
"Saat aku sudah kembali normal, aku tidak akan membiarkan mereka mengusikmu sedikit pun."
"Ya. Aku tahu." Natha tersenyum dalam pelukan Abyan. Ia berbisik, "Terima kasih."
Dekapannya membuat Natha nyaman dan hangat. Walaupun ia pergi ke pemakaman pada pagi hari, tapi Natha pulang pada sore harinya. Hujan terus menerus turun. Dan pada saat ini, hujan masih setia turun menimbulkan suara rintikan air di luar rumah dan atap.
Tubuh menggigil Natha menjadi tenang ketika Abyan semakin erat mendekapnya.
Saat rasa kantuk datang, Natha bebisik dengan lembut, "Selamat malam."
"Selamat malam, Dear." Abyan menjawab saat nafas Natha sudah teratur dan masuk ke alam mimpinya.
Abyan terdiam tidak berniat untuk tidur. Ia sedikit menjauh dan menunduk menyusuri lekuk wajahnya.
Tangannya terulur menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajahnya. Lalu jari telunjuknya turun mengusap lembut pipinya.
Bulu matanya yang lentik terlihat jelas ketika matanya terpejam. Lalu jarinya turun menjepit pelan hidung kecilnya.
Wajah Natha langsung mengerut. Abyan tersenyum geli. Lalu tangannya mencubit pelan pipinya.
"Uh.." Natha melenguh karena merasa terganggu.
Natha membuka mata dengan menyipit. Abyan langsung merasa bersalah, "Maaf, aku tidak berniat membangunkanmu."
Natha sedikit mengangkat kepalanya menatapnya. Alisnya menyatu, "Kenapa kamu belum tidur?"
"Ya. Sebentar lagi aku akan tidur." jawabnya. Lalu membelai rambutnya, "Tidur lagi."
Natha mengangguk. Namun ia hanya diam menatapnya. Rintikan hujan mengisi keheningan di ruangan itu.
Abyan menatap matanya yang mengantuk. Ia tersenyum lembut. Tiba-tiba berkata, "Terima kasih.."
Natha tidak terlalu mengerti maksud ucapan Abyan. Apalagi karena rasa kantuk. Natha menangkup pipinya dengan satu tangan, "Terima kasih? Aku tidak mengerti apa maksud dari ucapanmu."
Natha kembali memejamkan matanya. Tapi tangannya masih terulur yang awalnya di pipi, berpindah menutupi kedua mata Abyan. Ia berbisik lembut, "Cepat, tidur. Kamu harus banyak istirahat."
__ADS_1
Abyan membiarkan tangan kecil itu menutupi matanya sampai pemiliknya tertidur kembali.
Setelah memastikan nafasnya teratur kembali, Abyan mengambil tangannya dan ia pindahkan ke bibirnya. Lalu Abyan mencium telapak tangannya cukup lama.
"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Terima kasih, sudah menjadi obat untuk rasa sakitku. Terima kasih, sudah bersedia berada di sisiku. Dan terima kasih, sudah memilih untuk mencintaiku, Sayang.."
***
Berbeda dengan keadaan kedua insan yang tertidur tenang dan saling menghangatkan, di rumah sakit ketika kondisi Sonia sudah stabil dan sadar, ia langsung meledakan amarah kepada putrinya.
"Nhita! Bagaimana kamu bisa setega itu kepada ibumu, hah?! Apakah kamu tahu bagaimana lamanya aku menunggu, menggigil kedinginan dan basah kuyup?! Kamu keterlaluan Nhita!" raung Sonia marah.
Nhita sudah merasa cukup di marahi ayahnya, dan sekarang di tambah ibunya. Namun ia tidak melawan, karena ia juga merasa bersalah. Ia hanya menundukkan kepalanya, "Maafkan aku, Bu."
Sonia mendengus dingin. Ia hampir pingsan di pinggir jalan sebelum suaminya menjemputnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa jika saja suaminya tidak datang.
Mengingat Natha yang dengan kejam meninggalkannya, kemarahannya mencapai ubun-ubun. Sonia berteriak seperti orang gila, "Natha! Awas kau! Aku tidak akan pernah melepaskanmu lain kali!!"
***
Seperti saat ini, keduanya tengah duduk di taman yang tidak jauh dari kediaman Grissham.
"Apakah kamu lelah?" tanya Natha karena mereka berjalan cukup lama.
