Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 88


__ADS_3

"Kakek maafkan aku.. aku benar-benar tidak bermaksud.." Hati Meisa bergetar ketakutan saat mengahadapi wajah gelap kakeknya.


Ia tidak menduga akan kembali ke tempat asalnya begitu cepat. Dan saat ini kakeknya dan semua keluarganya menyusul untuk menjemputnya pulang.


"Berhentilah bicara. Sekarang kamu pergi  ke keluarga Grissham untuk meminta maaf."


David tidak menyangka cucu kecilnya, yang sangat ia sayangi, akan membuat kesalahan besar. Saat ini mereka harus pergi minta maaf dan menyelesaikannya.


Meisa tidak berani menolak, ia mengikuti kakeknya di belakang untuk keluar hotel.


Yang biasanya begitu di manja, Meisa tertekan karena semua keluarganya benar-benar memarahinya.


Setelah itu, mereka langsung pergi ke kediaman Grissham.


Keluarga Davidson sama-sama besar di kotanya sendiri. Dengan itu, Albert secara pribadi menjemput para tamu dalam perjalanan pulang. Abyan dan Natha yang kebetulan ada di sana, duduk dengan Briyan dan Aston untuk menunggu tamu datang.


Saat mereka tiba, mereka semua langsung berkumpul.


"Maafkan cucuku. Mungkin karena kita tidak bisa mengajar anak-anak sehingga Meisa membuat kesalahan. Aku harap kalian memaafkannya." Kakek David pertama membuka suara.


"Ini bukan masalah besar." Albert berkata tenang seraya menatap Meisa dengan tatapan yang tidak bisa di baca siapapun. Lalu melanjutkan. "Hanya saja, walaupun dia belum dewasa di matamu, tapi dia harus bertanggung jawab atas tindakannya. Kami tidak sampai pada titik di mana kami harus memarahi atau mengkritiknya. Namun, jika siapapun memiliki ketidakpuasan kepada keluarga kami, seharusnya mengungkapkannya secara langsung dan tidak perlu bermain di belakang. Jika tidak, kesan orang lain terhadap cucumu akan lebih buruk."


"Ya, ya. Benar." David mengangguk-angguk dengan senyuman kaku.


"kakek tidak suka orang munafik," ucap Abyan kepada Natha tanpa merendahkan suaranya, sehingga Aston dan Briyan yang mendengarnya mengangguk setuju.


Natha sendiri hanya manggut-manggut mengerti.

__ADS_1


Sangat wajar saat Meisa tidak bisa mendekati dan masuk ke dalam keluarga Grissham.


"Meisa terlalu munafik, berpura-pura bersikap lembut sepanjang hari. Dia sengaja mendekati sebelumnya, namun aku hanya memasang wajah dingin dan mengabaikannya. Setelah itu, dia tidak lagi menahannya. Tanpa sadar dia berangsur-angsur menunjukan wajah aslinya kepadaku," Briyan mencibir dengan mata tertuju pada Meisa penuh hinaan.


Suaranya hanya di dengar mereka berempat.


Selama waktu itu, itu adalah waktu yang paling ketat ketika Meisa melibatkan Abyan. Hampir semua orang di dunia luar percaya bahwa Meisa dan Abyan adalah pasangan, tapi semua orang di dalam keluarga Grissham tidak ada yang percaya. Tentu saja, mereka menyaksikan sendiri bagaimana sikap Abyan yang begitu tak tersentuh dan dingin saat menghadapi Meisa.


Albert sendiri juga bertemu dengan Meisa, kesan pertamanya sangat buruk. Lelaki tua itu sudah hidup puluhan tahun, sudah bertemu dengan bermacam-macam orang lewat bisnis dan pertemuan dimanapun. Sangat tahu bagaimana temperamen orang lain dalam pandangan pertama.


Meisa yang sedari tadi diam, tiba-tiba bergerak. Ia berjalan mendekat ke arah Albert. Meisa menarik nafas dalam-dalam, lalu berkata perlahan. "Kakek, aku bukannya tidak puas dengan keluargamu. Tapi aku merasa tidak puas dengan wanita yang sudah menjadi istri cucumu saat ini. Aku sudah tahu wajah aslinya, dia meninggalkan tunangannya hanya untuk menikah dengan cucumu dan memanfaatkannya, dia--"


"MEISA!" bentak marah kakek David. Bukan hanya lelaki tua itu yang berteriak, namun Reno dan beberapa anggota keluarganya sendiri terlihat penuh amarah.


