
18+
***
Tak terasa, kehamilan Natha sudah memasuki hampir empat bulan. Selama itu, banyak permintaan anehnya yang membuat semua orang di keluarga Grissham kewalahan. Apalagi, jika sudah meminta, maka wajib di turuti. Sampai-sampai, keluarga Allaric menjadi kapok berkunjung dan takut menjadi sasaran lagi. Apalagi Aston.
Memakai rok merah muda bisa di katakan permintaan ringan, karena setelahnya, Natha pernah memintanya untuk mengenakan dress seksi dengan wig. Itu adalah hal yang paling memalukan bagi Aston.
Di sisi lain, Briyan lebih menderita. Ia hanya berharap kakaknya segera pindah rumah agar dia tidak lagi menjadi korban.
Untungnya, setelah sebulan tinggal di rumah Grissham, Abyan selesai mengurusnya dan mereka pindah ke rumah baru yang tidak jauh dari kediaman Grissham. Karena itu, Alice bisa bolak-balik untuk bertemu menantunya.
Rumah baru mereka terlihat besar bernuansa biru abu dengan lantai dua tingkat namun luas. Barang-barang sudah di tempatkan dengan rapi di dalamnya.
Perut Natha terlihat lebih besar dari ibu hamil 4 bulan yang normal. Namun mereka tidak pernah memeriksa jenis kelaminnya, karena mereka akan menunggu kejutan nanti.
Saat ini, Natha tengah berkaca di sebuah cermin besar dengan tubuh berputar-putar mengukur perutnya. Abyan yang sedang duduk diam hanya memerhatikannya.
Tiba-tiba Natha cemberut dengan wajah sedih menoleh ke arah Abyan. "Sayang, aku merasa tubuhku semakin gemuk. Apakah terlihat jelek di matamu?"
Abyan tersenyum dan menghampirinya. Ia memeluknya dari belakang dan mengusap perutnya dengan tatapan ke cermin menatap pantulan keduanya. Abyan berbisik lembut di telinga Natha. "Tidak, Dear. Kamu tidak jelek dan kamu selalu menjadi yang paling cantik di mataku."
Natha mengedipkan matanya beberapa kali. Lalu menatap Abyan di pantulan cermin. "Tapi aku gemuk. Aku takut kamu tidak menyukaiku lagi.."
Abyan tertawa rendah. Ia mencium pipinya. "Mana mungkin. Aku akan selalu menyukaimu dan semakin mencintaimu. Kamu juga tidak gemuk, tapi malah lebih seksi."
Suara serak Abyan yang menggoda membuat menggosok telinganya karena gatal.
Ucapan Abyan bukanlah kebohongan. Natha memang terlihat lebih seksi di matanya. Apalagi melihat dadanya yang lebih besar karena hormon ibu hamil. Sejak Abyan tahu Natha hamil, mereka tidak pernah melakukan hubungan badan lagi. Bukannya tidak mau, tapi Abyan yang selalu takut.
Walaupun setelah 3 bulan dokter kandungan memberitahu mereka bahwa bisa berhubungan, tapi Abyan tetap berpegang teguh pada pendiriannya.
Padahal, tidak ada yang tahu betapa besar godaan itu. Abyan selalu tersiksanya hingga membuat pertahanannya hampir runtuh setiap saat.
Bayangkan saja, sebelumnya, bertahan seminggu pun tanpa berhubungan badan, ia tidak sanggup. Namun saat ini, sudah hampir dua bulan. Ia sudah sangat tersiksa, apalagi cobaan selalu menghampirinya hampir setiap hari. Natha selalu menempel padanya.
__ADS_1
"Jika aku seksi, kenapa kamu tidak ingin berhubungan denganku?" Natha mengeluh.
Natha sudah beberapa kali merayunya, namun pertahanan Abyan sangat kuat. Mungkin karena memang mengidam, Natha sangat ingin berhubungan badan.
Natha berbalik dan memeluk pinggangnya dengan sengaja, sehingga dada keduanya menempel. Tanpa sadar Abyan berhenti bernafas dan menelan ludah. Inilah cobaan yang selalu ia hadapi. Natha semakin berani merayunya.
Menenangkan hatinya yang panas, Abyan mengusap rambutnya dan berkata dengan suara rendah. "Pergi tidur. Sudah malam."
Natha menggeleng dan berkata dengan suara centil. "Tidak. Aku menginginkanmu."
Tatapan Abyan menggelap. Namun ia masih sangat sabar. "Tidak, Dear. Aku takut menyakitimu."
"Tidak akan. Dokter bilang pun tidak akan apa-apa." Natha menggosok kepalanya ke dadanya seperti anak kucing.
Nafas Abyan mulai berubah. Lalu, ia membungkuk dan menggendong Natha menuju ranjang.
Natha tersenyum senang dan melingkarkan tangannya di leher pria itu.
Abyan membaringkannya dengan lembut. Tidak sesuai harapan Natha, suaminya itu ikut berbaring dan memeluknya seraya memerintahnya dengan suara serak. "Tidur."
