Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 51


__ADS_3

Satu minggu lebih berlalu sejak perdebatan antara Alice dengan Sonia dan Nhita di restoran itu.


Mereka tidak menganggu Natha lagi. Tapi Natha yakin mereka belum menyerah tentang brankas itu. Natha akan menunggu kedatangan mereka dengan senyuman dingin.


Saat ini, Abyan dan Natha tengah bersantai di akhir pekan.


"Bagaimana sekolahmu?" tanya Abyan santai.


Natha meliriknya sekilas. Lalu pada buku lagi seraya mengangguk tak acuh, "Entahlah. Sangat membosankan."


Menurut Natha, tidak ada yang menarik selain pelajaran. Jika seandainya Natha tidak mempunyai teman seperti Aksa dan Theresa ia pasti akan lebih bosan. Natha lebih terfokus dalam belajar hal lain di luar pelajaran sekolahnya.


Abyan mengangkat alis, "Bosan? Lalu, bagaimana dengan sekolahmu di kehidupan sebelumnya? Apakah berbeda?"


Natha tidak tersinggung Abyan bertanya menyangkut kehidupan pertamanya. Walaupun menahan jijik, tapi Natha ingin menggoda Abyan dengan balasan ini, "Tidak. Ada Galen yang menghiasi hariku."


Benar saja, Abyan langsung cemburu. Matanya mendingin menatap Natha tajam.


Bukannya takut, Natha malah terkikik. Lalu, Natha menyernyit jijik mengingat suami pertamanya, "Aku hanya bercanda. Ugh, sangat menjijikan, aku menyesal mengatakan itu. Aku hanya menggodamu."


Melihat kecemburuannya tidak mereda, Natha mengulum senyum, "Aku bosan di sekolah karena kamu tidak ada di sana. Aku selalu merindukanmu."


Ekspresi Abyan langsung melunak. Ia Menatap Natha dengan kebahagiaan yang tidak di sembunyikan di matanya, "Benarkah?"


"Um."


"Hmm, itu bagus. Kamu harus merindukanku setiap waktu." Abyan mengangguk puas. Lalu matanya menatap tajam Natha kembali, "Lain kali, jangan sebut lagi nama Galen atau nama pria manapun! Kalau tidak, aku akan menggertak mulut kecilmu."


Natha melotot. Tentu saja ia mengerti maksud pria itu. Natha mendengus dan tidak bicara lagi.


Abyan tersenyum kecil. Lalu, tiba-tiba ekspresinya menjadi serius, "Keluarga Lumian terlalu tenang akhir-akhir ini. Aku tidak tahu apa yang tengah mereka rencanakan. Tapi, ku dengar Lexandra sibuk membicarakan bisnis besar. Jika negosiasi gagal, kurasa kerugiannya akan lebih besar."


Natha mengangguk menyetujui ucapan Abyan.


Walaupun Natha sudah bisa menggoyahkan posisi Andre dengan sahamnya yang lebih besar, tapi sekarang belum waktunya.

__ADS_1


Baru-baru ini, Natha juga mulai berhubungan dengan veteran Lexandra, yang semuanya adalah bawahan kuat Ayahnya ketika masih hidup. Hubungan mereka dengan Natha lebih akrab.


Natha sangat tahu tentang pergerakan perusahaan Ayahnya itu, tetapi tidak menghentikannya. Dengan bisnis besar itu, Andre memanfaatkannya untuk mengamankan posisi CEO, namun nyatanya tidak segampang yang Andre kira.


Yang Natha ingat di kehidupan sebelumnya, tidak peduli seberapa keras apa Andre berusaha memperjuangkan yang di sebut bisnis besar itu, pada akhirnya gagal, hanya karena orang yang bekerja sama dengan dengan Andre adalah keluarga Allaric, yang merupakan keluarga Ibu mertuanya--Alice.


Dengan permusuhan keluarga Grissham terhadap mereka, apalagi Alice sebagai ibu Abyan tentu tidak akan membiarkan kerjasama itu berhasil.


Walaupun Natha peduli dengan perusahaan Lexandra, tapi Natha tidak akan membiarkan Lexandra jaya di dalam genggaman Andre.


"Aku yakin, bisnis itu itu tidak akan berhasil." Abyan mencibir. "Lexandra akan mengalami jungkir balik besar, dan keluarga Lumian pasti  mengalami kesulitan."


Seakan satu pemikiran dengannya, Natha mengangguk lagi.


Semakin Natha lama melakukan kontak dengan Abyan, semakin Natha tahu Abyan tidak secerah di permukaan. Natha hanya ingin mencibir dan sedikit simpati dengan keluarga Lumian yang menyinggung pria yang menjadi suaminya itu.


Abyan kembali fokus pada pekerjaannya.


Natha menyingkirkan buku di tangannya dengan malas dan jengah. Memerhatikan Abyan yang berwajah serius pada pekerjaannya. Auranya sangat kuat. Natha lebih tertarik Abyan di mode saat ini daripada saat menggodanya.


