Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 111


__ADS_3

"Wah! Kembar?!"


Natha mengedikkan bahu. "Mungkin."


Tatapan Natha beralih pada Aksa. Penampilannya lebih dewasa dan tentu saja tampan. Berbeda jauh seperti saat di sekolah yang masih dalam tahapan pemberontakkan remaja. Sekarang, Aksa sudah menjadi penerus keluarganya.


Mungkin merasakan tatapan Natha, Aksa menoleh dan tersenyum malu saat tatapan keduanya bertabrakkan. Bagaimanapun, Natha masih Aksa kagumi walaupun dia sudah mempunyai tunangan.


"Ekhem." Dehaman dingin Abyan membuat Aksa dengan cepat mengalihkan pandangan.


Aksa tersenyum canggung kepada Abyan.


Sedangkan Natha terkekeh geli. Lalu pandangannya beralih pada kedua temannya yang asik merasakan gerakkan di perutnya.


"Bagaimana hubungan kalian?" tanya Natha kepada Olivia.


Olivia tersenyum malu. Ia melirik Aksa sekilas dan menunduk. "Sangat baik. Sejauh ini tidak ada masalah."


Ya, sekarang tunangan Aksa adalah Olivia. Sudah sangat lama semenjak sikap keluarga Fernando berubah kepada Olivia menjadi semakin baik. Sedangkan Aldis malah berada di posisi Olivia yang selalu di abaikan.


Lama-kelamaan, kasih sayang keluarga Fernando kepada Aldis memudar karena memang dia bukan putri mereka. Jadi mereka memulangkannya kepada orang tua asli dan memutuskan pertunangan Aldis dengan Aksa.


Aldis yang sudah sangat marah dan cemburu melakukan kesalahan fatal berniat mencelakai Olivia saat itu dengan membullynya parah. Namun Aksa menjadi penyelamat dan memperbaiki keadaan serta melaporkan perilaku Aldis kepada pihak berwajib karena pelecehan.


Dari sana, hubungan Olivia dan Aksa semakin dekat. Natha yang jarang ke sekolah sebelumnya, merasa agak terkejut dengan hubungan keduanya yang semakin dekat.


Namun Natha juga ikut senang dan menyarankan Aksa untuk mengajukan pertunangan dengan Olivia kepada keluarganya. Tanpa kendala apapun, mereka bertunangan sebelum ujian sekolah tiba.


Terakhir mereka bertemu saat perpisahan. Natha merasa ikut senang karena hubungan keduanya baik sampai saat ini. Mereka sekarang berkuliah di universitas paling besar di kota.


Natha mengangguk. Lalu atensinya beralih pada Theresa. "Bagaimana denganmu?"


Theresa mengangkat kepalanya, dan dengan bingung menatap Natha. "Ada apa denganku?"


Natha memutar bola matanya. "Kamu masih sendiri? Apakah tidak ada tunangan atau pacar?"


Theresa melotot. Tanpa sadar matanya melirik ke belakang yang terdapat keberadaan tiga pria itu. Pipi Theresa langsung bersemu malu.


Natha yang memerhatikan gerakannya memicingkan matanya. Saat matanya mengikuti tatapan Theresa, Natha langsung tersenyum menggoda. "Oh ... aku tahu."


Theresa menatap Natha panik. Semburat merah terlihat di kedua pipinya. "Apa yang kamu tahu?!"


Sedangkan Olivia menatap keduanya dengan tidak mengerti.

__ADS_1


Tanpa basa-basi, Natha melirik ketiga pria itu dan memanggil. "Briyan."


Ketiga pria itu menoleh bersaman. Briyan menjawab  "Ya?"


Ekspresi Theresa semakin cemas dan panik.


"Apakah kamu tidak punya pacar?"


Semua orang terkejut dengan pertanyaannya. Apalagi Briyan sendiri. Ia menggeleng malu. "Tidak."


Saat ini Theresa ingin menyembunyikan dirinya di sebuah lubang. Natha yang to the poin sangat Theresa tahu.


Natha langsung bertepuk tangan gembira. Lalu menatap Theresa dan Briyan bergantian dan berkata mutlak. "Kebetulan Theresa tidak mempunyai pasangan. Pokoknya, kalian harus bersama mulai hari ini!"


Semua orang terkejut kembali. Theresa melotot dengan wajah memerah. Begitupun Briyan, matanya terbelalak dengan telinga memerah.


"Ba-bagaimana mungkin kamu membuat keputusan secepat ini ...." Theresa memprotes malu.


Briyan melirik Theresa dan mengangguk atas ucapan Theresa.


Natha mengerucutkan bibirnya. Matanya langsung berkaca-kaca dengan lingkaran bawah mata memerah. Melihat itu, semua orang panik.


Abyan langsung mendekati Natha untuk memeluknya dan membujuknya. "Jangan menangis, Sayang. Mereka tidak hanya berpasangan, tapi akan bertunangan hari ini juga."


"Benarkah?" Natha mendongak menatap Abyan dengan hidung dan mata memerah.


Abyan tersenyum gemas dan menjuwil hidungnya seraya berkata lembut. "Iya, Sayang."


