
16+
***
"Bisakah kamu tidak mengungkit kejadian yang sudah berlalu? Kenapa aku marah? Karena aku tidak ingin kamu tersakiti untuk kedua kalinya. Walaupun kamu tidak merasakan rasa sakit karena terbiasa, tapi bukan berarti kamu terus-menerus membiasakannya. Sekuat apapun hatimu, kamu hanyalah manusia biasa. Aku tahu kamu begitu rapuh di dalam. Hatimu akan semakin retak dan hancur."
Abyan menghela nafas dalam-dalam. Lalu ia menarik Natha ke dalam pelukannya. Malam sudah semakin gelap gulita, jalan semakin sepi. Hanya cahaya lampu remang-remang yang menyinari.
Natha membalas pelukannya menahan untuk tidak menangis. Semua kata-kata Abyan seakan membongkar semua rahasia yang selalu Natha tutupi. Akhirnya Natha tidak bisa menahannya lagi dan terisak. Ia bukan menangis karena penyebab rasa sakit di hatinya, namun perkataan Abyan entah kenapa ingin membuatnya menangis.
Abyan mengeratkan pelukannya dan menenangkannya dengan kata-kata lembut.
"Aku tidak bisa menerima ucapan wanita itu. Sepertinya Galen mempengaruhinya. Aku ingat, mereka pernah dekat sebelumnya. Bagaimana bisa Galen mengatakan pernah berhubungan denganmu? Padahal aku tahu sendiri, kamu masih perawan saat malam yang indah denganku." Abyan berkata ringan setelah Natha berhenti menangis. Suasana kembali santai.
Natha melotot. Ia langsung memukul lengannya karena perkataan terakhir Abyan yang begitu sembrono. Tapi pelukannya ia lepaskan.
Abyan tersenyum geli. Ia memainkan rambutnya yang sangat halus dengan satu tangan. "Dalam hidupku, baru kali ini aku bertemu wanita menjijikkan seperti Meisa. Dari awal aku bertemu dengannya, kesan ku sangat buruk. Dia terus-menerus mengejarku seperti orang gila. Setiap aku melihatnya, aku hanya berharap di lenyap dari bumi ini."
Natha terkekeh pelan. Ia mencari tempat yang lebih nyaman di pelukannya.
Suasana begitu sepi. Di luar mobil sangat dingin, namun di dalamnya begitu romantis dan hangat.
Abyan menatap Natha dengan lembut. Suaranya begitu hangat. "Berbeda saat aku melihatmu, aku langsung merasakan yang namanya cinta untuk pertama kalinya. Kesanku tentu saja begitu baik. Dan saat itu, aku hanya berpikir untuk memilikimu. Setiap aku melihatmu, aku hanya ingin mengurungmu di dalam pelukanku. Seperti sekarang."
Natha menggigit bibirnya. Hatinya tergelitik dan bahagia. Seakan banyak kupu-kupu yang berterbangan di perutnya.
"Dear.."
"Hm." Natha mendongak. Ia kaget saat menghadapi mata itu.
Mata yang selalu ia hadapi hampir setiap malam.
Natha berniat untuk melepas pelukannya dengan gerakan tergesa, Namun Abyan menahannya dengan alis terangkat sebelah. "Mau ke mana? Aku belum memberitahumu sesuatu. Lain kali, kamu jangan mencium jari-jariku di tempat yang tidak tepat. Oke?"
Natha mengangguk berulang kali. Ekspresinya seperti anak kecil yang di paksa untuk mengerti karena takut di marahi gurunya.
__ADS_1
Hidung dan lingkaran matanya memerah karena sudah menangis. Bulu matanya basah. Tatapan Abyan turun ke bibirnya yang terlihat merah berkilau.
Tenggorokannya kering. Nafasnya berubah.
Merasakan ada yang tidak beres, alarm berbahaya mulai berbunyi di benak Natha. Ia berusaha keluar dari pelukanya, namun Abyan langsung mengungkung Natha di bawahnya.
Natha yang sudah terbaring di kursi mobil, wajahnya memerah, mulai panik. "Kamu.. kamu mau apa?"
Abyan tersenyum seperti binatang buas. "Mau apa lagi, hmm? Tentu saja kamu tahu apa yang aku pikirkan..."
"Ti-tida--" Sebelum Natha menolak, Abyan sudah membungkukkan badan dan menempelkan bibirnya di bibir orang di bawahnya.
