Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 112


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Abyan bolak-balik ke toilet karena sakit perut. Nasi pedas semalam benar-benar ia habiskan, akibatnya Abyan tidak bisa tidur karena perutnya yang seakan di lilit erat.


Natha yang terganggu oleh suara buka-tutup pintu toilet terbangun. Ia duduk dan mengucek matanya yang mengantuk.


Saat melihat Abyan yang keluar toilet dengan wajah agak pucat dan lega, Natha bertanya heran. "Kamu kenapa?"


Abyan menoleh dan melihatnya bangun. Ia langsung mengeluh dengan tangan menyentuh perutnya. "Perutku sangat sakit karena memakan makanan pedas yang seharusnya untukmu tadi malam."


Natha mengerjap dua kali. Lalu ia menunduk dan mengusap perutnya yang besar. Ia berkata polos. "Perutku juga sangat lapar. Bayiku ingin memakan sesuatu.."


Abyan semakin tertekan dengan ketidakpekaan istrinya itu. Ia akan membuka suara, namun perutnya sakit kembali. Abyan langsung berbalik dan masuk ke toilet lagi.


Natha memandangnya sampai hilang di balik pintu. Ia mengedikkan bahu tak acuh dan turun dari ranjang dengan pelan.


Lalu ia berjalan keluar kamar untuk mencari makanan.


Abyan yang sudah selesai, keluar toilet dan tidak menemukan Natha. Ekspresinya langsung panik. Bukanlah alasan lain, tapi Abyan tidak pernah mengizinkannya keluar kecuali di dampingi dengan dirinya.


Abyan langsung berlari keluar kamar. Ia mencari ke ruang tamu, namun tidak ada. Teringat bahwa Natha lapar, Abyan langsung ke dapur.


Benar saja, istrinya itu tengah makan roti dengan lahap di meja makan. Abyan yang awalnya akan marah untuk menegur, tidak jadi saat melihat wajahnya yang polos dan imut. Apalagi dengan pipinya yang mengembung tengah mengunyah.


"Sayang, kalau kamu ingin kemana-mana, kamu harus bilang kepadaku, oke?" tutur lembut Abyan seraya berjalan mendekat.


Natha menoleh. Lalu ia menyodorkan segelas susu hangat kepadanya. "Minumlah, agar perutmu lebih nyaman."


Hati Abyan menghangat. Ia duduk di sampingnya dan dengan patuh meminum segelas susu hangat di meja itu.


"Makanlah." Natha menyodorkan roti dengan selai coklat kepadanya. "Bagaimana dengan perutmu."


Abyan langsung menyentuh perutnya dan mengeluh. "Perutku masih sakit.."


Natha langsung menyimpan roti di tangannya dan menyentuh serta mengusap lembut perutnya keras. "Apakah sudah nyaman?"


Abyan sempat menegang. Lalu ia mengangguk dengan ekspresi geli. "Tanganmu sudah menyembuhkanku."


"Kalau begitu, sekarang gantian. Kamu harus mengelus perutku dan memberi ciuman pagi kepada mereka! Mereka sudah menendang untuk menyapa tadi barusan. Sekarang giliran ayah." Natha langsung bersandar dan menunjukkan perutnya.


Abyan terkekeh. Lalu ia berjongkok menghadap perut Natha seraya mengelusnya di balik kain.


"Selamat pagi, Bayi nakal." Abyan langsung menciumnya dua kali. Namun untuk ketiga kalinya, bibir Abyan di tendang membuat Natha yang sedari memerhatikan langsung tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Abyan menyentuh bibirnya dengan wajah jengkel. Ia menunjuk perut Natha dengan tatapan mengancam. "Awas kamu."


"Hei, kenapa wajahmu sangat galak? Jangan mengancam mereka, mereka tidak akan mempan," kata Natha di iringi dengan tawa pelan.


Abyan langsung mengadu. "Tapi dia sangat nakal, Dear. Di antara mereka pasti ada yang tidak menyukai ayahnya, seenaknya menendang!"


Natha mengusap kepala Abyan seakan menenangkan anak kecil. "Tidak apa-apa. Nanti aku akan menegurnya. Mereka pasti akan sangat menyukaimu."


Tendangan keras kembali Natha rasakan seolah menolak ucapan Natha.


Natha memutar bola matanya. "Ya, ya terserah. Dan berhentilah menendang, perut ibu agak sakit."


Dengan patuh gerakan di dalam perutnya langsung diam. Abyan yang memerhatikan interaksi itu merasa cemburu. "Dear, jangan pedulikannya. Kamu harus memerhatikanku! Perutku masih sakit."


Ekspresi Natha langsung cemas. "Bagaimana jika ke dokter?"


