Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 78


__ADS_3

17+


***


Keesokan harinya, saat Natha bangun ia merasakan rasa sakit di seluruh tubuhnya, pinggangnya seakan patah, bibirnya membengkak. Apalagi, bagian kewanitaannya sangat perih dan sakit jika bergerak sedikit pun. Seluruh tubuhnya pegal-pegal seolah di remukkan.


Saat matanya terbuka, dada bidang telanjanglah yang menyambut penglihatannya. Ia merasakan tangan besar melilit pinggangnya dan merengkuh tubuhnya. Mata Natha melebar.


Setelah mengingat kejadian intens semalam, seluruh wajahnya langsung memerah. Pada awalnya memang sangat menyakitkan. Itu memang wajar, dia masih perawan. Namun tindakan lembutnya kentara membuat Natha terlena dan melupakan rasa sakitnya.


Natha memang menikmatinya, mamun suaminya itu seakan menjadi orang lain, sangat ganas. Semakin ia menangis dan mohon, maka semakin menambah api, dan semakin lama Abyan melepaskan dirinya. Bahkan Natha sudah pingsan beberapa kali.


Kedua pipi Natha semakin memanas. Ia sedikit mengangkat kepalanya menatap wajah tidur pria yang tengah mendekapnya.


Tidak usah di tanyakan bagaimana pesonanya. Bahkan ketika tidur, wajahnya sangat tampan dan menawan.


Tiba-tiba, mata pria itu terbuka dan langsung bertemu dengan tatapannya membuat Natha tersentak.


Mata Abyan sangat lembut saat menatapnya. Sudut mulutnya terangkat dengan kebahagiaan yang tidak bisa di sembunyikan. Suaranya yang seksi dan serak menerpa telinganya. "Bangun?"


Natha mengangguk pelan dengan wajah memerah. Mengingat semalam, wajahnya berekspresi malu dengan keluhan. "Kamu berbohong.."


Abyan menatapnya seraya mengangkat alis. "Bohong apa, hmm?"


Natha mengalihkan pandangan. Menggerutu dengan suara seperti nyamuk. "Katanya.. kamu, akan pelan.."


Abyan tertawa rendah. Tangan di pinggangnya memeluknya dengan erat. Wajah pria itu bersembunyi di lehernya membuat Natha bergidik merinding karena nafas panasnya.


"Maaf. Aku tidak bisa mengendalikan diriku. Kamu terlalu enak." Bisikan ambigu Abyan memasuki telinga Natha dengan jelas.


Natha tersipu dengan kata 'enak'. Ia mencubit dadanya dengan malu. "Kamu.."


"Aw! sakit, Sayang." Abyan meringis dengan hiperbola.


Natha dengan sengaja mencubitnya lagi lebih keras.


Abyan menggenggam tangannya. "Diam, Dear. Kamu bisa membangunkannya."


Mata Natha melebar. Ia langsung diam dengan patuh.

__ADS_1


Abyan terkekeh. Ia mencium keningnya dan mendekapnya lebih erat. "Tidur lagi. Hari masih pagi."


"Aku tidak nyaman. Ingin mandi," cicitnya.


Natha bergerak-gerak dengan kedua tangannya menahan tekanan pelukan pria itu yang semakin mengerat. Tubuh keduanya masih polos tanpa sehelai benang pun di balik  selimut. Semakin Abyan memeluknya, keduanya semakin merapat. Apalagi, Natha merasakan benda milik pria itu mengangkat kepalanya kembali, menyentuh pinggulnya.


Ekspresi Natha menegang dan memerah.


Abyan tersenyum penuh arti. Dengan suara berat, ia berbisik. "Apa aku bilang, hmm? Kamu seharusnya diam. Adikku bangun lagi. Salahmu karena terlalu banyak bergerak, kamu harus bertanggung jawab."


Natha menggeleng panik. Ia menatapnya dengan mata menyedihkan. "Aku masih sakit.."


Walaupun tatapannya merangsangnya, rasa kasihan lebih mendominasi. Jadi Abyan mengampuninya detik ini. "Baiklah. Apakah kamu ingin mandi?"


Natha mengangguk dengan mata berkaca-kaca.


Menekan keinginannya, Abyan bangun tanpa sehelai kain pun.


"Ah!" pekik Natha panik seraya menutupi kedua matanya melihat itu.


Abyan tersenyum nakal. "Kenapa kamu menutupinya? Kamu sudah melihatnya bahkan sebelum aku bangun dari tidur panjangku."


Ia memang selalu menutup mata ketika memandikan Abyan dulu, namun tubuh bagian atasnya Natha tidak bisa menyangkalnya.


Apalagi, Abyan yang sering berolahraga akhir-akhir ini, membuat tubuhnya semakin kokoh dengan perut six pack. Sangat hot dan menggoda wanita manapun.


