
Natha terbangun saat mendengar obrolan seseorang. Ia membuka mata dengan linglung. Matanya terasa berat karena bengkak.
Ia mendapati dirinya di ruangan asing. Saat mengingat kembali, Natha menghela nafas. Ia mengedarkan pandangan. Matanya berhenti pada pintu yang setengah terbuka menampilkan Abyan tengah mengobrol dengan pria yang berpakaian polisi.
Ekspresi mereka terlihat serius. Lalu Abyan berjabat tangan dengan kedua polisi itu dan mereka pergi.
Saat Abyan menoleh ke dalam, ia melihat istrinya yang sudah bangun dengan pandangan bingung ke arahnya.
Abyan tersenyum dan melangkah membuka pintu dengan lebar. Setelah ia masuk, Abyan menutup pintunya dan berjalan ke arah Natha.
"Apakah kamu lapar?" tanya Abyan seraya duduk dan merapikan rambutnya yang menempel di pipi.
Natha mengangguk.
Abyan mengambil makanan yang sudah ia pesan di sebuah meja. Lalu ia membukanya dan menyuapi Natha.
Natha membuka mulut dan mengunyahnya. Saat pandangannya tertuju pada benda putih yang melilit kepala Abyan, Natha mengulurkan tangan dan menyentuhnya lembut membuat gerakan Abyan berhenti.
"Apakah masih sakit?" Natha bertanya dengan suara pelan dan lembut.
Abyan tersenyum dan mengambil tangan Natha seraya mengecupnya. "Tidak, Sayang. Kepalaku sudah tidak sakit. Hanya luka kecil."
"Benarkah?"
Abyan terkekeh gemas karena merasa ekspresi Natha sangat lucu. Ia menangkup sebelah pipi Natha dan mengusapnya dengan ibu jari seraya berkata. "Ya. Aku sudah pernah mengalami kecelakaan yang lebih sakit. Jadi bagiku, ini hanya luka kecil."
"Jangan katakan itu.." rengek Natha dan memeluk pinggangnya.
Abyan terdiam. Lalu ia terkekeh dan memeluknya kembali seraya mengecup kepalanya. "Oke. Aku tidak akan mengatakannya lagi."
"Kamu harus makan dulu, Dear," ujar Abyan karena Natha tidak melepas pelukannya.
Natha melepas pelukannya dengan enggan. Abyan menyuapinya kembali.
"Kamu juga harus makan.."
Abyan tersenyum hangat dan mengangguk. Sendok itu bergantian antara dirinya dan Natha.
"Kenapa ada polisi di luar?" Natha bertanya penasaran.
"Mereka datang karenamu, Dear."
Natha menatapnya tidak mengerti. "Aku?"
__ADS_1
Abyan mengangguk. "Kamu yang membuat mereka harus bertugas sampai ke sini."
Natha mengerutkan kening bingung. "Sejak kapan? Aku tidak pernah.."
"Kamu pernah melaporkan sesuatu ke polisi?" Abyan bertanya santai.
Natha terdiam sejenak. Lalu ia mengingat rekaman dan mengangguk ragu. "Ya..aku pernah.. tapi seharusnya pamanku yang mereka cari.."
Abyan tersenyum. "Ya, pamanmu ada di sini."
Natha mengernyit. "Dia sakit?"
Abyan menggeleng pelan. "Dia mabuk berat dan menabrak mobil seseorang."
Natha mengerjap kaget. Ia bertanya tidak percaya. "Lalu bagaimana keadaannya?"
Abyan menatap mata Natha dengan senyum penuh arti. "Kamu sudah melihatnya sendiri."
"Ah? Aku?" Natha menunjuk dirinya sendiri. "Kapan?"
"Sebelumnya. Kamu menangis keras saat melihatnya."
Natha terdiam berusaha mencerna. Setelah ia mengingat sesuatu, matanya langsung terbelalak kaget. Ia menutup mulutnya dengan tangan karena merasa tidak percaya. Bertanya dengan lirih. "Orang yang di tutupi kain itu.. di-dia.. pa-manku?"
Natha benar-benar tidak percaya. Pamannya--Andre, sudah meninggal. Natha tidak merasakan emosi apapun, hanya terkejut saja karena terlalu tiba-tiba. Lalu kenapa sangat kebetulan? Kenapa harus dengan Abyan? Natha tidak akan pernah memaafkan Andre jika saja Abyan mengalami luka parah.
Anehnya, kenapa takdir kematian Andre seperti ayahnya?
***
Natha tengah bermain ponsel dengan tubuh setengah bersandar di kepala ranjang.
