Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 22


__ADS_3

Natha menatap kalung di lehernya dengan pikiran kosong. Saat mengingat tempat yang indah di dalamnya, ekspresi Natha menjadi cerah.


Ia mengangkat kepalanya untuk menatap Abyan. Pandangannya terlihat antusias, "Apakah kamu mau ku ajak ke suatu tempat?"


Seperti biasa, diamnya merupakan jawaban 'ya' untuk Natha.


Tiba-tiba wajah Natha kembali murung. Ia bergumam bingung, "Bagaimana caranya..."


"Ah, akan ku coba!" pekiknya dengan ekspresi kembali berseri.


Natha membuka liontin giok di lehernya itu. Lalu, ia menyimpannya di tangan Abyan. Kedua tangan Natha membungkus tangan Abyan yang menggenggam kalung itu.


Natha menutup mata. Ia membayangkan tempat indah itu seperti saat terakhir kali.


Tiba-tiba suasana tempat berubah menjadi sangat sejuk. Suara air mengalir terdengar di telinga Natha. Natha membuka mata dengan hati-hati.


Tempat familier terlihat. Walaupun hanya sekali Natha kesini, namun Natha selalu mengingatnya.


Tangan Abyan masih di genggamannya, Natha memekik senang, "Kita berhasil!"


Karena terlalu gembira, tanpa sadar ia memeluk Abyan yang terlentang di atas rumput bersih.


Sadar apa yang ia lakukan, Natha melepaskan pelukannya dengan malu.


Natha menatap air jernih di kolam. Ia berfikir untuk memberi Abyan minum. Natha mengulurkan tangannya, mengambil air. Untungnya, mereka tiba tepat di tepi kolam. Dengan mudah, Natha bisa mengambil air dan langsung di minumkan ke Abyan.


Setelah tiga kali untuk Abyan, Natha meminumnya sendiri. Ia menghela nafas puas.


"Bagaimana? Sangat segar!" kata Natha semringah. Suasana hatinya langsung membaik.


Natha hanya berceloteh kepada orang yang tidak pernah menanggapinya. Setelah beberapa menit, Natha dengan Abyan kembali ke kamarnya.


Ia menghela nafas lega.


Lalu Natha menatap Abyan dengan sedih, "Maaf, karena salahku, aku tidak bisa merawatmu lagi di hari yang akan datang. Aku akan berusaha melakukan sesuatu.."


"... Saat ini, adikmu benar-benar membenciku. Kakekmu sangat kecewa padaku. Tolonglah bangun untukku, Suamiku. Aku ingin mereka mempercayai apa yang aku katakan. Hanya saat ini, aku tidak akan di ijinkan memasuki kamarmu lagi. mungkin, hari yang akan datang, aku tidak bisa menemuimu. Mungkin juga, aku akan pergi dan di usir dari rumah ini.." monolognya seraya tersenyum mengejek dirinya sendiri.

__ADS_1


Natha menarik nafas dalam-dalam. Lalu ia mengembuskannya dengan pelan, "... Tidak apa-apa. Jika kamu memang tidak akan bangun, kamu sudah mengetahui semua rahasiaku. Mungkin saja, jika kamu bangun, kamu tidak akan mengingat apapun. Aku tidak akan di sisimu lagi saat itu. Entahlah.."


Air mata keluar dari kedua mata Natha dan mengalir mulus di pipinya. Ia tersenyum pahit seraya menatap Abyan lamat.


Natha mendekat dengan kepala menunduk. Lalu, ia mencium kening, kedua pipi, dan mengecup bibirnya.


"Maaf, aku selalu berisik. Aku berhutang budi padamu. Aku sayang padamu, Abyan. Selamat malam," bisiknya dengan senyuman.


Natha kembali menyelinap ke kamar sebelah. Hatinya sedikit lega.


Nanti esok hari, Natha memutuskan untuk mengikuti olimpiade. Ia yakin, walaupun sudah ada yang mengisi, para guru tidak akan menolaknya jika ia menawarkan diri kembali.


Sekarang, tanggung jawab Abyan berada di tangan orang lain. Natha sedikit lega, karena olimpiade akan di adakan di luar kota. Waktunya tidak akan sedikit.


***


Keesokan harinya, Natha bangun di tempat asing. Ia lupa, ini bukan kamarnya dan Abyan. Paginya merasa kosong. Hatinya merasa hampa tanpa seseorang yang selalu ia lihat hampir setiap pagi.


