
Perawatan hati-hati Alice dan kepatuhan wajib Abyan sangat membuat Natha nyaman di tengah kehamilannya.
Terkadang Natha akan pergi ke perusahaan Lexandra kapan saja untuk memeriksa, jika tidak Natha akan tinggal di rumah sakit untuk beristirahat. Hari yang begitu aman dan damai merupakan sesuatu yang tidak pernah Natha bayangkan sebelumnya.
Namun setelah kehamilannya memasuki 7 bulan, Abyan tidak mengizinkan Natha kemana-mana lagi. Bahkan berjalan beberapa langkah pun, karena perut Natha terlihat lebih besar seperti memasuki bulan ke 9, Abyan sangat takut perutnya akan meledak.
Dia begitu cemas dan hati-hati sehingga Abyan jarang ke kantornya lagi hanya untuk merawat Natha. Perusahaan tentu saja di urus oleh Melvin, begitupula Lexandra yang sudah Abyan perintahkan adiknya untuk mengurusnya. Briyan yang tak kalah pintar, sangat bisa di andalkan.
Mereka pernah memeriksa dengan USG karena merasa heran perut Natha yang lebih besar, lebih tepatnya dengan Alice yang sudah berpengalaman. Dan benar saja, ada dua bayi. Tapi mereka belum memeriksa jenis kelaminnya.
Pada saat yang sama, dari awal kehamilan Natha menemukan bahwa kemampuannya perlahan mulai menghilang.
Natha menutup mata. Marak jauh yang biasanya ia bisa dengar secara bertahap menyusut.
"Apakah kamu merasakan tidak nyaman?" tanya khawatir Abyan dengan lembut saat merasakan ada yang salah dengan Natha.
Natha membuka mata menatapnya seraya menggeleng. "Tidak."
Hanya pendengarannya tidak lagi peka seperti sebelumnya. Dan tidak ada yang salah dengan aspek lain.
Abyan menghela nafas lega. Lalu ia mengambil tangan Natha dengan penuh perhatian. "Aku tidak akan pergi ke perusahaan hari ini. Jika kamu merasa tidak nyaman atau menginginkan sesuatu, kamu harus memberitahuku."
Hari ini memang jadwal Abyan ke perusahaan. Walaupun harus menjaga Natha, ia juga harus memeriksa perusahaannya dua kali seminggu.
Natha mengangguk patuh. "Oke."
"Apakah kamu ingin melakukan sesuatu?"
Hari masih pagi, biasanya Natha melakukan kegiatan apapun sesuai yang di inginkannya. Seperti menyiram bunga, berjalan-jalan di taman di samping rumah mereka, atau Natha akan beristirahat.
Natha berpikir sejenak. Lalu ia menatap Abyan dengan senyum cerah. "Aku ingin menonton film!"
Mata Abyan penuh kehangatan. Ia tersenyum dan mengusap lembut kepalanya. "Oke."
Lalu Abyan membantunya berdiri dan berjalan melangkah keluar kamar.
Kamar keduanya di lantai bawah agar Natha tidak perlu berjalan lama menuju lift apalagi menuruni tangga jika kamar di atas.
Mereka duduk di sofa dan mulai menyalakan layar televisi.
"Kamu ingin melihat film apa, Dear?"
Natha meletakkan telunjuknya di dagu dengan berpikir. Lalu berkata. "Aku ingin melihat film kartun yang lucu!"
Abyan terkekeh dan mengangguk. Setelah di mulai, Natha bersandar dengan nyaman di sofa dengan kaki di selonjorkan ke depan, karena sofa itu besar seperti kasur. Abyan sengaja memilihnya.
Natha yang sedang asik menonton tv, tiba-tiba merasakan sesuatu yang berat di pahanya. Ia menunduk dan melihat Abyan tiduran dengan pahanya sebagai bantalan.
Natha mengusap rambutnya dengan pandangan ke depan kembali. Sedangkan wajah Abyan menghadap ke perutnya dan mengusapnya lembut membuat Natha sangat nyaman.
"Aku menginginkan bayi perempuan yang sangat mirip denganmu."
__ADS_1
Natha langsung menunduk melihat Abyan yang fokus dengan perutnya. Ia terkekeh geli dan bertanya. "Bagaimana jika keduanya laki-laki?"
Abyan langsung cemberut dengan berpikir. "Tidak apa-apa. Tapi, aku menginginkan bayi perempuan lucu sepertimu, karena aku bisa melihat bagaimana dirimu sewaktu bayi jika dia perempuan."
Natha hanya tertawa kecil.
Abyan mengangkat baju Natha sehingga perutnya yang besar dan putih terlihat jelas. Natha hanya membiarkan.
Abyan mendekatkan wajahnya ke perut sehingga pipinya menempel dan berbisik. "Hai, Baby. Ayah yakin, pasti kamu perempuan. Jika ya, jangan bergerak!"
Natha tertawa. Namun tiba-tiba pipi Abyan yang menempel di tendang membuat keduanya terkejut sehingga tawa Natha langsung berhenti.
