Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 103


__ADS_3

"Saat itu, pikiranku langsung tertuju padamu. Aku takut kamu akan meninggalkanku jika kamu hamil dan melahirkan."


Menerima alasannya yang masuk akal, kekecewaan Natha hilang dalam sekejap. Namun, ia merasa rumit. Natha bisa merasakan bagaimana rasa takutnya. Ia juga tahu alasan Abyan tidak ingin mempunyai anak karena besarnya kasih sayang Abyan untuknya. Natha bingung dan bimbang. Apakah ia akan menyembunyikan kehamilannya sampai Abyan berubah pikiran? Ataukah dia mengatakannya yang sebenarnya sekarang? Tapi, saat Natha melihat ekspresi Abyan yang begitu pucat dan kuyu, apalagi di pipinya sudah mengalir air mata, Natha merasa tidak tega.


Natha pikir, ia harus memberitahunya nanti. Walaupun hatinya masih merasa tidak nyaman, Natha harus berpikir jernih. Ia tidak mungkin harus mengorbankan anak di perutnya hanya karena apa yang Abyan katakan hari ini. Natha lebih memilih menunggu Abyan berubah pikiran, karena Natha tahu apa yang seharusnya ia rasakan sebagai ibu hamil, malah Abyan yang mengalaminya. Mungkin hanya emosi sesaat.


"Dear.."


Panggilan lembut Abyan menarik pikiran Natha.


"Apakah kamu marah padaku?" tanya Abyan dengan sendu.


Natha tersenyum dan menggeleng.


Abyan memeluk pinggang Natha dan membenamkan wajahnya di lehernya. Ia bergumam dengan suara teredam. "Aku takut kamu meninggalkanku, Dear.."


Natha mengusap rambutnya dan berkata lembut. "Tidak akan. Aku akan sekalu di sisimu."


Tanpa membahas tentang anak lagi, keduanya saling menenangkan. Natha hanya berharap Abyan hanya mengatakan itu hanya untuk hari ini saja. Jika Abyan benar-benar akan membahasnya kembali di lain hari, dan jika Abyan benar-benar serius dengan keputusannya, Natha tidak bisa memperkirakan apa yang akan ia perbuat suatu hari.


***


Hari-hari berlalu begitu cepat. Abyan sudah sembuh dari cederanya. Walaupun ia selalu menginginkan sesuatu di luar kebiasaannya, tapi tidak ada suatu permintaan yang aneh lagi. Mual-mual yang selalu ia rasakan tidak ada lagi. Walaupun Abyan pernah sempat di rumah sakit, tapi ia tidak berniat memeriksa, jadi Abyan tidak tahu apa penyebab mualnya itu sampai saat ini.


Abyan sudah kembali bekerja seperti biasa, begitu pula Natha.


Semenjak ia mengatakan kalimat yang egois itu, Abyan bisa merasakan Natha yang selalu menjauh dan menghindar darinya. Walaupun jika mengobrol atau ia bertanya ekspresi Natha terlihat normal. Tapi tidak dengan gerak-geriknya, Natha menjadi lebih menyibukkan dirinya dalam pekerjaan daripada meluangkan waktu bersamanya.


Melihatnya seperti itu, Abyan sangat ingin menarik kembali ucapannya. Namun saat berada di dekat Natha, egonya selalu menguasainya kembali. Ia tidak mau kehilangan Natha dan tidak akan pernah.


Berpura-pura tidak menyadari perubahan akan sikapnya, Abyan berusaha lebih dekat dan menempel pada Natha, namun bahkan Natha selalu menolak berhubungan dengannya.

__ADS_1


Abyan tidak terlalu menuruti nafsunya, tapi ia menjadi lebih menyesal karena Natha benar-benar menolaknya untuk pertama kalinya. Itu sudah menjadi bukti bahwa masalah ini serius.


Setiap hari Abyan berada di dalam kantornya dengan pekerjaan menumpuk, tapi pikirannya tidak selalu berada di sana. Dia menjadi lebih frustrasi karena sikap Natha.


Abyan menjambak rambutnya dengan kasar. Ia mengambil ponsel di atas meja. Abyan berniat menelepon istrinya itu.


Namun sayangnya, ponsel Natha di matikan. Tidak biasanya.


Abyan sudah tidak tahan lagi, ia benar-benar akan menarik kembali ucapannya. Mempunyai anak dengan Natha adalah keinginan terbesarnya, namun apa yang ia lihat di rumah sakit itu benar-benar membuatnya sangat takut. Apalagi jika membayangkan dlia berada di posisi pria itu dan Natha yang menjadi wanita yang meninggal itu. Memikirkannya membuat Abyan gila. Abyan lebih memilih tidak pernah bangun dari vegetatifnya dulu daripada harus mengalami ini.


