
"Kenapa kamu tidak memberitahuku dari awal, Natha?"
Natha diam tak menjawab.
"10 minggu?" Abyan bergumam seraya terkekeh dengan getir. "Selama itu kamu menyembunyikannya?"
"Jika aku tahu dari awal, aku tidak akan pernah membiarkanmu bekerja, Natha. Aku tidak akan membiarkanmu merasakan rasa lelah sedikit pun. Aku akan selalu di rumah dan menjagamu. Namun aku benar-benar tidak tahu membuatku berpikir, apakah aku telah menjadi pria, suami, sekaligus ayah paling berengsek?"
"Lalu malam ini ... aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika saja kamu tidak meneleponku dan meminta tolong. Aku mungkin akan menjadi orang yang paling sengsara pada saat beberapa jam berikutnya. Aku akan kehilangan dua nyawa sekaligus jika wanita itu benar-benar membunuhmu. Aku akan gila, Natha. Aku akan menghancurkan apapun jika itu terjadi ...." Suaranya serak dan bergetar. Mata Abyan memerah dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya. "Aku sangat kecewa karena kamu tidak memberitahuku dari awal."
Natha langsung menatapnya dingin. Matanya berkaca-kaca, namun perkataannya tajam. "Lalu apa kabar dengan hatiku saat kamu berkata tidak ingin mempunyai anak? Tahukah kamu? Saat itu kebetulan aku akan memberitahumu! Aku lebih kecewa saat kamu mengatakan itu!"
Abyan terkejut. Karena emosinya dan keadaan hatinya, setelah bereaksi ia berkata seolah-olah tidak ingin kalah. "Aku mengatakan itu beberapa hari yang lalu, Natha. Sedangkan kandunganmu sudah 10 minggu! Jika kamu mengatakan lebih awal, kalimat itu tidak akan pernah keluar dari mulutku! Aku mengatakannya karena aku berpikir kamu belum mengandung!"
Natha menatapnya dengan pandangan terluka membuat Abyan menyesali ucapannya yang berintonasi yang lebih tinggi.
Abyan mengambil tangannya dengan perasaan bersalah. "Aku ...."
"Jangan sentuh aku!" Natha langsung menepisnya. Air mata yang menyakitkan mengalir di pipinya. "Aku sendiri tidak akan kecewa dengan ucapanmu itu jika memang aku tahu dari awal, karena aku akan memberitahumu langsung! Aku baru mengetahuinya sebelum kecelakaan itu! Aku akan memberitahumu namun aku menundanya untuk menunggumu sembuh dan mencari waktu yang tepat! Namun apa? kamu mengatakan dengan ringan bahwa kamu tidak ingin mempunyai anak? Apakah kamu tahu? suasana hatiku yang bahagia, langsung hancur seketika. Berhari-hari dengan sabar aku menunggumu berubah pikiran dan menarik kembali ucapanmu, tapi kamu sangat egois! Kamu tidak pernah berkata apapun lagi, hiks."
Ekspresi Abyan langsung pucat. Seluruh tubuhnya menegang. Begitupun hatinya yang seolah tertusuk beribu pisau. Melihatnya menangis karenanya, hati Abyan semakin sakit. Ia mencoba meraih tangannya, namun Natha tidak membiarkan menyentuhnya sedikitpun.
"Maafkan aku, Sayang. Aku hanya takut ... aku tidak bermaksud ...." Abyan berucap lembut mencoba meraihnya.
Natha terus menepis dan memukul tangannya. Ia terisak dan meraung. "Pergi! Aku tidak ingin melihatmu!"
"Dear.." Abyan semakin pucat karena perkataan Natha.
Abyan mencoba memeluknya, namun dengan sekuat tenaga Natha mendorong dadanya. "Pergi!"
__ADS_1
Abyan langsung mundur karena dorongannya.
Natha menatap Abyan dengan mata memerah karena marah. "Aku tidak ingin melihatmu lagi! Kau benar-benar berengsek! Kenapa kamu bersedia memeluk dan akan mencium wanita j*l*ng itu?! Apakah kamu tahu bagaimana keadaan hatiku? Itu lebih sakit dari luka fisikku! Apa yang kamu lakukan dengan menurutinya lebih menyakitiku daripada siksaan wanita itu!"
Abyan menggeleng lemah menatapnya panik. "Dear ... Aku tidak ...."
"Pergi kamu!" jerit Natha mencoba melempar barang di dekatnya ke arah Abyan.
Alice yang mendengar keributan langsung masuk. Ia terkejut melihat Natha yang mengamuk. "Ada apa ini?!"
"Bawa dia pergi! Aku tidak ingin melihatnya!" Natha menunjuk Abyan dengan marah.
