Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 106


__ADS_3

"Apakah kau ingin mengambil suamiku lagi?! Tidak akan pernah! Kau j*l*ng penggoda! Enyahlah!"


"Ah!" Nhita meringis kesakitan. Ia langsung mengambil pisau di sakunya dan mencoba menusukkannya ke arah Natha.


Namun, Abyan menahannya sehingga ujung pisau yang mengarah ke leher Natha itu langsung menusuk telapak tangannya.


Natha yang melihat itu refleks melepas jambakannya dan menatap terkejut tangan Abyan yang berlumuran darah. Ia menutup mulut dengan tangannya dan mencoba mengulurkan tangan meraih tangan Abyan dengan gemetar. Namun tiba-tiba Abyan melingkari pinggangnya memeluknya dengan tangan yang tidak terluka dan membalikan badan.


Natha langsung memeluk lehernya dan terkejut kembali melihat Nitha yang menusuk punggung Abyan.


"Argh!" Abyan mengerang kesakitan.


"Abyan kamu ...." Natha berkata tidak percaya.


Nafas Abyan berat karena rasa sakit. Namun suaranya masih lembut. "Ti-dak apa-apa, Sayang. Aku akan melindungimu ...."


Nhita ikut terkejut saat pisaunya sudah menusuk punggung Abyan. Tidak pernah menduga gerakan Abyan melindungi Natha begitu cepat.


Dia langsung melepas pisau itu dan mundur. Tanpa memerhatikan langkahnya, Nhita terus menerus mundur hingga ujung.


"Ahh!" Nhita langsung terpeleset dan jatuh. Namun tangannya refleks memegang sebuah besi sehingga badannya menggantung dan akan jatuh kapan saja.


Nitha memegang erat pegangannya dengan ekspresi panik dan ketakutan. Saat melihat ke bawah, jaraknya begitu jauh sehingga ia bisa membayangkan tubuhnya langsung hancur mendarat di sana.


Apartemen berlantai 30, sehingga sangat jauh jika di lihat dari atas.


Nhita ingin meminta pertolongan. Saat pandangannya ke atas, ia terkejut melihat Natha yang sudah berdiri dengan seringai di wajahnya. "Apakah kau ingat, Nhita? Posisimu sekarang persis dengan posisiku saat beberapa menit sebelum aku mati di jurang itu."


"Nath-a ... aku mohon ...." Nhita memohon dengan tulus.


"Oh? Apakah aku memohon padamu saat itu? Kenapa kamu sangat ketakutan? Aku merasa tidak takut sebelum kematianku datang." Natha tertawa terbahak-bahak.


"Aku ... akan memberikan hidupku padamu, Natha. Aku ... selamatkan aku ...." Nhita bercucur air mata. Tangannya sudah berkeringat dingin. Seluruh tubuhnya tegang dan gemetar.


Natha bersedekap dada menatap Nhita di bawah kakinya dengan senyum simpati. "Oh ... kasihan ... sayang sekali, hidupmu tidak berguna bagiku. Lebih baik kau mati. Selamat tinggal, Anhita. Hahaha ...."


Natha langsung menginjak tangan Nhita yang memegang pegangan.

__ADS_1


"Natha kau ... Ahh!!" Nhita yang kesakitan langsung melepas genggamannya sehingga ia langsung terjun jatuh ke bawah dan menjerit. "Aahhhhhh!"


Natha melambai dengan senyum sedih, namun matanya berkilat bahagia. Setelah Nhita mendarat keras dengan darah berceceran dan mati di tempat. Natha menatap itu seraya tertawa kecil. "Sampai jumpa di kehidupanmu selanjutnya. Aku hanya berharap hidupmu lebih menderita jika itu terjadi."


Abyan yang menyaksikan semuanya begitu tercengang sehingga melupakan rasa sakitnya. "Sayang ...."


Natha masih berdiri teguh dengan pandangan kosong ke bawah. Wajahnya tanpa ekspresi. Semilir angin malam yang dingin menerbangkan rambutnya yang acak-acakan.


Abyan tertatih dan meringis. Ia mencoba untuk berdiri dan menghampirinya. "Natha."


Natha bergeming seolah tuli. Pakaian Abyan yg sudah berlumuran darah semakin ternodai saat pria itu banyak bergerak menuju Natha. Abyan memeluknya dari belakang dan meletakkan dagunya di bahunya membuat Natha sedikit tersentak.


Wajah Abyan sangat pucat. Ia sedikit menang tubuhnya yang lemah dengan memeluk Natha. "Sayang, bisakah kita pergi? Aku kesakitan."


Natha tergerak dan mengangguk kosong.


