Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 91


__ADS_3

"Apakah dia merajuk?" gumam Natha bingung.


Natha tidak percaya Abyan akan memecat sekertaris bernama Melvin itu. Melvin sudah menjadi sekretaris Abyan bahkan sebelum Abyan mengalami kecelakaan. Dia adalah orang yang paling berperan penting mengurus perusahaan ini selama Abyan vegetatif. Sikapnya yang profesional dan gesit dalam dunia bisnis, sangat bisa di andalkan. Jadi , Natha tidak menganggap serius ucapannya.


Natha mengangkat bahu acuh tak acuh. Ia malas membujuk Abyan yang tengah makan cuka. Ia malah membuka sepatu hak datarnya dan merebahkan dirinya di sofa untuk tidur siang.


Sudah lima belas menit berlalu, Abyan kesal karena Natha tidak datang untuk membujuknya. Jadi dia hanya melampiaskan kekesalannya dengan memasukan makanan itu dengan sendok penuh ke dalam mulutnya.


Ruang di balik pintu terdengar sepi. Abyan ingin keluar melihat Natha, namun ia ingat masih merajuk, jadi dia duduk kembali. Tindakannya sangat kekanak-kanakan.


Kotak makan siang itu sudah kosong dan bersih. Setelah Abyan minum, ia masih juga belum mendengar gerakan Natha.


Karena takut Natha pulang, Abyan langsung membuka pintu itu dan di sambut dengan pemandangan damai. Rasa kesalnya langsung lenyap. Matanya melembut. Ia berjalan menuju Natha yang tertidur lelap di sofa.


Abyan berjongkok dan mengamati wajahnya. Tidurnya seperti bayi. Wajahnya terlihat polos. Abyan mencubit pipinya pelan. "Dasar istri nakal. Aku sangat kesal karena kamu memuji pria lain."


Natha sama sekali tidak terganggu. Tidurnya terlihat nyenyak. Abyan menduga istrinya ini memang terlihat kelelahan. Namun masih sempat ke kantornya untuk mengantarkan makan siang. Abyan merasakan hatinya tergelitik.


Dengan gerakan lembut, ia menggendongnya menuju kamar tempat ia beristirahat di dalam kantor.


Benar-benar nyenyak. Sampai merebahkan kembali di atas ranjang, Natha tidak terbangun. Abyan terkekeh. Ia mengambil selimut yang tidak terlalu tebal dan menyelimutinya sampai perut.


Abyan mencium kedua pipi dan keningnya.


Lalu Abyan berdiri tegak terlihat berpikir dengan ekspresi serius. "Ku kira aku paling tampan di matanya. Karena wajahnya, sepertinya sekarang Melvin menjadi sainganku."


***


Andre kembali ke kota asalnya. Yang ingin ia temui saat itu adalah putri dan mantan istrinya. Namun yang membuat Andre terkejut adalah kedua orang itu sudah berada di rumah sakit jiwa.

__ADS_1


Andre sama sekali tidak tahu kejadian tersebut. Saat itu, dia pergi keluar kota. Dengan modal saham yang telah ia jual, Andre membangun perusahaan yang terdaftar di kota yang baru ia tinggali yang merupakan anak perusahaan ternama. Selain itu, perusahaan Andre telah di sponsori oleh perusahaan bernama itu. Jadi, saat Andre kembali, dia sudah membawa banyak uang.


Andre sangat geram dan marah saat mendengar keadaan Istri dan putrinya. Bagaimanapun, mereka adalah keluarganya.


Dengan itu, Andre menawarkan kondisi yang menarik kepada mantan menantunya--Galen.


Di sisi lain, Galen tidak punya tempat di keluarga Dirgantara, dengan tawaran Andre, tentu saja Galen menerimanya. Apalagi dana yang Andre bawa sangat besar.


***


Di suatu pagi yang cerah, Natha mengunjungi Sonia di rumah sakit jiwa. Ini adalah kunjungan pertama Natha.


Sekolahnya sudah selesai, tapi Natha tidak berencana untuk berkuliah. Dia hanya terfokus pada rumah tangganya dan Lexandra.


Natha sudah mendengar sejak lama, Sonia tidak 100% gila. Terkadang dia sadar dan mengamuk sebelum akal sehatnya hilang kembali. Dan saat ini dia berkunjung saat waktu Sonia sadar yaitu pada siang hari.


Sonia mengira orang yang datang adalah Andre, tapi tidak menyangka orang yang berada berada di beberapa meter darinya adalah Natha.


