
"Kamu pasti tahu tentang brankas yang di tinggalkan kakekmu, kan?"
Firasatnya tidak pernah salah. Mata Natha mendingin. Ia tentu sangat tahu tentang brankas itu.
Melihat keterdiaman Natha, Sonia membujuknya sedikit lembut, "Natha, jangan salah faham tentang kami. Kami sebagai orang tuamu, merawatmu dari selama 17 tahun, tidak akan tega mengambil brankas yang khusus di tinggalkan kakekmu tanpa alasan. Kamu pasti mengerti keadaan keluarga kami saat ini, dan kami tidak memikirkan cara lain untuk menghadapi keadaan yang krisis. Kakekmu sangat menyayangimu ketika dia masih hidup. Mungkin, kamu tidak melihat upayanya menjadikanmu seseorang yang kuat seperti sekarang. Selain orang tuamu, kakek menyerahkanmu kepada kami sejak bayi. Sekarang, pikirkan dan bantulah keluargamu sekarang--orang tua yang merawatmu."
"Ya, Natha. Kali ini kami memohon kepadamu untuk membantu kami. Paman berjanji, ketika Lexandra melewati krisis, paman akan memberikan kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu. Bahkan melipatgandakannya," imbuh Andre dengan hati-hati.
Karena situasi yang memaksanya, Andre tidak bisa diam berdiri di belakang istrinya.
Natha memiringkan kepalanya. Mata hitam pekatnya menatap keduanya dengan sinis. Bibir ranumnya tersungging senyuman sedikit miring terkandung cibiran, "Oh? Apa yang akan kalian lakukan? Menukar brankas dengan Abyan?" tungkasnya mengejek, "Abyan tidak akan membiarkan kalian pergi begitu saja."
Sonia menggeleng tergesa, "Tidak begitu, Natha. Jangan khawatir tentang ini. Kami telah mempertimbngkannya dengan hati-hati. Abyan memang mengambil saham Nhita, tapi dia tidak bisa menyentuh dasar Lexandra. Bagaimanapun, pamanmu memegang separuh saham. Saat ini, kami mencoba menukar sesuatu yang setara dan bernilai sama dengannya, Abyan pasti akan setuju! Yang di inginkan Abyan hanya kompensasi dan permintaan maafkan?"
Secara akurat, Natha memahami celah dari kata-kata Sonia. Ia berkata, "Jika paman mempunyai separuh saham dan Lexandra masih di tangan kalian, mengapa kalian begitu takut kepada Abyan?" kekehnya seraya menggelengkan kepala tidak wajar, "Paman, bibi, maaf. Barang itu merupakan barang terakhir yang kakek tinggalkan untukku. Aku tidak bisa memberikannya."
Kesabaran keduanya sepertinya habis setelah mendengar ucapan Natha. Bujukan Sonia dengan suara lembut, segara hilang. Suara Sonia menjadi tidak senang dan bantahan, "kenapa, Natha?! Kamu sangat tidak tahu terima kasih! Kami meminta baik-baik hanya untuk membantu keluargamu sendiri yang sedang dalam keadaan krisis!"
__ADS_1
Walaupun tidak sedikit siswa yang melihat mereka, dengan teriakan Sonia, mereka semakin terang-terangan menonton ketiganya. Tapi, yang di tonton tidak peduli sedikit pun.
"Itu pemberian kakekku! Itu hakku! Dan kalian tidak berhak untuk memilikinya!" tukas Natha dengan dingin.
Natha terbawa emosi. Ia tidak peduli dengan apa yang orang lain dengar. Walaupun sebenarnya ini pembicaraan pribadi, tapi, kedua orang di depanyalah yang membicarakan hal ini di waktu dan tempat yang tidak tepat.
Andre dan Sonia termangu dan tertohok mendengar pernyataan Natha. Tapi, Sonia tidak menyerah. Nadanya berubah tajam, "Natha, bibi sangat tahu, kamu adalah orang yang baik. Kamu tidak bisa begitu serakah memiliki semuanya. Kami sedang berada di jalan buntu, apakah kamu begitu tega membiarkan kami seperti ini?"
"Pfft--" Natha ingin sekali tertawa keras, setelah mendengar kata 'serakah' dari mulut Sonia untuk kedua kalinya.
