
Natha dan Abyan pergi dengan perasaan lega. Mereka hanya berdua tanpa sopir, karena Abyan sendiri yang menjadi sopirnya.
Natha hanya memberikan intruksi jalan dan alamat. Abyan hanya mengikuti dan mengendarai tanpa bertanya lebih jauh, tetapi sebenarnya hatinya sangat penasaran.
Setelah 30 menit lamanya, mereka tiba di sebuah rumah yang sangat besar, hanya saja gerbangnya di tutup rapat.
Abyan akhirnya tahu, ini adalah rumah kakek Natha atau letak kediaman Lexandra asli.
Abyan menoleh dan melihat Natha yang terdiam melamun dengan mata menuju rumah itu. Melihat matanya yang mulai memerah dan berkaca-kaca, Abyan mendekat dan mengusap pipinya seraya berbisik lembut. "Sayang, apakah kamu baik-baik saja?"
Natha mengerjap dan langsung mengusap air matanya. Ia melirik Abyan dan tersenyum lembut. "Hmm. Aku baik-baik saja."
Semakin Natha menghapus air matanya, maka semakin banyak yang keluar.
"Apakah kamu butuh pelukanku?" bisik Abyan hangat.
Natha mengangguk beberapa kali dan mulai terisak.
Abyan menggeser lebih dekat dan memeluknya ke dadanya. Ia sangat merasakan perasaan istrinya saat ini. Ia tidak bisa mencegahnya untuk menangis, karena ia merasakan rasa sakit yang sama. Karena justru tangisanlah yang membuat lega.
Abyan mengusap punggung serta rambutnya dengan lembut. Bibirnya mengecup berkali-kali pucuk kepalanya. Bisikan lembut dan kalimat yang menenangkan terus keluar dari mulut Abyan.
Setelah isakan Natha mereda, Abyan akhirnya bertanya. "Apa yang membuatmu ingin ke sini, Sayang?"
Natha bersandar di dadanya dengan mata tertuju pada rumah itu, bertanya balik. "Apakah kamu mengingat alasan aku koma dari dokter?"
__ADS_1
Walaupun pertanyaanya agak melenceng, Abyan tetap mengangguk. "Dokter tidak bisa menjelaskannya. Mereka juga agak heran dengan sebabnya, padahal kelahiran bayi kita normal serta lancar dan tidak ada masalah apapun pada dirimu."
Natha terdiam lama membuat Abyan menunduk dan melihat matanya yang kosong. Abyan merasa cemas, ia mengusap pipinya. "Ada apa, Sayang? Apakah kamu mempunyai masalah?"
Natha menggeleng dan menggosok-gosok ingusnya di baju Abyan. Sedangkan pemilik baju yang menjadi sasaran ingus, hanya terkekeh melihat tingkah istrinya yang lucu.
Pandangan Natha kembali ke depan. "Apakah kamu tahu? Saat itu aku ingin sekali bangun untuk melihat bayiku, tetapi sesuatu menarikku ke dalam kegelapan seakan dia benar-benar tidak membiarkanku mengambil kesadaran. Ku kira aku akan mati saat itu juga."
Abyan langsung menegang. Natha tersenyum geli dan menepuk dadanya. "Santai saja, Sayang. Itu sudah berlalu ... jadi, aku hanya ingin menceritakannya. Itu tidak akan pernah terjadi lagi."
Abyan langsung rileks, ia berdeham dan berkata. "Teruskan."
"Aku bisa mendengar kedua bayiku menangis, tetapi suara lain tidak bisa aku dengar. Aku hanya bisa mendengar mereka. Aku ingin memeluk mereka, tapi aku tetap berada dalam kegelapan. Akhirnya, aku mengatakan kepada diriku sendiri untuk tetap tenang. Setelah sekian lama aku menunggu, akhirnya ada sebuah cahaya datang, semua kegelapan itu lenyap. Lalu setelahnya, ada beberapa orang datang kepadaku. Apakah kamu tahu mereka siapa?"
Abyan yang masih terkejut di hatinya langsung menggeleng tanpa sadar.
Abyan semakin terkejut. Tetapi, ia hanya diam dan mendengarkan.
