
Di malam hari, Natha tengah duduk di samping kedua bayinya yang tengah tertidur nyenyak. Setelah beberapa saat, ia membuka kepalan tangan Alex dan mengusapnya dengan pikiran melayang.
Natha sudah menyadari sejak melahirkan bahwa kekhususannya benar-benar lenyap. Penglihatan dan pendengarannya sudah kembali normal dan tidak setajam sebelumnya.
Ruang di kalung itu masih ada, hanya saja stalagmit yang selalu menetes sudah tidak lagi. Dengan kata lain, kolam rahasianya sudah menjadi genangan air biasa.
Natha tidak kenapa, namun yang ia tebak semua itu terjadi setelah ia hamil.
Natha mengusap sebuah tanda bulat lonjong di telapak tangan Alexa. Itu adalah bentuk kalung giok biru yang Natha pakaikan kepada Alexa sekarang.
Ia masih merasa heran sampai saat ini, kenapa tanda ini terbentuk di telapak tangan putranya?
Pandangan Natha beralih pada tangan Alex, saat membuka kepalannya, sebuah tanda berbentuk bulan sabit terlihat di telapak tangan kecilnya.
Semua ini terjadi setelah Natha memakaikan kedua kalung itu kepada dua bayinya.
Saat ini umur bayinya sudah memasuki setengah tahun. Pada empat bulan yang lalu, Natha tidak menduga bahwa benda pusaka Lexandra yang ia ambil adalah pasangan dari kalung gioknya.
Hanya saja, kalung di dalam kotak itu berwarna hijau zamrud dan berbentuk bulan sabit.
Natha pernah mencoba mengotak-ngatik kedua kalung itu. Talinya dan hiasan perak di pinggirnya sama persis, hanya warna dan bentuknya saja. Natha tidak sengaja pernah menggabungkan keduanya dengan bulan sabit yang di satukan dari arah pinggir batu giok lonjongnya itu. Seperti magnet, kedua kalung itu menyatu dengan sebuah cahaya perak yang bersinar. Karena terkejut, Natha langsung memisahkannya kembali membuat cahaya itu redup dan hilang.
Setelah percobaan itu, Natha yakin memang kedua kalung itu pasangan. Dengan sengaja, Natha memakaikan kalung giok hijau zamrud kepada Alex, dan biru kepada Alexa. Namun keesokan harinya, Natha menemukan tanda itu di telapak tangan kedua anaknya. Natha sangat terkejut.
Abyan yang sama-sama mengetahui, tentu terkejut. Pria itu menduga tandanya berasal dari kedua kalung itu.
Hanya saja, setelahnya Natha tidak bisa memasuki ruang itu lagi. Telapak tangannya tidak mengeluarkan air lagi.
Karena menduga sama-sama mempunyai ruang, Natha pernah mencoba masuk ke dalam ruang kalung hijau itu, namun tidak bisa. Akhirnya Natha menganggap semua itu tidak pernah terjadi. Ia hanya cukup menjaga kedua benda berharga itu dan memakaikannya kepada kedua bayinya.
__ADS_1
Tanpa ruang itu lagi, hari-hari Natha bersama Abyan dan kedua bayinya sampa saat ini berjalan seperti semula.
Natha awalnya agak kewalahan setelah mempunyai kedua bayi itu. Ia cukup lelah. Setiap waktunya di penuhi tangisan anaknya setiap hari. Namun, di sisi lain hidupnya lebih berwarna dan lengkap.
Hal yang paling tidak terduga adalah pasangan yang bersatu hanya karena Natha mengidam, benar-benar langgeng sampai saat ini. Dan kabar bahagianya, mereka akan menikah beberapa hari lagi mereka akan menikah.
Sebenarnya Briyan dan Theresa masih menjalankan kuliahnya, namun itu tidak menghalangi untuk menikah. Sebabnya tidak lain, karena Briyan menginginkan anak yang lucu seperti keponakannya.
Natha merasa lucu mengingat itu. Namun, senyumannya perlahan berangsur-angsur hilang saat mengingat sesuatu.
Natha beranjak berdiri dengan pandangan menuju luar jendela.
Natha tidak menyangka kehidupannya saat ini berbanding jauh dan lebih bahagia dari kehidupannya dulu. Semua ini sudah menjadi bukti betapa adilnya Tuhan.