Merek saling pandang dengan tercengang. Abyan bergumam lirih. "Dia menendang wajah ayahnya. Berani sekali."
Natha bisa merasakan perutnya di tendang-tendang. Lalu berhenti setelah ketiga kalinya. Baru kali ini dia merasakannya. Walaupun bayi bisa menendang pada kandungan 16 minggu, tapi sekarang kandungannya sudah 25 minggu. Natha merasakan sangat gembira. Ia tertawa.
Abyan yang sudah bereaksi ikut tertawa. Lalu tiba-tiba tawanya berhenti saat menyadari sesuatu.
"Dear.." Panggil Abyan dengan sedih.
Natha yang masih gembira hanya berdeham seraya menyentuh perutnya.
"Aku menyuruhnya untuk tidak bergerak jika dia perempuan, tapi dia menendangku. Berarti, dia laki-laki." Bibir Abyan melengkung ke bawah.
Natha mengangkat alis, lalu berkata sambil terkekeh. "Coba kamu tanya sebaliknya, jika dia laki-laki."
Abyan langsung menghadap perut Natha kembali. Ia berbisik dengan bibir mendekat dekat dengan pusarnya. "Hey, Boy. Ayah memanggilmu. Jika kamu mendengarnya, diam dan jangan bergerak!"
Abyan menghela nafas. "Mereka tidak patuh. Aku tidak tahu yang mana dan aku tidak bisa mendeteksinya."
Lalu Abyan menempelkan wajahnya di perut telanjang Natha. Tiba-tiba bagian hidungnya di tendang lebih keras.
Abyan yang sempat menutup mata langsung terperanjat. Ia mendengus kesal. "Berani sekali kamu. Aku tidak akan memberikan ibumu untuk menyusuimu nanti!"
Perut Natha langsung di tendang-tendang beberapa kali seolah marah tidak terima. Walaupun agak kewalahan dengan tendangannya, Natha tertawa lepas saat mendengar ucapan kesal Abyan.
Natha menunduk dan mengusap perutnya. Suara lembutnya mengalun. "Tidak, Sayang. Jangan dengarkan ayahmu. ASI ku hanya untuk kalian. Ibu tidak akan membiarkan ayahmu mencicipinya sedikitpun."
Perut Natha langsung tenang kembali.
Sedangkan Abyan merengek dengan keluhan, karena tidak terima. "Sayang.."
Natha hanya tersenyum geli.
Ting nong
Suara bel di luar membuat atensi keduanya tertarik ke pintu. Keduanya saling pandang.
"Mungkin mamah," tebak Natha.
Abyan mengangguk dan langsung beranjak. "Aku akan membukanya."
__ADS_1
Natha mengangguk. Atensinya kembali layar televisi yang sedari tadi di abaikan.
Saat merasakan Abyan kembali masuk, Natha menoleh dan bertanya. "Siapa?"
"Briyan dengan teman-temanmu."
"Teman?" Natha mengernyit. Lalu ia melihat beberapa orang di belakang Abyan.
Awalnya muncul Briyan, lalu seorang pria dan wanita yang berdampingan. Lalu di paling belakang seorang wanita lagi.
Natha menyipitkan matanya. Lalu matanya melebar kaget.
"Nathaaaaa!! Kami merindukanmu!!"
Sebelum Natha bereaksi, ia sudah di peluk hati-hati oleh dua orang wanita itu.
Mereka adalah Theresa, Olivia dan Aksa.
Natha tertawa gembira dan membalas pelukan mereka dengan senang hati. "Aku juga.."
Olivia sampai terisak menangis di bahu Natha. "Aku ... aku sangat ingin bertemu denganmu, hiks. Tapi kenapa sangat sulit ...."
Theresa sudah melepas pelukannya dan berkata sedih. "Ya! aku pun. Untung saja Briyan membantu kami."
"Kalian bisa berkunjung kapan saja. Kenapa kalian mengatakan sulit?"
Theresa dan Olivia melirik ke arah Abyan bersamaan. Lalu beralih kembali pada Natha. "Kami malu dan tidak enak kepada suamimu."
Natha menoleh ke arah Abyan yang tengah mengobrol dengan Briyan dan Arsa tidak jauh. "Kenapa harus malu? Dia sangat baik."
"Tapi sangat dingin." Theresa berbisik yang di angguki Olivia.
Natha malah terkekeh.
Lalu kedua perempuan itu menatap perut besar Natha dengan kagum. Olivia bertanya malu, "Bolehkah aku menyentuhnya?"
"Aku juga!" Theresa berujar semangat.
Natha tersenyum geli. "Tentu saja."
Mereka menyentuh perut Natha dengan hati-hati. Seakan tidak puas mereka mengusapnya. Saat merasakan tendangan dan gerakan di dalam, keduanya terperanjat kaget.
Natha terkekeh. "Mereka menyapa kalian."
Olivia bertanya polos. "Benarkah?"
Sedangkan Theresa bingung. "Mereka?"
Natha mengangguk. "Hm. Bayiku ada dua."
"Wah! Kembar?!"
__ADS_1