Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 72


__ADS_3

"Sayang.. maafkan aku. aku tidak bisa menemanimu saat ini.."


Natha terkekeh pelan melihat wajahnya yang cemberut dan memelas, "Tidak apa-apa. Justru aku merasa senang kamu pergi. Terlalu bosan melihatmu setiap waktu."


Abyan semakin mengerucutkan bibirnya.


Saat ini Natha berdua dengan Abyan di ruangan VVIP nya. Hari masih pagi, biasanya Abyan memang tidak ke perusahaan, ia dengan sengaja tidak bekerja hanya untuk menemani Natha. Namun, saat ini, ada sesuatu yang penting dan pria itu juga di omeli sekretarisnya karena tidak datang ke kantor sama sekali.


Setiap hari, pria itu terus menempeli Natha dengan perhatian yang terus menerus tercurahkan. Natha tidak risih, justru merasa geli dan hangat akan tingkahnya.


Saat Natha mendengar suaminya itu akan ke kantor, ia hanya menyetujuinya, karena justru ia selalu menyuruhnya setiap hari.


Abyan merajuk di wajahnya, namun dengan manja tubuhnya memeluk Natha, "Aku tidak mau menjauh darimu."


Natha mencibir dan mendengus geli.


Pria itu sudah memakai jas rapi. Natha merapikan dasinya dan menepuk kepalanya seperti anak kecil, "Ayo cepat pergi. Kamu harus mencari uang yang banyak."


Abyan dengan enggan melepas pelukan dengan istri kecilnya. Lalu sedikit mendekat kan wajahnya, "Cium."


Natha dengan patuh mencium kedua pipinya.


Lalu bergantian Abyan yang mencium keningnya, lalu tiba-tiba turun bertumpu di bibir lembutnya. Natha yang terkejut tidak sempat bereaksi, namun saat pria itu akan memperdalam ciumannya, Natha menjauh membuat ciumannya terlepas.


Abyan cemberut. Namun matanya melengkung tanpa jejak bersalah.


"Kamu! Cepat pergi!" Natha berteriak kesal dengan wajah memerah.


Cup


Abyan mencuri ciuman di pipinya dengan suasana hati yang baik dan langsung mengambil tas kantornya, "Oke! Selamat tinggal, Sayang."


Natha mengembungkan pipinya tidak menjawab.

__ADS_1


langkah Abyan berhenti dan menoleh, "Selamat tinggal."


"Ya, ya! Sana, sana! Pergi kau!"


Abyan tersenyum lebar atas ucapan ketusnya, "Aku sudah menyiapkan sepuluh pengawal di luar, panggil saja mereka jika kamu butuh bantuan."


Natha tercengang, "Sepuluh pengawal?! Untuk apa?!"


"Untuk menjagamu. Aku pergi dulu. I love you, Dear." Pria besar itu meniup ciuman dari jauh dengan tawa di mulutnya lalu keluar setelah melirik Natha untuk terakhir kali.


Natha tersipu dan melihatnya pergi sampai menghilang di telan pintu.


Hari ini Natha berniat keluar untuk menikmati sinar matahari pagi di taman rumah sakit.


Dengan sedikit perdebatan dengan para pria kekar alias pengawal Abyan itu, akhirnya Natha berhasil keluar dengan di buntuti mereka sekitar jarak delapan meter darinya.


Pada saat ini, Natha duduk di sebuah kursi panjang berwarna putih di sana. Ia masih memakai pakaian rumah sakit dengan sandal jepit. Rambutnya di gerai. Wajahnya terlihat polos tanpa riasan apapun.


Natha mengedarkan pandangan melihat seluruh taman. Karena membutuhkan sinar matahari pagi, tidak sedikit orang di taman itu. Tentu saja hanya orang-orang sakit.


Ia tidak tahu, mengapa dan sejak kapan keluarga Lumian berangsur-angsur hancur. Padahal ia tidak banyak turun tangan untuk menghadapi mereka. Bahkan balas dendam ekstrem yang ia rencanakan sejak lama sudah tidak ia pikirkan. Mungkin Tuhan memang memudahkan hidupnya di kehidupan sekarang? Selain itu, Abyan yang menjadi suaminya di kehidupan ini menjadi peran besar dalam membantunya untuk menjatuhkan mereka.


