Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 101


__ADS_3

"Ti-dak.. tidak mungkin.."


Air mata yang menumpuk tak bisa menahan bebannya dan mengalir di pipi Natha.


"Saya akan mengirim lokasi rumah sakit segera."


Suara di seberang terdengar tergesa dan panik.


Tut.


Telepon mati dan genggaman Natha mengendur sehingga ponsel itu jatuh ke lantai.


Natha menatap kosong ke depan dengan air mata mengalir deras. Seluruh tubuhnya gemetar dan mendingin.


Natha mencoba berdiri, namun kakinya lemah. Ia membenamkan wajahnya di meja dan menangis keras.


Setelah beberapa menit, Natha mendapat tenaganya. Ia mengambil ponsel di lantai dan berjalan keluar berlari.


Seluruh karyawan snagat heran dan bingung dengan CEO mereka yang berlari begitu cepat dengan air mata berderai.


Untung saja, sopir masih di bawah. Natha langusng masuk dan memberi tahu alamat rumah sakit.


Sopir tersebut tidak sempat bertanya dan dengan cepat langsung menjalankan mobilnya.


Sepanjang jalan Natha tidak berhenti menangis. Ia membelai perutnya tanpa sadar. Lokasinya agak jauh sehingga perjalanan terasa lama. Teleponnya berdering kembali. Natha langsung mengangkatnya di detik berikutnya.


"Nyonya.. saya ikut ke rumah sakit untuk mengantarkan suami Anda. Namun dia mengalami kritis karena mengalami pendarahan di kepala. Dan beberapa detik lalu dokter menyatakan bahwa dia sudah.."


Tut.


Natha langsung menutup teleponnya dan mengepalkan tinjunnya membuat ponsel itu retak dengan suara berderak.


Dada Natha sesak. Ia menggigit bibir menahan tangis dan terus-menerus menggelengkan kepala dengan kedua telinga di tutupi tangannya.


Sopir terlihat khawatir "Nyonya. Apakah Anda baik-baik saj--"


"PERCEPAT!!" Natha berteriak keras membuat sopir itu sangat terkejut.


Natha sesenggukan dengan mata memerah dan memukul dadanya mencoba meredakan sesak di sana. Ia tidak percaya.. suaminya tidak mungkin..


Abyan sudah berjanji untuk menjemputnya.. ia belum memberi kejutan..ini semua hanya mimpi.. ini hanya mimpi..


Natha mencubit tangannya keras hingga memerah. Namun rasa sakit datang. Ini bukan mimpi..


Setelah lama perjalanan, Natha sampai dan langsung keluar berlari ke dalam rumah sakit.


Ia langsung ke ruang UGD. Banyak suster yang terlihat panik di sana. Namun tatapan Natha tertuju pada seorang wanita berumur 30-an yang tengah duduk diam. Wajahnya terlihat sedih.

__ADS_1


Saat mendengar langkah kaki mendekat, wanita itu menoleh. "Apakah Anda.."


Natha mengangguk dengan air mata berlinang. Ia memegang tangan wanita itu berkata dengan senyuman hampa. "Ka-mu pasti berbohong kepadaku, kan? Hiks.. di mana suamiku, hah?! Dia pasti baik-baik saja, kan?"


Wanita itu menggeleng dengan sendu. Ia merogoh tasnya dan memberikan sebuah ponsel yang setengah retak. "Ini ponsel suami Anda."


Natha menunduk dan mengambilnya dengan tangan gemetar. Ini benar-benar ponsel Abyan. Natha menggeleng keras dan tak percaya. "Ti-dak mungkin.. ini tidak mungkin.. "


Wanita itu memeluknya mencoba menenangkanya.


"... Di mana dia?" Natha bertanya dengan suara serak. Ia masih tidak percaya sebelum melihat mayatnya sendiri.


Wanita itu menunjuk ke dalam ruang. Natha mencoba berjalan ke sana. Saat masuk, pupil matanya menyusut. Sekujur tubuhnya mendingin dalam sekejap.


Ia melihat seseorang dengan seluruh tubuh di tutupi kain putih. Ada banyak darah di kain. Dan ada juga yang masih menetes di lantai.


Badan Natha luruh seketika. Wanita itu mencoba menahannya. Tangis Natha pecah.


"Tidakk!! Tidak mungkinn.. hiks... Abyan!" Natha berteriak-teriak seraya menangis keras.


Wanita itu mencoba memeluknya dan menenangkannya. Namun Natha berontak dan mengamuk. "Aku ingin Abyan!! Dia bukan Abyan, hiks.. aku ingin suamiku.."


"Tenanglah.. Nyonya. Ikhlaskan saja.." ucap wanita itu lembut.


Dengan wajah marah, Natha berdiri dan berniat menarik kain itu, namun ia di tahan oleh beberapa suster yang masih di sana. Salah satu mereka berkata. "Tenanglah.. suami Anda sudah meninggal. Dia sudah tidak bisa di selamatkan dan nafasnya sudah berhenti saat masih di perjalanan."


