Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 108


__ADS_3

"Mimpi, ya?"


"Kamu tidak bermimpi.."


Ekspresi Abyan terkejut kembali. Ia menyentuh luka di lengannya dan menekannya membuatnya meringis. "Aw!"


Mata Natha melotot. Ia menjauhkan tangan dari lengannya dan berkata marah. "Kenapa kamu menekan lukanya?!"


Abyan malah tertawa. Bibirnya yang pucat melengkung dan berujar senang. "Aku benar-benar tidak bermimpi ternyata."


Ekspresi Abyan langsung sendu. Ia menatap Natha dengan mata berkaca-kaca seraya meraih tangannya. "Maafkan aku. Aku sangat menyesal telah menyakiti hatimu. Aku berjanji tidak akan pernah membuatmu menangis lagi, Sayang. Tolong ... maafkan aku."


Natha menghela nafas panjang. Abyan benar-benar terlihat begitu lemah dan memelas. Natha merasa tidak tega.


Natha naik ke brankar Abyan dan merebahkan diri di sampingnya untuk memeluknya. Abyan langsung balik memeluknya erat dan membenamkan wajahnya di lehernya.


"Aku memaafkanmu." Natha memeluk kepalanya dan mengusap rambutnya.


Abyan mendongak dengan mata merahnya yang bersinar. "Benarkah?"


"Hmm."


Abyan langsung memeluk Natha begitu erat. Namun isakannya masih terdengar.


"Aku tidak benar-benar akan menuruti perintahnya malam itu. Aku sangat jijik sehingga berpikir untuk mandi puluhan kali saat memeluknya. Aku memeluknya karena berniat akan mendorongnya ke bawah. Namun karena posisimu di belakang, niatku berubah dengan mengalihkan perhatiannya seakan-akan menciumnya. Padahal aku hanya menunduk untuk mencari pisau di saku dan berniat menusukkannya, hanya saja aku tidak menyangka kamu akan menyerangnya langsung. Aku sangat terkejut. Untung saja aku menahan pisau itu yang akan menusuk lehermu. Saat kamu lengah dan melepaskan jambakannya, dia akan menusukmu lagi, tapi untungnya lagi gerakanku refleks melindungimu," terang Abyan tiba-tiba. "Maafkan aku, Sayang. Aku melakukan itu agar kamu tidak terluka. Aku sangat takut jika itu terjadi."


Natha terkejut dengan penjelasannya Abyan yang begitu panjang. Dia benar-benar salah faham.


Natha langsung tersenyum dan mencium keningnya. "Tidak perlu meminta maaf lagi. Terima kasih. Terima kasih sudah melindungiku dan anakku."


"Hidupku milikmu, Sayang. Kamu tidak perlu berterima kasih." Abyan berbisik lembut.


Lalu pria itu tertawa rendah dan menyentuh perut Natha yang sudah sedikit membuncit seraya mengusapnya lembut. "Aku akan menjadi seorang ayah."


Natha tersenyum bahagia dan ikut menyentuh perutnya. "Ya. Aku pun akan menjadi ibu."

__ADS_1


"Maaf, Sayang. Aku pernah mengatakan itu bukan berarti aku akan menolak anugrah dari Tuhan. Aku sangat kecewa pada diriku sendiri karena mengatakan itu di saat kamu sudah memilikinya di perutmu."


"Tidak apa-apa. Jangan mengungkitnya lagi. Saat ini, kita harus fokus ke depan."


Abyan mengangkat kepalanya seraya mengecup bibirnya dan mendekap tubuh Natha erat. "Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu."


Natha bersandar nyaman di dadanya yang lebar. "Aku mencintaimu juga."


***


Kehamilan Natha menjadi kabar baik terbesar di keluarga Grissham dan Allarick sejak beberapa hari lalu. Yang paling antusias tentu saja Alice.


Setelah luka Abyan pulih, mereka pulang. Namun tidak ke apartemen, mereka berniat membeli rumah dengan tinggal di kediaman Grissham untuk sementara waktu.


Apartemen kemungkinan menjadi trauma untuk Natha, jadi Abyan mengambil keputusan cepat.


Di rumah Grissham, Natha selalu kewalahan dengan Alice yang selalu memberikan banyak jenis makanan sehat kepadanya. Ibu mertuanya itu terlalu memanjakannya, apalagi suaminya.


Suatu pagi yang cerah, Natha berniat berjalan-jalan dengan Abyan. Namun saat keluar kamar, mereka mendengar banyak suara ramai di ruang tamu.