Jarak dia dan Abyan lebih dari tiga meter. Natha tengah duduk di sofa mini, sedangkan Abyan di kursi rodanya dengan meja ukuran sedang di hadapannya.


Tidak seperti saat dia mengalami tidur panjangnya, penampilan suaminya itu saat ini semakin tampan dengan badan tegap. Yang awalnya sedikit kurus, menjadi lebih berisi. Jika tampilan saat memakai kursi roda sudah sangat menarik, bagaimana jika Abyan sudah bisa berdiri dan berjalan?


Entahlah, Natha hanya berharap dia sembuh dan berjalan kembali.


Apakah air itu bisa menyembuhkannya? Natha berfikir seraya melirik kalung di leher Abyan yang tertutupi kerahnya. Walaupun pernah dan beberapa kali Natha membasuh kaki Abyan dengan air itu, setelah Abyan bangun semakin jarang. Natha sendiri juga malu berinisiatif sendiri.


Dari sekian lama setelah mengambil paksa saham Lexandra dari Nhita, Natha baru menyadari, hari itu dia mengeluarkan air di tangannya, padahal kalung itu berada di leher Abyan. Setelah memastikan, ternyata ia dan kalung itu sudah terhubung walaupun bukan Natha sendiri yang memakainya.


Abyan menghentikan gerakannya merasakan pandangan seseorang di sisi lain. Ia mengangkat kepalanya melihat Natha yang melamun dengan tatapan menuju lehernya.


Mata Abyan menyipit, "Apa yang kamu lihat?"


Natha tersentak. Menatap Abyan linglung, "Hah?"

__ADS_1


Abyan tersenyum geli melihat ekspresinya. Namun penasaran dengan apa yang Natha pikirkan. Ia mengubah pertanyaannya, "Apa yang kamu pikirkan?"


Natha berkedip beberapa kali, "Ah, aku.."


"Aku?"


Natha menggigit bibirnya. Pandangannya menurun melihat kaki Abyan. Lalu menatap Abyan hati-hati dengan sesikit ragu, "Eum.. bolehkah aku menyeka kakimu dengan air di tanganku?"


Abyan tertegun beberapa detik. Lalu, senyuman lembut terbit di sudut mulutnya. Matanya menatap hangat Natha yang tengah gugup.


"Aku takut merepotkanmu." Suaranya merendah, namun sangat lembut.


Natha menggeleng seraya tersenyum lega, "Tidak. Itu keinginanku sendiri. Sama sekali tidak merepotkan."


Senyuman Abyan semakin dalam, "Baiklah. Aku tidak bisa menolak jika itu keinginanmu."


Natha tersenyum lebar. Ia langsung beranjak dari duduknya, mengambil wadah untuk airnya. Natha berjalan keluar kamar penuh semangat.


Abyan memerhatikan gerak-geriknya dengan senyuman yang tidak berubah. Saat Natha keluar, Abyan memandang kedua kakinya yang terkulai.


"Aku tidak berharap besar untuk berjalan kembali. Bangun, dan melihat kembali dunia sudah cukup membuatku bersyukur. Apalagi, memilikimu sekarang sudah menjadi hal paling berharga dan yang paling syukuri." Abyan menatap tempat kepergian Natha, "Tapi, jika suatu hari aku sembuh, aku hanya ingin berjalan di sisimu menjadi pelindung dan menjagamu."


Gumaman pada kalimat terakhirnya bertepatan dengan Natha yang masuk membawa wadah kecil dan sebuah lap putih. Senyuman Natha tidak berubah ketika di keluar dan masuk kembali.


"Aku akan memeras airnya," ujar Natha mengangkat kepalan tangannya seraya melangkahkan kakinya ke kamar mandi tanpa menunggu tanggapannya.


Walaupun Abyan sudah tahu, entah kenapa Natha masih enggan mengeluarkan air itu di depannya dengan sengaja.


Abyan masih terdiam menatap punggung Natha lekat, tidak mengangguk atau menggeleng menanggapi ucapannya.


Natha keluar dengan wadah yang sudah penuh air yang terlihat sangat jernih. Tidak memperhatikan tatapan kosong Abyan, Natha mendekat dan berjongkok di depan kakinya. Ia mengambil gelas dan mengisinya terlebih dahulu untuk Abyan minum.


"Kamu minum dahulu."


Suara Natha menyadarkan Abyan. Hatinya terkejut melihat Natha yang sudah berlutut di bawah di hadapannya. Sedari tadi pikirannya menjadi kosong.

__ADS_1


Abyan merasa sangat tersanjung. Ia mengambil gelas yang Natha sodorkan. Tersenyum, "Terima kasih, Dear."


Abyan meletakan gelas itu terlebih dahulu. Mengambil satu tangan Natha dengan lembut, "Posisimu terlalu tinggi di hatiku. Jadi, kamu tidak pantas untuk berlutut di bawahku."


__ADS_2