Tidak peduli dengan raut Natha yang salah, Andre ikut nimbrung, "Paman tidak tahu hal apa yang akan terjadi selanjutnya. Paman sudah bekerja keras menyelamatkan. Tapi, paman belum bisa mendapatkan hak Lexandra untuk berbicara. Kami hanya ingin menghentikan balas dendam Grissham! Jangan lupa, Natha! Dalam analisi terakhir, kita adalah satu keluarga. Keluarga suamimu hanya memanfaatkanmu untuk membalas dendam kepada kami. Menggunakanmu sebagai bidak catur. Walaupun awalnya pernikahan kacau, namun saat pesta pernikahanmu kemarin, sebenarnya Abyan tidak benar-benar tulus. Mereka sengaja, melalui kamu mereka hanya ingin keluarga kami tidak memiliki kehidupan yang lebih baik!"
"Pfft--hahaha .." Natha tidak bisa lagi menahan tawanya.
Apa yang Andre katakan sangatlah lucu membuatnya terhibur. Natha seakan mendengar lelucon yang paling konyol seumur hidupnya. Dengan semua ketulusan kakek Albert, ibu mertua dan adik iparnya, dengan semua sikap hangat serta suara lembut Abyan, apalagi perasaan Abyan yang bisa ia rasakan, kenapa Natha harus mempercayai ucapan konyol Andre? Lalu, dengan kemunafikan ketiga anggota Lumian, kenapa Natha harus mempercayai 'keluarganya'?
Natha tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar. Saking kerasnya, suara tawanya mengundang perhatian semua orang. Ada yang menatapnya aneh, tercengang, terpesona, geleng-geleng kepala, bahkan ada yang ikut tertawa, walaupun entah apa yang lucu.
__ADS_1
Kening Andre dan Sonia sama-sama mengerut. Tawa Natha membuat mereka kesal, karena sangat jelas mengandung ejekan dan cemooh. Namun, mereka tidak bisa menyerah, setelah melakukan sejauh ini. Mereka terlanjur malu.
Sonia menarik nafas dalam penuh kesabaran. Setelah tawa Natha sedikit mereda, Sonia berjuang kembali, "Bibi tahu, karena latar belakangmu kamu mungkin tidak bisa berhubungan lebih dekat lagi dengan kami seperti sebelumnya. Tapi, selama bertahun-tahun, paman dan bibimu benar-benar mencintaimu, merawatmu dengan penuh kasih sayang seperti anak perempuan sendiri. Bahkan, lebih baik daripada Nhita. Sebenarnya, kakekmu tidak mempercayai kami untuk membesarkanmu, namun akhirnya kakekmu menyerahkanmu kepada kami. Walaupun kamu tidak mau kami yang merawatmu, tapi kamu harus mempercayai kakekmu yang telah mempercayai kami untuk membesarkanmu. Orang tua kandungmu juga. Setelah kamu lahir, mereka sangat mencintaimu seumur hidup mereka. Dan mereka memberikan warisan besar setelah kematian.."
Tawa Natha sudah berhenti di tengah ucapan panjang Sonia. Sekarang Natha menurunkan pandangannya dengan pikiran kosong tanpa emosi. Namun, ada kesedihan mendalam di mata Natha setelah mendengar tentang orang tuanya.
"Cukup. Aku tahu," lirihnya pelan.
Melihat perubahan emosi Natha, Sonia melirik Andre dengan penuh kemenangan. Ia melanjutkan perjuangannya, "Ya, begitu, Natha! Kamu adalah cucu kesayangan kakekmu. Orang terdekatnya. Kamu juga pasti tidak akan mengecewakannya. Upaya terbesar ayah dan kakekmu adalah Lexandra, termasuk harga diri mereka. Kamu pasti tidak akan tahan jika mereka tidak memiliki ketenangan dan kedamaian setelah meninggal?"
Natha tidak menjawab. Matanya terkulai menatap lantai. Kepalanya sedikit menunduk menutup kebencian dan kepahitan di dalam matanya.
Siapa yang tahan dengan itu? Jika bukan karena toleransi, bagaimana ia bisa hidup sampai sekarang? Jika bukan karena rasa lemah dan malunya terhadap kakeknya, bagaimana ia bisa tahan di kurung ribuan hari, puluhan bulan, dan beberapa tahun di ruangan gelap dan suram? Itulah mengapa ia masih bertahan hidup walaupun banyak cara untuk mati daripada hidup menderita.
Tidak menyadari pikiran Natha, Sonia dan Andre menyeringai puas mengalahkan Natha yang keras kepala.
"Natha? Ada apa ini?"
__ADS_1