Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 52


__ADS_3

"Posisimu terlalu tinggi di hatiku. Jadi, kamu tidak pantas untuk berlutut di bawahku."


Natha berkedip kosong pada Abyan. Setelah bereaksi, Natha tersipu malu seraya mengalihkan pandangan.


Abyan tertawa pelan. Lalu ia membungkuk dan segera membantunya berdiri. Setelahnya, ia mengambil lap dan baskom kecil dari tangan Natha dan menyimpannya di sembarang tempat.


Tangan Natha menggantung dengan ekspresi masih bingung.


Tiba-tiba, pria menarik tangannya dan mendudukkan gadis itu ke pangkuannya dengan mudah. Tubuh kaku Natha di dekapnya erat ke pelukannya. Abyan meletakkan dagunya di atas kepala Natha, ia memejamkan matanya dan mengusap rambut Natha penuh kasih sayang.


Natha yang awalnya begitu kaku karena keterkejutannya, langsung rileks. Wajahnya tentu saja memerah, telinganya yang menempel di dadanya bisa mendengar jelas detak jantung Abyan yang begitu keras.


Natha dengan malu-malu membalas pelukan nyamannya.


"Sayang.. terima kasih." Bisikkan lembut pria itu mengalun di telinga Natha. Kecupan di kepalanya bisa Natha rasakan kasih sayangnya.


"Terima kasih telah membuatku bangun dari kegelapan, terima kasih telah peduli dan khawatir kepadaku, terima kasih telah memilihku. Aku mencintaimu, Natha.."


***


Kerja sama antara Lexandra dengan Allaric--perusahaan keluarga Alice, benar-benar gagal. Andre menginvestasikan sejumlah uang yang besar pada tahap awal. Karena kegagalan itu, dalam waktu singkat rantai modal Lexandra mengalami masalah dan perputarannya menghadapi krisis.


Tujuan pendekatan Andre untuk mengambil brankas Natha semakin menuntut. Dia tidak menanyakan atau merebut kembali saham Nhita yang telah di ambil. Tapi keluarga Lumian semakin gencar untuk memiliki brankas itu.


Suatu waktu, Andre dengan tidak tahu malu menelepon Natha dan bertanya kembali tentang brankas. Natha memberikan nomor teleponnya hanya sebagai formalitas keluarga sejak terakhir kali perdebatan antara Alice dan Sonia.


Natha tahu bagaimana keterpurukan Lexandra. Jadi ia tidak kaget lagi dengan Andre yang meminta dan mempertanyakan kembali brankas itu.


Karena terlalu berisik dan risih, Natha menyetujuinya dengan murah hati. Namun senyumannya penuh arti, "Ya."


Suara penuh ketidakpercayaan Andre datang, "Benarkah?! Kamu menyetujuinya?!"


"Ya. Paman datang ke bank sendiri. Aku akan datang nanti," ucap Natha santai seakan berbasa-basi.

__ADS_1


"Baiklah, baiklah! Paman akan datang ke bank hari ini! Tidak masalah kamu datang nanti! Terima kasih!" Andre menjawab dengan gembira dan antusias.


Akhirnya berhasil! Di ujung telepon Andre membatin dengan kegembiraan yang tidak di sembunyikan.


Natha mencibir. Ia menyimpan teleponnya.


Mendengar Natha akan mengambil brankas ke bank, Abyan menawarkan diri, "Mau aku antar?"


Antensi Natha beralih padanya. Ia mengangguk seraya tersenyum, "Oke."


Natha bersiap-siap. Sedangkan Abyan menunggunya tanpa persiapan apapun. Natha baru saja pulang sekolah beberapa menit yang lalu, sedangkan Abyan memang selalu bekerja di rumah. Sebanyak apapun pekerjaannya, dia tidak akan membiarkan Natha pergi sendiri.


Setelah Natha bersiap, mereka langsung pergi ke luar rumah di temani beberapa pengawal.


Saat Natha dan Abyan sampai, Sonia dan Andre sudah menunggu dengan senyuman bahagia yang menghiasi wajah keduanya.


Selama proses itu, Natha mengambil brankasnya dan menyerahkan benda itu dengan santai.


"Natha! Kami sangat berterima kasih padamu! Bibi tidak tau harus berkata apa. Kamu menyelamatkan Lexandra! Dan kamu sama sekali tidak mengecewakan Ayah dan Kakekmu. Sekali lagi terima kasih, Natha!" Teriakan kegembiraan Sonia menyerang Natha.


Natha memutar bola matanya jengah. Ia mengangguk malas. Tersenyum penuh kepura-puraan, "Kita adalah keluarga. Paman dan bibi tidak perlu berterima kasih kepadaku."


Natha ingin muntah mengatakan 'keluarga' di mulutnya sendiri.


"Baiklah. Kalau begitu, kami akan kembali. Perusahaan memiliki banyak hal untuk di tanda tangani."


Tentu saja Andre tidak akan membuka brankas itu di hadapan Natha. Jika Natha melihat sesuatu yang berharga ataupun uang dalam jumlah besar di dalamnya, benda itu pasti di ambil kembali.