Jika di pikir-pikir lagi, sepertinya kehancuran mereka karena tindakan mereka sendiri. Abyan tidak akan merebut saham yang Nhita pegang dengan paksa, jika saja ketiga anggota Lumian itu tidak pergi ke perjamuan makan, kan? Jika mereka bertindak kepadanya, mereka selalu kalah dengan rasa malu. Jika mereka tidak merencanakan kecelakaan itu, Nhita tidak akan terluka parah, kan? Jika Sonia melakukan aksi gila menikam Abyan, ia tidak akan masuk pernjara dan menjadi gila, kan? Jika mereka tidak mempunyai hati iri, serakah, egois, pendendam, mereka tidak akan hancur seperti yang sudah terjadi, kan?


Natha merasa miris dengan nasib mereka. Namun ia merasa penderitaan mereka agak kurang. Ia belum turun tangan, kenapa mereka sudah hancur saja?


Dan Galen? Pria itu belum menderita, Natha tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.


Andre? Lihat, sampai mana dia berlari.


Nhita? Natha yakin tidak lama lagi ia akan datang kepadanya. Ia juga mendengar Nhita memotong pergelangan tangannya. Jika saja tidak di tahan orang lain, Natha yakin orang yang menjadi sepupunya itu sudah mati sekarang.


Meskipun Natha tahu kehidupan Nhita sudah terombang-ambing, terduduk di kursi roda, Andre pergi entah kemana, Sonia gila, tapi dengan bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah. Kehidupan sangat berharga, banyak orang yang masih ingin hidup. Tapi kenapa Nhita ingin mengakhiri hidupnya begitu saja?

__ADS_1


Bukannya Natha bersimpati ataupun tidak ingin Nhita mati, tapi ia hanya menganggapnya sangat bodoh. Selain itu Nhita terlalu mudah untuk mati.


"Kakak.."


Panggilan seseorang dengan suara lirih membuyarkan lamunan Natha. Ia menoleh ke samping mendapati seorang gadis yang berpakaian sama dengannya terduduk di kursi roda. Pergelangan tangannya di perban. Wajahnya lebih tirus dengan lingkaran hitam di matanya. Gadis itu adalah orang yang Natha lamunkan barusan.


Pengawal Natha yang mengikuti, langsung bergerak menghalangi Natha dari Nhita.


Natha tidak kaget saat melihatnya. Pertama, karena ia sudah menduga. Kedua, karena ia tau Nhita melukai dirinya sendiri. Hanya saja ia baru tahu Nhita di rawat di rumah sakit yang sama.


Namun saat mendengar Nhita memanggilnya kakak, Natha merasa jijik. Ia yakin, panggilan 'kakak' Nhita kepadanya sekarang, pasti karena ada sesuatu yang di inginkannya.


Melihat Nhita yang terduduk di kursi roda untuk pertama kalinya, Natha merasakan emosi rumit yang tidak bisa di jelaskan. Mereka sendiri yang berniat mencelakakan orang lain, malah dia yang merugikan dirinya sendiri. Natha merasa akhir dari Nhita saat ini sejalan dengan kejahatan yang dia lakukan.


Melihat Natha yang terdiam tanpa emosi apapun di wajahnya, apalagi keberadaan pengawalnya sangat membuatnya cemas. Nhita langsung menangis sedikit keras membuat sebagian perhatian orang di taman itu tertarik pada keduanya.


Melihat ini, Natha tersenyum sinis. Ternyata, Nhita ingin mendapat simpati orang di sekitarnya.


"Biarkan saja," ucap Natha kepada pengawal yang berjumlah sekitar lima orang itu.


Mereka saling pandang merasa ragu. Salah satu dari mereka membuka suara, "Ta-pi, Nyonya.."


Natha langsung memotongnya, "Tidak apa-apa. Aku ingin mendengar apa yang ingin dia katakan."


Mereka akhirnya mengangguk dengan enggan. Mereka menyingkir dan berdiri tidak jauh.


Nhita yang berlinang air mata langsung membuka suara, "Kakak.. tolong aku.. ayahku sudah pergi, ibuku di tangkap, aku sendirian di rumah sakit tanpa siapun. Apa yang harus aku lakukan? Bisakah kamu membantuku dan mengeluarkan ibu?"


Karena jarak mereka cukup jauh, Nhita mendekat dengan menjalankan kursi rodanya dan berniat memegang tangan Natha. Namun, Natha menghindar.


Ekspresi Nhita semakin sedih. Air mata terus menerus mengalir, "Kakak.. hiks. Aku mohon.."


Orang-orang yang dari awal memperhatikan, langsung mengerutkan kening menatap Natha. Tentu saja, mereka mereka kasihan dengan Nhita.

__ADS_1


Namun Natha terlihat tenang dengan ekspresi acuh tak acuh.


__ADS_2