Karena ponsel Natha mati, Abyan menelepon sekretarisnya. Abyan berniat menjemput Natha malam ini dan pulang bersama.


Sekretaris Natha adalah seorang wanita yang Abyan sendiri pilih karena keprofesionalannya. Abyan memilihnya karena takut Natha memilih sekretaris pria. Ia tidak mengizinkan pria manapun lebih dekat dengan Natha kecuali dirinya.


Saat Abyan menelepon, pihak lain langsung mengangkat dalam beberapa detik. Abyan langsung bertanya. "Apa yang istriku lakukan saat ini?"


"Saya tidak tahu, Tuan. Sore tadi Nyonya pulang karena dia berkata kepalanya pusing. Jadi, saya menggantikan pekerjaannya saat ini." Suara sopan dan formal seorang wanita datang dari seberang.


Ekspresi Abyan berkerut cemas. "Dia sakit?"


Abyan berkata dingin. "Kenapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya?"


"Ma-af, Tuan. Tapi Nyonya Natha sendiri yang melarang saya memberitahu Anda.."


Abyan langsung menutup telepon dengan kasar. Hatinya menjadi tidak tenang.


Abyan melihat arlojinya yang sudah menunjukkan jam 20.30. Seharusnya ia lembur, tapi Natha sakit dan ia tidak bisa diam saja.


Abyan bersiap-siap dan merapikan mejanya.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Abyan langsung melihat namanya dan mengernyit. Abyan meletakkan di telinganya seraya berkata dingin. "Ada apa?"

__ADS_1


"Maaf, Tu-an, saya sudah mengganggu waktu Anda. Saya ingin memberitahukan sesuatu."


"Ada apa?"


"Sebelumnya kami meminta maaf karena tidak bisa menjaganya dengan baik. Pasien rumah sakit jiwa yang di tahan mengatasnamakan nama Anda, kabur sejak sore tadi. Kami baru memeriksanya beberapa saat yang lalu dan dia tidak berada di kamarnya atau di manapun. Namun kursi rodanya masih ada, kami duga dia sudah bisa berjalan. Dia sudah melakukan beberapa kali percobaan untuk kabur sebelumnya, namun selalu gagal. Tapi saat tadi sore para perawat sedang tidak menjaga semua pasien karena suatu hal, jadi dia berhasil kabur lewat tembok belakang," terang seorang wanita di seberang telepon.


Abyan menggertakkan gigi. Lalu berkata keras. "Cari dia!"


"Ba-baik.."


Abyan langsung menutup telepon. Karena suasana hatinya yang buruk, malah semakin buruk karena kabar itu.


Nhita tidak gila, tapi Abyan sengaja memasukkannya ke sana. Karena dia masuk RSJ di bawah perintah Abyan, sudah seharusnya pihak RSJ menelepon untuk mengabari masalah besar ini.


Hati Abyan menjadi lebih tidak tenang. Ia buru-buru melangkah keluar. Saat melihat Melvin, Abyan berkata. "Selesaikan peker--"


Deringan telepon kembali menghentikan ucapan Abyan. Ia buru-buru merogoh sakunya dan melihat bahwa itu Natha.


Abyan terkejut. Dia merasa senang dan buru-buru mengangkatnya. "Hall--"


"Ab-yan ... tolong a-ku ... Nhita ...."


Suara Natha yang tersenggal-senggal kesakitan membuat jantung Abyan menegang. Senyuman di wajahnya membeku dan luntur dalam sekejap. Apalagi setelah mendengar nama Nhita, Abyan panik dan cemas. "Di mana kamu sekarang?!"


Tidak ada jawaban. Hanya ada suara grasak-grusuk yang samar-samar. Lalu tiba-tiba suara orang lain datang. "Wahh.. wah.. wah.. berani sekali istrimu itu meneleponmu di saat nyawanya terancam. Sayang sekali, aku gagal membunuh istrimu secara diam-diam. Tapi ... itu tidak masalah, karena kamu sudah tahu, aku bisa membunuhnya di depan pria yang selalu aku cintai. Bagaimana menurutmu ... Abyan?"


Jantung Abyan berdegup kencang karena rasa takut. Seluruh tubuhnya menegang. Dengan suara sedingin es, Abyan berteriak marah. "Jangan sakiti istriku, Nhita!"


Terdengar tawa lepas di telepon.


"Kami di rooftop apartemen. Cepatlah ke sini dan kamu harus sendiri! Jika kamu membawa seorang pun, aku akan mendorong Natha dari sini pada detik berikutnya. Cepatlah dan jangan sampai kamu terlambat, aku hanya takut istrimu sudah tergeletak tak bernyawa saat kamu tiba di lantai bawah apartemen, hahaha.."

__ADS_1


***


Hanya beberapa part lagi menuju tamat, jadi jangan emosi dulu ya, wkwk.


__ADS_2