"Oke. Silahkan pergi." Natha mengusirnya dengan terang-terangan.


Namun, Karena mereka terlalu senang, kedua orang itu mengangguk tergesa dan pergi dengan kecepatan kilat, takut akan di tahan oleh pengawal di belakang Natha.


Setelah mobil mereka menjauh, Abyan mendekat ke arah Natha dan bertanya penasaran, "Kamu akan membiarkan mereka pergi dengan mudah?"

__ADS_1


"Mereka tidak akan pergi terlalu jauh." Natha mencibir. Dengan sikap tidak sabar dan keserakahan mereka, brankas itu pasti akan di buka di dalam mobil. Natha yakin, mereka akan kembali datang kepadanya sebentar lagi.


Tidak ada keterkejutan di wajah Abyan. Dia seakan sudah menebak kata-kata Natha. Abyan mengangguk santai dan menatapnya dalam, "Kalau begitu, apakah kita menunggu atau kembali pulang?"


"Aku tidak ingin mereka membuat masalah di rumah. Jadi, kita menunggu saja."


Abyan tersenyum hangat seraya menjulurkan tangan untuk menggenggam tangan Natha erat, "Tidak masalah mereka membuat masalah di rumah kita. Aku bisa menyelesaikannya."


Natha menunduk menatapnya. Lalu mendengus, "Mereka sangat merepotkan. Ak--"


Natha tidak meneruskan ucapannya ketika mobil Andre berhenti di depannya.


"NATHA!" Raungan marah Andre datang ketika ia keluar mobil.


"Natha!" Lalu di susul Sonia.


Wajah mereka penuh kejengkelan. Mengingat brankas yang kosong, ia langsung menuntut Natha setelah berada di dekatnya, "Kenapa?! Kenapa brankas itu kosong?!"


Abyan tersenyum lebih dalam menatap istrinya. Walaupun ia menebak brankas itu tidak terlalu berharga karena di berikan dengan mudah, tapi ia tidak menyangka Natha sudah menarik gajinya langsung dari dasar pot, memberikan yang kotak kosong.


"Apa?! kosong?!" Natha menanggapinya dengan kaget, menatap mereka dengan tidak percaya. Namun mereka tidak tahu bagaimana isi pikirannya. Natha menutup mulut terperangah, "Tidak mungkin! Kakek tidak mungkin meninggalkanku brankas yang kosong!"


"Tentu saja kakek tidak mungkin memberikan peninggalannya kepadamu dengan brankas yang kosong! Itu sebabnya bibi ingin bertanya, di mana kamu menyimpan uangnya?!" tuntut Sonia tajam. Tanpa sadar matanya melayang ke arah Abyan.


Sebenarnya Sonia tidak percaya Natha mengambil isinya terlebih dahulu. Ia berfikir, kepribadian Natha terlalu tinggi dan dingin. Dia sudah mengendalikan Natha bertahun-tahun. Hampir tahu bagaimana tebakan isi hati dan pikirannya. Jika masalahnya bukan pada Natha, maka sangat jelas brankas itu di ganti oleh orang lain. Dan tentu saja Sonia mencurigai Abyan.


Hanya Abyan yang membenci keluarganya, hanya dia yang bisa mengubah brankas tanpa jejak, hanya dia yang dapat mengambil saham putrinya dengan mudah, hanya dia yang begitu tidak tahu malu. Setelah mengambil hal terberharga mereka--saham, sekarang Sonia menduga Abyan menyambar brankas itu.


Di bawah tatapan Sonia, Abyan diam tak bergerak seperti patung. Ia tentu tahu pikiran Sonia, tapi tidak ada ekspresi apapun di wajah pria itu.


"Aku benar-benar tidak tahu." Natha menggeleng menatap Sonia dengan bingung dan polos. "Jika brankas itu tidak memiliki apapun di dalamnya, lalu kemana uang itu pergi?"


"Bagaimana aku tahu!" Tanpa sadar Sonia membentak. Setelah sadar dia langsung melembut dan memegang tangan Natha," Natha katakan pada bibimu, apakah brankas itu sudah kamu berikan kepada orang lain dengan kata sandinya? Atau brankas itu sudah kamu ambil sendiri?"

__ADS_1


"Tidak. Hanya keluarga Lumian dan Lexandra yang tahu tentang brankas itu. Paman dan Nhita tahu, aku dan orang tuaku tahu. Adapun kata sandinya, aku belum pernah memberikan kepada siapapun. Dan kalian tahu, aku sudah memberikan kembali kata sandi itu kepada kalian." Natha menjawab dengan tenang.


Wajah kedua orang itu semakin suram dan jelek untuk di lihat, apalagi kata-kata dan ekspresi Natha terlihat bukan kebohongan. Tapi, jika memang Natha tidak berbohong, apa yang sudah terjadi? Mengapa brankasnya kosong? Apakah kakek Natha tidak meninggalkan apapun di brankas itu?


__ADS_2