Nenek Arbelin adalah orang pertama yang menyadari kedatangan keduanya. Ia langsung berdiri dan memegang tangan Natha seraya menariknya duduk. Abyan menganga karena istrinya di ambil begitu saja. Sampai-sampai tangannya masih menggantung beberapa detik di udara.


Dengan senyum cerah, Arbelin bertanya. "Apakah kamu ingin makan sesuatu? Katakan pada nenek! Nenek akan membuatkannya untukmu!"


Natha agak kewalahan dengan pertanyaannya yang semangat. Ia tersenyum lembut dan menjawab. "Tidak, Nenek. Aku sudah kenyang."


Arbelin mengusap rambutnya. "Baiklah. Jika kamu menginginkan sesuatu, katakan saja pada nenek, oke?"


Natha mengangguk malu. Ia mengedarkan pandangannya. Ternyata semua orang tengah menatapnya antusias. Alice, Briyan, ada juga Aston dan ibu-ayahnya. Selain itu, kakek Albert yang biasanya jarang keluar ada di sini.


"Heh, kau mau jadi paman ternyata," sindir Aston kepada Briyan di sampingnya.


Briyan mengangkat dagu arogan. "Tentu saja! Aku sangat menantikannya."


"Tapi kenapa kamu menunggu menjadi paman? Mengapa tidak anak saja?" Ucapan asal Aston mendapat pelototan keluarganya. Namun dengan tidak bersalah, Aston menatap Briyan seolah terkejut. "Ah! Aku lupa! Kau masih melajang sampai saat ini!"

__ADS_1


Briyan memelototinya dan melemparkan bantal sofa ke wajah Aston. Sedangkan semua orang tertawa.


"Apakah kau lupa? Kau sendiri pun tidak mempunyai pacar saat ini! Aku hanya mencari gadis yang tepat! Sedangkan kau? Wajahmu pasti di bawah standar mereka!"


Penghinaan Briyan membuat Aston balik kesal. Dia melemparkan kembali bantal kecil sebelumnya. "Aku terlihat tampan di mata siapapun, ya! Termasuk ibuku. Iya, kan, Bu?" Aston menoleh ke arah Auberta dengan tatapan isyarat.


Sedangkan Auberta memandangnya acuh tak acuh. Ia mengangkat bahu dan menatap suaminya. "Tidak. Ayahmu lebih tampan. Saat aku melihat wajahmu waktu lahir, aku meragukanmu. Apakah putraku yang sebenarnya telah tertukar? Bayi ini sangat jelek."


Uacapan Auberta membuat semua orang tertawa kembali.


Aston menatapnya terluka seakan-akan tersakiti. Ia mengahampiri ibunya dan berlutut di bawahnya dengan berkata merengek. "Ibu! Kau sangat jahat kepadaku! Aku anakmu, Bu! Lihatlah wajahku! Hidung kita mirip!"


Auberta menatap hidung putranya dengan tatapan mengamati. "Tidak. Hidungmu tidak lurus dan lebih rendah dariku."


Aston cemberut. Briyan tertawa terbahak-bahak. Sedangkan ketiga penatua hanya geleng-geleng kepala.


"Apakah kalian sudah memeriksa jenis kelaminnya?" tanya Arbelin kepada Natha dan Abyan.


Abyan menggeleng. "Belum, Nek. Nanti saja. Aku tidak keberatan dengan jenis kelaminnya. Yang terpenting, putra atau putriku serta ibunya selalu sehat."


Arbelin tersenyum hangat kepada cucunya. "Ya, itu benar."


"Sayang."


Panggilan Natha membuat Abyan menoleh. Namun kebetulan saat hening, jadi tidak hanya Abyan. Tapi semua orang.


Abyan mengusap rambutnya dan menjawab lembut. "Ada apa, hmm?"


Mata Natha menoleh bergantian pada Briyan dan Aston membuat mereka mengikuti tatapannya. Namun orang yang di tatap sangat bingung.


Lalu ia menatap Abyan dengan sedih dan bersandar manja. "Aku menginginkan sesuatu. Bolehkah?"


Mendengar itu, wajah mereka langsung cerah. Alice langsung mendekat. "Tentu saja boleh. Mau apa, Sayang? Apakah kamu ingin memakan sesuatu?"


Natha menggeleng membuat mereka bingung. Namun jarinya menunjuk Briyan dan Aston. Berkata dengan suara seperti anak kecil. "Aku ingin mereka mengenakkan rok berwarna merah muda sepaha."

__ADS_1


"APA?!"


__ADS_2