Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 73


__ADS_3

"Kakak.. hiks. Aku mohon.."


Natha tidak terganggu dengan pandangan orang-orang sekitar, ia terlihat tenang dan acuh tak acuh.


Nhita semakin dramatis. Air mata menyedihkan semakin mengalir, keberadaannya yang duduk di kursi roda terlihat sakit-sakitan, rapuh dan lemah, "Aku sendirian, Kak. Tolong.. hanya kakak yang bisa aku mintai bantuan, aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Ayahku benar-benar pergi entah kemana, harapan terakhirku, ibuku di tangkap orang-orang itu.. tolong, Kak.. bebaskan ibuku.."


Semua orang yang menyaksikan benar-benar merasakan simpatik padanya, namun melihat keterdiaman dan wajah acuh tak acuh Natha, mereka semakin mengerutkan kening tidak suka.


Natha memutar bola matanya jengah. Lalu ia berkata datar, "Aku tidak bisa dengan sembarangan mengeluarkan ibumu. Aku juga tidak mempunyai hak untuk membebaskannya. Dengan sebuah pisau, ibumu mempunyai niat keji untuk menyakiti suamiku dan sudah lama mempunyai rencana jahat yang bahkan bisa membunuhnya, lalu dengan mudahnya kamu memintaku untuk membebaskan ibumu? Jangan membuat lelucon, jika aku tidak mencegah pisau itu, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Lagi pula, jika aku membebaskan ibumu dari penjara, tetap saja dia akan di bawa ke rumah sakit jiwa."


Wajah-wajah orang di sekitar langsung berubah. Mereka merasa canggung sendiri karena sempat memiliki prasangka buruk kepada Natha. Mendengar cerita keseluruhannya, mereka langsung mengerti.


Nhita sudah berhenti menangis bahkan saat Natha baru mengeluarkan beberapa kata. Namun setelah mendengar kalimat terakhirnya, Nhita terperangah dengan ekspresi tidak percaya, "... Ap-apa? R-umah sakit ji-wa?"


Nhita memang tidak tahu. Saat malam mendengar kabar ibunya masuk penjara, ia langsung pergi sendiri dan mengamuk untuk membebaskan ibunya. Namun ia putus asa saat semua orang di sana tidak ada yang mendengarkannya dan mengabaikannya, malah mereka mengusirnya keras. Nhita dengan nekat memotong pergelangan tangannya dengan pisau buah yang kebetulan berada ada sampingnya saat itu, beberapa orang polisi di sana langsung panik, bagaimanapun sangat merepotkan jika ada yang mati di tempat mereka, Nhita langsung di cegah oleh polisi terdekatnya dan ia langsung pingsan. Beberapa orang membawanya ke rumah sakit. Ia di rawat lama karena aksi bunuh dirinya hampir berhasil. Jika tidak ada orang yang membawanya ke rumah sakit, beberapa jam kemudian nyawanya akan melayang.


Seminggu di rawat, Nhita merasa depresi, stres dan frustrasi. Sisa uangnya habis karena bayaran rumah sakit, ia belum melihat ibunya kembali di penjara, lukanya belum sembuh. Nhita juga sama sekali tidak tahu bahwa ibunya gila, tentu sangat terkejut ketika mendengar langsung dari Natha.


Melihat reaksi terkejutnya, Natha yakin Nhita belum mengetahuinya. Jadi ia memberitahunya dengan ringan, "Ibumu gila."


Nhita menggeleng panik, otaknya kosong seketika, matanya di penuhi ketidakpercayaan, "Ti-dak! Tidak mungkin!"

__ADS_1


"Tidak mungkin! Ibuku tidak mungkin gila!!"


Matanya yang penuh keputusasaan berangsur-angsur menajam saat tertuju pada Natha, "Kamu pasti berbohong kepadaku! Kamu berbohong! Kamu hanya mengelabuiku!"


Natha menatapnya tenang.


Nhita semakin menggila, ia menunjuk Natha dengan telunjuknya dan meraung, "Tidak mungkin! Ibuku tidak gila! Lepaskan ibuku, jal*ng!"


