
Andre dan Galen bekerjasama dengan Andre yang membantu Galen duduk di posisi sebelumnya di keluarga Dirgantara. Setelah berhasil, Galen harus membantu Andre mendapatkan Lexandra kembali.
Nyatanya, Galen sebagai anak haram sangat sulit untuk mendapatkan tempat duduk sebagai tempat pewaris itu. Walaupun kekuatan Andre agak kuat, tetap saja sangat sulit.
Kerjasama mereka hancur begitu saja. Hubungan yang membaik menjadi lebih saling memusuhi lebih dari sebelumnya.
Galen kembali pada rencananya dengan Meisa. Dan Andre kembali pada rencana perusahaannya sendiri.
Dengan kekuatannya, Andre mencoba untuk bekerjasama dengan perusahaan Grissham. Namun bagaimana mungkin Abyan sebagai CEO nya akan menerima Andre begitu saja?
Abyan yang sudah lama tahu tentang rencana Andre sebelumnya, segera menghubungi pendukung Andre setelah Andre mengajak kerjasama perusahannya.
Andre benar-benar tidak berniat bekerjasama, Abyan tidak merasa terkejut. Sebaliknya, justru pihak lain bersedia bekerjasama dengan Abyan.
Dia secara tidak sengaja menegosiasikan kerjasama dengan markas besar kelompok besar di belakang Andre dan pihak lain bahkan menawarkan untuk memberitahu Andre bahwa dia tidak perlu memberitahunya.
Abyan menyipitkan matanya dan tersenyum penuh arti. "Sepertinya Andre akan segera di tinggalkan!" Abyan memanggil Natha dengan kontrak yang baru saja ia terima.
Natha tertegun sejenak. Lalu ia mencibir. "Ya. Cepat atau lambat."
"Aku belum bertindak apapun untuk mengalahkannya. Namun musuh sudah di kalahkan begitu saja. Benar-benar mengecewakan." Abyan awalnya akan mengalahkan Andre secara langsung, namun sepertinya saat ini sudah tidak perlu.
Ini memang benar-benar tidak perlu, karena Andre segera mengetahui kantor pusat telah memindahkan pengawas tinggi untuk mengambil alih urusan cabang kota tempat perusahaan Andre berada. Andre merasa bersalah bingung karena selalu merasa ada yang salah.
Tentu saja Andre tidak senang. Ia menelepon kembali markas, tapi malah di tegur dengan keras bahkan sebelum ia berbicara.
Andre tidak tahu bagaimana markas tahu bahwa dia sudah membuat tipuan untuk menipu perusahaan Abyan menandatangani kontrak. Satu-satunya yang pasti adalah bahwa dia di pecat.
Andre menggertakkan gigi penuh kebencian
__ADS_1
***
Natha keluar dari perusahaannya untuk membeli makan siang di luar. Ia hanya sedang ingin memakan makanan yang manis, jadi ia pergi ke toko kue bersama sopirnya.
Saat ia sampai di sebuah toko, Natha turun. Ia sempat di tawarkan sopirnya untuk menemani, namun dengan halus Natha menolak.
Dengan pakaian kantornya, Natha berjalan masuk. Namun sebelum itu, tiba-tiba ada yang menarik tangannya.
Natha terkejut dan menoleh melihat seorang wanita dengan masker dan kacamata di wajahnya. Wanita itu membawanya ke samping toko. Tempat yang tidak banyak orang lewati
Natha mengerutkan kening. Ia mencoba melepaskan lengannya yang di tarik. Ia berkata tegas namun sopan. "Maaf? Siapa ini?"
Wanita itu melirik kanan-kiri. Lalu ia melepas masker dan kacamatanya.
Natha sedikit terkejut sebelum pulih kembali.
Dia Meisa.
Berdiri di depan Natha, ekspresi Meisa sangat bertekad. Ia menatap Natha dengan erat seakan takut Natha melarikan diri kapan saja.
Natha menyipitkan matanya. Lalu ia mengangguk tanpa mengelak. "Baik."
Natha mengedarkan matanya. Lalu berhenti pada suatu tempat. Ia menunjuk restoran teh di seberang. "Kita berbicara di sana."
"Benarkah?" Meisa tidak menyangka Natha akan setuju begitu saja. Ia terkejut karena begitu mudah.
"Ya." Setelah menjawab, Natha berjalan menyeberang terlebih dahulu.
Setelah keduanya duduk, Natha mengetuk meja dengan jarinya. Melihat Meisa di hadapannya, Natha bertanya. "Apa yang ingin kamu bicarakan?"
__ADS_1
"Berbicara tentang Abyan," jawab Meisa dengan ekspresi bertekad di wajahnya.
