Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 37


__ADS_3

Sonia membawa Natha ke arah pojok untuk menjauh dari Abyan. Wanita itu terus berusaha membuat Natha berbicara, karena sedari tadi pertanyaannya tidak pernah di jawab. Wajah Natha tidak memiliki ekspresi apapun. Mata dinginnya hanya melihat Sonia yang terlihat semakin agresif untuk meminta jawaban.


"Natha! Katakan sesuatu!" tuntut Sonia yang tidak Natha hiraukan. Wanita itu mengingat sesuatu, wajahnya langsung berubah menjadi senyuman, "Ngomong-ngomong, ada peninggalan orang tua kandungmu. Kotak itu berada di kamarmu. Tapi.. saat ku lihat beberapa hari yang lalu, kotaknya sudah hilang. Apakah kamu yang mengambilnya? Apa isinya? Bisakah aku melihatnya?"


Sonia masih percaya diri. Sejak kecil Natha di besarkan olehnya dalam beberapa tahun terakhir, ia juga berhasil memonopoli kehidupan Natha. Jadi, Meskipun sikapnya sudah berubah, Sonia yakin bisa memonopolinya kembali.


Mendengar tentang kotak itu, Natha tergerak. Tapi, ia tidak merubah ekspresinya, "Ya, aku mengambilnya. Kenapa bibi ingin melihatnya? Lagipula tidak ada yang penting."


Senyum Sonia sedikit luntur mendengar panggilan 'bibi'. Ia sedikit tertohok karena memang ia bukan ibunya. Tapi, senyumnya masih ia pertahankan walaupun kesannya terlihat canggung.


"Tidak apa-apa. Ib--eum.. bibi hanya ingin melihatnya. Maukah kamu menunjukannya? Siapa tahu, bibi bisa mengingat sesuatu di masa lalu dan memberitahukannya kepadamu." Senyum di wajah Sonia terlihat kaku dan canggung saat menyebut dirinya bibi. Namun, di akhir kalimat, dia terlihat percaya diri.


Pada titik ini, Sonia mempunyai ide untuk mencari tahu kenapa sikap Natha berubah. Setelah mengetahui apa yang terjadi, ia akan membuat Natha kembali seperti sikapnya dulu.


Natha tersenyum sarkasme. Suaranya lebih dingin, "Oh, yah?" Natha berpura-pura ragu, "Bibi bisa melihatnya. Tapi.. sayang sekali, barang itu tidak ada di tanganku."


Melihat Natha tidak berbohong, Sonia ikut ragu dan bingung, "Lalu, di mana?"


Natha tersenyum manis, "Suamiku."


Melihatnya Sonia menegang, senyum Natha melebar, "Jika bibi ingin melihatnya sekarang, bibi bisa bertanya kepadanya."


Mata Natha menunjuk Abyan yang tidak jauh. Pria itu sedang menatap ayah-putri di depannya dengan dingin.


Sonia ikut menoleh. Seluruh tubuhnya langsung gemetar. Sonia menggeleng dengan senyum paksa dan mata berkilat takut, "Ah, Ti-dak usah! Bibi tidak perlu melihatnya!"


Natha mengangguk mengerti. Ucapannya tidak bohong. Kalung itu memang ada di leher Abyan. Pria itu sendiri yang memintanya yang tidak Natha tolak. Lagipula, ia sudah mempercayainya dan tidak ada yang perlu di khawatirkan. Natha juga sudah menduga, mereka akan menanyakan tentang peninggalan orang tuanya. Seberani apapun mereka, jika kalung itu berada di tangan Abyan, mereka tidak akan pernah berani.

__ADS_1


Sonia menjadi lebih emosional. Ketakutan dan kesabarannya menghilang. Wajahnya diliputi kekesalan, "Baiklah. Aku tidak akan peduli tentang itu! Yang terpenting, aku tidak akan pernah memberikan saham putriku kepadamu! Seharusnya, pada awalnya kakek tidak akan memberikan 30% saham kepadamu! Dia mengambil setengah dari saham dan memberikannya kepada Nhita. Dengan cara ini, saham Nhita tidak berubah! Kenapa kamu begitu serakah?! Sahammu tidaklah kecil. Dan sekarang ingin mengambil saham putriku?!"


"Heh." Natha tertawa dengan ironis seraya membuang muka ke arah lain. Lalu, tatapannya kembali pada Sonia dengan tenang. Natha memiringkan kepalanya dengan mencibir, "Serakah?"


Sonia tidak mengerti makna dari ekspresi Natha sekarang. Tapi di sisi lain, Abyan yang sempat melihatnya sangat tahu. Sepertinya wanita itu membuat istrinya marah.


Lalu, Abyan menoleh kembali ke depan seraya memberikan peringatan terakhir. Matanya sangat tajam dengan suara sedingin es, "Besok pagi sebelum jam 9, saham putrimu harus sudah kulihat atas nama Natha. Kalau tidak.. kalian sendiri yang akan mengalami konsekuensinya."


Abyan menjalankan kursi rodanya meninggalkan kedua orang itu.