Albert langsung berdiri, memelototi Meisa dan semua tamunya dengan aura dingin. "Tidak tahu malu!


Walaupun Meisa merasa begitu takut dengan kemarahan mereka, ia tidak bisa menyerah begitu saja. Meisa melirik Abyan yang tengah menatap Natha. Sedangkan Natha sendiri tengah menatapnya dengan sudut mulut mengangkat terkandung ejekan.


Plak!


Suasana ruangan langsung hening saat Abyan menampar Meisa begitu keras. Semua orang menutup mulut terkejut dan terperangah.


Wajah Abyan terlihat memerah karena marah.


"Jaga ucapanmu," desis Abyan dingin. "Kaulah yang di sebut wanita ****** di sini. Kau mendekatiku dan mengejarku seperti wanita butuh belaian. Kaulah wanita yang terus-menerus mengemis cinta kepadaku. Kau juga yang ingin merebut pria yang sudah beristri!"


Wajah Meisa menghadap ke samping karena tamparan itu. Ia memegang sebelah pipinya yang berdenyut perih. Meisa kaget dan tidak menyangka pria yang selalu ia dambakan sejak lama, akan menamparnya suatu hari. Apalagi, ini kali pertamanya ia di tampar.

__ADS_1


Semua orang yang menonton masih belum membuka suara, tentu saja masih kaget. Bahkan, Natha sendiri tidak menduga.


Abyan yang masih berekspresi dingin, melirik Natha dan mengambil tangannya. Berbeda dengan ekspresinya yang menyeramkan, gerakannya sangat lembut. "Ayo pulang."


Natha hanya mengangguk patuh mengikutinya.


Tanpa sepatah katapun, mereka langsung beranjak dan melangkah menuju keluar. Sebelum itu, Abyan menghentikan langkahnya. Ia melirik Kakek David dengan mata dingin. "Cucu Anda sudah keterlaluan. Selain mengajarkan sikapnya, jangan lupa untuk melatih lidahnya agar tidak berbicara sembarangan. Cepatlah bawa dia pergi dari sini. Jangan sampai kalian menyesal."


Setelah itu, keduanya keluar meninggalkan suasana hening dan canggung.


***


Sepanjang jalan pulang, Abyan tidak bicara sepatah katapun pada Natha. Pria itu hanya fokus menyetir dengan ekspresi dingin. Natha sendiri tidak mengatakan apapun, ia hanya menunggu Abyan bertanya apapun kepadanya. Tapi, sudah hampir tiga puluh menit, Abyan tetap bungkam.


Natha meliriknya yang masih cemberut. Natha menghela nafas. "Jangan di pikirkan. Aku sendiri pun tidak memasukan kata-katanya ke dalam hati. Jangan diam terus, aku merasa tidak nyaman dengan suasana ini."


Abyan akhirnya menoleh, tapi tidak mengatakan apa-apa. Pandangannya kembali ke depan.


Natha mengambil dan menggenggam tangannya yang menganggur. Ia mengusap dan memainkan jari-jarinya.


"Jangan lakukan itu.." Abyan berniat menarik tangannya, tapi Natha menggenggamnya lebih erat.


Dengan sengaja, Natha mencium jari-jarinya dengan senyuman di bibirnya. "Jangan marah lagi. Tenang saja, aku tidak akan tersakiti oleh ucapannya. Aku sudah terbiasa dengan rasa sakit."


"Natha!" Abyan meneriakinya lumayan keras dengan kemarahan yang tidak tersembunyi. Ia langsung menghentikan mobilnya di tepi jalan.


Abyan langsung berhadapan dengannya. Ia menarik tangan Natha sehingga jarak mereka menyempit. Mata Abyan memerah entah karena apa.

__ADS_1


"Bisakah kamu tidak mengungkit kejadian yang sudah berlalu? Kenapa aku marah? Karena aku tidak ingin kamu tersakiti untuk kedua kalinya. Walaupun kamu tidak merasakan rasa sakit karena terbiasa, tapi bukan berarti kamu terus-menerus membiasakannya. Sekuat apapun hatimu, kamu hanyalah manusia biasa. Aku tahu kamu begitu rapuh di dalam. Hatimu akan semakin retak dan hancur." Ekspresi Abyan begitu serius.


Natha menunduk dengan matanya memanas. Ia tidak bisa menyangkal kata-kata Abyan.


__ADS_2