Abyan langsung menggeleng. "Tidak mau. Aku hanya ingin bersamamu saja."


"Baiklah." Natha hanya bisa setuju. Lalu tiba-tiba Natha bertanya. "Kamu tidak pergi ke kantor?"


Abyan terlihat berpikir. "Tapi hari ini bukan jadwalku, Dear."


Bahu Natha terkulai. "Ah, iya."


"Jika kamu pergi ke kantor, aku ingin ikut."


Abyan terbelalak dan langsung menolak tegas. "Tidak. Aku tidak mengizinkanmu keluar satu langkah dari rumah pun. Apalagi ikut ke kantor."


Natha mengerucutkan bibirnya dan menunduk.


Abyan menghela nafas. Ia tahu ekspresi itu. "Apa yang kamu inginkan dari kantor? Dan kenapa harus ikut? Apakah kamu ingin melihat sesuatu?"


Natha langsung mengangguk semangat. "Hmm. Aku ingin melihat.."


"Melihat apa? Apakah suatu barang di kantorku? Kalo begitu, banti aku bawa barangnya ke sini."


"Bukan." Natha menggeleng. "Tapi aku ingin melihat sekretaris tampanmu! Nanti kamu harus membawanya ke sini!"


Ekspresi Abyan langsung gelap dan masam.


***

__ADS_1


Abyan merasa, lebih baik jika Natha mengidam apapun dengan ia di jadikan korban, walaupun ekstrem sekalipun, daripada harus mengandalkan sekretarisnya untuk menuntaskan ngidam Natha.


Abyan cemburu, sangat cemburu. Ia kesal, Natha selalu menanyakan Melvin untuk melakukan sesuatu. Padahal, Melvin sendiri agak kewalahan dengan perintah nyonyanya. Di tambah dengan wajah tuannya yang selalu berekspresi buruk saat menatapnya.


Bayangkan saja, Melvin yang biasanya selalu berjas formal dengan mengerjakan semua pekerjaan rumitnya di kantor, kini ia harus ke rumah tuannya berperan sebagai pembantu. Apalagi, nyonyanya selalu memanggilnya dalam hal sekecilpun.


Melvin hanya menuruti ibu hamil itu, di sisi lain Abyan tidak bisa apa-apa.


Abyan bertanya-tanya, siapa suaminya di sini? Kenapa dia selalu di abaikan? Namun, ia dengan enggan tidak melarang apapun, terkecuali Melvin.


Sampai kehamilan Natha mencapai sembilan bulan, dia jarang mengidam apapun lagi. Jika pun mengidam, tidak semerepotkan sebelumnya.


Tidak biasanya Natha agak cuek, saat ini Natha merasa ingin bermanja-manja dengan suaminya itu.


"Sayang," panggil Natha seraya merentangkan tangan isyarat memeluk.


Abyan yang awalnya berwajah suram langsung cerah. Ia berdiri dan menghampiri Natha yang duduk di kursi roda. "Iya, apa hm?"


Karena Natha merasa tidak kuat berjalan lebih dari 6 langkah, Abyan sudah membelikannya kursi roda sejak kehamilan Natha memasuki delapan bulan lebih. Perutnya yang begitu besar, membuat Abyan sangat takut dan khawatir.


Natha langsung memeluk pinggangnya dengan posisi Abyan yang berdiri. Ia menggeleng pelan.


Abyan melirik Melvin yang berdiri tidak jauh dan memberi isyarat untuk keluar.


Melvin yang mengerti langsung keluar rumah. Ia menghela nafas lega. Kenapa profesinya harus berganti menjadi pembantu? Untung saja, hanya mengurus kebun dan terkadang memasak jika Natha memerintah.


Bukan karena ia mengeluh, namun Melvin merasa tidak enak dengan tuannya yang pencemburu dan sangat posesif kepada istrinya itu.


Di sisi lain, Abyan hanya diam karena Natha tidak berbicara lagi. Hanya memeluknya. "Apakah kamu merasa tidak nyaman?"


Natha mengangguk jujur.


Ekspresi Abyan langsung cemas. Ia melepaskan tangan Natha dan berjongkok untuk mengusap perutnya. "Di mana?"


Natha menatap perutnya dengan ekspresi tertekan. Ia bergumam lirih. "Seper-tinya aku akan melahirkan.."


Abyan terkejut. Melihat ekspresi istrinya, ia menjadi serius.


Abyan langsung memanggil Melvin di luar, setelahnya ia menyuruh sekretarisnya itu untuk menyiapkan mobil ke rumah sakit.


Abyan mengabarkan keluarganya saat di perjalanan. Natha juga semakin merasakan rasa sakit di perutnya.

__ADS_1


Dengan rasa gugup yang kuat, Abyan terus-menerus menenangkannya.


__ADS_2