
"Natha apa yang kamu bicarakan? Nhita sepertinya mengingat sesuatu yang penting. Itu sebabnya dia pergi."
"Bibi harus mengingatkannya lain kali. Nhita sudah lama tidak bertemu dengan kakek, jadi aku khawatir kakek merindukannya," tutur Natha dengan lembut. Namun matanya dingin.
Sonia diam, namun matanya memancarkan kemarahan.
Natha berjongkok dan memegang batu nisan itu. Mengusapnya lembut, "Kakek, jangan khawatir. Aku sudah tahu hidupku bahkan bibi dan pamanku sudah memberitahu kebenaran tentang orang tuaku. Dan mereka selalu menyayangiku lebih baik dari Nhita. Selain itu, aku mendapatkan peninggalan ibu kandungku dan aku sudah menikah dengan pria yang ingin aku nikahi. Kakek tahu 'kan tentang Abyan atau tuan muda Grissham itu? Ya, itu dia. Aku sangat bersyukur bisa menikah dengannya. Dengan dia, tidak ada yang berani menggangguku. Jadi, kakek tidak perlu mengkhawatirkanku lagi."
Tidak ada yang salah dengan kata-kata Natha. Tetapi kesuraman menyelimuti Sonia. Tanpa sadar Sonia menatap batu nisan yang terdapat nama dan foto Alan di sana. Sonia langsung tersentak ketakutan dan mengalihkan pandangan tidak berani menatap mata dalam foto itu lagi.
Alan selalu tegas dan bergengsi ketika dia hidup. Di seluruh keluarga Lexandra, keluarga asing atau Lumian yang memasuki keluarga itu, tidak ada yang berani berbicara. Jika bukan karena ini, Sonia dan Andre tidak akan berpura-pura selama bertahun-tahun, memainkan peran sebagai ayah dan ibu yang penuh kasih dan sepenuh hati merawat Natha.
Sekarang seakan di awasi oleh mata tajam Alan di foto itu, Sonia membuang muka dengan perasaan takut dan bersalah. Langkahnya sedikit mundur dengan hati menegang.
Ketakutan Sonia sama sekali tidak Natha lihat. Setelah selesai berdo'a, Natha beranjak. Dia mulai pergi meninggalkan makam itu setelah berpamitan. Suasana hatinya jelas tertekan. Sonia ingin berbicara, namun ia menutup mulutnya kembali. Keterasingan yang terpancar dari Natha membuat Sonia menelan kembali kata-katanya.
Di luar pemakaman, mobil yang keluarga Grissham sudah menunggu, namun mobil keluarga Lumian jelas sudah pergi dengan Nhita yang sangat marah.
"Natha! Beri bibi tumpangan!" Sonia langsung masuk tanpa menunggu jawabannya. Ini adalah pertama kalinya ia masuk ke dalam mobil keluarga Grissham dan Sonia merasa bersemangat.
Natha mengernyit jijik. Namun kata-katanya sangat serius, "Maaf, Bibi. Aku akan pergi ke tempat lain."
"Apa?" Sonia merendahkan suaranya. Lalu menatap Natha dengan sedih, "Di luar hujan sedang turun. Bibi sudah menemanimu mengunjungi kakek. Lalu, mobil yang bibi tumpangi ke sini sudah pergi. Bagaimana kamu bisa begitu tega tidak mengantarkan bibi pulang?"
"Bibi, supirnya sudah di atur oleh keluarga Grissham. Dan juga ada sesuatu yang harus aku lakukan."
Natha tidak berbohong. Namun ia juga akan menjaga Abyan. Natha takut kelamaan dan membuat pria itu kesal. Karena jarak ke rumah keluarga Lumian tentu membutuhkan waktu yang lama. Apalagi, arah rumah mereka berlawanan.
Namun demikian, Sonia sangat kesal dan tetap duduk di dalam mobil bersikeras, "Bibi tidak peduli! Bahkan jika ada masalah besar, kamu harus mengantarkan bibi pulang!"
"Kalau begitu, bibi bicara sendiri dengan sopirnya!" Natha tidak perlu repot memaksanya lagi. Ia hanya perlu mengubah orang.
__ADS_1
Di bandingkan dengan Natha, jelas sopirnya sangat aneh dan sulit untuk di ajak berbicara. Tanpa memberi kesempatan pada Sonia, ia menginjak pedal gas menuju rumah Grissham yang berlawanan arah dengan Lumian.
Sonia melotot. Ia menepuk punggung kursinya dan berteriak tajam, "Tunggu! Berhenti! Berhenti!"
Namun, pengemudi itu seakan tuli. Ia terus melajukan mobilnya.
Sonia langsung menoleh ke arah Natha di depannya dengan panik, "Natha! Hentikan dia!"