Natha mengangkat tangan dan menyentuhnya, namun Abyan yang sudah tahu niatnya langsung menggenggam tangan itu untuk menghentikannya.
Natha tidak menyerah. Ia menggeser lebih mendekat dan menjilat benda menonjol itu. Abyan langsung menggeram rendah dengan mengancam. "Dear.."
Natha tersenyum gembira dan dengan sengaja menggigitnya dan berseru kagum saat merasakan sesuatu di bawah. "Wahh, adikmu mengangkat kepalanya."
Nafas Abyan yang sudah terengah-engah semakin berat, keringat dingin mengalir di pelipisnya, darahnya mendidih, matanya yang gelap dan merah menatap Natha seperti binatang buas.
"Badanmu sangat panas."
Pertahanan Abyan langsung runtuh saat mendengar nada mengejeknya. Pria itu langsung mencium bibirnya dengan keras. Ia memasukkan lidah dan menelusup ke dalam mulut Natha. Abyan menyedot bibirnya seolah kehausan.
Natha merasa pusing karena ciumannya yang mendominasi. Namun dengan senang hati melayani dengan membuka mulutnya. Kedua lidah itu terjalin. Suara air liur memalukan terdengar di keheningan.
"Ah.. um.. berhenti.."
__ADS_1
Saat nafas Natha habis, Abyan melepaskannya dengan enggan. Benang perak saling terhubung antara kedua bibir itu.
Abyan menatap Natha dengan mata panas dalam jarak dekat. Dengan suara serak yang basah, ia berkata. "Kamu berhasil merayuku, Sayang. Jangan menyesal."
Seolah binatang buas yang kelaparan berhari-hari lamanya, Abyan menyerang bibir Natha kembali. Ia menciumnya begitu keras sampai bengkak. Lalu lidah panasnya terjulur mengusap pipi menuju telinga. Abyan menggigitnya lembut membuat Natha bergidik.
"Kamu sangat enak dan selalu membuatku tidak pernah puas." Suaranya yang begitu serak dan magnetis menusuk telinga Natha. Nafas panasnya menyembur ke lehernya.
Lalu bibirnya turun dan menggigit leher Natha sehingga meninggalkan bekas merah.
Tangan Abyan mencengkeram pinggangnya dengan lembut dan membelai perutnya yang besar.
Pria itu membuka kancing bajunya dengan perlahan. Namun bibirnya masih mencium dan berulah di titik sensitif membuat Natha mengerang kenikmatan.
Natha mengusap dadanya yang lebar dengan gerakan lembut membuat pria itu semakin panas. Hasratnya membara.
Setelah pakaian Natha setengah terbuka, dua benda lembut yang besar masih tertutup hanya menampilkan belahan dada yang menggoda. Lidah yang basah dan panas itu turun dan membenamkan wajahnya di sana.
"Ah.." erang Natha saat pria itu membuka pakaian terakhir yang menutupi dada istrinya itu, dan bermain dengan menggoda.
Tangan besarnya menggenggam erat bola lembut itu dengan berbagai bentuk.
"Manis sekali." Geraman Abyan terdengar di tengah bermain. Dua benda lembut itu menghasilkan ASI. Natha sedikit terkejut.
"Ah! pelan," jerit Natha saat Abyan mencengkeramnya lumayan erat. Badannya menggeliat.
Mata Natha lembab karena menangis. Ia terengah-engah dengan dada naik turun. Begitupula nafas Abyan yang semakin memburu. Setelah bermain di dadanya yang lembut, tangan besarnya turun ke tempat rahasia. Abyan terkekeh seksi dan mendekati telinganya seraya berbisik. "Kamu basah."
Natha menggeleng dengan mata penuh nafsu, wajahnya begitu merah karena malu. "Jangan ... jangan katakan itu."
Rambut di pipi Natha basah karena keringat, bibirnya yang kemerahan dan bengkak terbuka dengan nafas kacau, bulu matanya bergetar ringan, matanya berair. Pemandangan yang begitu menggoda hanya membuat nafas pria itu semakin panas. Apalagi tempat bagian bawah perutnya sudah berdiri sekeras besi dan membengkak.
Namun dengan sabar dan gerakan lembut, ia membelai perutnya yang membuncit dan menciumnya. "Aku harap mereka tidak terganggu."
Abyan membuka semua bajunya sendiri dan memulai malam musim semi yang indah bersama istrinya itu. Rasa hausnya yang selalu ia tahan sejak lama akhirnya terpenuhi sehingga membuat Natha begitu kelelahan walaupun gerakannya sangat lembut, tapi itu hanya membuat Natha sangat tersiksa. Abyan terlalu lembut dengan keinginannya dan nafsunya yang besar.
__ADS_1
Namun kegiatan keduanya selama berjam-jam lamanya menimbulkan rasa puas tersendiri. Malam yang indah itu berakhir sampai menjelang pagi.