Di tambah dengan keberadaan dua bayinya saat ini, kehidupan Natha begitu lengkap dan rasa bahagianya tidak bisa di jelaskan.
Natha menatap mereka lembut.
Tiba-tiba Natha merasakan seseorang memeluknya dari belakang, ia yang awalnya terkejut langsung rileks saat mencium bau yang akrab.
"Apa yang kamu pikirkan, Sayang?" Bisikkan lembut seseorang yang tak lain adalah suaminya mengalun di telinga Natha.
Natha memegang tangan yang melingkari perutnya. Dengan pandangan yang tertuju bayinya, ia berkata. "Aku merasa aku telah menjadi orang terberuntung karena memilikkimu dan mereka."
Kekehan magnetis dan merdu terdengar jelas di area pendengaran Natha. Ia merasakan kecupan di lehernya membuat Natha geli karena nafasnya. Lalu suara serak basahnya berbisik. "Seharusnya aku yang mengatakan itu, Sayang. Bahkan, aku merasa perlu memamerkannya kepada seluruh dunia bahwa betapa bahagia dan beruntungnya aku memilikimu. Betapa bersyukurnya aku karena Tuhan memberikanmu untukku. Lalu, kedatangan dua malaikat kecilku membuatku seakan-akan menemukan segunung emas setelah memiliki lautan berlian."
Natha berbalik dan memeluknya. Pelukan familier itu tidak pernah membuatnya bosan. Malah selalu membuatnya hangat, aman, damai dan nyaman.
Abyan balik memeluknya lembut. Ciumannya menghujani kepala dan kening Naha.
__ADS_1
Keduanya berpelukan di bawah sinar bulan yang menembus jendela. Lalu kedua bayi lucu yang tertidur nyenyak di samping mereka membuat keluarga kecil itu seakan-akan lukisan yang di buat dengan kesan kebahagiaan.
Natha melepas pelukannya dan mendongak seraya memperbaiki kerah bajunya. "Apakah kamu sudah makan malam di kantormu?"
Abyan memeluk pinggangnya dan meletakkan dahinya di bahu Natha. Berkata dengan suara rendah, "Sudah, Sayang."
"Mau aku buatkan kopi?"
"Tidak."
Natha menghela nafas. Ia mengusap kepalanya dan berkata lembut. "Ya sudah. Sepertinya kamu lelah. Sekarang kamu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku akan membuatkan teh manis hangat untukmu."
Abyan mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah kedua anaknya yang tertidur nyenyak. Ia menatap Natha kembali dengan mata menyipit. "Mereka tidur sangat nyenyak."
Natha tidak memerhatikan ekspresinya karena ia langsung menoleh ke arah mereka dan mengangguk. "Hm. Tadi siang mereka terlalu banyak bermain, dan aku lupa menidurkannya."
Senyum Abyan semakin dalam. Ia berbisik di telinga Natha. "Sepertinya mereka tidak akan merepotkanmu malam ini. Tidur di kamar kita saja, bagaimana?"
Natha langsung memerah karena godaannya.
Satu hal yang paling membuat Abyan kesal kepada kedua bayinya itu, selain merebut perhatian Natha, mereka juga merebut Natha dari tempat tidurnya. Setiap malam, Natha sangat jarang tidur di kamar mereka berdua karena kedua bayi itu akan bangun dan menangis jika tidak merasakan ibunya di samping mereka saat tidur.
Abyan bisa saja tidur di sini bersama mereka, namun ia merasa tidak bebas untuk memeluk Natha karena lagi-lagi mereka merebut pelukan Natha untuknya setiap malam.
Saat ini bagaikan kesempatan emas untuk Abyan. Ia yakin, kedua bayinya itu tidak akan bangun karena ketidakberadaan Natha.
Natha menatap kedua bayinya terlebih dahulu. Ia sebenarnya agak kasihan dengan Abyan, namun di sisi lain bayinya juga selalu menangis jika ia tidak ada, membuat hati Natha melembut melihatnya.
Natha menoleh dan berniat menolak, namun bibirnya langsung di sumbat oleh bibir Abyan. Pria itu menciumnya agak sedikit kasar dan menuntut.
__ADS_1