Natha melirik Sonia dengan dingin, namun ia hanya diam. Sonia semakin marah dan panik. Ia menjangkau Natha.
Namun seakan terdapat mata di belakang kepalanya, Natha tidak menoleh ke belakang dan berbicara tepat waktu, "Bibi, jika aku menurunkanmu di pinggir jalan, apakah Nhita akan datang menjemputmu?"
"Tentu saja.." Sonia menjawab dengan percaya diri. Ia menarik kembali tangannya yang terulur. Nhita adalah putrinya, bagaimana Nhita tidak bisa menjemputnya?
"Kalau begitu, cobalah." Natha sedikit memprovokasi. Lalu menatap pengemudi, "Berhenti!"
Pengemudi menginjak rem. Dan Sonia yang tengah lengah langsung menabrak kursi di depannya, "Ah!"
Sebelum Sonia berekasi, pengemudi membuka pintu dan keluar dari mobil. Setelah Itu, ia membuka pintu belakang dan dengan kejam menyeret Sonia keluar.
"Natha! Tunggu!" teriak Sonia.
Namun itu sia-sia. Mobil sudah melaju jauh. Ia mengeluarkan ponselnya dengan marah dan menelepon Nhita.
"Aku sedang bermain di luar, Bu! Jangan memanggilku! Naik taksi saja!" Nhita dalam suasana hati yang buruk. Ia langsung menutup telepon sebelum Sonia berbicara.
"Nhita.." Sonia menganga dengan rasa tidak percaya. Ia merasa sangat marah. Sonia memanggilnya lagi dan lagi, namun Nhita tidak mengangkatnya sama sekali. Malah, Nhita langsung menolak panggilannya.
Mendengar perintah mematikan mekanis di ponselnya, Sonia tidak mempercayai telinganya untuk sesaat. Bagaimana bisa? Seperti yang Natha katakan, Nhita tidak peduli padanya?
Dengan amarah di hatinya, ia menelepon sopir keluarganya. Dan sopir dengan enggan kembali menjemputnya.
__ADS_1
Sonia tidak pernah merasakan ini dalam hidupnya. Merasa marah dan kesal. Ia berdiri berjam-jam di pinggir jalan. Sonia mengira, sopirnya akan langsung segera tiba, namun hujan semakin deras dan semakin buruk. Sonia menunggu dengan badan menggigil dan rasa lapar. Dengan sabar menunggu mobilnya.
Sonia berusaha untuk menghubungi siapa saja. Ia basah kuyup dalam hujan, ponselnya mati dan ia tidak punya solusi. Pada titik ini, ia hanya berharap Natha memiliki hati nurani dan berbalik menjemputnya. Namun pada akhirnya, memunculkan harapan yang tidak pasti akan mengecewakan.
Pengemudi keluarga Lumian tidak menjemput nyonyanya di sebabkan mobil mogok. Bahkan belum sampai pemakaman.
Untuk pertama kalinya, Sonia mengalami keadaan yang paling buruk dalam hidupnya.
***
Saat sore hari, Abyan ke rumah sakit untuk rehabilitas dan melihat Andre memarahi Nhita, kemudian mendengar Sonia sakit karena hujan. Jadi, pada malam harinya, Abyan memberitahu Natha bahwa Sonia ke rumah sakit.
Tanpa rasa bersalah, Natha mengangkat bahu. Itu berkali-kali lipat tidak sebanding dengan penderitaannya dulu. Natha memberitahunya dengan santai, "Aku meninggalkannya di pinggir jalan."
"Itu tidak ada hubungannya denganmu. Kamu tidak mempunyai kewajiban untuk mengantarnya pulang." Semakin Natha mengeluarkan keburukannya, bahkan Abyan tidak peduli. Malah membelanya, "Terlebih lagi, sopir Keluarga Lumian tidak menjemputnya. Itu salah mereka, bukan kamu."
Natha terdiam dan tidak menjawab.
"Bukankah kamu bisa mengontrol ukuran hujan 'kan?"
"Tidak." Natha mengakui bahwa ia memang sedikit tidak normal, tetapi ia tidak cukup kuat untuk mengendalikan cuaca.
"Bukankah begitu?" Abyan sedikit menggodanya
Bibir Natha mengerucut. Tetap saja mengelak, "Tidak."
"Ya, ya. Terserah." Abyan tersenyum lembut. Ia mengecup keningnya, "Ayo, tidur. Sudah malam."
"Aku kedinginan," ucap Natha seakan memberi kode. Padahal tidak.
Abyan merentangkan tangannya memberi isyarat.
__ADS_1
"Bukan begitu.." Natha mengerjap lucu dengan pipi memanas. Namun tersenyum malu, "Tapi, ya sudahlah."
Natha dengan malu-malu masuk ke dalam dekapan hangatnya. Abyan terkekeh.