
"Ayo, bu! Sekali lagi!" Intruksi dokter itu membuat Natha mengejan kuat.
Peluh mengucur di seluruh wajahnya. Natha mengejan sekuat tenaga. Sedangkan Abyan membantunya menggenggam tangannya.
Baru kali ini Abyan merasakan hal paling gugup dan takut dalam hidupnya. Punggungnya berkeringat dingin. Melihat Natha menangis dan berusaha melahirkan anaknya, Abyan berharap rasa sakitnya bisa di salurkan kepadanya.
Seharusnya ia menunggu di luar, tapi Abyan lebih memilih di dalam dan menyaksikan Natha seraya memberikannya kekuatan untuk melahirkan.
Abyan tertekan. Ia hanya berharap semua ini berakhir. Wajah Natha yang pucat menusuk hatinya. Saat perjuangan yang begitu lama, akhirnya tangisan keras seorang bayi terdengar nyaring di ruang bersalin.
Semua orang di luar yang menunggu begitu lega.
"Satu bayi lagi. Ayo, Bu!" ujar bidan itu mencoba untuk menyemangati Natha.
Abyan sama sekali tidak melirik bayinya. Tatapannya terus tertuju pada Natha. Matanya memerah.
Natha terengah-engah karena lelah dan rasa sakit. Mendengar intruksi bidan itu, ia mengejan kembali.
Kali ini tidak sesulit sebelumnya, bayi kedua langsung keluar.
"Selamat, bayi anda kembar dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Mereka sangat sehat dan lucu, " ucap bidan itu dengan bayi telanjang yang menangis keras di gendongannya. Yang satunya lagi di gendong asistennya.
Namun Abyan tidak melirik mereka sedikitpun. Ia melihat Natha yang menutup mata dengan hati menegang. "Is-triku."
Bidan itu tersenyum santai. "Mungkin istri Anda hanya kelelahan dan pingsan."
Abyan menghela nafas lega. Ia sudah menangis ketakutan. Ia mengusap keringat di kening dan pipinya. Lalu ia mencium keningnya lama. "Terima kasih, Sayang."
"Apakah Anda akan menggendong putra atau putri Anda?"
Atensi Abyan langsung beralih pada kedua bayi itu. Yang perempuan benar-benar sangat mirip dengan ibunya, walaupun keduanya kembar dan berwajah sama, tapi yang laki-laki pun lebih mirip dengan Abyan sendiri.
Abyan terdiam sejenak. Eskspresinya kosong dan rumit. Lalu tatapannya kembali pada Natha dan menggeleng. "Tidak. Aku tidak akan menggendong mereka sebelum ibunya bangun."
Bidan itu agak canggung dan mengangguk kaku.
Akhirnya yang menggendong bayi-bayi itu adalah Alice dan Auberta. Mereka mendengar Natha pingsan dan menggendong bayinya sesuka hati.
Alice agak tidak puas dengan putranya karena tidak mau menggendong cucunya itu, tapi ia tidak bisa menegurnya saat melihat wajahnya yang sedih.
***
Tiga hari berlalu, namun Natha tidak pernah bangun semenjak melahirkan. Akhirnya setelah di periksa kembali, dokter yang memeriksa menyatakan bahwa Natha koma.
Dokter berkata, tidak ada penyebab yang membuat Natha koma. Namun, keadaan dari Natha sendiri. Mereka hanya menduga, Natha kelelahan.
Sejak pernyataan itu, Abyan adalah orang yang paling ketakutan dan cemas. Sesuai perkataan sebelumnya, Abyan tidak pernah menggendong kedua anaknya itu sampai saat ini karena Natha belum bangun.
Kedua bayi itu terpaksa di beri susu formula karena ibunya belum bangun. Kedua bayi lucu itu selalu menangis, tapi mereka akan berhenti dan tidur nyenyak jika di tempatkan di sisi Natha.
Siang dan malam, Abyan tidak pernah meninggalkan Natha dan ia selalu di sampingnya. Menenangkan hatinya, Abyan selalu memegang tangan Natha di setiap waktu.
