik tangan Natha dan duduk di sana berdampingan. Lalu Abyan menunjuk akar stalagmit, "Kekuatan yang aku katakan sebelumnya merupakan rasa darah. Kalau aku tidak salah, tangan kamu terluka ketika kamu membawaku ke sini terakhir kali. Lalu saat di sini, kamu hanya memberi aku minum dengan tanganmu, sehingga darah menyatu dengan air dan memberi kekuatan pada air kolam. Tapi juga secara tidak langsung menyehatkan stalagmit."


"Oh, jadi kamu mencobanya dengan darahmu sendiri?" tanya Natha yang di angguki Abyan. Mendengar penjelasannya, tiba-tiba Natha menunjuk ke stalagmit akar mulut knut, "Itu berubah menjadi merah, tapi air kolam tidak menyerap darahku."


Dengan kata lain, air kolam hanya mengenali darah Natha dan akan selalu menjadi pemiliknya. Setelah mengkonfirmasi ini, Abyan benar-benar lega. Dengan begitu, Natha di akui sebagai tuannya, tidak mungkin untuk menyakiti Natha.


Abyan mencemaskan hal lain, "Dalam hal ini, kamu bisa masuk keluar sesuka hati. Dan kamu ambil air secara langsung, jangan mengambilnya dengan cara yang menyakiti dirimu sendiri."


"Masuk langsung? Apakah aman? Bagaimana jika seseorang seara tidak sengaja menemukan bahwa aku tidak ada di dalam kamar? Itu akan menimbulkan masalah. Tidak bisakah aku yang bersembunyi di kamar mandi dan membawa segelas air?" kata Natha tidak yakin.


"Kalau begitu, aku akan menjaga di luar dan kamu mengambilnya," tutur Abyan lembut.


Abyan berkata seperti itu jika memang ia sedikit lalai. Tapi, walaupun suatu hari mereka lupa menutup pintu, dan ada yang melihat rahasia Natha, Abyan pasti bisa menyelesaikan masalahnya.

__ADS_1


Natha berfikir sejenak. Lalu mengangguk setuju, "Baiklah."


Melihatnya setuju, kemarahan di hati Abyan lenyap. Ia tidak perlu khawatir lagi karena Natha melukai tangannya.


***


Sebulan berlalu dengan ketenangan bagi Natha dan Abyan. Walaupun mereka tidak mengusik Natha lagi, kewaspadaan masih harus ada.


Natha dan Abyan semakin sibuk akan pekerjaan mereka. Abyan sudah lama kembali bekerja di perusahaannya sendiri. Begitupula Natha yang mengurus Lexandra di tengah sekolahnya. Mereka hanya akan bertemu ketika waktu istirahat, atau malam hari. Tapi, itupun waktu yang sebentar karena mereka langsung tertidur karena lelah setelah kegiatan di siang harinya.


Pukul tujuh malam, Natha masih di kantornya. Ia berniat pergi ke perusahaan Abyan tanpa memberi tahu Abyan.


Biasanya, Natha akan pulang jam seperti hari ini, tapi Abyan selalu pulang lebih malam darinya, jadi Natha berniat ke kantornya.


Di dalam perjalanan menuju ke sana bersama sopirnya, Natha menghubungi Abyan yang di angkat bahkan sebelum lima detik.


"Hallo?" sapa Natha mengulum senyum.


"Hallo, Dear. Ada apa?" sahut Abyan dengan suara terdengar semangat dengan kelelahan yang di sembunyikan.


"Aku akan pergi ke perusahaanmu sekarang."


"Oh, ya?! Kalau begitu, aku akan bersiap dahulu.."


"Bersiap apa?"


"Pulang."


"Aku ke sana bukan untuk menjemputmu pulang, tapi--"


Abyan memotongnya, "Tidak apa-apa. Saat kamu datang, kita langsung pulang."


"Oke." Natha menyetujui. "Butuh kurang dari sepuluh menit lagi aku sampai. Kamu tunggu di atas saja, nanti aku akan ke sana."


"Tidak. Aku menunggumu di bawah."


"Baiklah, tunggu saja," pasrah Natha. Lalu berkata lagi, "Aku tutup te--"

__ADS_1


"Jangan! Kamu jangan menutupnya sampai tiba. Aku masih ingin mengobrol denganmu.." Suara Abyan sedikit merengek.


Natha tersenyum geli, "Baiklah, baiklah."


Mereka mengobrol ringan di dalam telepon selama sepuluh menit itu. Setelah Natha tiba, ia melihat Abyan berdiri sendirian tidak jauh dari letak perusahaannya.


Natha mengerutkan kening. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya merasa tidak pantas seorang CEO itu yang tengah memakai setelan jas hitam formal, berdiri di sisi jalan.


Telepon masih tersambung, tapi Natha tidak memberitahunya sampai. Malah berkata lain, "Jalannya macet. Aku harap kamu tidak kesal menungguku lama."


Natha melihat Abyan dari kejauhan tersenyum lembut, sama sekali tidak kesal. Lalu pria itu menjawab, "Tidak apa-apa. Aku masih akan terus menunggumu."


Natha terkikik pelan, namun merasa sangat tersentuh dengannya. Natha keluar dari mobil. Jarak mobil lumayan masih jauh, jadi Abyan tidak melihat mobilnya.


Natha berniat mengejutkannya. Setelah sampai beberapa meter, Natha langsung berkata, "Aku sampai."


Natha melihat Abyan melirik ke sana kemari mencari mobilnya. Setelah matanya tertuju pada mobilnya, Abyan berkata dengan cemberut, "Katamu macet."


Natha terkekeh, "Aku berbohong bercanda."


"Aku ke sana."


"Jangan!"


Langkah Abyan berhenti, "Kenapa?"


"Aku berada di sisi kirimu."


Abyan menoleh. Lalu tersenyum ketika melihat Natha dengan jarak beberapa meter darinya. Pria itu mengomel, "Kamu ini.."


Natha tertawa. Namun tawanya terhenti dan senyumannya luntur saat melihat seseorang dengan pakaian hitam dan topeng yang menutupi wajahnya yang tiba-tiba muncul dari belakang Abyan. Yang paling membuat Natha shock adalah dia membawa pisau dengan tangan mengacung pertanda siap di tusukkan ke arah Abyan.


"Dear? Ada apa?" Abyan masih berbicara di dalam telepon ketika melihat ekspresi tegang Natha.


Natha mengabaikannya. Matanya terbelalak dan jantungnya berpacu cepat saat melihat orang itu membuka topengnya dan menyeringai ke arahnya. Natha menjatuhkan ponselnya dan berlari sekuat tenaga ke arah Abyan sebelum orang itu mencapai Abyan.


Sebelum Abyan bereaksi, Natha sudah terjun merentangkan tangan memeluk lehernya untuk menahan pisau yang terarahkan pada punggung Abyan.

__ADS_1


Tsuk!


"Ah!"


__ADS_2