Natha sudah menduganya. Nada suara Natha dingin. "Oh? Apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Perlu kamu tahu, meskipun aku sudah di benci semua keluarga Allarick maupun Grissham, meskipun aku harus di kurung dan sikap keluargaku berubah setelah kejadian itu, aku tetap bertekad untuk mengejar Abyan. Aku rela kabur dari kota tempat asalku hanya karena aku ingin memastikan bagaimana tepatnya kamu akan meninggalkan Abyan? Apakah uang? Aku akan memberikannya kepadamu berapapun asal kamu meninggalkannya." Sambil menggertakkan gigi, Meisa mencoba mempertahankan senyumnya. "Sepertinya kamu benar-benar mencintai Abyan, jadi sebelumnya kamu menolak untuk meninggalkannya, kan?"
"Aku tidak kekurangan uang," tegas Natha. Menduga Meisa tidak mempercayainya, Natha melanjutkan. "Sebelum menikah dengan Abyan, aku mewarisi warisan yang di beri orangtuaku dan kakekku. Selain itu, Lexandra adalah milikku. Sepertinya kamu tidak bisa memberiku uang lebih dari itu."
"Jangan meremehkanku!" Meisa membanting meja. Ia menatap Natha tajam. "Cepat katakan sekarang! Apa yang kamu inginkan agar kamu bisa meninggalkan Abyan?! Aku akan memberikannya kepadamu!"
Natha tersenyum ironi saat matanya menatap Meisa. "Tidak ada hal apapun yang bisa memisahkanku dengan dia. Sekalipun aku meninggalkannya, Abyan tidak akan bisa hidup tanpaku. Dia akan mencariku walaupun seandainya ke ujung dunia sekalipun."
Natha melihat arloji di lengannya. Lalu ia berdiri. "Waktu istirahatku sudah habis. Banyak pekerjaan yang harus ku kerjakan. Aku harus pergi."
Melihat Natha akan berjalan keluar, Meisa tidak membiarkannya begitu saja, ia berdiri dan berteriak. "Natha! Tidakkah kamu merasa bersalah?! Adikmu menyebabkan Abyan kecelakaan mobil. Setelah terbaring di tempat tidur begitu lama, dia juga hampir mati. Dalam hati Abyan, tidakkah kamu berpikir bahwa Abyan akan menanam kebencian kepadamu?!"
"Ya, sepertinya begitu." Langkah Natha berhenti. Dia menoleh seraya menatap Meisa dengan sudut mulut menyeringai. "Dia pasti membenciku karena adikku yang membuatnya celaka. Namun sayangnya, kebencian itu tidak pernah ada karena aku sendiri yang membuatnya bangun. Dan perlu kamu tahu, dia bukan adikku, tapi sepupuku. Saat ini dia di rumah sakit jiwa. Abyan memasukkannya sendiri karena Nhita yang akan menyakitiku."
Melihat wajah shock Meisa, ekspresi Natha semakin menyenangkan. "Apa yang membuatmu begitu yakin bahwa aku akan meninggalkannya begitu saja? Walaupun seandainya saat itu bukan aku yang berada di sisi Abyan, bukan aku yang merawatnya, walaupun seandainya kamu yang berada di sampingnya dan tidak pergi keluar negeri, Abyan tidak akan pernah bangun. Jangan sia-siakan kekuatanmu untuk membujukku untuk meninggalkannya, itu tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun."
"... Aku memberitahumu, kamu boleh saja jatuh cinta, tapi jangan sampai cinta membuatmu seperti orang bodoh dan idiot. Apalagi yang membuatmu tidak tahu malu adalah kamu mencintai pria yang sudah terikat pernikahan dengan orang lain. Kamu terus-menerus mengejarnya seakan hanya dialah pria yang ada di dunia ini. Sepertinya itu bukanlah cinta, tapi obsesi. Sadarlah dan bangunlah dari semua fantasimu, suamiku tidak pernah menyukaimu dari awal."
Setelah itu, Natha pergi meninggalkan Meisa yang masih termangu dengan amarah yang tidak tersembunyi di wajahnya.
Air mata mengalir di kedua pipinya. Meisa mengusapnya kasar. Lalu ia mengambil ponsel di tasnya. Setelah menemukan nama seseorang, Meisa menelepon.
Telepon di angkat setelah Meisa meletakkan ponsel itu di telinganya.
"Hallo? Ada apa?" Suara pria di seberang terdengar bingung.
__ADS_1
Meisa menatap mobil Natha yang berjalan pergi. Seakan yang menangis tadi bukan dia, Meisa tersenyum miring. "Aku ingin rencana itu berjalan malam ini."