
"Sakit.."
Abyan merengek saat Natha mengobati bahunya. Bibir pria itu mengerucut dengan mata berkaca-kaca. Namun, tidak ada yang tahu bagaimana isi pikirannya yang licik.
Saat Natha melihat ekspresinya, tidak ada pikiran apapun, hanya rasa bersalah yang semakin menyelimuti hatinya.
"Maaf, maaf. seharusnya aku tidak melemparnya," tutur Natha lembut.
Gerakan tangannya saat mengobati bahu Abyan menjadi lebih hati-hati.
Ya, sepatu hak tinggi yang Natha lemparkan di ruangan sebelumnya benar-benar terlempar, sehingga mengenai bahu Abyan. Untung saja tidak mengenai wajah tampan suaminya itu.
Setelah melemparnya, Natha pergi keluar tanpa menoleh kembali. Ia sangat kesal tanpa tahu sepatunya melukai Abyan. Jadi, setelah Natha selesai mandi dan keluar dari toilet, ia kaget melihat Abyan yang seakan menunggunya dengan wajah menyedihkan. Lengannya memegang bahunya yang kesakitan. Ekspresinya seperti anak anjing yang di aniaya dan di tinggalkan.
Di situlah Natha menyadari kesalahannya. Ia langsung mengambil kotak P3K. Setelah Abyan mandi, Natha mengobatinya sambil meminta maaf berkali-kali dengan hati nurani bersalah.
Sepatu hak tinggi Natha tidaklah ringan, jadi, bahu Abyan sedikit tergores dan sedikit memar. Tanpa malu, Abyan membuka piyamanya dan menunjukan lukanya. Wajah malu Natha menjadi khawatir dan bersalah.
Setelah membalut lukanya, Natha membereskan dan merapikan kotak P3K. Ia menyimpannya di samping tempat tidur. Lalu, melihat Abyan dengan alis berkerut karena khawatir.
"Apakah masih sakit?" tanya Natha lembut sambil melihat bahunya.
Abyan yang awalnya akan menggeleng, langsung mengangguk ketika memikirkan sesuatu.
Natha semakin khawatir, "Maaf. Aku kesal denganmu saat tadi. Jadi, dengan refleks aku melemparnya."
"Sekarang, kamu masih kesal?"
Natha langsung menggeleng, "Tidak, tidak.."
Abyan mengangguk mengerti. Ia berbaring membelakanginya tanpa berbicara lagi. Natha merasa tidak enak saat melihat keterdiamannya. Apalagi posisi tidurnya. Tapi, ia ikut berbaring di sampingnya dengan hati tidak nyaman.
Kamar menjadi hening, sehingga nafas keduanya terdengar.
Natha hanya melihat punggungnya yang terbalut piyama berwarna biru tua. Abyan tidak berbicara apapun lagi kepadanya ataupun berbalik.
__ADS_1
Setelah beberapa menit, karena suasana hatinya yang belum lega, Natha membuka suara, "Kamu belum tidur?"
"Hmm." Sahutan Abyan terdengar setelah jeda beberapa detik.
"Kamu belum jawab pertanyaannya. Apakah kamu memaafkanku?" cicit Natha.
Hening.
Natha semakin gelisah. Ia menarik nafas dalam-dalam. Setelah mengumpulkan keberaniannya, ia menggeser posisi berbaring nya mendekati punggung Abyan. Lalu, melingkari dan memeluk pinggang Abyan dari belakang, "Maafkan aku, yah?"
Abyan menegang. Setelah rileks, mulut cemberut pria itu langsung menekuk dengan licik tanpa Natha ketahui. Ia membalikan badannya dan membalas pelukan Natha. Lalu, ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher dan menghirup aroma Natha dengan rakus. Tubuh Natha sangat kaku, tapi ia membiarkannya setelah mengingat kesalahannya. Natha hanya bisa menahan geli, merasakan nafas panas Abyan di lehernya.
"Iya, aku maafkan. Tapi ada syaratnya," bisik Abyan dengan suara pelan, namun sangat jelas di telinga Natha.
Natha megernyit, tapi tetap setuju, "Em. Apa syaratnya?"
Abyan memindahkan kepalanya sedikit mundur, sehingga berhadapan dengan wajah Natha. Jaraknya sangat tipis, keduanya bisa melihat lekuk wajah satu sama lain.
"Cium," ucapnya nakal.
Wajah Natha langsung memerah dengan mata terkejut. Ia langsung mengalihkan pandangan.
Tanpa sadar Natha menghela nafas lega. Lalu, mengangguk. Ia sedikit mendekat dengan jantung berdebar.
Cup
"Sudah!" ucap Natha ngegas dengan wajah blusing.