Abyan tidak memikirkan apapun baik perusahaannya, anaknya, bahkan dirinya sendiri. Hanya menunggu Natha bangun.
Wajah Abyan lebih pucat dari orang di tempat tidur. Rambut selalu berantakan dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Karena jika ia tidur, Abyan selalu bermimpi buruk bahwa Natha meninggalkannya. Jadi dengan sengaja Abyan tidak tidur.
"Abyan, kamu belum makan sejak pagi."
Entah sudah keberapa Alice mengatakan ini, namun putranya itu tetap diam seperti patung di samping Natha.
__ADS_1
"Tidak, Mah. Aku tidak lapar." Suara Abyan yang lemah dan serak membalasnya tanpa menoleh sedikitpun.
Alice mendekat dan menatap menantunya yang koma. Ia menghela nafas dalam-dalam. Lalu ia memeluk Abyan dengan mata berkaca-kaca. "Mamah mohon, kamu harus makan, oke? Natha hanya kelelahan dan dia pasti akan bangun. Apakah kamu ingin saat Natha bangun, keadaan kamu sekaranglah yang dia lihat? Natha tidak akan senang."
Abyan tidak membalas pelukannya. Tatapannya yang kosong tidak beralih sedikitpun dari wajah Natha.
Mendengar ucapan ibunya, Abyan tergerak. Ia berkata lirih. "Aku akan makan. Tapi aku akan tetap di sini."
Alice langsung tersenyum dan melepaskan pelukannya. Lalu ia mengambil makanan yang telah ia siapkan dan memberikannya kepada Abyan. "Apakah perlu mamah suapi?"
Abyan menggeleng dan mengambil makanan itu. Ia memakannya dengan lesu.
Alice menghela nafas kembali. Walaupun ada dua bayi di samping Natha, tapi Abyan sama sekali tidak meliriknya. Hanya Natha yang ia pandang.
Alice tahu bagaimana sikap putranya itu, jadi ia tidak menegur Abyan untuk bersikap bagaimana menjadi seorang ayah jika bayinya lahir.
Alice rasa, dengan kelahiran dua bayi itu sangat ia syukuri di bawah keposesifan Abyan kepada Natha. Bahkan, Abyan bisa saja melarang Natha mempunyai bayi hanya agar cinta dan perhatian Natha tidak terbagi. Sekalipun kepada anaknya sendiri.
***
Natha membuka matanya dengan rasa pusing yang berat, tenggorokannya begitu kering, ia mengerjap-ngerja mencoba menyesuaikan cahaya lampu di atasnya.
Pikirannya linglung. Merasakan sesuatu yang berat di kedua tangannya, Natha menunduk dan terkejut.
Matanya berkaca-kaca dengan senyuman bahagia yang langsung tercetak di bibirnya.
Itu adalah kedua bayinya.
Lalu tangannya di genggam oleh Abyan yang tengah tidur dekat dengan kaki bayinya itu. Posisi mereka sangat lucu, karena kaki bayi yang kanan berada di hidung ayahnya.
Berapa lama ia tertidur? Kenapa rasanya lama sekali?
Natha mengamati bayi yang berada di lengan kanannya. Ia menduga bahwa bayi ini laki-laki. Karena bibir dan matanya 80% mirip Abyan. Dia sangat tampan dan lucu. Natha terkekeh pelan.
Dia sangat imut dan cantik. Tidur mereka begitu lucu membuat Natha gemas. Natha menduga pakaian mereka sudah di atur mamahnya.
Dengan kasih sayang di matanya, Natha dengan pelan mengusap pipi bayi perempuannya dengan tangan yang tidak Abyan genggam.
Lalu tatapan Natha beralih pada Abyan. Posisi Abyan tidur pasti akan membuatnya sakit saat pria itu bangun. Natha melihat wajahnya yang pucat dengan sedikit janggut di dagunya, Rambutnya agak berantakkan dan matanya bengkak dan merah.
Natha merasakan, Abyan pasti tertekan saat ia tidak sadar.
Natha mengulurkan tangan dan mengusap rambutnya dan pipinya. Tiba-tiba tangan yang Abyan genggam mengerat. Natha melihat ekspresi Abyan yang ketakutan dengan mata tertutup. Kepalanya menggeleng-geleng. Air mata mengalir.
