
"Mau makan apa?"
Natha mengangkat kepalanya setelah memilih makanan yang terdapat di dalam menu restoran. Lalu tersenyum sedikit, "Skirt steak, Mah. Minumannya ice drink saja."
"Oke." jawab Alice santai. Lalu menatap seorang pelayan wanita yang sedari tadi menunggu kedua perempuan di meja itu memesan makanan. Alice menatapnya, "Skirt steak dan Foie gras. minumannya Ice drink dan Milk tea."
Pelayan wanita itu mencatat pesanannya. Setelah selesai, dia menurunkan buku catatannya menatap Alice, "Apakah ada pesanan lain, Nyonya?"
Alice menggeleng
"Baik. Makanan serta minumannya akan segera datang." Setelah melihat anggukan Alice, pelayan itu membungkuk sopan, lalu pergi untuk mengambil makanannya.
Saat ini, mertua dan menantu itu tengah berada di sebuah restoran di dalam mal. Setelah puas berbelanja berbagai kebutuhan wanita, Alice mengajak Natha untuk makan siang.
Awalnya, Natha merasa sedikit tidak terbiasa. Baik dengan keramaian mal, dalam berbelanja, ataupun Alice sendiri. Namun, semakin lama di sana, semakin membangkitkan mood Natha. Apalagi Alice yang selalu antusias dengannya membuat Natha nyaman.
Belanjaan keduanya hampir tidak bisa kedua tangan tampung. Untungnya, Abyan mengirim seorang pengawal untuk menjaga kedua orang yang berharga baginya. Awalnya lebih dari dari satu orang, malah lima orang, namun dengan tegas Alice dan Natha menolaknya.
Walaupun hanya satu orang, pengawal itu membawa barang belanjaan Alice dan Natha tanpa kewalahan. Tapi, Alice sudah menyuruhnya untuk pulang terlebih dahulu sebelum memasuki restoran.
Di sisi lain, awalnya Natha sangat keberatan dan malu dengan 'bayaran' meminta izin suaminya itu. Namun, karena tidak ingin mengecewakan Alice--yang sudah ia terima tawarannya--Natha dengan enggan menyetujuinya. Hanya ciuman, kan? Dia tidak akan mati hanya karena mencium. Namun mati karena tersipu malu.
Pesanan keduanya datang setelah hampir 15 menit. Mereka makan dengan tenang sambil menikmati suasana restoran megah elegan itu. Musik yang membuat nyaman mengalun menyapa telinga semua orang yang terdapat di sana.
Hanya butuh beberapa menit untuk menyelesaikan makan siang. Setelah Alice membayar dan setelah pelayan membereskan semuanya, Alice mengajak Natha duduk kembali.
__ADS_1
"Natha, mamah ingin mengatakan sesuatu," ujarnya lembut
Natha menatap Alice sedikit bingung. Lalu mengangguk serius.
Alice terkekeh melihat wajah serius Natha, "Jangan terlalu serius. Mamah hanya akan mengatakannya dengan santai."
Natha tersenyum malu dan canggung.
Alice tersenyum tenang, "Ini baru pertama kalinya kita menghabiskan waktu sebagai keluarga. Mamah juga jarang mengobrol dengan kamu, Natha. Jika kamu sedang di rumah, suamimu itu selalu mengurung kamu membuat mamah sulit untuk berbincang denganmu. Tadi pun mamah sengaja ke kamar kalian untuk mengambilmu darinya," celotehnya dengan mimik beragam.
Natha diam mendengarkan. Ia tersenyum geli mendengar kalimat terakhir. Jika Abyan dan Natha sama-sama di rumah, Abyan memang tidak membiarkannya keluar kamar sedikit pun.
Untungnya, Natha bukan gadis yang selalu berkeliaran untuk bermain atau kemanapun. Jadi, Natha tidak keberatan terus menerus diam di kamar.
Selain itu, untuk menghilangkan kebosanan, Natha selalu membaca buku-buku rumit milik Abyan.
Natha tidak tahu, ternyata Alice selalu ingin berbincang dengannya.
Alice menopang dagunya, "Mamah tidak menyangka, putra mamah yang dingin itu bisa seposesif dan sebucin itu sama kamu. Padahal, dulu mamah sudah menawari berbagai gadis cantik yang sangat cocok menurut mamah. Tapi, dia menolak bahkan sebelum mamah menjelaskan." Alice mendengus. Lalu melanjutkan dengan ekspresi bahagia, "Tapi sekarang? Hatinya yang keras bisa luluh karenamu. Oleh sebab itu, mamah bisa belajar dari kalian berdua, sekeras apapun hati, maka dengan ketulusan, hati itu akan melembut. Sepertinya, Abyan sangat beruntung memilikimu, Natha. Bukan hanya dia, tapi kami--keluarga Grissham merasa bersyukur dengan kedatangan kamu. Seperti yang Abyan pernah ucapkan, dia tidak akan bangun tanpa kamu.."
