Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 94


__ADS_3

Pada sore menjelang malam, seorang wanita dan pria tengah bersiap-siap dengan rencana mereka yang sudah lama di rencanakan.


Mereka adalah Galen dan Meisa.


Walaupun rencana mereka sempat putus karena Meisa yang di bawa pulang oleh keluarganya, tapi karena alat komunikasi, mereka tidak berniat menggagalkannya dan terus menggali ide dengan saling memberi kabar dan mengobrol di telepon.


Tentu saja Meisa tidak kapok. Ia tidak mau kalah begitu saja. Jika ia tidak bisa memiliki Abyan, kenapa Natha harus memilikinya? Meisa tidak bisa membiarkan mereka berdua bersama, sedangkan dirinya harus terkekang di bawah keluarganya.


Sudah seminggu sejak Meisa kabur dari rumahnya dan tinggal di kota kesukaannya. Meisa menginap di hotel. Sesekali, bertemu dengan Galen.


Pertemuan tadi siang bersama Natha adalah untuk memastikan kembali jawaban Natha. Namun Meisa menjadi agak menyesal dengan keputusannya. Dia lebih merasa kesal dan tertohok akan semua ucapan Natha.


Karena pertemuan itu, karena kemarahan hatinya, Meisa menjadi lebih mempercepat rencana yang sudah ia rangkai dengan Galen sejak lama.


Meisa dan Galen menyamar sebagai pembersih dan menyelinap ke dalam perusahaan Grissham.


Meisa dan Galen datang ke kantor Abyan tanpa di sadari siapapun. Karena memang semua orang tengah beristirahat. Terutama yang bekerja lembur. Tak terkecuali Abyan.


Dengan kecepatan tercepat, Galen memasang monitor di bawah meja Abyan. Pada saat yang sama, Meisa menambah sebuah bubuk putih ke dalam kopi yang dia siapkan untuk Abyan.


Di sisi lain, Natha dan Abyan baru saja datang. Abyan yang tahu Natha akan ke perusahaannya, dengan sengaja menjemput Natha di perusahaan Lexandra pada waktu istirahatnya.


Natha datang bukanlah sebagai dirinya, tapi CEO Lexandra. Dia ke perusahaan Abyan untuk membahas kerjasamanya. Lexandra dan Grissham sudah bekerjasama sejak lama, malah kedua perusahaan itu sudah menyatu hanya saja letak kedua perusahaan itu terpisah jarak. Namun, jika ada masalah di antara salah satunya, pasti keduanya akan menyelesaikan bersama, dalam urusan apapun.


Natha yang tidak tidur nyenyak tadi malam karena ketidaknyamanan fisik, memulihkan tidurnya sepanjang waktu. Natha baru membuka mata ketika Abyan membangunkannya karena sudah sampai mencapai lantai bawah Perusahaan.


"Dear, kamu bisa melanjutkan tidurmu di kamar di kantorku. Kita bisa bahas kerjasama lain waktu saja. Tidur di sini tidak akan nyaman," tutur Abyan lembut setelah berhasil membangunkan Natha.


Natha menyipitkan dan mengerjapkan matanya menyesuaikan penglihatannya. Ia bangun untuk duduk dengan ekspresi masih mengantuk. Lalu ia menggeserkan tubuhnya dan bersandar begitu saja di pelukan Abyan, lalu berkata serak dan pelan. "Tidak. Kita harus bahas malam ini."


"Kamu.." Abyan tidak tahu harus berkata apa. Karena setelah mengatakan itu, Natha mendengkur halus di pelukannya.


Abyan tersenyum tak berdaya. Lalu ia memeluknya dan mengangkat Natha berniat menggendongnya ke lantai atas.


"Tuan." Pintu mobil terbuka dari luar. Terlihat Melvin dengan kepala menunduk sopan.

__ADS_1


Abyan mengangguk dengan ekspresi datar. Abyan keluar dengan Natha di gendongannya.


Melvin membuka mulut ingin bertanya, namun tidak jadi setelah melihat mata tuannya yang entah kenapa akhir-akhir ini lebih dingin kepadanya.


"Ambil tas istriku di dalam mobil. Bawa saja, jangan menyentuhnya." Suara Abyan sangat pelan karena takut membangunkan Natha.


Lalu Abyan berjalan pergi setelah mengatakan itu.


Melvin mengangguk dan langsung bergegas ke mobil. Tapi gerakannya berhenti setelah menyadari sesuatu. Ia menoleh menatap punggung tuannya dengan kosong. Bawa tapi tidak menyentuh?