Abyan yang tengah menopang kruknya langsung menoleh dan tersenyum hangat, "Awalnya, iya. Tapi lelahku langsung hilang setelah menatapmu."
Natha di buat malu dengan hanya beberapa kata gombalan dari suaminya itu. Ia memukul pelan lengannya tanpa berbicara sepatah katapun.
"Aw!" ringis Abyan hiperbola. Ia memegang lengan yang di pukul dengan wajah kesakitan.
Wajah malu Natha menghilang di gantikan ekspresi panik dan khawatir. Natha menggeser duduknya lebih dekat seraya memegang tangannya, "Kenapa? Aku hanya memukulmu pelan. Apakah kamu mempunyai luka?!"
Abyan langsung tergelak melihat wajah paniknya, namun hatinya menghangat akan perhatiannya. Padahal ia hanya bercanda. Pukulannya sangat lembut, sama sekali tidak menimbulkan rasa sakit.
Namun, Natha menjadi bingung. Ketika tahu ia di kerjai, wajah Natha langsung terlihat jengkel, "Kamu?!"
__ADS_1
"Maaf. Aku hanya bercanda," ucapnya lembut. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap kepalanya, namun Natha menghindar.
Natha memalingkan muka merajuk dengan bibir cemberut, "Jangan membuatku panik.."
Abyan terkekeh geli melihat ekspresinya. Abyan melingkari bahu Natha dan mendekatkan gadis itu untuk bersandar padanya, "Ya, ya. Sekali lagi aku minta maaf, Dear."
Natha yang mudahnya di bujuk, langsung mengangguk dan bersandar dengan nyaman. Matanya menatap seluruh taman.
Dedaunan berterbangan dari pohon karena semilir angin. Lalu mendarat di atas rumput sehingga berserakan. Walaupun tidak sedikit orang yang berada di situ, suasana sangat damai dan tenang.
Suasana pagi hari itu sangat cerah namun matahari belum terlalu terik. Natha sudah hampir tahu seluk-beluk taman itu karena setiap pagi dan sore dia dan Abyan berkeliling di sana.
"Tentang perusahaan kakekmu, apakah kamu belum mempunyai langkah selanjutnya?" Abyan tiba-tiba bertanya memecahkan keheningan yang damai itu.
"Sebenarnya bagian saham di tanganku bisa mengubah Lexandra kapan saja. Tapi sekarang Andre sudah membuat Lexandra berada di titik rendah lagi. Tidak tepat untuk mengambil Lexandra saat ini." Natha menyahut tanpa mengubah posisi sandarannya. Matanya menatap jauh danau kecil di ujung taman, "Aku akan menunggu waktu yang tepat."
Abyan juga mengetahuinya. Awalnya Lexandra berada dalam keadaan profitabilitas absolut. Tetapi baru-baru ini, kegagalan investasi berulang Andre secara langsung mengubah haluan perusahaan itu.
"Sonia menggunakan dana Lexandra secara pribadi. Cepat atau lambat, semuanya akan terungkap. Jadi, sudah sepantasnya Lexandra berpindah tangan."
Ungkapan Abyan tidak membuat Natha kaget, "Ya, aku tahu. Biarkan saja dulu."
"Hari sudah siang dan matahari akan semakin terik. Ayo, pulang. Aku tidak mau kamu kepanasan," tutur Abyan lembut.
Natha mengangguk dengan senyuman. Keduanya beranjak. Setelah Abyan memposisikan kruknya, ia mengambil tangan Natha dan mulai berjalan berdampingan.
***
Ketika Andre mengetahui bahwa perusahaannya memiliki celah pendanaan, semuanya sudah terlambat. Uang yang di ambil istri dan putrinya tidak bisa di ambil kembali.
Andre sangat marah. Tidak peduli kedua perempuan itu memang keluarganya, tetap saja seharusnya mereka tidak seharusnya menggunakan uang perusahaan secara pribadi dan menyebabkan kekacauan besar. Bagaimana dia bisa mengakhiri ini?
"Apakah ini benar-benar serius?" Sonia bertanya dengan cemas.
Sonia tahu uang yang ia gelapkan tidak kecil, tapi ia yakin operasi Lexandra tidak kekurangan uang. Putrinya juga berkata, uang itu akan di peroleh kembali dan di gandakan.
__ADS_1