
Tidak terasa banyak waktu berlalu begitu saja. Tibalah saat ujian nasional Natha tiba. Selain Natha yang sibuk belajar, Abyan pun agak sibuk belakang ini di kantornya. Agar pekerjaan tidak mengganggu Natha, Abyan menempatkan tim profesional khusus untuk bertanggung jawab mengurus Lexandra. Dan tidak ada masalah selama itu.
Selama itu, waktu kebersamaan keduanya pun semakin sedikit. Hanya bertemu kembali pada waktu tidur, lalu bangun paginya mereka sibuk kembali.
Dalam keadaan seperti itu, meskipun Abyan tidak selalu lembur, tapi ia harus membuat pengecualian untuk tetap di kantor. Itu sebabnya Abyan tidak bisa mengantar-jemput Natha ke sekolah setiap harinya.
Namun di sisi lain, Natha selalu merasa kosong. Tapi ia juga perlu bersungguh-sungguh dalam menghadapi kelulusan.
Pada hari terakhir Natha ujian, ia pulang lebih pagi karena hanya satu pelajaran terakhir. Dengan itu Natha berniat membawa makan siang ke kantor Abyan.
Natha sudah bekerja keras belajar memasak sejak insiden nasi asin itu. Walaupun Abyan berusaha menghentikannya karena takut ia lelah, tapi Natha bersikeras sampai akhirnya bisa memasak beberapa makanan.
Natha sudah berganti seragam dengan pakaian sederhana. Walaupun tinggal di apartemen, supir selalu stand by untuk mengantarkan nyonya atau tuannya kemanapun.
Hanya butuh menghabiskan waktu beberapa menit sampai di perusahaan Abyan. Natha sama sekali tidak memberitahukan kedatangannya kepada suaminya itu. Sengaja, ia berniat akan mengejutkan Abyan, karena Natha memang belum pernah berinisiatif datang sendiri. Baru kali ini.
Saat Natha masuk, banyak karyawan yang berlalu-lalang dengan pakaian formal mereka. Saat salah satu dari mereka melihat Natha, matanya terbelalak seolah bola matanya akan keluar kapan saja. Ia segera berseru kaget. "Nyo-nya!"
Satu persatu atensi menuju ke arah Natha. Dengan kegugupan dan kepanikan, mereka sedikit membungkuk untuk kesopanan. Natha hanya mengangguk santai.
Seorang resepsionis yang sama-sama terkejut akan kedatangannya yang tiba-tiba, langsung menyapa dan mengantarkan Natha menuju ruang Abyan berada.
Selain resepsionis, para karyawan dengan antusias dan gugup ikut mengantarkan. Sehingga saat mereka memasuki lift, ruangnya agak sempit. Natha tidak risih, namun agak lucu melihat tingkah mereka.
Sampai resepsionis tadi menekan lantai tempat Abyan berada, Natha menjadi lebih damai saat keluar lift.
Di lantai atas, di lantai tempat kantor Abyan berada, Natha baru saja berjalan keluar dan melihat sekretaris berdiri di luar pintu kantor Abyan.
Sekretaris Abyan adalah seorang pria yang hanya beberapa tahun lebih tua dari Abyan. Saat melihat Natha, sekretaris itu terlihat sangat terkejut. Lalu dengan cepat ia membungkuk sopan dan menyapa. "Nyonya."
__ADS_1
Natha mengangguk dan bertanya. "Apakah suamiku ada di dalam?"
Sekretaris Abyan mengangguk sopan dan menjawab rendah. "Ya, Nyonya."
Natha segera berjalan ke pintu.
Abyan adalah satu-satunya orang yang berada di dalam ruangan yang agak gelap. Jendelanya setengah tertutup. Yang ada di pikiran Abyan adalah dia hanya ingin menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin dan pulang ke rumah menemui istrinya serta memeluknya untuk menghilangkan rasa lelah sedari pagi.
Tok tok
Saat mendengar ketukan, Abyan mengira itu sekretarisnya. Tanpa mengangkat kepalanya Abyan berkata. "Masuk."
Ini bukan pertama kalinya Natha ke kantor Abyan. Melihat Abyan sedang sibuk, Natha tidak terburu-buru memberikan makanannya. Ia duduk di sofa dan membuka majalah.