Mata Natha melebar. Walaupun ia sudah terbiasa dengan serangannya, tapi masalahnya sekarang bukanlah tempat yang tepat. Untungnya, jendela mobil tidak bisa sembarangan orang lihat ke dalamnya.
Terlebih lagi, jika Abyan sudah menciumnya, bukanlah sekedar mencium. Tapi selalu menginginkan lebih.
Dan benar saja, ciuman Abyan berangsur-angsur panas. Nafasnya mulai berat. Dia terus-menerus berulah dan berbuat bebas di bibirnya.
"Nnnghh.. um.. tidak di mobil.." Natha mencoba mendorongnya di sela ciumannya yang semakin menuntut.
Mata Natha berkaca-kaca.
Saat melihat Natha mulai terpancing, Abyan melepaskannya seraya tersenyum penuh arti dan menggoda. "Baiklah. Aku tidak akan menyentuhmu lagi."
Natha yang di lepaskan begitu saja, tercengang. Ekspresinya seperti orang yang di beri harapan palsu. Memang dari mulutnya menolak, tapi tubuhnya tidak pernah menolak. Justru selalu menginginkan sentuhan lainnya.
Apalagi, Abyan sudah menarik keinginannya.
Wajah Abyan terlihat tenang, dan duduk tegak kembali memegang setir. Namun hanya dia yang tahu apa yang ia pikirkan. "Ayo kita lanjutkan perjalanan."
Natha yang masih setengah terbaring dengan ekspresi linglung, matanya berkaca-kaca lagi. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Ka-mu.. jahat.."
Abyan meliriknya santai. "... Apa?"
"Kamu.." Natha ingin marah, tapi tidak bisa mengungkapkannya.
__ADS_1
Abyan tertawa rendah dan magnetis. Tiba-tiba ia meratakan sandaran kursi mobil yang ia duduki. Lalu kursi Natha.
Natha yang melihat gerak-geriknya melongo dengan mulut terbuka.
"Ap-a yang ka-mu lakukan?" Natha tergagap.
Abyan tersenyum manis. Namun Natha merinding saat melihat senyum itu. "Ini kan, yang kamu inginkan?"
Mata Natha membulat dengan wajah memerah. "Tid-ak!"
Abyan berhenti menggodanya. "Hari sudah malam. Kita lanjutkan perjalanan besok saja. Ini sudah tengah malam. Apartemen kita masih jauh."
Natha mengerjap. Lalu mengangguk. Merasa malu dengan apa yang di pikirkannya.
Abyan pindah di kursi belakang. Lalu ia mulai berbaring. Abyan mengangkat kepalanya melihat Natha yang masih menatapnya cengo. "Dear, ke sini. Kenapa kamu diam saja?" Abyan menepuk sebagian tempat kosong di depannya.
Natha mengangguk dan mulai bergerak. Untungnya tidak terlalu sempit. Natha mulai berbaring di samping Abyan.
Abyan memeluknya seluruh tubuhnya. Walaupun Natha merasa sedikit dingin, namun suhu tubuh Abyan terlalu panas. Apalagi saat Abyan bersandar pada lehernya. Nafasnya menggelitik.
"Jangan bernafas di leherku. Kenapa begitu panas?" Natha berbisik.
"Itu karenamu, Dear." Abyan menggigit lehernya. Dan berguman kesal. "Sebenarnya aku bisa melakukannya, daripada harus menahannya seperti saat ini. Tapi aku masih bisa mengendalikanku, sangat tidak pantas melakukannya di sini. Lain kali takkan ku lepaskan."
Natha langsung mendongak menatapnya terperangah kaget. Wajahnya memerah.
Abyan berdecak. "Jangan tatap aku dengan tatapan seperti itu, hanya membuatku ingin melihatmu menangis di bawahku."
Natha melotot terpana. "Kamu.. mesum."
Abyan tertawa terbahak-bahak. Lalu Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Natha. Berbisik dengan suara serak. "Jangan bilang aku mesum. Aku suamimu, bukan orang lain. Itu wajar. Apa kamu lupa? Kamu sendiri selalu mendesah keras di bawahku."
Natha melotot. Wajahnya begitu merah karena malu dan marah. Ia mencubit perutnya dengan keras.
"Jangan membuat masalah, Dear. Cubitanmu berbahaya. Apakah kamu mau, pria tertampan yang merupakan pria favorit gadis seluruh kota, berpenampilan sopan dan dingin, yang merupakan Tuan Muda keluarga Grissham, melakukan hal tidak senonoh dengan istrinya di dalam mobil di pinggir jalan?"
__ADS_1
***