Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 84


__ADS_3

"Hei! Mau kemana? Apakah aku akan membiarkanmu menjelma menjadi ulat bulu di depan sepupuku? Tentu tidak. Kamu seharusnya sadar diri."


Meisa menggertakkan gigi. Namun karena sudah terbiasa, ia tidak terlalu tersinggung dengan perkataan pedasnya. Kesal karena Aston terus-menerus menghalanginya, Meisa mencoba mendorong untuk Aston menjauh. "Minggir!"


Aston menghindar, seolah takut di sentuh oleh sesuatu yang sangat kotor. Dia mundur dengan sikap yang di lebih-lebihkan. "Ya Tuhan. Apakah kamu benar-benar tidak mempunyai rasa malu sebagai seorang wanita? Saya meragukan, apakah kamu satu-satunya wanita yang mengajak seorang pria menikah? Bukankah kamu bilang menyukai sepupuku? Kenapa kamu dengan tidak tahu mau akan menyentuhku? Aku menyarankanmu, cepatlah menyerah! Aku atau sepupuku tidak akan pernah jatuh cinta kepadamu!"


"Meisa!" Auberta bergegas dengan wajah marah dan menariknya. "Apa yang kamu lakukan?!"


"Aku tidak.. dia.." Meisa ingin membantahnya dengan menunjuk Aston untuk mengeluh.


Melihat Meisa masing ingin menjelaskan, Auberta sebagai orang yang paling dekat dengan Meisa, memaharahi dengan ekspresi jelek. "Sudah! Berhenti!"


"Tapi.. aku.." Meisa merasa sangat sedih. 


Ia jelas tidak melakukan apa-apa. Tapi ia harus duduk di posisi terjauh dengan Abyan.


"Kalau kamu tidak ingin aku menelepon orang tuamu untuk menjemputmu pulang, diam di sini! Jangan katakan atau melakukan apapun." Suara Auberta sangat pelan sehingga hanya bisa di dengar Meisa.


Meisa mengertakkan gigi dan memelototi Aston yang tengah menatapnya dengan senyum mengejek.


Aston hanya mengangkat bahu acuh tak acuh dan berjalan ke sofa dekat Abyan. Itu hanya pelajaran kecil untuk Meisa agar tidak membuat masalah. Jika Meisa terus-menerus mengganggu, jangan salahkan ia karena bersikap kasar.


Sedangkan yang lain, hanya menyaksikan dengan mata tidak nyaman menatap Meisa.


Lalu atensi mereka kembali pada Abyan dan Natha.  Ibu Aston--Sevie, memperhatikan Natha dan berkata dengan lembut. "Apa kabarmu?"


Natha mengangguk pelan seraya tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja."


Mereka mengobrol ringan. Lalu memulai makan malam dengan santai dan tenang. Sangat menyenangkan. Kecuali Meisa tentunya, tidak ada yang bertanya atau mengajaknya mengobrol. Semua orang di meja itu sangat antusias dengan Natha, membuat kedua tangan Meisa terkepal di bawah meja.

__ADS_1


Ekspresi kakek Julian tetap lurus dan serius, tapi ia terlihat lebih rileks.


"Ayo, makan lebih banyak," kata Arbelin dengan lembut kepada Natha seraya menambah lauk-pauk ke piringnya.


Natha kewalahan. Ia melirik Abyan dengan mata meminta bantuan.


Abyan hanya tersenyum geli. Melihatnya hampir kenyang, Abyan memindahkan piring dan mangkuknya dengan menukarkannya dengan yang dia punya.


Auberta dan Arbelin tersenyum penuh arti kepada keduanya. Matanya tampak penuh kasih sayang. Mereka hanya berharap keduanya mendapatkan anak sesegera mungkin.


Di bawah tatapan mereka, Natha sedikit malu.


Pemandangan di ruang makan itu begitu harmonis membuat Meisa hampir menggigit sendoknya. Orang yang duduk di posisi itu seharusnya dirinya! Jika bukan karena ia pergi, tidak mungkin Natha akan masuk ke dalam keluarga ini!


Ekspresi Meisa saat ini sangat jelek. Tentu saja tidak ada yang menyadarinya kecuali Aston yang menatap Meisa dengan tatapan provokasi.


Tang!


"Meisa? Apakah kamu sudah selesai? Kembalilah ke kamarmu setelah selesai." Milian berujar datar untuk menghentikan kegilaan Meisa. Ia sudah merasakan emosinya sedari tadi.


