
"Sayang.. "
Suaranya bagaikan listrik yang menyetrum sarafnya dan hatinya.
Dengan posisi intim, ciuman Abyan semakin brutal dan liar. Natha mencoba menahan dadanya karena semakin kewalahan. Tapi pria itu mengambil kedua tangannya dan menekannya.
Abyan mendekapnya di pelukannya. Kedua lengan Natha Abyan tahan dengan kedua tangannya sehingga tubuh Natha terlentang bebas. Bibir terus-menerus menyerang bibir Natha. Pria itu mengisap, menggigit, dan menggulung lidahnya.
"Eum..nngh.." Natha ingin bebas dari serangannya. Namun, pria itu terus menghisapnya seakan telah menemukan pemuas dahaga di tengah gurun. Tubuh Natha bergetar.
Tangan besar itu yang awalnya menekannya, melepaskan lengan Natha. Sebelum Natha menghela nafas lega, tangan Abyan mencengkeram pinggangnya dengan lembut. Seperti tidak puas, tangan nakal itu masuk ke dalam bajunya dan mengusap pelan sisi pinggangnya.
Sebelum Natha kehabisan nafas, Abyan melepaskan ciumannya. Bibir panas dan basah itu berpindah ke telinga, yang merupakan area sensitif Natha. Dia menggigit cuping telinganya, membuat tubuh Natha semakin gemetar hebar.
"Dear.." Suara seksi dan serak Abyan memasuki telinga Natha dengan ketidakpuasan. Lidahnya menggigit, Lalu turun menghisap lehernya.
"...Eunghh.." Natha mengerang keras. Sensasi baru bagi Natha membuat kesenangan yang aneh.
Gigitannya yang lembut, membuat Natha mati rasa. Kedua tangan Natha mencengkram spray.
Tidak cukup sampai di sana. Bibir pria itu turun ke area tulang selangkanya. Namun, tangannya naik mengusap perutnya, lalu memasuki lebih dalam piyamanya. Tangan itu membuka bra Natha, dan meremas dua bola di dadanya.
"Ahh!" erangnya keras. Tangan besar itu meremas dan memainkan kelembutannya membuat Natha semakin malu dan senang karena sensasi asing itu.
Mendengarnya mengerang, malah semakin merangsang Abyan. Ia sudah merasakan di nyaman dari awal, darahnya mendidih, matanya terbakar dan semakin gelap menatapnya.
Bagian tubuh di bawah perutnya sudah berdiri kokoh. Mendengar erangan lembut dan kondisi Natha yang sudah setengah telanjang, Abyan tidak bisa menahannya lagi. Gairanya semakin membuncah, keringat dingin meluncur di pelipis dan punggungnya.
"Sayang, aku menginginkanmu," Suara Abyan yang begitu serak membuat Natha menatapnya.
__ADS_1
Mata Natha berkabut dengan keinginan yang sama. Matanya yang indah dan berair membuat darah Abyan semakin mengalir deras. ia kembali berbisik magnestis telinga sensitifnya, dan mengulangi ucapan yang sama, "Aku menginginkanmu, Dear."
Natha terpana dengan suaranya yang seksi dan magnetis. Ia kembali ke akal sehatnya. Seluruh wajahnya memerah sampai ke leher dan telinga.
Mereka saling mencintai. Mereka suami-istri yang sah. Natha mempunyai keinginan yang sama saat ini, jadi Natha tidak punya alasan untuk menolak.
Natha mengangguk malu-malu. Wajahnya begitu merah seakan meneteskan darah.
Abyan senang bukan main. Tapi akalnya masih mengambil alih pikirannya. Ia terengah-engah mencoba menahan keinginannya, "Apakah kamu rela aku mengambil mahkotamu di usia muda?"
"Tidak apa-apa. Pikiranku sudah dewasa dan aku tidak akan menikmati masa mudaku lagi. Aku sudah menikah sekarang. Dan kamu berhak mendapatkannya. Sudah menjadi kewajibanku untuk melayanimu, dan aku tidak peduli dengan usiaku sekarang," jawab Natha lembut dengan mata setengah terbuka.
Ketika mendengar jawabannya, binatang buas di tubuhnya semakin meronta. Tapi Abyan mencoba terus menahannya dan masih ingin tahu jawaban Natha, "Lalu bagaimana sekolahmu?"