Natha menghela nafas. Lalu ia bersiap berangkat ke sekolah. Saat keluar kamar, Natha melihat seorang perawat laki-laki dan perempuan di kamar Abyan. Mereka terlihat profesional. Hati Natha menjadi semakin yakin untuk mengikuti olimpiade itu, ia tak perlu khawatir lagi tentang Abyan.


Saat tiba di sekolah, Natha langsung pergi ke kantor dan mengatakan apa yang ingin ia katakan. Tentu saja, beberapa guru yang mendengarnya langsung menerima Natha dengan antusias. Apalagi Bu Mala.


Tidak ada yang tahu, sebesar dan semengerikan apa amarah Nhita.


Hati Natha lega ketika mengetahui Galen yang ikut mundur. Partnernya sekarang menjadi seorang seniornya yang lain yang terkenal tidak kalah pintar dengannya.


Natha merasa ia seperti melempar burung dengan satu batu. Karena ia mendengar Nhita yang tidak jadi ikut, karena dirinya yang tidak jadi mundur.


Natha terkikik memikirkan bagaimana ekspresi Nhita jika mendengar ini. Sesuai ekspektasinya, ekspresi Nhita memang sangat tidak bagus.


Reaksi semua teman sekelasnya tentu saja sangat gembira dan ikut antusias saat mendengar Natha tidak jadi mundur. Apalagi, Theresa dan Aksa yang sangat heboh. Semua orang memberi dukungan dan menyemangati Natha.


Keberangkatannya besok.


Ketika kembali ke rumah, Natha tidak sedikit pun di ijinkan melihat Abyan. Briyan menjadi sangat menjengkelkan. Albert tidak bicara lagi sedikit pun padanya. Pandangannya selalu tajam dan dingin.


Natha Akhirnya menyerah ketika ingin menemui Abyan untuk pamit.

__ADS_1


Pagi-pagi sekali, Natha sudah bersiap. Ia langsung di antarkan sopirnya ke sekolah. Beberapa guru sudah terlihat menunggunya.


Mereka langsung berangkat ke bandara.


Kotanya sangat jauh dan harus menaiki pesawat.


Saat di tengah perjalanan, entah kenapa hati Natha menjadi tak karuan. Ia merasa sesuatu terjadi. Tidak tahu apa itu.


***


Di tempat lain, seorang pria yang sudah beberapa bulan menutup mata, akhirnya terbangun. Matanya yang selalu tertutup rapat, terbuka menampilkan netra coklat tajamnya yang dingin. Kepalanya sedikit sakit. Suara lembut seseorang, terngiang-ngiang di kepalanya.


Dia mengedarkan pandangannya untuk melihat sekeliling. Namun, apa yang ia cari tidak ada. Hatinya sedikit kosong dan kecewa.


Badan kakunya, ia mencoba untuk duduk.


Seorang perawat laki-laki memasuki kamar. Ketika melihatnya bangun, perawat itu seperti melihat hantu. Ia menjatuhkan mangkuk yang ada di tangannya. Abyan menoleh menatapnya dingin.


Setelah pulih, wajah perawat itu langsung semringah. Ia berlari mencari Albert.


Saat melihatnya dia langsung memberitahunya heboh, "TU-TUAN! TUAN MUDA BANGUN!"


Albert menoleh kaget.


Melihat ekspresi perawat itu, Albert yakin, apa yang dia katakan, benar.


Tanpa basa-basi, Albert langsung beranjak berlari ke kamar Abyan. Begitupula, Briyan yang sempat mendengarnya.


Hampir semua orang di rumah itu berkumpul di kamar Abyan. Bahkan para pelayan ingin melihat penasaran.


Dan mereka melihat dengan mata kepala sendiri, tuan muda mereka bangun.


Albert, Briyan, dan semua orang terlalu senang tanpa tahu apa yang di inginkan Abyan.


Abyan menatap satu persatu orang yang masuk ke kamarnya. mencari ciri-ciri seseorang yang selalu berada di sampingnya dan ia bayangkan di pikirannya. Suaranya, bahkan tidak ia dengar sekarang di antara semua orang di hadapannya.


Ketika orang yang Abyan cari benar-benar tidak ada, hatinya langsung mencelos, matanya mendingin.

__ADS_1


"Di mana, Natha?"


__ADS_2