
"Kenapa kalian begitu perhitungan? Apakah kalian juga menghitung berapa makanan dan minuman yang Natha makan selama bertahun-tahun? Anda mengangkat Natha sebagai putrimu, sangat wajar Natha mendapatkannya. Natha juga tidak akan memanggilmu 'Ibu' atau suamimu 'Ayah' jika dari awal dia tahu kalian bukan orang tuanya. Namun, sebagai orang tua, kenapa Anda mengungkit kembali? Semua perkataanmu sudah menjadi bukti bahwa Anda merawat Natha tanpa keikhlasan!" Alice berkata dingin dengan ekspresi marah.
Semenjak putranya mengalami kecelakaan, Alice tidak menyukai mereka. Bahkan membencinya. Selembut apapun hatinya, Alice tidak bisa mentoleri orang-orang di keluarga Lumian. Bahkan Natha yang tidak bersalah pun di jadikan perisai. Sekarang, mendengar apa yang Sonia dan Nitha bicarakan kepada menantunya, Alice tidak bisa menahan diri.
Pandangan Alice semakin dingin. "Bahkan, jika Anda telah membesarkan Natha selama hampir 18 tahun, Anda tidak dapat dengan sewenang-wenang mempengaruhi kehidupan Natha dan mendorong Natha ke keluarga kami, menjadi pelindung kalian. Sedangkan kalian? merasa bebas tanpa rasa bersalah apapun? Heh, saya tidak tahu, jika saja Tuan Lexandra masih ada, saya tidak tahu bagaimana nasib kalian semua!"
Ucapan tanpa ampun Alice membuat Sonia dan Nhita tidak bisa berkata-kata lagi. Keduanya terkejut, tertohok, malu, marah, dan kesal. Jika saja orang yang mengatakan ini bukan Alice, mereka pasti akan membalasnya! Namun, apalah daya, seorang nyonya Grissham tidak bisa di singgung sedikitpun.
Melihat mereka diam, Alice tersenyum sinis. Lalu pandangannya langsung melembut beralih menatap Natha. "Sayang, ayo kita pulang. Hari sudah sore. Suamimu pasti menunggumu. Dan ah, jangan lupa, bawa kotak itu. Sebagai menantuku, kamu harus merawat benda pusaka keluarga Grissham dengan baik, oke?"
Dengan sengaja Alice meninggikan suaranya seraya menatap kedua perempuan yang mematung itu dengan arogan.
Natha mengangguk. Natha tidak menyangka Alice akan mengatakan itu untuk membelanya. Hatinya menghangat. Semua yang Alice ucapkan benar-benar mewakili hatinya. Natha akan berusaha menerima Alice sebagai ibunya.
Lalu, keduanya beranjak melangkah pergi meninggalkan Sonia dan Nhita yang masih berdiri kaku. Apalagi, setelah mendengar benda 'Pusaka', 'Suami' apalagi 'Menantu', wajah Nhita semakin memerah karena marah dan iri. Sonia tidak jauh beda, amarahnya akan meledak kapan saja. Bukannya membaik, mood mereka semakin buruk saat pulang ke rumah.
***
Setelah berpamitan dengan Alice, Natha menaiki tangga menuju kamarnya. Semua belanjaannya sudah di bawa terlebih dahulu oleh beberapa orang pembantu.
Saat sampai di atas, Natha membuka pintu kamar dengan mood baik dan menutup pintunya kembali dengan santai. Namun saat berbalik badan, gerakannya berhenti, senyumnya menjadi kaku.
Natha melihat seorang pria yang duduk tegap di sofa kamar di samping tempat tidur. Pria itu menatap dirinya datar.
Posisi sofa yang Abyan duduki, jelas menghadap pintu. Sehingga, saat Natha sepenuhnya masuk, mereka langsung berhadapan dengan jarak sekitar beberapa langkah.
Natha tertegun. Apalagi melihat wajah Abyan yang datar dan matanya yang tidak bisa di mengerti.
"Pulang?" tanya Abyan dengan suara rendah. Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya.
Natha mengangguk kaku seraya menatapnya hati-hati.
__ADS_1
"Jam berapa sekarang?"
Natha menatapnya bingung, namun tetap memeriksa arlojinya. Setelah tahu jam berapa, Natha langsung mengingat janjinya dengan Abyan sebelum pergi, mata Natha langsung membola menatap Abyan dengan rasa bersalah.
"Jam berapa?" tanya Abyan lagi.
Natha menunduk malu. Ia menciutkan lehernya san mencicit pelan. "Ja-m lima sore."
Abyan menyipitkan matanya tanpa mengubah ekspresinya. Dengan suara dalam, ia bertanya lagi. "Jam berapa aku perintahkan pulang?"
