
Pada siang hari menjelang sore, Natha pulang sekolah dan tidak mendapati keberadaan Abyan di kamar. Ia kira, Abyan memang sedang dalam urusan pekerjaan, ternyata pembantunya memberitahu bahwa suaminya itu ke rumah sakit.
Tentu saja, Natha sangat panik. Tapi kepanikannya mereda ketika mendapati panggilan telepon bahwa Abyan baik-baik saja.
Kaki Abyan bereaksi lagi ketika siang hari, pengawalnya membantunya ke rumah sakit.
Dia bisa saja memanggil dokter ke rumahnya, namun, pemeriksaan kaki Abyan harus memakai alat khusus yang berada di rumah sakit.
Setelah Abyan pulang, ia memberitahu Natha semuanya, termasuk yang boleh dan tidak boleh di makan.
Mulai saat itu, Abyan dan Natha makan setiap harinya tanpa di meja makan dengan yang lain.
Karena Abyan merasakan sensasi di kakinya, dokter mengontrol dengan ketat pola makannya. Semua makanan harus makanan bergizi dan tidak boleh ada kesalahan sedikitpun.
Natha yang menyajikan dan menjaga pola makan Abyan. Ia sangat teliti dan semakin perhatian. Pada saat yang sama, mata air di berikan kepada Abyan untuk di minum setiap harinya bahkan meningkat.
Semakin lama, kedua kaki Abyan mulai merasakan rasa pegal atau sakit. Dokter mengatakan itu sangat baik, hanya menunggu waktu entah berapa lama untuk bisa berjalan kembali.
***
"Natha."
Panggilan seseorang membuat Natha menoleh. Di sana terdapat seorang pria yang sangat tidak ingin di temuinya--Galen.
Natha mengerutkan kening. Ia menjadi menyesal karena tidak menerima ajakan Aksa dan Theresa untuk pulang bersama-sama.
Sebelumnya, Natha dan kedua temannya serta beberapa orang teman sekelasnya pergi ke cafe untuk bekerja kelompok, namun saat ini mereka sudah pulang.
Tadinya, Aksa dan Theresa mengajaknya untuk pulang bersama karena sopirnya memang sudah Natha perintahkan untuk pulang terdahulu. Ia akan memanggilnya kembali untuk menjemput setelah kerja kelompok selesai.
Belum sempat manggil sopirnya, Natha harus bertemu dengan Galen.
Natha mulai beranjak dan melangkah untuk pergi tanpa menanggapinya.
__ADS_1
Tentu saja Galen tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Ia berjalan ke depan Natha membuat langkah Natha berhenti.
"Natha, aku ingin berbicara sesuatu denganmu. Beri aku kesempatan untuk saat ini.."
Natha menatapnya dingin tanpa ekspresi. Ketika mendengar notifikasi di ponselnya, ia melihat pesan teks Abyan bahwa suaminya itu menunggunya di luar.
"Jangan menghalangi jalanku. Aku tidak mempunyai waktu, suamiku sedang menunggu di luar," ketusnya kesal.
Mendengar itu, Galen tersenyum masam dan semakin tidak rela membiarkannya pergi. Ia mencekal pergelangan tangannya, "Hanya sebentar, Nath!"
Natha menepisnya kasar. Ekspresinya semakin dingin, "Jangan menyentuhku!"
"Natha, Aku tidak tahu mengapa sikapmu berubah kepadaku. Jika ini berhubungan dengan pernikahan itu, kamu pasti mengerti bahwa semua yang terjadi bukanlah kehendak dan kesalahanku. Apakah aku dan kamu harus bertengkar setiap kali bertemu? Aku sudah menjelaskan apa yang harus ku jelaskan sebelumnya. Apakah kamu bisa memaafkan saat ini?" Langkah Galen semakin maju mendekat, begitupula Natha semakin mundur untuk menjauh.
Kata-kata Galen sepertinya sama sekali tidak menembus telinga Natha. Ekspresi Natha sama sekali tidak berubah. Apalagi menanggapi.
Melihatnya sudah berjalan pergi, Galen menggertakan gigi, "Kamu harus tahu bahwa aku dengan Nhita sudah bercerai. Kamu juga pasti tahu kenapa saat ini aku datang kepadamu. Aku sudah bebas sekarang. Aku hanya ingin kamu memaafkanku.."
Langkah Natha berhenti. Ia memalingkan wajah melihat Galen dari sudut matanya. Keningnya mengerut mendengar kalimat pertamanya.
