
"Natha, bibi bisa menjelaskannya padamu.."
"Cukup! Jangan menjelaskan apapun lagi padaku! Sejak aku berjanji untuk membantu Nhita menikah dan di bawa ke keluarga Grissham, aku tidak pernah menyesali keputusanku sejak awal. Aku sudah berusaha untuk memperlakukan kalian sebagai kerabat, sebagai yang paling dapat di percaya, tapi kenapa kalian menyakitiku lagi dan lagi?" Emosi Natha runtuh sebelum Sonia mendekat. Ia mengungkapkan kebenciannya lewat mata dan suaranya, "Nhita menggangguku di sekolah, mengatakan bahwa kalian menggugatnya, mengatakan bahwa aku tidak tahu terima kasih, dia menyuruh seseorang mengambil video dan mempostingnya untuk merusak reputasi dan mempermalukanku. Bahkan, kalian menagih balasanku atas perawatanmu selama bertahun-tahun. Kapan aku tidak membalas? Bukankah aku sudah membayar pernikahanku, nyawaku, kalian melemparku? bukankah begitu?" Kata-kata Natha jelas bercampur ketidakadilan dan kemarahan kehidupan sebelumnya.
Tadinya ia hanya berpura-pura, namun emosinya terbawa saat mengingat penderitaan di masa lalu.
Melihat emosi Natha, mata Abyan menjadi dingin menatap Sonia dan Andre. Mereka langsung ketakutan sehingga mundur beberapa langkah. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada kata-kata apapun keluar.
"Kalian pikir aku tidak tahu? Aku tahu segalanya. Aku tidak ingin mengatakannya untuk menghancurkan keluargaku. Aku peduli pada kalian, itu karena aku bahkan memberikan warisan kakekku. Tapi bagaimana kalian begitu kejam menipuku? Bagaimana bisa?" Natha berjalan maju merebut brankas di dalam pelukan Sonia, "Karena kalian tidak mau, aku akan mengambilnya! Aku tidak akan pernah memberikannya lagi hal berharga ini kepada kalian! Tidak akan pernah!"
Sonia lengah, sehingga setelah ia bereaksi brankas itu sudah berada di tangan Natha. Walaupun brankasnya kosong, Sonia sangat enggan menyerahkannya.
Tangan yang terulur untuk mengambil barang itu kembali, Natha menepisnya dengan keras. Natha tersenyum dingin, "Bibi, paman, kalian sudah mengambil uang di dalamnya, bukan? Kalau begitu, kotak brankas kosong ini untukku sebagai hal terberharga dari peninggalan kakekku."
"Natha.." Sonia ingin menangis tanpa air mata. Ia benar-benar tidak mengambil uang di dalamnya! Jika ada, kenapa dia dan suaminya harus repot-repot berdiri di sini dan berdebat dengan Natha dan Abyan?
Namun, Natha melangkah tanpa menengok lagi menuju Abyan. Brankas kosong itu ia letakan di atas pangkuan Abyan. Meletakan tangan pria itu memeluk brankasnya dan melindunginya. Lalu, Natha melangkah ke belakangnya dan mendorong kursi roda Abyan. Berbalik dan pergi.
Sedangkan Abyan masih tercengang. Mengapa dia begitu mudah membiarkan brankas kosong itu berada di pangkuannya? Meskipun brankas ini tidak beguna, ia tidak sebodoh itu sehingga melihat situasinya dengan jelas, bukan? Memegang brankas dengan kedua tangannya, Abyan tidak bisa menahan tawa.
Setelah sosok mereka menghilang, Sonia dan Andre pulih. Kemarahan dan kekesalan mengakar di hati keduanya. Tenaga dan usaha mereka benar-benar sia-sia. Bukan hanya tidak mendapatkan apa-apa, mereka telah menyinggung Natha apalagi Abyan. Pertanyaan paling penting adalah, kemana uang di dalam brankas itu?
***
Natha dan Abyan kembali ke rumahnya. Langit sudah terlihat gelap.
Natha tidak berbicara apapun sepanjang jalan pulang. Walaupun Abyan bertanya, Natha mengabaikannya. Wajahnya masih mengandung kekesalan dengan mulut cemberut. Abyan tidak tahu harus khawatir atau tertawa. Di sisi lain ia cemas, namun di sisi lain ia merasa lucu.
Natha menyimpan brankas itu sembarangan tanpa memeriksanya.
Sampai makan malam dan akan tertidur, ekspresi Natha tidak berubah.
Abyan menghela nafas dan mulai membujuknya. Ia membalikan badan gadis itu yang membelakanginya, "Hei.."
Saat berbalik, Natha hanya menatapnya tanpa sepatah katapun. Yang membuat Abyan merasa lucu, karena bibirnya yang mengerucut dengan mata menyedihkan.
Abyan membelai pipinya dengan lembut, "Apakah kamu masih kesal?"
__ADS_1
Natha mengangguk lucu.