Andre beranjak berniat mengejarnya. Mulutnya ternganga ingin mengatakan sesuatu, namun ia tergagap. sehingga tidak ada satu patah katapun yang keluar.


"Maaf, Tuan Lumian. Tolong tetap di sini." Andre yang masih bersikeras mengejarnya, di halangi oleh Briyan.


Sikap Briyan sangatlah tidak ramah yang membuat Andre menyerah.


Mengambil kesempatan, Nhita pergi dari sana menghampiri Galen. Tidak peduli seberapa dingin wajah pria berstatus suaminya itu, Nhita menarik tangannya, "Ayo, pulang!"


Melihat ekspresi ayahnya yang tidak bagus sedari tadi menatapnya, Galen tahu, ia sudah kelewatan. Walaupun tidak tahu apa yang di pikirkan pria berstatus ayahnya itu.


Melihatnya tetap diam, Nhita semakin jengkel dan kasar, "Galen! Ayo pulang!"


Perilakunya serta teriakannya menarik perhatian semua orang. Mereka menatap aneh pada keduanya. Wajah Galen memerah karena malu dan marah. Keduanya langsung menundukan kepalanya.


"Apa masalahmu, hah?! Jangan membuat malu!" marah Ginanjar menatap tajam keduanya. Sedari tadi ia menahan amarah, namun sekarang ia tidak bisa menahannya lagi.


Untuk pertama kalinya, Ginanjar menyesal membawa Galen ke rumahnya. Awalnya ia mengira Galen akan membawa keberuntungan dan membawa nama baik keluarganya. Namun, belum mencapai apapun, Galen sudah mempermalukan keluarganya.

__ADS_1


Secara tidak sadar, Ginanjar meragukannya, apakah Galen dengan sengaja melakukannya untuk membalas dendam atas ketidakpeduliannya terhadap ibu Galen?


"Ayah, maafkan aku!" Melihat mata sinis Ginanjar, Galen semakin malu. Apalagi tegurannya di depan umum.


Galen menggertakkan gigi menahan semua penghinaan yang ia derita. Lihat saja! Suatu hari Dirgantara akan menjadi milikku! Dan aku akan menjadi pewaris sebenarnya..


"Heh, 'Maaf'? Apa gunanya kata 'maaf'? Apakah kamu tidak melihat sikap Abyan? Bahkan dia tidak melihat kami sedikit pun! Itu di sebabkan olehmu dan gadis ini!" tunjuknya bergantian pada Galen dan Nitha.


Ginanjar berusaha menahan amarahnya lebih banyak, karena perjamuan masih belum selesai. Ia tidak ingin membuat keributan dan tontonan. Apalagi, sekarang sebagian besar perhatian menuju ke arahnya.


Nhita semakin menunduk. Ia tidak menduga reaksi mertuanya begitu besar. Walaupun keluarganya bermasalah dengan keluarga Grissham, ia tidak pernah berniat melibatkan keluarga Dirgantara. Padahal ia sudah memberitahu lebih awal identitasnya dan keadaan baik-baik saja. Tapi kenapa makin sekarang mereka tidak menyukainya? Apa salahnya menikahi Galen?


Briyan masih berdiri di hadapan Andre yang terlihat linglung. Meskipun ia memerhatikan keributan yang tidak jauh, ada sesuatu yang lebih penting.


Briyan tersenyum sopan, namun nadanya dingin, "Sepertinya Anda kebingungan, kapan seharusnya Anda menyerahkan saham Nhita. Dalam hal ini, saya akan membantunya." Tatapan Briyan melintasi Nhita yang tidak jauh.


Andre merasakan firasat buruk. Lalu ia mengikuti tatapan Briyan. Andre melihat kurang dari 7 pengawal tegap di belakang putrinya. Pakaian mereka sangat berwarna hitam. Itu adalah pengawal Abyan. Andre pernah melihatnya saat mereka mengikuti di belakang Abyan.


Dengan wajah cemas, Andre langsung berlari menghampiri putrinya.


Sonia yang masih mengobrol dengan Natha juga melihatnya. dengan tergesa, Sonia langsung berlari untuk menghentikan mereka.Tapi, Nhita terlanjur di seret pengawal itu sebelum mereka mendekat.


"Natha! Selamatkan Nhita!" teriak Sonia cemas sambil menghampiri dan meraih tangan Natha.


"Maaf, Bibi. Aku tidak punya hak untuk melakukannya." Sambil mendorong lengan Sonia, entah kebetulan atau apa, Abyan ada di dekatnya, Natha langsung berlindung dan berdiri di belakang Abyan.


Sonia melihat ke arah Nhita pergi. Lalu, kembali pada Abyan dengan tatapan memohon. "Tu-Tuan, tolong.."

__ADS_1


Abyan melihatnya acuh tak acuh. Lalu, mengalihkan pandangan pada Galen yang tidak jauh dan berkata dengan nada aneh, "Ku pikir, tuan muda Dirgantara akan menghentikannya. Ternyata akan berjalan mulus."


Sonia membeku. Ia ikut menoleh mengikuti pandangan Abyan. Sonia langsung merasa marah, menantunya benar-benar tidak bergerak sedikit pun membantu putrinya.


__ADS_2