Walaupun tidak mengerti apa yang terjadi, tapi Alice tahu situasinya. Ia mengangguk seraya menarik lengan Abyan. "Abyan, kamu harus keluar, oke? Natha memerlukan ketenangan."
Ekspresi kuyu Abyan semakin kusut. Ia melihat Natha dengan tatapan penyesalan dan sedih. Dengan enggan Abyan mengikuti Alice.
Setelah Abyan dan Alice keluar, tangis Natha langsung pecah dengan memeluk lututnya.
***
Setelah pertengkaran itu, Natha benar-benar tidak ingin menemui Abyan lagi. Dia selalu melarang Abyan masuk ke ruangannya.
Abyan harus di rawat inap, begitu pula Natha.
Alice yang sampai saat ini tidak tahu masalahnya, hanya berdiri di tengah-tengah keduanya. Dia sendiri yang merawat Natha dan memanggil dokter kandungan dan memeriksa kesehatannya.
Abyan hanya bisa menemui Natha ketika Natha sudah tidur. Ekspresinya selalu pucat dan lesu. Tidak ada semangat untuk dirinya sendiri agar bisa sembuh dari lukanya. Abyan datang setiap malam dan mencium keningnya seraya mengucapkan kata 'maaf' berkali-kali. Tidak ada yang tahu betapa tersiksanya dia karena Natha tidak mau bertemu dengannya.
Di sisi lain, emosi Natha sudah stabil beberapa hari itu. Walaupun masih terlihat cuek, sebenarnya ia sangat ingin menemui Abyan. Entah itu karena keinginan dirinya, atau keinginan anak di perutnya. Namun karena gengsinya, ia selalu berpikir bahwa dirinya masih marah dan tidak boleh menemui Abyan sedikit pun!
__ADS_1
Sampai di mana, malam ini Alice datang ke ruangan Natha dan memberitahu bahwa Abyan demam tinggi. Lukanya tidak ada peningkatan sembuh. Abyan terus menerus bergumam dan memanggil nama Natha.
Natha yang merasa bersalah karena Abyan telah melindunginya, langsung datang ke ruangan Abyan dengan cemas dan khawatir sehingga melupakan bahwa dia masih marah.
Itu adalah kali pertama Natha masuk ke ruangan Abyan sejak tiba di rumah sakit.
"Mamah tidak tahu masalah kalian. Masalah dalam rumah tangga sudah biasa terjadi dan mamah berharap kalian bisa menyelesaikannya secara baik-baik dengan pikiran dingin. Jangan terlalu lama mengabaikan putra mamah, Sayang. Mamah merasa kasihan kepadanya. Mamah juga melihat bahwa dia jarang tidur malam hari hanya untuk menunggumu tidur agar dia bisa datang ke ruanganmu dan menatapmu lama saat tertidur. Berilah Abyan kesempatan untuk memaafkan jika dia memang mempunyai kesalahan kepadamu. Lalu dukunglah untuk segera sembuh," tutur Alice lembut seraya mengusap rambut Natha.
Natha menunduk dan semakin bersalah. Ia melirik Abyan yang tertidur dengan wajah yang begitu pucat.
"Mamah akan pulang ke rumah sebentar dan mengabari kakekmu tentang keadaan kalian. Tidurlah di sini dan temani dia." Alice melirik Abyan lalu pada Natha dengan senyuman hangat di wajahnya.
Natha mengangguk pelan.
Setelah itu, Alice keluar dan menutup pintu.
Natha menarik nafas dalam-dalam. Setelah menenangkan hatinya, ja melangkah ke arah Abyan.
Abyan terlihat tidak nyaman dalam tidurnya. Alisnya terus mengerut, pipinya agak lebih tirus, lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya, janggut di rahangnya tumbuh.
Natha duduk di sampingnya dan menyentuh keningnya yang panas. Mungkin karena nyaman oleh tangan dingin Natha, alis mengerut Abyan langsung mengendur.
Tangan Natha turun menyentuh mata dan pipinya seraya mengusapnya lembut. "Ada apa dengan wajahmu? Kenapa begitu jelek?"
Tiba-tiba tangannya Natha di wajahnya di genggam oleh tangannya yang panas membuat Natha terkejut. Mata Abyan langsung terbuka dengan kejutan di matanya. Setelah itu dia tersenyum miris dan bergumam serak. "Mimpi ya?"
Abyan langsung mengusap tangan Natha ke wajahnya seolah mencari kenyamanan. Natha bisa merasakan tangannya seakan menyentuh sesuatu yang sangat panas.
Natha mengusap rambutnya dengan tangan lain. "Kamu tidak bermimpi."
__ADS_1
***
Maaf gantung lagi, tapi hari ini udah Double up ya 😂🙏