
"Kertas-kertas ini adalah beberapa sertifikat seperti sertifikat real estat, kepemilikan saham, deposito bank, dan berbagai investasi untuk kamu."
Natha mendongak dengan heran dan sedikit terkejut, "Aku?"
"Iya, Dear." Abyan menjuil hidungnya. Lalu, ia kembali memainkan rambut hitam Natha yang yang sudah ia lepas ikatannya. "Beberapa bagian hanya untuk sementara dan tidak lengkap. Jika sudah lengkap, nanti akan aku berikan semuanya kepadamu."
Natha menatapnya bingung, "Ini semua aset milikmu, kenapa di berikan kepadaku?"
Semua kertas ini, walaupun tidak lengkap, Natha yakin, semua ini cukup menunjukan sumber keuangannya Abyan.
Gerakan Abyan terhenti. Lalu, menatap mata Natha yang tengah menatapnya, "Simpan saja dulu untukku, Dear. Bagaimanapun kamu istriku sekarang, semua yang aku miliki milikmu juga."
Walaupun sudah berusaha membangun dinding kekebalan dari ucapan manis Abyan, Natha tetap saja tersipu. Ia mengalihkan pandangan ke depan berpura-pura membaca salah satu sertifikat itu.
Abyan hanya tersenyum melihat tingkahnya. Mencium kepalanya. Natha diam tidak bergerak walaupun jantungnya tidak bisa di ajak kerjasama.
"Maaf, aku tidak menjemputmu."
"Tidak apa-apa. Aku sudah pernah bilang untuk tidak mengantar-jemputku lagi," sahut Natha tanpa menatapnya.
Ini adalah kali pertamanya Abyan tidak ikut menjemput ke sekolah sejak pria itu bangun. Suatu waktu, Natha juga sudah pernah bilang untuk tidak ikut sopir, namun tetap saja Abyan bersikeras.
Abyan cemberut, "Kamu tidak suka aku mengantar-jemputmu, ya?"
Natha langsung menoleh terkejut, "Bukan begitu.. kamu pasti punya kesibukan. Akan sangat merepotkan jika kamu meluangkan waktu untuk sesuatu yang tidak penting. Selain itu, masih ada sopir untuk mengantar-jemputku."
"Kamu penting."
"Hah?" sahut Natha tidak mengerti.
Abyan menarik lebih dekat kursi yang Natha duduki. Lalu, menjulurkan kedua tangannya memeluk kepala Natha ke dadanya. Natha di buat kaget dengannya sampai menahan nafas.
"Kamu sangat penting untukku Dear," bisiknya lembut.
__ADS_1
Aroma tubuh Abyan membuat Natha nyaman membuatnya tidak bisa menolak. Apalagi, ucapan Abyan menghangatkan hatinya.
"Terima kasih," lirih Natha.
Abyan menanggapinya dengan ciuman di pucuk kepalanya.
Setelah beberapa detik keheningan yang nyaman, Abyan bertanya, "Apakah mereka mengganggumu?"
Natha tentu tahu siapa 'mereka'. Ia mengangguk lembut di dalam pelukan Abyan, "Em."
Ekspresi Abyan mendingin tanpa Natha ketahui. Namun, usapan di rambut Natha sangat lembut
Natha melanjutkan, "Mereka datang kepadaku ketika waktu istirahat. Paman dan bibiku meminta brankas yang kakek tinggalkan untukku dan menukarnya dengan saham Lexandra."
Mimik wajah Abyan semakin dingin. Saat merasakan gerakan Natha melepaskan pelukannya, ekspresinya langsung melembut.
"Mereka tidak mempercayaiku saat aku bilang bahwa kamu yang memegang keduanya."
"Aku juga tidak akan percaya dengan mereka. Jadi, aku tidak akan memberikannya." ketika Natha memikirkan brankas kosong di bank, kilatan licik melintas di matanya tanpa Abyan ketahui.
Ketika Abyan melihat ekspresi Natha yang normal dan tidak berpengaruh terhadap mereka, Abyan langsung menghela nafas lega.
"Jangan pikirkan mereka lagi. Sekarang, kamu mandi dahulu agar baumu harum. Dan agar aku bisa memelukmu sepuasnya," ujarnya menggoda.
Natha menatapnya tajam karena merasa tersinggung, "Memang kenapa kalau aku tidak mandi?!"
Abyan melongo melihat kekesalan Natha. Sepertinya dia salah bicara? Abyan menjawab dengan sedikit gelagapan, "Ah, tidak apa-apa! Kamu masih sangat harum walaupun belum mandi. Buktinya, aku memelukmu tadi."
Natha memicingkan matanya, membuat Abyan gugup, "Oh."