Natha menangis. Tangisan itu karena rasa bahagia. "Mereka memelukku erat. Semuanya terasa nyata sampai-sampai aku berpikir untuk tetap di sana bersama mereka. Ibuku sangat cantik, begitu pula ayahku yang sangat gagah dan tampan, kakekku masih seperti penampilan tegasnya sebelum beliau meninggal. Aku sangat betah di sana. Kami mengobrol dan tertawa bahagia tanpa melibatkan masa lalu. Baru kali ini aku merasakan hal terbahagia dalam hidup, yaitu bertemu mereka. Saking bahagianya, aku melupakanmu, melupakan kedua bayiku yang baru lahir, serta semua keluarga Grissham. Karena mereka tahu bagaimana kehidupanku sebelumnya yang sangat menderita, mereka menawarkanku untuk tetap bersama setelah melihatku begitu bahagia bersama mereka."
Abyan benar-benar sudah tidak tenang saat ini. Hatinya begitu ketakutan sehingga seluruh tubuhnya gemetar, namun pikiran Natha yang menerawang tidak memerhatikannya.
Natha tegap melanjutkan. "Aku hampir terbujuk saat itu, karena aku tahu mereka mengatakan itu hanya untuk kebahagiaanku sendiri. Namun, saat itu aku mendengar kembali tangisan bayiku, pikiranku untuk tinggal di sana lenyap seketika. Akhirnya aku memilih sadar untuk menemui kalian, aku akan tetap menjalani hidup bersama kalian."
Abyan menghela nafas lega. Walaupun tetap berlalu, namun rasa takut terus menyerang. Ia memeluk Natha lebih erat.
__ADS_1
"Mereka hanya menampilkan senyum hangat atas keputusanku. Aku memberitahu tentang kedua bayiku kepada mereka, reaksi mereka sangat bahagia sampai-sampai mereka menyesal telah mengajakku tetap bersama mereka. Mereka juga mengusirku agar cepat pergi dan bertemu dengan kedua bayiku. Setelah sekian lamanya aku di sana, akhirnya aku memeluk mereka untuk terakhir kalinya dan berpamitan. Namun sebelumnya, mereka memberitahuku tentang sesuatu yang berada di rumah ini."
Abyan yang sudah sangat tenang ikut menatap rumah itu. Ia berkata hangat. "Apakah kita akan masuk sekarang?"
Natha mengangguk. Ia mencoba melepaskan pelukannya, namun Abyan menahannya.
"Sayang."
Natha langsung mendongak. Tiba-tiba bibirnya langsung di tutupi benda kenyal. Abyan membungkuk dan menciumnya dengan lembut. Natha hanya menerimanya dengan melingkarkan tangannya di leher pria itu.
Ciuman itu begitu lembut dan manis, bukanlah dengan nafsu, tetapi dengan perasaan.
Setelah keduanya kehabisan nafas, bibir mereka berpisah dengan nafas terengah-engah. Nafas hangat saling menyembur karena jarak yang dekat.
Abyan langsung memeluknya dan meletakkan dagunya di pundah Natha. Ia berbisik. "Terima kasih telah memilih kami, Sayang. Mimpiku saat itu tidak salah, ternyata kamu mempunyai niat meninggalkan kami, tetapi ku sangat bersyukur karena membuat kedua bayiku sering menangis saat kamu masih koma. Akhirnya kamu bisa mendengar dan mengubah keputusan. Aku berjanji akan sangat menyayangi mereka walaupun aku menjadi korban pukulan dan tendangan mereka lebih parah."
Natha yang terharu menjadi tertawa. Ia memukul bahunya pelan karena merusak suasana.
Abyan terkekeh, lalu mencium pipinya dan berkata. "Ayo kita ke dalam."
Natha melepaskan pelukannya dan mengangguk.
"Apakah ada penjaga di dalam?"
"Ya, ada seorang pria tua yang menjaga rumah ini. Dia adalah asisten kakekku sejak bertahun-tahun lamanya, dia juga memperkerjakan banyak orang agar rumah ini tetap bersih dan terjaga, karena kakekku memberi wasiat agar rumah ini tetap menjadi kediaman Lexandra tanpa di perjual-belikan."
__ADS_1
Abyan mengangguk mengerti. "Lalu, apa yang akan kamu ambil?"
Natha terdiam sejenak. Lalu berkata pelan. "Benda pusaka Lexandra. Mereka memintaku untuk menjaganya di tanganku."