Natha yang masih tidak terima dengan kenyataan di hadapannya, terus menyangkal bahwa orang yang di tutupi kain itu bukanlah Abyan.


"Aku melihat sendiri, Nyonya. Mobil suamimu berwarna hitam dan setengah hancur."


Ucapan wanita itu menghancurkan keyakinan Natha bahwa Abyan masih hidup.


Nyatanya, mobil Abyan memang berwarna hitam. Walaupun tidak sedikit yang memakai mobil berwarna hitam, namun ponsel Abyan sudah menjadi bukti terkuat. Orang itu memang Abyan..


Tangisan dan amukan Natha berhenti. Badannya luruh kembali. Ekspresinya kosong. Lalu Natha berjongkok membenamkan wajahnya di lutut. Menangis tertahan. "Hiks.. aku ingin Abyan.. aku ingin Abyan.."


"Abyan.. aku ingin Abyan.."


Tiba-tiba Natha merasakan dekapan hangat. Sebelum ia bereaksi, suara lembut seseorang menyapa telinganya. "Aku di sini, Sayang."


Natha mendongak terkejut. Ia melihat Abyan di hadapannya dengan kepala di perban. Matanya berkaca-kaca. Natha menangkup wajahnya. "Apakah ini benar-benar kamu.. hiks.."


"Iya. Ini aku. Aku di sini.." Abyan berkata lembut dan mengusap air mata di pipinya.


Natha langsung memeluk lehernya erat dan menangis keras di bahunya. "Kamu jahat.. hiks.. kamu akan meninggalkanku.. "


"Tidak. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Sayang.." Abyan menepuk lembut punggungnya.

__ADS_1


Natha memukul-mukul dada Abyan dengan kepalan tangannya. "Kamu.. hiks.. aku takut.."


"Sst. Tidak apa-apa. Aku di sini," bisiknya menenangkan.


Setelah menangis lama. Akhirnya Natha tenang. Keduanya berjongkok dengan banyak orang yang melihat.


"Maaf. Sepertinya dia memang bukan suamimu, tapi korban lainnya. Aku menemukan ponsel itu di lokasi kecelakaan dan tidak tahu pemiliknya yang mana."


Suara wanita itu menarik atensi keduanya. Terdengar bersalah dan canggung.


"Kau membuat istriku ketakutan dan menangis begitu keras."


Wanita itu tersenyum malu. "Sekali lagi aku minta maaf."


Semua ketegangan, keterkejutan Natha mengendur. Ia akhirnya tenang. Natha tidak tahu bagaimana kehidupannya selanjutnya jika Abyan benar-benar meninggalkannya. Natha mengalami ketakutan lebih dari saat dia menghadapi kematiannya dulu.


Natha lebih baik tidak mengenal Abyan dari awal jika orang yang terbaring kaku itu benar-benar Abyan. Natha sudah sangat mencintainya, bagaimana mungkin hati Natha tidak sakit jika ini terjadi. Jika Abyan meninggalkannya.


"Sayang.." Panggilan Abyan menarik atensi Natha dari mayat itu.


Natha mendongak. Saat melihat wajahnya, mata Natha berkaca-kaca lagi.


Abyan menghela nafas dan mengusap rambutnya dengan penuh kasih sayang. "Kenapa kamu menangis lagi, hmm?"


Natha memeluk leher Abyan dan menggeleng. Ia menangis kembali.


Abyan tidak berdaya. Ia menenangkannya kembali.


Sebelumnya, ia sangat terkejut mendapati istrinya mengamuk dan menangis.


Abyan berniat mengabari Natha saat dia tiba di rumah sakit, nmun ponselnya tidak ada. Tangisan Natha sampai terdengar ke ruangan tempat Abyan tengah di obati.


Abyan hanya mengalami luka di kepala. Mobilnya di tabrak tiba-tiba mobil lain, jadi mobil Abyan setengah hancur di bagian belakang. Untungnya dia tidak mengalami luka parah.


"Ayo kita ke ruanganku," ajaknya.


Abyan sudah memesan ruangan VVIP. Ja harus di rawat beberapa hari. Walaupun luka di kepalanya tidak parah, namun tidak di sebut ringan juga.


Natha menggeleng dan menempel padanya. Abyan menggendongnya tanpa memedulikan tatapan orang lain.


Saat Abyan sampai di bangsal, Natha sudah tertidur dengan bersandar di dadanya, matanya bengkak dan merah, masih terdengar isakan kecil di mulutnya walaupun matanya tertutup dan tertidur.


Abyan menaruh Natha di tempat tidur rumah sakit. Lalu ia berbaring di sampingnya dengan badan miring menghadap Natha. Abyan mengusap pipi dan kelopak matanya dengan lembut.


"Bagaimana mungkin aku akan meninggalkanmu? Walaupun aku berada di posisi orang itu, aku akan berjuang untuk hidup. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Dear. Aku akan tetap di sisimu sampai kapan pun."


Abyan berbisik lembut membuat alis Natha yang mengerut langsung mengendur. Abyan tersenyum kecil dan mencium kening dan kesua pipinya. Ia memeluk Natha ke dekapannya.

__ADS_1


__ADS_2