Wajah Meisa terdistorsi. Pada akhirnya dia hanya tersenyum enggan dan duduk kembali. "Tidak. Aku belum selesai."


Aston mencibir dengan jijik.


Meisa mengatupkan rahangnya dengan keras, berusaha menahan amarahnya.


Menghadapi tindakan Meisa, semua orang di keluarga Allarick bahkan tidak tahu sikap apa yang harus di tunjukkan. Mereka hanya berharap Meisa selesai makan dan segera pergi dari ruangan itu.


"Jika kamu merasakan makanannya tidak enak, kamu tidak usah memaksakan diri dan segera pergi," kata Arbelin tanpa nada teguran, tapi langsung menghilangkan wajah Meisa.

__ADS_1


Meisa langsung memucat. Ia terdiam beberapa saat, lalu air mata mengalir. Ia menatap Arbelin dengan mata merah. "Nenek.. makanannya tidak.."


"Nenek? Aku bukan nenekmu. Panggil aku Nyonya. Aku tidak seakrab itu denganmu," potongnya tanpa ampun.


Meisa benar-benar di permalukan. Entah itu tangisan asli atau tidak, yang pasti Meisa benar-benar menangis tanpa menahannya.


Mereka yang melihat Meisa menangis mengubah ekspresinya menjadi agak muram, wajah Arbelin tenggelam. Ia menatap Auberta dengan tidak senang.


Auberta merasa malu di tatap ibu mertuanya seperti itu. Meskipun ia di anggap putri tertua di keluarga Allarick, dan di hormati, tapi tetap saja posisinya lebih rendah dari putri asli lainnya. Suaminya tengah berbisnis di luar negeri. Dan dirinya, sebagai bibi Meisa harus menanggung tanggu jawabnya atas Meisa saat ini.


Auberta benar-benar tidak menyangka Meisa akan menangis di depan semua orang.


Auberta menatap mereka dengan wajah canggung. "Ayah, ibu dan semuanya. Aku sangat minta maaf. Anak ini mungkin terlalu di manja ketika di rumahnya. Aku akan membawanya ke kamar." Auberta langsung menarik Meisa ke atas.


Meisa tidak ingin pergi. Bibinya menjadi agak kasar kepadanya. Dengan keras kepala, Meisa masih ingin tetap duduk di sana. Akhirnya Meisa tidak tahan dan berteriak. "Aku tidak ingin pergi! Seharusnya bukan aku yang pergi! Tapi dia!"


Mengikuti arah jari telunjuk Meisa, semua orang menatap Natha. Lalu ekspresi semua orang berubah. Julian yang sedari tadi diam, langsung tersulut emosi. Ia menggebrak meja dengan wajah hitam. "Meisa! Jangan meninggikan suaramu!"


Meisa menyusut ketakutan karena melihat amarah kakek Julian untuk pertama kalinya. Tapi saat melihat senyum arogan Natha, ketakutannya langsung menghilang. Wajahnya memerah terlihat lebih marah dari sebelumnya.


Meisa menjadi lebih berani. "Tapi kek, dia seharusnya tidak pernah menikah dengan Abyan! Dia hanya memanfaatkannya! Dia hanya pengganti! Karena adiknya yang hampir membunuh Abyan dalam kecelakaan, Abyan menjadi terluka dan berbaring di tempat tidur begitu lama! Dia sangat tidak pantas masuk ke dalam keluarga Grissham. Dia tidak layak untuk duduk di sini!"


Semua keluhan dan apa yang ada di dalam hatinya, Meisa meneriakinya dengan lantang di depan semua orang. Sama sekali tidak sesuai dengan citra manis yang di buatnya di masa lalu.


"Jika istriku tidak layak, apakah kamu layak?" Abyan berkata dingin penuh ironi dan penghinaan.


"Abyan!" Meisa merasa kesal melihat matanya yang penuh hinaan. Lalu menunjuk Natha kembali. "Kamu melihatnya dengan matamu sendiri kemarin, Natha menerima cekku! Dia berjanji untuk meninggalkanmu setelah menerima uang itu! Itu sudah menjadi bukti jelas, Natha ingin bersamamu hanya karena uangmu!"


Semua mata langsung tertuju pada Natha.

__ADS_1


"Cek? Apa maksudmu?" Aston bertanya dengan heran.


__ADS_2