Lalu tatapan Abyan beralih pada adiknya dengan mengancam. "Benarkan, Briyan?"


Nyali Briyan langsung menciut melihat tatapannya. Ia memaksakan senyum dan mengangguk semangat. "Y-a, ya. Aku akan memberitahu mamah dan kakek untuk mengajukan perunangan kepada keluarga Theresa."


Walaupun senyum Briyan dipaksakan, namun nada suaranya serius. Theresa begitu malu sehingga bersembunyi di bahu Olivia. Hanya diri mereka sendiri yang tahu bahwa keduanya saling menyukai dalam diam sejak lama.


Wajah Natha langsung cerah kembali seakan yang menangis tadi bukan dia. Dengan mata berbinar, Natha menatap keduanya bergantian seraya berkata semangat. "Kalau begitu, kalian harus berciuman di depanku sekarang!"


"Apa?!" pekik Theresa dan Briyan bersamaan. Wajah mereka memerah langsung.


Sedangkan Aksa dan Abyan tercengang. Lalu Olivia terlihat ikut tersipu malu.


"Kalian harus berciuman, titik! Kalau tidak, akan aku nikahkan kalian besok!"


***

__ADS_1


Karena ngidam ibu hamil, akhirnya pertunangan Briyan dan Theresa berjalan baik. Tidak ada masalah apapun di keluarga mereka. Justru, keluarga masing-masing sangat senang karena putra/putri mereka tidak menyendiri lagi. Walaupun keluarga Theresa jauh di bawah Grissham, tapi masih kalangan atas.


Berciuman di depan ibu hamil itu adalah momen paling memalukan bagi keduanya. Namun diam-diam perasaan dalam diam keduanya semakin berkembang.


Mereka menjadi sering bermain di rumah Natha untuk menemaninya. Itu juga jika Abyan sedang tidak di rumah. Karena pria itu akan mengusir dengan wajah masam karena waktu dengan Natha terbagi.


Sebenarnya Abyan sangat tersiksa bila Natha mengidamkan sesuatu, krena hanya dia yang selalu di dekatnya. Abyan selalu menjadi korban. Untung sayang.


Seperti malam ini, Abyan di bangunkan oleh Natha yang memanggil-manggilnya.


"Sayang  .. bangun ...." Natha menggoyang-goyangkan lengan Abyan.


Abyan yang mengantuk berat terpaksa membuka mata. Dengan suara serak, ia bertanya. "Mau apa, Dear?"


Natha yang begitu segar dan tidak mengantuk sama sekali, tersenyum melihatnya bangun. Lalu ia mengusap perut besarnya dan mengeluh. "Aku lapar.."


Abyan langsung terduduk dengan wajah mengantuk. Ia mengusap matanya dan bertanya lembut. "Mau makan apa, hmm?"


"Aku ingin sesuatu yang pedas."


Abyan melihat jam di dinding dan langsung menolak. "Ini dini hari, Dear. Nanti perut kamu sakit.."


Natha bersikeras. "Aku mau yang pedas pokoknya!"


Abyan menghela nafas dalam-dalam. "Oke. Mau makanan apa?"


Natha berpikir sejenak. Setelah beberapa saat, ia berujar. "Apa saja! Kamu yang memasaknya! Aku menunggumu di sini."


Abyan mengangguk pasrah dan berjalan ke keluar kamar menuju dapur. Ia mencari bahan-bahan untuk masak.


Di rumahnya sebenarnya ada dua pembantu bersih-bersih dan memasak, tapi mereka hanya kerja sampai siang menjelang sore. Jadi makan malam Abyan sendiri yang masak. Tentu saja ia bisa, bahkan sebelum Natha belajar memasak.


Abyan mencuci muka terlebih dahulu untuk menghilangkan kantuknya. Setelah itu, ia terdiam karena agak bingung membuat makanan pedas apa. Karena Natha hanya menginginkan makanan 'pedas' Abyan hanya memasak nasi goreng pedas dan gurih.


Beberapa menit berlalu, Abyan selesai dengan membawa piring dan gelas di tangannya. Saat melewati ruang tamu, ia melihat jam yang sudah menunjukkan jam 2 dini hari.


Setelah memasuki kamar, langkahnya berhenti. Ia kira Natha menunggunya, namun Natha tertidur dengan dengkuran pelan.


Berjaga-jaga agar Natha tidak bangun kembali nanti, Abyan terpaksa membangunkannya. Setelah menyimpan gelas, Abyan menaiki ranjang dan menepuk pipinya lembut, "Sayang.. makanannya sudah jadi.."


Natha langsung membuka mata dengan mengantuk. Ia memperbaiki posisinya tidurnya dengan nyaman seraya berkata tanpa bersalah. "Em, aku sudah tidak nafsu lagi. Kamu sangat lama. Sebagai hukumannya, kamu harus menghabiskan semuanya sekarang."


Abyan terperangah menatap Natha yang tertidur kembali. Lalu ia menatap nasi goreng berwarna kemerahan di piring itu dan menelan ludah.

__ADS_1


Ia bergumam sedih. "Kenapa istriku sangat kejam? pasti gara-gara bayi di perutnya. Awas saja jika kamu keluar."


__ADS_2