Ia tidak bekerja hari ini karena harus menjaga Abyan yang belum sembuh total. Apalagi mual-mual dan ngidamnya selalu datang tiba-tiba. Natha memang sudah menebak bahwa suaminya itu mengalami morning sickness. Natha merasa lucu mengingatnya.
Abyan sudah pulang dari rumah sakit. Suaminya itu hanya di rawat tiga hari. Karena keadaannya, Natha sama sekali belum memberitahu kabar bahagia yang masih ia rahasiakan.
Namun, entah kenapa, semenjak pulang dari rumah sakit, wajah Abyan selalu muram. Tidak di depannya, tapi Natha selalu tidak sengaja melihatnya.
Abyan juga terlihat lebih pendiam.
Natha tidak bertanya. Ia hanya ingin Abyan memberitahunya sendiri. Namun sampai saat ini, Abyan belum mengatakan apapun.
Saat ini, Natha berniat memberitahu kabar bahagia itu. Natha tersenyum dan menyentuh perutnya.
__ADS_1
Ceklek
Suara pintu kamar mandi terbuka membuat Natha menoleh. Ia melihat Abyan dengan pakaian santainya.
Tanpa ekspresi apapun di wajahnya, Abyan menghampiri Natha dan memeluknya seraya bersandar di perutnya.
Natha hanya diam dan mengusap rambutnya. Ia tidak bisa menahan pertanyaan beberapa hari ini. "Ada apa denganmu? Kenapa kamu selalu murung?"
Abyan diam tanpa mengubah posisinya.
Natha menghela nafas. "Kamu bisa menceritakannya kepadaku. Aku merasa tidak nyaman melihat sikapmu yang tidak seperti biasanya."
Abyan tiba-tiba mengambil tangan Natha yang mengusap kepalanya. Lalu Abyan mengangkat kepala menatapnya dengan sedih. "Dear.."
Natha mengernyit dengan tatapannya. Ia bertanya lembut. "Ada apa, hmm?"
"Aku.. " Abyan berkata ragu. Lalu ia menarik nafas dalam-dalam seolah sudah bersiap akan menghadapi sesuatu yang memberatkan. Abyan beranjak duduk dan menatap Natha serius. Ia berkata rendah. "Aku tidak ingin mempunyai anak."
Deg
Hati Natha menegang, senyum di wajahnya membeku.
Untuk pertama kalinya, itu adalah kalimat dari Abyan yang menyakiti Natha. Ia merasa sangat kecewa. Natha berusaha untuk menenangkan hati dan mengendurkan ekspresinya yang menegang. Pikiran Natha benar-benar kosong. Ia tidak tahu harus mengatakan apa.
Masalahnya, kenapa kalimat itu harus terucapkan di saat Natha akan mengatakan hal yang berlawanan?
Natha menunduk menatap perutnya yang menjadi sandaran Abyan. Bagaimanapun, Natha harus mengetahui terlebih dahulu alasan Abyan mengatakan itu.
"... Mengapa?" tanya Natha dengan lemah dan suara bergetar.
Abyan yang sibuk dengan pikirannya, tidak memerhatikan ekspresi Natha dan tidak merasakan ada yang salah.
"Aku takut, Dear.." Suara Abyan terdengar lirih dengan rasa takut dan kesedihan di dalam nadanya. "Aku sangat takut."
Abyan menatap Natha yang juga tengah menatapnya diam. Abyan tidak bisa merasakan emosi apapun dalam ekspresinya. Tapi saat melihat matanya, Abyan tahu ucapannya pasti membuat Natha tersinggung.
Abyan mengambil kedua tangannya dan menggenggamnya erat. "Aku takut kehilanganmu."
Natha tertegun. Ia mungkin sedikit mengerti arah pembicaraannya.
Abyan langsung menceritakan yang menjadi rasa frustrasinya beberapa hari ini. "Saat kamu pulang dan tidak menemaniku di rumah sakit hari itu, aku berkeliling rumah sakit. Tapi, aku tidak sengaja melewati ruang persalinan. Aku mendengar teriakan seorang wanita saat dia berjuang untuk melahirkan. Tapi, saat dokter itu keluar dari ruangan dan menjelaskan kepada seorang pria yang ku duga suaminya, aku mendengar bahwa wanita yang melahirkan itu meninggal, namun bayinya baik-baik saja. Pria itu menangis putus asa. Bahkan dia tidak mau menggendong bayinya sendiri. Dia menangis dan meratap memeluk istrinya yang sudah tidak bernafas."
"Saat itu.." Mata Abyan memerah. Air mata sudah menumpuk di sana. Kesedihan dan rasa takut di matanya tidak bisa di sembunyikan. "Saat itu, pikiranku langsung tertuju padamu. Aku takut kamu akan meninggalkanku jika kamu hamil dan melahirkan.."
__ADS_1