****


Abyan dan Natha di larikan ke rumah sakit oleh Melvin yang berada di lantai bawah dan beberapa orang penghuni apartemen. Namun mereka hanya sekedar tahu setelah mendengar keributan karena ada mayat yang mereka sangka bunuh diri.


Tanpa menutupi kebenarannya, Abyan dan Natha di anggap menjadi korban percobaan pembunuhan dan pelakunya melakukan bunuh diri. Terbukti dari bagaimana mereka terluka dengan luka tusukan dan sayatan. Walaupun masih ada yang mencurigai mereka, Melvin menutupi kasusnya dengan rapi dengan kedok bunuh diri.


Natha tidak mengeluarkan sepatah katapun kepada Abyan dari saat di larikan ke rumah sampai tiba di sana. Ekspresinya suram dengan kemarahan di matanya.


Luka Abyan cukup dalam dan harus di jahit beberapa jahitan. Setelah Abyan mengobati luka di punggung dan tangannya, Abyan berniat menemui Natha yang tengah di periksa di ruang sebelahnya.


"Kamu harus beristirahat, Nak. Kamu bisa menemuinya nanti," tutur Alice saat melihat gerak-gerik Abyan yang akan beranjak, Alice sudah bisa menebaknya.


"Tidak, Mah. Aku harus menemuinya. Dia pasti marah padaku."


"Marah? Kenapa?"


"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang."


Abyan langsung melangkah keluar di ikuti Alice. Sedangkan Briyan tengah mengurus administrasinya.


Saat keduanya memasuki ruangan Natha, dokter selesai memeriksa Natha. Sedangkan Natha sendiri hanya diam dengan tatapan kosong tanpa ekspresi apapun di wajahnya. Bahkan kedatangan mereka tidak Natha lirik.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" Abyan bertanya.


Pandangan dokter itu beralih pada Abyan. "Selain luka memar di punggung, goresan dan tusukan di pipi dan lengan sangat ringan."


Abyan menatap Natha khawatir, lalu beralih kembali pada dokter. "Memar di punggung?"


"Ya. Sepertinya benturan yang lumayan keras. Untung saja tidak mempengaruhi kandungan istri Anda. Janinnya sangat kuat seperti ibunya."


Deg


Abyan dan Alice terkejut dengan mata terbelalak. "Janin?!"


Dokter itu agak heran dengan reaksi mereka. "Ya. Walaupun kandungan sudah 10 minggu dan termasuk rawan keguguran terbanyak, tapi untungnya benturan di punggung tidak berpengaruh karena janinnya sangat kuat. Untuk mengetahui keadaanya lebih lanjut, Anda bisa membawa istri Anda ke dokter kandungan."


Abyan dan Alice menatap Natha tidak percaya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit dokter tersebut.


Setelah dokter keluar, keduanya langsung bereaksi.


"Natha ... kamu ...," lirih Abyan.


Sedangkan Alice begitu bahagia. Ia langsung mendekati Natha dan memegang tangannya seraya mengomel. "Kenapa kamu menyembunyikan ini dari mamah?! Apakah kamu akan memberi kejutan?! Jika saja mamah tahu dari awal, mamah akan menarikmu untuk tinggal di rumah Grissham! Mamah pasti akan mengontrolmu sejak lama!"


Melihat ekspresi Natha yang kosong, lalu pada Abyan yang masih terkejut, Alice mengernyit. "Ada apa dengan kalian? Mengapa kalian tidak terlihat bahagia?"


Melihat mereka tidak menjawab, Alice melepaskan tangan Natha dan menghampiri Abyan seraya menatapnya kesal. "Kamu benar-benar menjauhkan Natha dari mamahmu sehingga mamah tidak tahu kehamilannya! Dan apa dengan ekspresimu? Wajahmu seakan-akan baru tahu kehamilan Natha."


"Aku memang baru tahu, Mah ...." Abyan bergumam.


Alice melotot tidak percaya. "Bagaimana mungkin?! Sebagai suami, kamu--"


"Bisakah mamah keluar? Aku ingin berbicara berdua dengan Natha, " potong Abyan dengan suara rendah.


Alice yang masih terkejut, menghela nafas dan mengangguk. Ia yakin ada masalah antara keduanya. "Baiklah ...."


Setelah Alice keluar dan menutup pintu. Terjadi keheningan di ruangan.

__ADS_1


Natha diam menunduk, sedangkan Abyan berdiri menatap Natha.


Abyan menarik nafas dalam-dalam. Lalu ia melangkah mendekat dan berjongkok samping brankar untuk menatap wajah Natha. "Kenapa kamu tidak memberitahuku dari awal, Natha?"


__ADS_2