Abyan tersenyum geli. Ia mengambil boxer yang tergeletak di lantai. Setelah memakainya, ia langsung memangku Natha membuat Natha kaget. Apalagi, selimut yang menutupi tubuhnya Abyan singkirkan.


Natha refleks menutupi kedua dadanya dengan seluruh wajah semerah apel matang, namun bagian paling penting tidak bisa ia tutupi membuat Natha semakin malu.


"Percuma saja kamu tutupi. Tubuh bagian mana yang belum aku lihat? Bahkan aku sudah mencicipi setiap incinya," katanya vulgar seraya melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Natha menatapnya malu dan kesal. "kamu!"


Abyan mengabaikan kekesalannya. Ia mendekapnya dan masuk ke kamar mandi. Dengan lembut, Natha ia turunkan di bath up yang telah terisi isi air.


Natha bersembunyi di dalam air sampai ke lehernya yang terdapat banyak jejak pria itu. Natha juga bisa melihat cakaran tangannya di punggungnya dan bagian lainnya. Saat ini ia telanjang bulat. Namun Abyan hanya memakai boxer.


"Kamu pergi! Aku akan mandi sendiri!" cetusnya memerintah.

__ADS_1


Bukannya pergi, Abyan malah ikut masuk ke dalam bath up membuat Natha panik. Natha mundur, namun karena tempat itu sempit, membuatnya tidak leluasa. Ia langsung masuk ke dalam pelukannya yang panas membakar.


"Aku akan membantu membersihkannya," bisiknya sensual.


Natha menggeleng cepat. "Ti-dak.. tidak. Aku sendiri.."


Abyan menyeringai. "Apakah kamu merasakannya? Adikku masih berdiri. Kamu harus membantu menidurkannya kembali."


"Kamu.. kamu bilang tidak akan. Ak-aku masih sakit.." gagap Natha dengan tubuh gemetar karena tangan pria itu sudah berkeliaran di tubuhnya.


Natha merasa tidak percaya dengan Abyan yang berbicara sevulgar sekarang. Sangat berbeda dengan pria lembut, menawan, dan sopannya di depan keluarga dan rekan bisnisnya.


Natha masih bergidik mengingat bagaiman keganasannya semalam.


"Ayo, lakukan lagi." Suara serah dan gerah itu sangat menggoda.


Sebelum menolaknya, Natha sudah di tekan dan di serang olehnya. Keduanya melakukan kembali di kamar mandi dengan postur yang berbeda-beda. Tidak beda jauh dengan semalam, durasinya hampir sama bahkan lebih. Sampai siang hari, Natha melemas seolah tanpa tulang. Setelah Abyan membersihkan tubuhnya, Abyan menyuapinya untuk makan. Natha terpaksa makan. Setelah selesai, ia langsung terlelap setelah beberapa detik menyentuh bantal.


Melihat wajah tidurnya, Abyan membelai pipinya dengan lembut. Kepuasan, kesenangan dan kebahagiaan membanjirinya saat ini. Natha--istrinya, sudah sepenuhnya ia miliki. Abyan sangat bahagia.


Abyan mencium keningnya lembut. "Aku mencintaimu, Sayang."


Abyan memeluknya. Walaupun ia tidak mengantuk, tapi ia ingin menemaninya tidur. Dan keduanya tertidur lelap sampai sore hari.


***


Saat Abyan meminta izin kepada Albert dan Alice untuk pindah rumah, mereka dengan ringan menyetujuinya. Apalagi, Abyan sudah berdiri dalam keadaan sehat. Mereka tidak khawatir lagi.


Alice yang menyayangkan menantunya karena akan pergi, dengan diam-diam menculik menantu kesayangannya itu dari genggaman putranya.


Natha yang heran hanya mengikutinya yang ternyata di bawa ke kamar Alice untuk mengobrol.


Natha kira, Alice akan membujuknya untuk tidak meninggalkan kediaman Grissham tanpa di duga, Alice menginginkan seorang cucu.


Dengan wajah antusias, Alice memegang tangan Natha. "Walaupun kamu masih sekolah, sama sekali tidak menghalangi. Kamu tahu sendiri, hanya beberapa bulan lagi kamu akan mengikuti Ujian Nasional dan lulus. Walaupun kamu mengandung lebih awal, mamah merasa itu tidak apa-apa. Dan sekarang, kamu akan pindah. Tidak akan ada yang mengganggu kalian. Kamu dan Abyan harus lebih dekat, oke? Jangan pernah menolak suamimu jika dia memintanya."


Wajah Natha begitu merah saat mendengar ucapan Alice. Apalagi setelah mengingat malam musim seminya dengan Abyan beberapa malam.


Melihat itu, wajah Alice semakin cerah. Ia mengguncang tangan Natha. "Apakah kalian sudah pernah melakukannya?!"

__ADS_1


Natha terbelalak. Ia menghindari pandangan berbinar Alice dengan wajah semerah apel matang.


__ADS_2