Natha mengulum senyum. Lalu, beranjak ke kamar mandi setelah menyimpan tasnya.
Abyan menghela nafas lega. Percayalah, dia sedikit gugup jika Natha marah. Walaupun istrinya sangat imut ketika marah, tetap saja Abyan takut membuat Natha tersinggung atau menyakiti hatinya.
__ADS_1
Jika ada yang bertanya, apa perasaan terbesar setelah menjadi penyandang cacat dan tidak bisa berjalan dengan bebas? Maka Abyan akan menjawab, 'Selalu berada di sisi Natha, berusaha memberikan perlindungan terbaik kapanpun dan di manapun!'
Namun, karena pengalaman tidur panjangnya, tidak bicara atau bergerak selama beberapa bulan, temperamen Abyan terasah cukup kuat dan tangguh. Bahkan jika dia cacat, Abyan memiliki harga diri dan kepercayaan diri yang tinggi. Ia tidak pernah mengeluh tentang orang lain. Tidak punya waktu untuk berduka atau meratapi perubahan dunia.
Abyan tidak bisa menyalahkan dirinya sendiri, di bandingkan dengan yang Natha temui sebelumnya. Ia juga tidak bisa menganggap situasi saat ini sebagai takdir tidak adil. Selain tidak bisa Berjalan, sesuatu yang Abyan miliki saat ini adalah yang orang biasa tidak bisa dapatkan walaupun bekerja keras seumur hidup.
Terlebih lagi, Abyan mendengar dari mulut Natha sendiri bahwa dia tidak pernah bangun di kehidupan Natha sebelumnya. Namun, saat ini? Ia bangun. Itu merupakan keajaiban yang Natha bawa kepadanya. Bukannya itu takdir lain baginya?
Karena keyakinan ini, karena mentalitas ini, karena banyak hal yang lebih penting yang tengah menunggunya, Abyan sepenuhnya mengabaikan penderitaan dirinya sendiri saat ini.
Hanya karena, perhatiannya akan selalu tertuju pada Natha.
***
Setelah luka Andre lumayan sembuh, mereka tidak berani lagi datang ke sekolah menemui Natha. Mereka merasa cemas dan gelisah. Awalnya, demi brankas itu, keduanya ingin pergi ke rumah keluarga Grissham, tetapi tidak berani.
"Ibu masih ingin berbicara dengan Natha?" gerutu Nhita melihat kerja keras kedua orang tuanya mendapatkan brankas itu.
Terakhir kali, dampaknya menimpa padanya. Nhita terpaksa mengambil uang belanjaannya untuk mengganti ponsel Aksa yang rusak di sebabkan kedua orang tuanya.
Sonia mengangguk tanpa melihat raut kesal Nhita, "Ya. Ibu masih ingin berbicara kepadanya. Tapi, kita tidak bisa bertemu dengannya dengan mudah. Jadi, bagaimana ibu bisa berbicara lagi dengan Natha? Terakhir kali, ibu dan ayahmu menemui Natha di sekolah, seperti yang ibu ceritakan. Tapi, ada sekelompok anak laki-laki yang menghalangi kami. Mereka menimbulkan masalah membuat ayahmu pergi ke rumah sakit! Lihat saja, ibu akan membalas mereka jika bertemu di lain waktu!"
Wajah Nhita berubah. Dengan gosip di sekolahnya, ia tentu tahu siapa anak laki-laki di maksud ibunya. Tentu saja, orang yang menagih kompensasi kepadanya--Aksa.
"Ibu, aku sarankan untuk tidak berbuat apapun untuk membalasnya." Melihat ibunya yang tidak mendengar sarannya, Nhita menjadi lebih jengkel, "Dia putra tertua keluarga Livian, Bu! Jangan sampai ibu menyinggungnya. Dia jauh di atas kita! Apakah ibu tahu? Dia mempermalukanku dengan menagih kompensasi atas ponselnya yang hancur!"
"Apa?! Putra Livian?!" Sonia menatap putrinya terbelalak kaget. Raut kesal dan sombongnya langsung menyusut, "I-bu hanya berbicara. Ibu tidak akan melakukannya."
Andre yang sedari tadi diam sambil berpikir keras, membuka suara, "Kenapa dia menghalangi kami untuk Natha?"
Nhita mencibir, "Apakah ayah dan ibu tahu? Aksa sudah sangat lama menyukai Natha. Malah, hampir semua orang termasuk guru-guru di sekolah tahu bahwa Aksa mengejar Natha."
Natha lagi! Andre dan Sonia merutuk. Titik masalah mereka selalu berasal dari Natha. Pada intinya, mereka harus segera menyelesaikan kebutuhan mereka yang ada pada Natha dengan cara apapun!
__ADS_1