
"Meisa! Buka pintunya!"
Menunggu lama, namun tetap saja tidak ada yang keluar.
Abyan tersenyum, namun senyumnya bukan untuk hal baik. Dia mengeluarkan ponsel dan menelepon polisi.
Abyan bukanlah orang yang lembut dan berbaik hati. Karena Galen dan Meisa berinisiatif membuat masalah kepadanya, kenapa ia harus membiarkan mereka begitu saja?
Tanpa di duga, Abyan benar-benar memanggil polisi. Galen menatapnya tidak percaya. Melihat Abyan tidak menipunya, Galen segera menoleh ke arah Natha. "Natha, kita sudah saling kenal sejak lama, kenapa kamu tidak melakukan apapun untukku?"
Reaksi Natha sangat dingin. "Kita tidak sedekat itu, dan aku tidak harus melakukan sesuatu untuk membantumu keluar dari masalahmu sendiri."
Galen merasa marah dan kesal. Ia berbalik ke pintu lagi. "Meisa, apakah kamu tidak akan keluar? Apa yang kamu lakukan di dalam persembunyian? Apakah kamu akan menunggu sampai polisi datang dan menangkapmu?"
Suara Galen sangat keras, dan Meisa bisa mendengarnya dengan jelas. Namun ia tidak mempercayainya. Ia hanya bersembunyi di balik tirai yang ada di kamar mandi besar itu. Meisa hanya bepikir Galen mengelabuinya. Ia lebih tahu dari siapapun, jika Abyan tahu apa yang dia lakukan di depannya hari ini, Abyan tidak akan melepaskannya.
Meisa bersembunyi di dalam, Abyan tidak terburu-buru dan Natha tidak menganggapnya serius. Keduanya saling pandang dan berjalan ke sofa dengan santai.
Pembersih itu sudah merasa situasi ini salah dari awal, ia yakin pasti orang yang membayarnya sudah ketahuan. Ia bergidik memikirkan bahwa dia terlibat dalam masalah besar ini. Petugas pembersih dengan cepat berbalik dan berjalan ke arah Abyan mengakui kesalahannya.
"Tu-an! Maafkan saya! Saya di paksa oleh mereka!"
Abyan menatapnya dingin. "Kau di pecat."
Mata pertugas itu terbelalak terkejut. Ia tidak menyangka akan di pecat dari pekerjaannya yang berkondisikan baik. Ia ketakutan dan menangis berlutut di kaki Abyan meminta pengampunan. "Tidak, Tu-an! Jangan pecat saya! Maafkan saya, Tuan!"
Abyan tersenyum muram. "Apa hakmu untuk menolak? Aku bosnya, dan aku berhak memecat siapapun."
Petugas itu menangis dan terus-menerus berkata meminta maaf agar keputusan Abyan batal. Namun, hal itu tidak bisa di ubah. Pada akhirnya, Abyan memanggil satpam. Petugas itu di tarik keluar oleh mereka.
Galen yang sedari tadi diam, ingin sekali pergi namun tidak bisa. Jadi dia hanya menggedor-gedor pintu.
Polisi tiba dengan sangat cepat dan berdiri si kantor Abyan. Setelah Abyan memberi isyarat, mereka langsung masuk ke pintu. Mereka menemukan Meisa di balik sebuah tirai tengah berjongkok menutupi kedua telinganya.
__ADS_1
Meisa menggeleng dengan brutal dan bersikeras tidak mau keluar. "Aku tidak mau keluar! Pergi!!"
"Kau yang membawaku ke dalam masalah ini! Sekarang ayo keluar!!" Galen menyeret Meisa yang bersembunyi dengan gerakan kasar.
Abyan menjelaskan situasinya kepada polisi. Ia menunjuk ke kantornya dan mengatakan motif buruk Galen dan Meisa. Ia hanya ingin polisi memeriksanya dengan cermat.
Karena karpet kotor telah di ganti, tidak ada kelainan. Namun monitor di bawah meja dengan cepat di temukan. Setelah itu, tindakan Meisa menambahkan obat bius ke kopi di foto, dan kedua polisi itu segera menemukan karpet kotor yang belum sempat di bersihkan.
Bukti yang di temukan meyakinkan dan tidak bisa di sangkal.
Galen dan Meisa tidak menyangka mereka akan jatuh pada monitor yang mereka pasang sendiri.
"Tidak! Aku di paksa olehnya!!" raung Meisa seraya menunjuk Galen dengan tatapan panik. "Kamulah yang berniat merebut Lexandra dengan mendekati Natha!"
Natha dan Abyan saling pandang. Hanya mereka yang tahu apa maksud dari kontak mata keduanya. Tidak ada ekspresi di wajah keduanya, mereka bersedekap mendengar dua orang gila itu yang saling menyalahkan.
Galen tertawa marah. Ia menatap Meisa sedingin es. "Bukankah kamu yang menyeretku ke dalam masalah ini?! Kamulah yang bersikeras untuk mendapatkan Abyan, sehingga kamu menambahkan afrosidiak ke dalam kopi! Bahkan kamu rela menjadi *******!"