Abyan tersenyum menggoda, "Aku belum selesai berbicara. Kamu langsung cium-cium saja."
Natha melotot dengan firasat yang tidak menyenangkan.
"Di sini, di sini, dan.." tunjuknya pada kedua pipi. Kalimat terakhir mendarat di bibir, "... Di sini."
Natha semakin melotot. Di mata Abyan, ekspresinya menggemaskan ketika Melihat mata bulatnya. Tapi ia tutupi dengan memasang ekspresi teraniaya, "Bahuku masih sakit..."
__ADS_1
Natha langsung cemas, ia mengusap bahunya dengan lembut. Menghela nafas, "Ya sudah. Kamu tutup mata."
Abyan dengan patuh menutup mata seraya mengulum senyum. Ia bisa merasakan nafas lembut Natha yang berembus ke wajahnya. Setelah terdengar helaan nafas di hadapannya, Abyan merasakan benda lembab dan kenyal di pipi kanan, pipi kiri dan bibirnya.
Saat membuka mata, ia melihat istrinya dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, hanya terlihat rambut hitamnya yang berserakan di bantal. Abyan sudah membayangkan semerah apa wajah Natha sekarang.
Abyan tertawa pelan. Ia menarik Natha ke dalam pelukannya dengan gemas dan erat. Lalu, mencium pucuk kepalanya.
"Terima kasih, My Dear."
***
Malam yang romantis di dalam salah satu ruangan rumah Grissham, sangat berbeda dengan kediaman Lumian. Suasananya sangat tidak menyenangkan. Ekspresi ketiga anggota keluarga itu sama-sama jelek dan tidak mengenakan.
"Apa kamu bilang?! Abyan mengambil sahammu?! Bukankah dia bilang akan menunggu besok pagi jam 9?!" marah Andre dengan geram.
Sungguh Andre tidak percaya. Dengan jelas beberapa jam yang lalu, Abyan menyuruhnya untuk memberikan saham itu besok pagi. Walaupun begitu, ia tidak akan memberikannya. Tapi, sepertinya mereka mengetahui isi pikirannya. Putrinya malah di paksa memberikannya malam ini. Andre sangat marah.
"Bukan Abyan, Ayah! Tapi Natha! Dia memaksaku untuk menandatanganinya!" sanggah Nhita dengan air mata mengalir.
Nhita tidak berani mengingat kebencian Abyan kepadanya. Selain kesedihan, di matanya terpendam kebencian yang dalam kepada Natha.
"Natha?!" pekik Andre dan Sonia terperangah kaget.
Mereka langsung berfikir, mereka sendiri yang mendorong Natha ke dalam keluarga itu, namun, Natha sendiri yang menjadi pion Grissham untuk melawan keluarga mereka.
"Aku sangat tidak percaya dengan semua ini!" keluh Sonia dengan jengkel.
Tiba-tiba Sonia menatap Andre sambil mengingat sesuatu, "Tapi jangan lupa, warisan yang ayah dan kakakku tinggalkan bukan hanya saham dan warisan resmi itu.."
Andre menatap Sonia sambil berfikir keras, "... Apa maksudmu?"
Beberapa detik kemudian, matanya berbinar. Andre mengingat brankas yang ayahnya dan Sania--kakak istrinya, tinggalkan. Dengan karakter ayahnya yang sangat menyayangi cucunya--Natha, sangat tidak mungkin membiarkan Natha jatuh begitu saja. Seandainya Lexandra bangkrut, mereka pasti akan selalu membuat Natha bergelimang harta dan kekayaan. Yaitu dengan sebuah brankas yang Alan--ayahnya tinggalkan.
"Ya, tentu saja brankas yang orang tuamu tinggalkan untuk Natha. Kamu pasti ingatkan?"
__ADS_1
Andre diam. Ia memang pernah berfikir tentang brankas itu. Namun, ia tidak mempunyai kesempatan untuk mencari tahu dan hanya fokus pada perusahaan lexanadra. Tapi, sekarang berbeda. Dengan posisnya yang terancam, lalu dengan saham putrinya yang di ambil paksa, Andre bertekad untuk mengambil brankas itu! Sudut mulutnya melengkung. Suasana hatinya membaik. Diam-diam, Andre membayangkan isi dan menghitung berapa banyak isi warisan di dalam brankas itu.
"Brankas apa, Bu..?" Nhita yang belum pulih menatap kedua orang tuanya bingung. Setelah bereaksi, Nhita berteriak marah, "Brankas? Warisan? Kenapa?! Kakek hanya memberiku 15% saham! tapi kenapa Natha mendapatkan begitu banyak! Sangat tidak adil!"