Dia selalu berteriak, meraung, menangis, tapi tetap saja tidak ada yang percaya bahwa dia melihat semua itu.


Suatu waktu, kedatangan putrinya sangat mengejutkan. Dia pikir putrinya memang gila, tapi ternyata Nhita memang di masukan paksa. Sonia mendengar apa yang terjadi dari Nhita. Namun semakin lama, putrinya semakin menjauhinya dan dengan menatapnya takut terakhir kali bertemu, Nhita berbicara kepadanya bahwa 'Ibu sudah gila'. Sejak saat itu Nhita tidak pernah mengobrol ataupun bertemu dengannya lagi di RSJ itu.


Sonia frustrasi. Harapan terakhirnya adalah Andre. Tapi sudah beberapa bulan, Andre tidak pernah datang. Saat ini, yang datang malah orang yang paling Sonia benci.


Setelah sekian lama mendekam di dunia orang gila, kebencian Sonia perlahan mengendap. Seakan-akan di lupakan, namun nyatanya tersembunyi lebih dalam.


Dahulu kala, Sonia paling membenci Sania. Karena jika tidak ada Sania, dia akan menikah dengan Andra sesuai keinginannya.


Kemudian, Sania dan Andra meninggal, kebenciannya berpindah pada Natha. Meskipun tidak begitu kuat, tetap saja itu ada.

__ADS_1


Sampai di mana Natha menggantikan putrinya dan ia kirim ke keluarga Grissham, kebencian Sonia menghilang. Bagaimanapun saat itu ia tidak mempunyai alasan apapun untuk membenci.


Jika bukan karena hal-hal yang berubah begitu cepat setelah itu, jika bukan karena Abyan yang tiba-tiba bangun, jika bukan karena Natha yang menggunakan keluarga Grissham untuk melawan keluarga Lumian, atau bukan karena Natha merebut Lexandra, Sonia tidak akan menempatkan Natha sebagai duri di matanya.


Namun membenci Natha tidak melebihi saat Sonia membenci Andre. Sonia tidak pernah berpikir bahwa Andre akan menceraikannya dan melarikan diri.


Mengingat itu, Sonia menggertakkan gigi dengan kebencian.


"Bibi? Apa kabar?"


Lamunan Sonia buyar saat mendengar suara Natha. Ia mengangkat kepalanya dan melihat Natha tersenyum kepadanya. Senyumnya terlihat alami tanpa emosi apapun.


Ekspresi Sonia terlihat menyeramkan. Ia memberontak dari celakalan kedua perawat di kedua sampingnya. "Keluarkan aku dari sini, Natha! Aku tidak gila!"


Natha mengangkat sebelah alis dengan santai. "Bagaimana bibi mengatakan itu? Jika bibi tidak gila, kenapa bibi masih berada di sini?"


Sonia menatap Natha tajam. "Itu pasti karenamu! Ah, bukan! Itu pasti karena Abyan yang kau suruh untuk memasukan paksa aku ke dalam tempat sialan ini! Begitupun putriku! Dia tidak gila, kenapa kalian sangat kejam dengan mendekam kami di tempat ini?!"


Natha tertawa pelan dengan tangan menutupi mulutnya. Gerakannya terlihat anggun. Lalu ia menatap kedua perawat laki-laki dan perempuan yang memegang kedua tangan Sonia "Perawat, bibiku bilang dia tidak gila. Kenapa kalian tidak melepaskannya?"


"Kami tidak bisa melepaskan begitu saja, Nona. Pasien ini adalah pasien yang paling sakit di antara yang lain. Dia juga bisa membahayakan pasien lain. Jadi, kami menjaganya lebih ketat," balas perawat wanita di samping kanan Sonia.


Pandangan Natha beralih pada Sonia seakan membuktikan kebenaran. Sonia semakin berontak. "Arrghh! Aku tidak sakit! Aku tidak gila!"


Siapapun yang melihat penampilan yang berbanding terbalik dengan apa yang di ucapkannya, pasti tidak akan ada orang yang percaya bahwa Sonia tidak gila.


Natha memerhatikan, penampilan Sonia jauh lebih tua daripada saat terakhir kali bertemu pada kejadian malam itu. Rambut berantakan, kantung mata besar, mata terlihat sayu dan lemah. Jelas, Sonia tidak mengurus diri.


Kedua perawat itu terlihat kewalahan. Untungnya kedua tangan Sonia di pakaikan rantai.

__ADS_1


"Bibi, ku dengar paman telah kembali dengan membawa banyak uang."


Berontakkan Sonia langsung berhenti.


__ADS_2