"Aku kurang peduli dengan sekolahku. Lagipula aku akan serius hanya untuk ujian kelulusan yang akan datang beberapa bulan lagi--"
"Bagaimana jika kamu hamil?" potong Abyan seraya mendekat. Tangannya berkeliaran dan berantakan.
Alis Abyan terangkat. Namun hanya ia yang tahu bagian tubuhnya yang lain semakin keras dan nafsunya semakin melonjak saat mendengar ucapan Natha.
Abyan membasahi sudut bibirnya, "Apa yang 'jangan di dalam', Sayang?"
Natha menggigit bibirnya. Ia begitu malu sehingga tanpa sadar ingin mundur. Tapi Abyan memegang pinggangnya. Ia menjadi kesal, jadi ia mencubit lengannya, "Aku.. tidak.."
Abyan tertawa rendah. Ia mengambil tangan itu, dan menciumnya lembut.
Sensasi geli itu membuat Natha seakan tersengat listrik. Menyebar sampai ke seluruh tubuhnya.
"Apakah kamu tidak akan menyesal?"
__ADS_1
Natha menarik tangannya yang sempat di ciumnya, melototinya dengan lucu. Lalu mengangguk tanpa menatap matanya.
Mata Abyan bersinar dengan keinginan yang sudah lama ia tahan. Jawabannya sudah terkonfirmasi. Akhirnya pertahanan Abyan runtuh. Nafsu menguasai dirinya.
Namun sebelum ia menyerah kembali, tangan kecil itu menahan dadanya.
Abyan menunduk menatapnya. Dengan wajah semarah udang rebus, Natha mencicit, "Pelan-pelan. Ini pertama kalinya untukku."
Abyan terkekeh. Ia mengecup bibirnya, "Tentu saja. Ini juga pertama kalinya untukku, Dear."
Natha mengerjap, lalu mengalihkan pandangan. Mata Abyan semakin panas menatapnya. Seolah-olah binatang buas yang tengah menatap mangsa yang sudah menyerahkan dirinya.
Natha sangat imut dan seksi saat ini. Bibirnya sudah bengkak, wajahnya memerah karena nafsu dan malu, matanya berair dan berkabut, lehernya terdapat bekas gigitan dan ****** yang di buat beberapa menit yang lalu, kancing piyamanya terbuka menampilkan setengah dadanya yang berukuran pas di tangannya, perutnya ratanya yang putih menampilkan pusarnya karena piyamanya sudah terbuka.
Tatapan ganas Abyan membuat Natha sedikit takut dan tersipu.
Melihat itu, Abyan tersenyum sembari menyipitkan matanya, "Jangan takut, Sayang. Aku akan lembut."
Natha mengangguk malu-malu.
Abyan membelai rambutnya, mencium keningnya, mencium kedua mata, kedua pipinya, hidungnya, dan terakhir mengecup bibirnya. Lalu berbisik serak di telinga Natha.
"Malam ini, kamu akan menjadi milikku sepenuhnya, Vernatha."
Tidak lama, ruangan hening itu di penuhi suara-suara ambigu. Suara menangis dan erangan wanita semakin keras, suara geraman rendah pria terdengar dari waktu ke waktu.
Malam yang indah di sinari cahaya bulan yang sempurna dan bulat. Selama berjam-jam suara itu tidak berhenti seakan tanpa lelah, lampu redup menciptakan bayangan kedua manusia yang bergumul di atas ranjang. Permohonan belas kasihan wanita itu seolah bensin yang di tuangkan, menambah api ke dalam nafsu dan gairah pria itu.
Saat malam menjelang dini hari, suara ambigu di dalam ruangan berangsur-angsur melemah. Hanya terdengar nafas terengah-engah dan seksi yang saling beradu.
__ADS_1
Tubuh wanita itu terkulai di tempat tidur. Saat kepalanya menyentuh bantal, ia langsung tertidur lelap dengan wajah yang masih memiliki jejak gairah.
Sedangkan sang pria merasa segar, ia memeluk tubuh telanjangnya. Mengabaikan bagian tubuhnya yang mengangkat kepalanya kembali, ia berbaring di sampingnya. Ia tidak berniat mandi karena hari masih malam. Lalu ia mencium bibirnya yang bengkak, lalu ciumannya berpindah pada keningnya penuh kasih sayang, "Terima kasih, Sayang. Selamat malam."