"Karena seharusnya akulah wanita Abyan! Natha! Wanita itulah yang di sebut *******!" Meisa menatap Natha dengan ganas.
Jeritannya terdengar menyakitkan. Hidung Meisa terbentur tembok hingga mimisan banyak, kakinya terkilir hingga bengkok, wajahnya mengerikan.
Tidak ada rasa bersalah pun di wajah Abyan. Ia memeluk Natha dengan erat di dadanya. Ia menatap beberapa polisi di depannya. "Mereka sudah terbukti bersalah, itu hanyalah hukuman kecil. Bawa mereka."
Galen bergidik ngeri melihat Meisa yang terluka. Ia merasakan kepalanya sakit karena marah. Walaupun Meisa terluka, namun ia terus meraung gila dan berteriak bahwa itu tidak ada hubungannya dengan dia. Namun jelas tidak ada orang lain lagi. Buktinya sudah jelas. Meisa dan Galen menggali kuburan mereka sendiri dan melemparkan diri mereka ke polisi.
Polisi memborgol Galen yang pasrah. Dan polisi lainnya menarik dan membantu Meisa berdiri serta memborgol kedua tangannya yang berontak. "Natha *******! Kemari kau! Aku akan membunuhmu!"
Seolah tidak mendengar apa pun, Natha dengan nyaman bersandar di pelukan hangat suaminya. Kecupan yang terus menghujani kepalanya membuat Natha malu sama senang, keributan di sekitarnya seolah bukan urusannya.
Saat polisi berpamitan dan membawa mereka pergi, Abyan dan Natha di tinggalkan berdua di kantor. Posisi keduanya masih sama. Bahkan, ketika ada polisi tadi, Abyan tidak segan memeluk Natha dengan intim.
"Mereka sudah aku singkirkan, Sayang. Jangan khawatir lagi. Seharusnya hukuman untuk Galen sangat tidak sesuai dengan penderitaan yang kamu alami sebelumnya, namun kita tidak perlu terburu-buru. Di hari-hari yang akan datang, akan aku pastikan hidup Galen di penjara akan lebih sengsara dari pada rasa sakitmu," bisik Abyan lembut.
__ADS_1
Natha bersenandung pelan sebagai tanggapan. Ia memejamkan mata menikmati dekapannya.
Sunyi, nyaman, hangat, ketenangan yang paling langka untuk jiwanya. Natha akhirnya bisa mengurangi ingatan akan penderitaan itu.
Natha mengangkat kepalanya. Ia menatap mata lembut pria itu. Ia berjinjit dan mencium bibirnya. Abyan dengan senang hati menerimanya. Tangan besarnya memegang tengkuknya, sedangkan tangan lain menopang pinggang ramping istrinya hingga kaki Natha hampir tidak menginjak tanah. Keduanya menempel satu sama lain. Ciuman lembut, intens, dan rasa cinta yang saling meluap antara bibir dan bibir.
Semakin lama, semakin panas dan menuntut. Seakan-akan dahaga yang tiada habisnya, Abyan tidak membiarkan Natha pergi. Namun karena kebutuhan udara, Abyan dengan enggan melepaskannya. Keduanya terengah-engah dengan nafas saling menyemprot ke wajah satu sama lain. Benang perak belum terputus antara bibir keduanya.
Natha menatap matanya yang ganas, dan ia tersipu. Abyan menyeringai. Ia membungkuk dan menggendong Natha ke pelukannya.
"Ah!" Natha yang terkejut langsung melingkarkan kedua tangan di lehernya.
Natha panik saat Abyan menggendongnya ke arah kamar yang tersedia di kantor. "Ka-mu.. kamu mau ke mana?"
"Kamu tahu apa yang aku pikirkan, Sayang." Bisikan serak dan magnetis Abyan menyembur ke telinga sensitif Natha.
"Ah! Aku.. aku.." Natha gelagapan dengan wajah semerah kepiting rebus. "Ini di kantor!"
"Aku tahu." Abyan tersenyum miring. "Siapa yang menciumku duluan?"
Natha melototinya marah. Abyan menciumnya lagi karena tidak tahan melihat wajahnya yang lucu. Ia membuka dan menutup pintu kamar dengan kakinya.
"Dasar binatang buas!"
***
Saat keluarga Dirgantara dan Davidson menerima kabar buruk itu, mereka sangat marah. Apalagi keluarga Davidson, tidak menyangka Meisa akan kabur. Di tengah pencarian Meisa, mereka malah mendapat kabar buruk Meisa si masukkan ke dalam penjara.
Kakek David langsung jatuh sakit karena penyakit jantungnya. Mereka di landa kekacauan.
Meisa dan Galen tidak bisa di bebaskan begitu saja hanya karena sebuah jaminan. Di bawah perintah Abyan, hukuman mereka tetap dan sebesar adapun jaminan, kedua orang itu tidak bisa keluar bebas.
Akhirnya, setelah melalui pengadilan, dengan bukti yang begitu jelas, Galen dan Meisa benar-benar mendekam di penjara.
__ADS_1
***
Cek cerita baru aku! Jangan lupa tambahin ke fav ya, hehe..