"... Mamah tidak tahu, bagaimana nasib Abyan jika saja orang yang menikah dengan dia adalah Nhita. Mungkin, Abyan tidak akan lebih baik." Sedikit cibiran terdengar dalam nada suara Alice.
Lalu, Alice menggenggam tangan Natha dengan lembut. Wajahnya penuh ketulusan dan rasa syukur ketika menatap Natha, "Walaupun mamah pernah mengatakan ini sebelumnya, namun mamah ingin mengatakannya lagi. Maaf, mamah sangat meminta maaf atas sikap mamah sama kamu sebelum Abyan bangun. Selain itu, terima kasih, Natha. Terima kasih telah membuat Abyan bangun, terima kasih karena kamu telah merawatnya dengan penuh ketulusan, terima kasih telah bersabar dalam menghadapi sikap kami, terima kasih telah bertahan di rumah kami."
Natha mematung. Ia bingung kata-kata Alice yang mana harus dia jawab, walaupun Natha tahu setulus apa Alice saat ini. Apalagi matanya berkaca-kaca dengan ketulusan, rasa syukur, kesedihan, rasa bersalah.
__ADS_1
Dengan kaku Natha melepaskan genggamannya dan mengusap bahunya, "Tidak apa-apa, Mah. Aku tidak keberatan dengan sikap kalian dari awal. Jadi, tidak perlu meminta maaf. Selain itu, dengan apa yang sudah aku lakukan terhadap suamiku, merupakan keinginan hatiku sendiri. Namun, aku tidak menolak rasa terima kasih mamah."
Memang, dari awal Natha sama sekali tidak membenci atas sikap mereka. Hanya membuatnya merasa kurang nyaman. Jadi, saat mereka meminta maaf setelah Abyan bangun, Natha tidak terlalu peduli dan memaafkan begitu saja. Natha mungkin terlalu memikirkan kekejian orang-orang biadab di masa lalunya. Bahkan, sampai sekarang, Natha tidak mempercayai siapapun di keluarga Grissham terkecuali Abyan. Tapi, Natha menerima ketulusan mereka.
Saat ini, melihat Alice yang selalu lembut kepadanya, bolehkah Natha mengharapkan kasih sayang seorang ibu?
Terlebih lagi, sudah lumayan lama Natha selalu memanggil Alice 'Mamah'. Namun, Natha tidak terlalu merasakan perasaan yang terkandung dalam panggilan itu. Mungkin Natha bisa menerimanya sekarang?
Alice tersenyum lebih lembut. Air mata sudah menetes jika saja Alice tidak menghapusnya.
"Terima kasih, Natha." Alice menghela nafas lega. "Sebenarnya, dari awal mamah tidak pernah menyangka hubungan kalian akan sejauh ini. Malah, Abyan sendiri yang meminta menikah denganmu dengan serius dan sebenarnya tanpa persyaratan seperti sebelumnya. Mamah yakin, dia sangat tulus. Mamah, sebagai ibu Abyan, sebelumnya sama sekali tidak bersikap baik kepadamu--menantu mamah sendiri. Namun, percayalah, mamah akan selalu memperlakukanmu dengan baik ke depannya. Mamah akan selalu menganggapmu putri mamah."
Runtuh sudah pertahanan Natha. Ya, Natha membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Walaupun bibinya--Sonia yang merawatnya sedari kecil, namun dari awal bukanlah ketulusan.
"Terima kasih, Mah," lirih Natha dengan suara bergetar.
Alice mangusap rambutnya, "Untuk apa kamu berterima kasih? Seharusnya, di sini mamah yang berterima kasih kepadamu."
Wajah Natha berpaling menutupi matanya yang berkaca-kaca.
Alice hanya tersenyum hangat. Lalu, Alice melihat tas yang ia simpan di kursi kosong di samping. Alice mengambil sesuatu di dalamnya. Setelah mengeluarkannya, terlihatlah sebuah kotak berwarna merah dengan ukuran sedang. Alice menyimpannya di meja, lalu mnyodorkan kotak itu di depan Natha.
Natha dengan bingung menatap kotak itu. Lalu menatap Alice penuh tanya.
Alice hanya tersenyum, "Untuk kamu."
__ADS_1