Natha mengangkat kepalanya dan bertabrakan dengan sepasang mata tanpa emosi. Natha menghindari tatapannya dengan menundukkan kepalanya menatap lantai. Ia menjawab dengan patuh. "Jam tiga sore."
"Kamu tahu? Apa kesalahanmu?" Ada senyuman di bibir pria itu, namun Natha merinding di buatnya.
Natha mengangguk beberapa kali seperti anak kecil yang mengaku kesalahannya karena takut di hukum ibunya. Ekspresinya terlihat lucu.
Abyan tidak bertanya lagi. Keheningan membuat Natha mengangkat kepalanya melihat Abyan hanya diam menatapnya dengan bibir terkatup rapat. Hanya pria itu sendiri yang tahu apa yang di pikirkannya.
Namun, Abyan tetap diam. Natha semakin cemas. Natha mendekat satu langkah dan menatapnya dengan mata menyedihkan. Dengan lembut dan ekspresi memelas, ia membujuk. "Jangan marah, oke?"
Abyan tergerak. Ia terdiam sejenak menatap Natha dengan mata dalam. Dengan ekspresinya yang tidak berubah sedikit pun, Abyan berkata. "Kemarilah."
Natha dengan patuh melangkah pelan berjalan ke arah Abyan. Ia hanya berdiri di hadapan Abyan setelah sampai.
"Duduk."
Natha menatap lantai saat tatapan Abyan menuju ke bawah dengan memerintah. Lalu menatap Abyan dengan bingung dan polos. "Di lantai?"
Abyan berdecak. Lalu mengarahkan tatapan dan dagunya ke arah pangkuannya. "Di sini."
Natha membeku dengan wajah tersipu. Karena sudah terbiasa, Natha dengan patuh bergerak pelan duduk di pangkuan Abyan.
__ADS_1
"Sudah," cicit Natha seraya menatap Abyan dengan wajah memerah.
Sebuah senyuman terbit di sudut mulut pria itu. Tiba-tiba Abyan memeluk pinggangnya dan memegang bagian belakang kepala Natha dan mencium bibirnya. Mata Natha terbelalak kaget. Wajahnya semakin memerah.
Ciuman lembut itu membuat Natha tidak bisa menolaknya. Ia memegang bahu kokohnya dengan erat. Abyan sedikit menghisap bibir lembutnya. Lalu ia ******* bibir bawahnya selama beberapa detik. Lalu, tiba-tiba menggigit membuat Natha tersentak kesakitan.
"Ah! Sakit.." seru Natha dengan dongkol.
Abyan melepaskannya dengan senyum puas. Ia menatap keluhan di mata Natha dan hanya merasa lucu. Lalu, menatap bibirnya yang semakin memerah.
Abyan mendekatkan wajahnya membuat nafas hormonal pria itu mengembus ke wajah Natha dan tersipu. Ia menyentuh bibirnya dengan lembut seraya berkata dengan suara rendah dan serak. "Maaf. Itu hukuman untukmu karena pulang tidak sesuai dengan waktu yang sudah di tetapkan. Lain kali, jika kamu melakukan hal yang sama.." Abyan mendekat ke arah telinganya. "Aku akan menghukummu lebih dari ini."
Natha melotot dengan wajah memerah. Ia merasa sarafnya menegang saat nafas panas suaminya itu mengenai telinganya yang sensitif. Gadis itu akan beranjak, namun Abyan memeluk pinggangnya lebih erat sehingga Natha terduduk kembali.
"Aku masih marah. Jangan pergi," tutur Abyan cemberut.
Natha dengan patuh diam. Mendengarnya masih marah, Natha balas memeluknya dengan pipi di sandarkan di dadanya, mendengarkan detak jantung Abyan dengan tenang. Natha bisa merasakan tubuh pria itu menegang sebelum rileks kembali.
Tangan besar yang melingkari pinggangnya semakin memenjarakannya dalam pelukan hangat itu. Namun Natha tidak menolak. Tanpa menatapnya, Natha bertanya. "Apakah masih marah?"
Abyan memeluknya dengan mata tertutup. Ia meletakkan dagunya di atas kepala gadis itu. Tangan lainnya mengusap kepalanya lembut dan berkata hangat. "Dengan memelukmu, kemarahan dan kekesalanku langsung menghilang."
Natha tersipu malu. Gadis itu menyembunyikan wajahnya di dada lebar suaminya.
"Jangan lupa, Natha."
Natha mendongak menatapnya bingung dari bawah rahang tegas Abyan. "Jangan lupa apa?"
Abyan menunduk menatap Natha lekat. Lalu mencium pipinya lembut.
"Jangan lupa bayaranmu malam ini."
__ADS_1