Abyan tidak mendengar suara apapun dan menyadari ada yang salah. Ia langsung mengangkat kepalanya dan melihat istri cantiknya itu dengan santai duduk di sofa. Abyan tercengang. "Dear? Kenapa kamu di sini? Bukankah kamu tengah ujian?"
"Belum! Aku sangat lapar!"
Berbeda dengan ekspresi serius sebelumnya, sekarang Abyan terlihat tersenyum lebar dan antusias seperti anak kecil. Abyan tidak pernah menduga akan kedatangan Natha yang tiba-tiba. Setelah merasa terkejut, Abyan merasakan bersemangat dan gembira. Segera ia merapikan dan meletakkan dokumen-dokumennya dan berjalan ke arah Natha.
Abyan langsung duduk di samping Natha dan memeluknya dengan manja. Pria itu bersandar di bahu Natha dan mengeluh. "Aku sangat lelah."
Natha mengusap rambutnya seperti seorang ibu tengah menghilangkan kepenatan putranya yang telah bekerja keras. Ia berkata lembut. "Kalau begitu, istirahatlah dulu setelah makan. Aku akan meneruskan pekerjaanmu."
Abyan tersenyum lebar dan memeluknya gemas. "Terima kasih, Sayang. Tapi tidak perlu, kamu sendiri pasti lelah karena berpikir keras dalam ujian. Energiku akan terpenuhi kembali setelah memakan makanan yang kamu bawa. "
Natha berdecak dengan pelukannya yang begitu erat. "Lepaskan. Kamu terlalu erat memelukku."
Abyan dengan patuh melepaskannya. Namun kepalanya kembali bersandar di bahunya yang kecil. Menggesek-gesekan kepalanya seperti kucing butuh belaian.
__ADS_1
Natha meliriknya yang berwajah polos. Mencebik. "Dasar manja."
Natha meletakkan kotak makanan siang itu di meja. "Ngomong-ngomong, karyawanmu tampak sangat antusias tadi. Aku di sambut mereka dengan perlakuan tingkat tinggi di jalan sebelum ke sini."
Abyan terlihat cemberut. "Aku orang pertama yang akan menyambutmu jika aku tahu kamu akan datang. Lain kali, kamu harus memberitahuku terlebih dahulu."
"Ya, ya.." Natha menjawab asal-asalan. Ia membuka kotak makan itu dan menyodorkannya kepada Abyan. "Ayo, kamu harus makan dulu."
Mata Abyan berbinar melihat isi kotak makan itu. Perutnya langsung keroncongan lebih keras. Tapi sebelum itu, Abyan melirik Natha dengan mata mengerjap-ngerjap.
Natha yang sedari memperhatikan, menatapnya aneh. "Jangan bilang kamu ingin aku suapi?"
Abyan mengangguk beberapa kali dengan senyum lebar.
Natha tercengang. "Hei, kamu sudah besar."
Abyan berpaling dengan ekspresi merajuk. "Kalau begitu, aku tidak akan makan."
Natha menggelengkan kepalanya dengan mulut terbuka tidak percaya akan tingkahnya. Lalu ia dengan sengaja menutup kembali kotak makan siangnya. "Baik kalau begitu. Aku berikan saja kepada sekretarismu yang tampan itu."
"Beraninya kamu!" Abyan melotot mengancam. Ia merebut kotak itu dari Natha ke dalam pelukannya. Lalu menatap Natha dengan ekspresi cemburu. Ada senyuman di bibir Abyan yang membuat Natha merinding saat melihatnya. "Apakah kamu bilang sekretarisku tampan?"
Natha langsung menyusut, tapi tidak mengatakan apa-apa, karena Natha tidak menyangkal bahwa sekretaris Abyan memang tampan. Usianya 27 tahun, masih terlihat muda dengan perpaduan penampilannya yang dewasa.
Wajah Abyan terlihat gelap seperti pot karena Natha tidak mengatakan 'tidak'. Tapi malah terdiam melamun.
"Baik kalau begitu. Keluar saja untuk menemuinya di bandingkan di sini untuk melihat suamimu yang jelek! Nanti setelah itu aku akan memecatnya!" Abyan berkata kesal seraya beranjak dengan kotak makanan itu di pelukannya. Langkahnya menuju pintu tempat istirahat Abyan di kantor.
Ekspresi Natha tentu saja tercengang sampai Abyan menghilang dari balik pintu itu. Ia tidak bisa berkata-kata dengan sikapnya saat ini. Natha bergumam. "Apakah dia merajuk?"
__ADS_1