Abyan tersenyum tidak berdaya. Dia merentangkan tangannya, "Sini peluk."
Natha mengedipkan matanya terlihat lebih imut. Dia mengangguk dan menggeser lebih dekat posisi berbaringnya, dan memeluk Abyan dengan lengan Abyan menjadi bantalannya. Wajahnya ia sembunyikan di leher pria itu.
Abyan menepuk kepala dan punggungnya seakan menghibur anak kecil, "Sudah. Jangan terlalu kesal. Jangan pikirkan mereka lagi."
Natha mengangguk. Ia mengendus aroma Abyan yang membuatnya nyaman. Tepukannya membuat Natha mengantuk.
Merasa nafasnya yang lembut, Abyan bersenandung untuk membuatnya tertidur. Walaupun ia bereaksi karena merasa sedikit geli di lehernya, tapi ia tahan.
Tiba-tiba, Abyan merasakan sensasi di kakinya.
"Ssh," desisnya dengan tangan menekan kuat di paha kaki kanannya.
Mata Natha langsung terbuka. Rasa kantuknya hilang. Ia bangun dengan panik, "Kenapa? Ada apa?!"
Ekspresi Abyan mengerut menatap kedua kakinya, "Kakiku.."
Natha langsung memeriksanya dan melipat celananya. Ia memijit pelan. Lalu, mengambil sebuah baskom kecil dan lap yang sudah tersedia. Ia menyekanya dengan lembut dan hati-hati
Melihat ekspresinya mengendur Natha menghela nafas, "Apakah masih tidak nyaman?"
"Aku sudah merasa nyaman." Abyan tersenyum hangat. "Baru sekarang aku merasakan sensasi itu. Semenjak bangun, kakiku selalu mati rasa. Mungkin itu perubahan baik."
Natha merasa senang. Setelah memberi ia minum, Natha menyimpan kembali baskom kecil itu.
Abyan sudah terbaring kembali. Tangannya terbuka, sudah tentu kode untuk memeluknya. Natha tersenyum geli dan masuk ke dalam pelukannya.
Abyan memeluknya lembut. Memejamkan matanya, "Terima kasih, Dear. Ini semua karenamu."
"Aku tidak melakukan apapun. Itu karena perjuanganmu sendiri untuk sembuh."
Tidak melakukan apapun katanya? Bahkan Abyan tidak yakin, apakah saat ini dia masih terbaring tak bergerak jika seandainya Natha tidak sisinya?
"Jangan mengelak. Itu memang karenamu."
__ADS_1
"Tidak. Itu karena dirimu sendiri."
"Kamu sudah tahu di kehidupanmu sebelumnya, aku tidak pernah bangun. Tapi sekarang? Kamu datang dan membuatku bangun."
"Itu mungkin karena takdirmu berbeda."
"Itu sama."
"Jika sama, kenapa aku di sini bersamamu, bukan Gal--"
Abyan menunduk. Dengan cepat menggigit bibirnya.
"Aws!" Natha meringis dan memelototinya.
"Itu karena kamu sendiri yang mengubahnya," tukas Abyan jengkel. Ia mengecup lembut bibirnya sebagai penyembuh gigitannya. Setelah mencium keningnya, ia mendekap kembali Natha dengan erat, "Aku sudah pernah bilang, jangan menyebut namanya lagi. Aku akan mengampunimu kali ini. Dan berhentilah mengoceh. Segera tidur. Aku tidak ingin istri nakalku tidur di kelas sewaktu belajar."
Natha mendengus di dalam pelukan pria itu. Dia dengan nakal menggelitik dadanya yang keras dengan jari-jari kecilnya.
"Tidur, Dear," titah Abyan terdengar mengancam.
Natha terkikik geli. Badannya yang gemetar karena tertawa, semakin menjengkelkan pria itu. Abyan memukul pantatnya, "Tidur!"
Natha tersentak kaget dengan mata terbelalak. Wajahnya langsung memerah karena malu dan kesal. Tapi Abyan tidak bisa melihatnya. Natha memukul dadanya dengan kepalan tinjunya.
Abyan hampir melepaskan pelukannya karena jengkel. Tapi Natha memeluk pinggangnya, "Aku tidur! Aku tidur!"
Abyan kembali pada posisinya. Tapi rautnya masih jengkel. Natha bisa merasakannya dari nafas pria itu yang tidak beratur.
Natha mencoba meredakannya, "Selamat malam, Husband."
Abyan bergeming. Tidak tergerak oleh ucapan manisnya.
Bibir Natha mengerucut. Ia mengangkat kepalanya sehingga bisa melihat lekuk wajahnya dari bawah rahang pria itu.
Saat Abyan menunduk, bertemu matanya yang tersenyum seperti bulan sabit. Kejengkelannya langsung menghilang, matanya melembut, apalagi karena perlakuan dan ucapan selanjutnya.
Natha dengan lembut mencium dagunya, "Cepat sembuh, Sayang."
__ADS_1
***