Orang yang menangis sedih beberapa waktu lalu seakan-akan bukanlah Nhita. Sekarang wajahnya mengerikan dengan mata tajam serta melotot. Tentu saja perubahan itu membuat mereka yang masih memerhatikan merasa kaget dan geleng-geleng kepala.


Namun Natha masih santai, "Jika kamu tidak percaya, lihat saja langsung ke tempat ibumu berada. Kalau tidak salah, kegilaan ibumu semakin parah, jadi pihak kepolisian mengirim ibumu ke rumah sakit jiwa dua hari lalu. Kamu bisa pergi ke sana untuk menemani ibumu jika kamu merasa sendirian."


Wajah Nhita memerah karena marah. Kebencian membara di matanya seperti api berkobar. Saat pengawal dan Natha lengah dan tidak memperhatikannya, Nhita mengeluarkan sebuah pisau di lengan bajunya. Ia memang sama-sama gila dengan ibunya. Ia sudah merencanakan itu jika saja Natha menolak membebaskan ibunya, tapi ia masih bisa menahan diri. Ia membawa pisau itu karena tidak ada tempat untuk menyimpannya dan tidak membuangnya sembarangan.


Namun di luar dugaan, ibunya gila dan Natha membuatnya sangat marah. Ia tidak punya tujuan lagi dan hidupnya abu-abu. Mungkin dengan menyakiti Natha, kebenciannya akan tertahan? Entahlah.


Yang pasti, Nhita langsung mengangkat tangan untuk melemparkan pisau itu ke arah Natha yang berjarak dua meter darinya.


Pengawal Natha yang masing-masing mengelilingi keduanya di samping, berjarak lebih jauh. Gerakan Nhita terlalu mendadak dan gesit. Mereka tidak punya waktu untuk bereaksi dan mencegah.


Sedangkan, mata Natha membola saat matanya menangkap adegan Nhita yang siap melempar pisau berukuran sedang itu padanya. Saat Nhita mengayunkan tangannya, Natha langsung menutup mata bersiap akan rasa sakit yang akan datang.

__ADS_1


"MATI KAU, NATHA!"


Wussh


"Ah!"


Bersamaan dengan teriakan kebencian Nhita, suara pisau berayun terbang, dan jeritan Nitha. Natha tidak terlalu memerhatikan dan mendengar, tapi Natha langsung merasakan sakit karena tersayat di bagian pipinya. Di luar dugaannya, Natha kira pisau itu akan menusuk bagian wajah, dan bagian tubuh lainnya. Yang pasti lebih parah. Karena jarak mereka sangat dekat. Tapi hanya pipi?


Bruk!


Ketika mendengar suara itu, Natha langsung membuka mata dengan lebar. Ia terkejut mendapati Nhita yang sudah tersungkur jatuh dari kursi roda dengan wajah mencium tanah. Yang paling mengejutkan adalah Abyan yang berdiri di dekat Nhita yang masih di posisinya. Wajahnya terlihat menyeramkan, matanya seolah bisa membekukan siapapun yang di tatapnya, sangat dingin dan suram. Kemarahan di matanya tidak di sembunyikan saat menatap Nhita di bawah kakinya.


Selama mengenal Abyan, pria itu selalu lembut di hadapannya, tutur katanya halus, perlakuannya memanjakan, matanya selalu hangat, ia selalu di perlakukan hati-hati seolah merawat benda rapuh. Sekalipun, Natha tidak pernah melihatnya marah. Bagaimanapun, Abyan selalu menahan diri untuk tidak marah, ia juga tidak selalu membuatnya kesal, sehingga saat melihat Abyan yang berkobar marah saat ini sangat mengejutkan Natha.


Begitu Abyan mengangkat kepalanya menatap Natha, ada kelegaan di ekspresinya karena Natha baik-baik saja, namun itu tidak lama, karena wajahnya lebih marah daripada sebelumnya. Natha duga, Abyan melihat ke arah pipinya yang terasa perih. Wajah pria itu semakin gelap, dingin dan memerah sampai ke leher.


Dengan urat-urat biru menonjol di pelipis leher dan lengannya. Tanpa di sangka, Abyan membungkuk, menampar keras Nhita dan mengulurkan tangan menjambak rambutnya.


"JANGAN PERNAH SAKITI ISTRIKU, SIALAN!"


***

__ADS_1


__ADS_2