Seharusnya mereka bahagia, kan? Mereka bersatu sesuai dengan sepasang kekasih di kehidupan sebelumnya..
Natha tersenyum mengejek. Semuanya tidak harus sama dengan kehidupan pertamanya.
Walaupun heran, Natha merasa bahagia mendengar kabar mengejutkan itu.
"Dan bisakah kamu kembali kepadaku, Natha?" Suara rendah Galen kembali terdengar di belakangnya.
Natha langsung tertawa seolah mendengar kalimat paling lucu dalam hidupnya.
Apa? Kembali?
Bagaimana bisa ia kembali kepada Galen setelah memiliki Abyan yang berlipat-lipat lebih baik dari suami berengsek di kehidupan pertamanya?
__ADS_1
Natha menoleh dan menatapnya cemooh, "Heh. Jangan mimpi."
Natha mengetik sesuatu kepada Abyan untuk mengirimnya pengawal ketika melihat Galen tidak menyerah dan menghalangi jalannya.
Hanya membutuhkan kurang dari dua menit, dua pengawal berbadan kekar datang dan memegang kedua lengan Galen dari dua sisi.
Galen terkejut. Ia berontak, "Apa-apaan ini?!"
Melihat Natha yang bersedekap dada dengan senyuman puas di wajahnya, Galen yakin ini perbuatannya.
Kesabaran Galen menjadi kekesalan, "Natha! Apakah kamu harus melakukan ini kepadaku?!"
"Aku tidak peduli dengan apa yang kamu ucapkan. Itu hidupmu dan urusanmu. Jangan mengusik hidupku lagi. Aku peringatkan, aku tidak menyukaimu lagi! Malah aku semakin muak dan membencimu saat ini. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi! karena pengawal yang sekarang nemegangmu, tidak akan sekedar mengunci pergerakanmu, tapi membuatmu masuk rumah sakit."
Kejengkelan dan kekesalan Galen menjadi kemarahan. Ia semakin berontak menatap Natha tajam, "Natha! Jangan lupa siapa yang menentukan pernikahan kita! Kakekmu, Natha! Apakah kamu melanggar kesepakatan yang sudah kakek kita tentukan?! Ingatlah kakekmu! Kamu tidak menghargainya sama sekali!"
Galen sengaja menyebut tentang kakeknya. Melihat kekeraskepalaan Natha untuk pergi, ia terpaksa menyebutkan titik lemahnya.
Namun tidak menyangka, balasan Natha semakin tajam, "Huh! Jangan berbicara tentang kesepakatan yang di langgar. Bagiku, kamu tidak layak sama sekali. Kamu juga harus ingat, apa dan bagaimana posisimu di keluarga Dirgantara. Kamu hanya anak tidak sah. Apakah kamu benar-benar layak menikah denganku dengan status tidak sahmu?"
Berontakan Galen langsung berhenti. Ia membeku dan menegang. Tanpa sadar mundur menatap Natha tidak percaya. Ia menggeleng dengan senyuman kecut, "Ti-dak mungkin.. bagaimana kamu.."
"Bagaimana aku tahu? Jika kamu tidak ingin orang lain mengetahuinya, kamu tdak bisa melakukan apa-apa sendiri. Sesuatu yang di sembunyikan, itu akan terungkap cepat atau lambat. Tidak peduli betapa memalukan itu, kamu tidak bisa terus-menerus bersembunyi," Natha mencibir dengan sinis. "Bagaimanapun, seberapa besar usahamu untuk meninggikan statusmu sendiri, cara kamu salah jika harus menjatuhkan orang lain. Kamu seharusnya sadar atas dirimu sendiri."
Setelah mengatakan itu, Natha melangkah keluar dari cafe.
Galen merasa tertampar oleh kalimat terakhirnya.
Keributan itu sudah menarik perhatian, di tambah dengan kedua pengawal berbadan tinggi dan besar, tentu saja semakin orang ingin tahu. Tapi, Natha tidak peduli sama sekali.
Namun, Galen yang di tinggalkan begitu kebingungan dan merasa sangat malu. Pengawal Natha sudah melepaskannya dan pergi mengikuti Natha.
Galen masih berdiri kaku. Bagaimana Natha tahu dia anak tidak sah? Mengapa? Apakah ini alasan Natha tidak mau menikahinya?
__ADS_1
Berbagai pertanyaan dalam kebingungan muncul di benaknya. Galen mengeraskan rahangnya mengingat kata-kata Natha yang menusuknya.