Pada hari ini, karyawan yang bekerja lembur, serta penjaga keamanan, menyaksikan bos mereka menunjukkan kasih sayangnya di depan umum. Meskipun mereka sudah lebih sering dan tidak aneh lagi dengan kedatangannya nyonya mereka dan terkadang menunjukkan keromantisan keduanya, namun saat ini adalah pemandangan yang langka. Apalagi ekspresi Abyan begitu lembut. Tidak perlu menunggu keesokan hari untuk menyebar ke seluruh gedung perusahaan Grissham.


Abyan tidak peduli dengan mata karyawannya, ia hanya berjalan santai. di belakangnya Melvin mengikuti dengan tas Natha di tangannya. Tentu saja tangannya memakai sarung tangan sesuai keinginan tuannya untuk tidak menyentuh, tapi hanya membawa.


"Tuan, apakah Anda tidak pegal? Kita sudah melewati 10 lantai. Apakah Anda memerlukan bantuan?" Melvin bertanya sopan di tengah perjalanan menuju kantor Abyan.


Sudah beberapa menit berlalu dan masih lumayan jauh untuk sampai, walaupun dengan menaiki lift, tetapi tetap saja, menggendong seseorang begitu lama akan merasakan pegal dan lelah. Tapi Abyan terlihat biasa saja dan tidak ada ekspresi apapun di wajahnya.


Saat mendengar ucapan Melvin, Abyan menoleh ke belakang. Mereka tengah berada di lift saat ini, jarak mereka agak jauh, karena Abyan takut Melvin tak sengaja menyentuh istrinya.


Mata Melvin terbelalak, ia tidak bermaksud begitu. Ia hanya khawatir tuannya kelelahan, jadi ia menawarkan bantuan. Tapi sepertinya ia salah bertanya, karena tidak ada bantuan lain lagi selain membantu menggendong nyonyanya..


Dengan cepat Melvin menggeleng gelagapan. "Ti-dak begitu, Tu-an.. saya hanya.."


"Eunggh.."


Suara lenguhan lembut Natha menarik atensi kedua pria itu.


Natha merasakan dirinya melayang. Saat mendengar suara seseorang, mimpi dan kenyataan Natha tidak bisa membedakannya. Natha membuka mata dan mendapati mata Abyan yang tengah menatapnya bersalah.


"Ah, sepertinya aku membangunkanmu.. maaf," kata Abyan lembut.


"Tidak apa-apa." Natha menggeleng. Lalu matanya tiba-tiba melebar. Natha menoleh kanan-kiri. "Kamu menggendongku?!"


Abyan mengangguk.

__ADS_1


"Dari mobil?!"


Abyan mengangguk lagi.


Natha membuka mulut terkejut. Ia memukul dadanya pelan. "Kenapa kamu tidak membangunkanku?! Pasti tanganmu akan sakit.."


"Tidak apa-apa, Sayang." Abyan tersenyum santai.


"Sekarang turunkan aku!" Natha berontak untuk turun.


Namun Abyan tidak melepaskannya. "Jangan turun. Sebentar lagi sampai."


Natha hanya menghela nafas. Saat melihat seseorang di belakang Abyan, Natha terbelalak. Ia baru sadar ada sekretaris Abyan di lift.


"Nyonya." Melvin menyapanya saat merasakan tatapan Natha.


Natha tersenyum canggung dan mengangguk. "Ya."


"Turunkan aku." Natha berbisik malu. Sikapnya tidak sebar-bar tadi karena sudah menyadari kehadiran orang lain.


Abyan malah memeluknya lebih erat. Ia berbisik tajam. "Kenapa kamu malu sekarang, hah?! Apakah karena sekretarisku yang kamu bilang tampan itu?!"


Natha memutar bola matanya malas. Ia akhirnya menyerah.


Lift sampai di lantai paling atas.


Tiba-tiba Natha mendengar suara obrolan yang di kenalnya dari kejauhan. Telinganya yang tajam, dengan jelas mendengar apa yang mereka katakan.


Natha menepuk dada Abyan. "Tunggu."


Langkah Abyan berhenti saat akan keluar lift. Ia menunduk dan bertanya bingung. "Ada apa?"


Melihat Natha diam dengan ekspresi seriusnya, Abyan merasakan ada yang salah.


Setelah beberapa saat, Natha membuka matanya dan menunjuk lurus ke arah kantor Abyan dengan senyum sarkasme. "Kamu memiliki pertunjukkan yang bagus di kantormu. Apakah kamu akan ke sana dan melihatnya?"

__ADS_1


__ADS_2