"Natha ...." gumamnya dengan suara ketakutan.
Natha mengernyit. Pasti Abyan bermimpi buruk. Natha mengusap air matanya dan dengan suara serak ia berbisik. "Aku di sini, Sayang.."
"Natha ...."
"Aku di sini."
"Natha ...." Genggaman Abyan begitu erat membuat tangan Natha kesemutan dan agak sakit.
Natha menepuk pipinya. "Aku di sini.."
"NATHA!" Abyan langsung terbangun berteriak dengan suara gemetar.
Natha terkejut, kedua bayinya juga terperanjat. Untung saja tidak bangun.
__ADS_1
"Hei, kamu hampir membangunkan kedua bayiku.."
Abyan langsung membuka mata lebar dan menatap Natha tidak percaya serta terkejut.
"Natha ...," panggilnya seakan memastikan.
Natha menghela nafas. "Ada apa denganmu? Apakah kamu bermimpi buruk?"
Abyan langsung menangis dan memeluk Natha. Ia terus memanggil. "Natha ... natha ...."
Natha menunduk memastikan bayinya tidak terjepit. Untung posisinya tengah duduk. Natha mengusap punggung dna rambutnya dan menenangkan. "Aku di sini, Sayang. Ada apa denganmu?"
Abyan menangis di lehernya dan terisak. "A-ku
... aku taku kamu meninggalkanku ...."
"Hei tenanglah. Bagaimana mungkin? Tentu saja tidak akan pernah. Aku tidak setega itu meninggalkan kedua bayiku dan suamiku yang cengeng ini."
Hati Abyan yang begitu tegang akhirnya mengendur.
"Lepaskan dulu, Sayang. Nanti bayiku terjepit."
Abyan dengan enggan melepaskannya dan duduk kembali.
Wajah, mata, hidung Abyan memerah karena menangis. Matanya tidak lepas dari Natha seolah takut menghilang kapan saja.
Natha melihat wajah tidur kedua bayinya yang tidak terganggu, lalu melihat Abyan berekspresi seperti itu. Natha berdecak pelan. "Mengapa ketiganya begitu imut?"
"Berapa lama aku tidak sadar?"
"Satu minggu" balas Abyan rendah.
Natha terkejut. Pantas saja, keadaan Abyan begitu kacau. Lalu ia meminta. "Tolong ambilkan aku air. Tenggorokanku sangat sakit.."
Abyan bergegas beranjak dan mengambil air tidak jauh lalu menyodorkannya kepada Natha.
Natha meminumnya sampai dahaganya menghilang.
Tatapannya kembali pada kedua bayi itu dengan senyuman di wajahnya. "Lihatlah, mereka sangat lucu."
Natha mengangkat kepala, namun Abyan tidak melihat bayi itu, tapi tidak lepas dari dirinya.
"Apakah kamu tidak menyukai mereka?"
Atensi Abyan langsung melihat bayi perempuannya dan mengeleng tanpa sepatah katapun.
Natha menghela nafas dalam-dalam. "Ada apa denganmu? Apakah kamu tidak senang mereka lahir?"
Abyan langsung menggeleng panik mendengar nadanya yang data. "Tidak! hanya saja hatiku masih takut akan mimpi itu."
"Mimpi apa?"
"Kamu meninggalkanku ...."
Natha menutup mata mencoba sabar. Ia membuka matanya lagi dan menatapnya tulus seraya menggenggam tangannya. "Tidak, Sayang. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Sekarang kamu sudah menjadi ayah, kasih sayangmu bukan hanya untukku, tapi juga kedua bayi kita. Jadi kamu harus menyayangi mereka selayaknya kamu menyayangiku, oke?"
Abyan termangu. Lalu ia mengangguk dengan serius.
Natha merentangkan tangannya. Abyan langsung berdiri dan memeluknya dengan senang hati.
__ADS_1
Natha mencium pipinya dan berbisik. "Terima kasih. Aku sangat mencintaimu."
"Aku lebih mencintaimu dari apapun."