Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 105


__ADS_3

"Hahaha.. kau tidak akan lepas dariku, Natha!"


Teriakan Nhita membuat Natha bergetar ketakutan. Ia mengunci pintu dan mengambil ponsel.


Bruk! Bruk!


Gedoran pintu membuat debaran jantung Natha semakin kencang. Seluruh tubuhnya berkeringat dingin. Ia mencoba menghidupkan ponselnya dan mencari nomor Abyan.


Ceklek


Pintu terbuka begitu saja menampilkan wanita yang lebih menyeramkan daripada hantu. Nhita tertawa melihat ekspresi kaget dan ngeri Natha. "Sepertinya kamu memang di takdirkan tidak beruntung malam ini, Natha. Kenapa kau mengunci pintu dengan tidak benar? Aku bisa masuk dengan mudah.."


Natha mundur. Namun Nhita yang sudah dekat langsung mendorong Natha hingga punggungnya terbentur sisi jendela. "Ah!"


Natha melindungi perutnya berharap baik-baik saja.


Natha terduduk lemas. Dengan sekuat tenaga, ia menendang kaki Nhita yang pincang hingga dia langsung terjatuh terbaring di lantai.


Mengambil kesempatan, Natha langsung menelepon Abyan. Namun Nhita langsung melempar pisau ke arahnya hingga mengenai lengannya. Natha mengerang kesakitan.


"Berani sekali kau!"


Plak


Nhita menamparnya keras hingga sudut bibir Natha berdarah. Setelah itu dia mengambil pisau yang jatuh dan menyeret Natha keluar kamar.


"Berdiri dan ikuti aku! Jika tidak, aku akan menyiksamu lebih kejam!"


Natha dengan pasrah mengikuti dengan air mata yang sudah mengalir deras. Ia takut bayinya tersakiti, jadi ia akan menuruti semua ucapan Nhita. Diam-diam ia mengambil ponsel dan memasukkannya ke dalam saku piyama.


Karena sudah malam, tidak ada orang di luar apartemen. Nhita membawa Natha ke lantai paling atas dengan lift.


Sampai di sana, Nhita membawa Natha ke sisi gedung sehingga bisa terjatuh kapan saja.


Di tengah Nhita yang lengah, Natha mengambil ponsel dan menelepon Abyan.


"Hall--"


"Ab-yan ... tolong ak-u ... Nhita ...."


"Di mana kamu sekarang?!"

__ADS_1


Natha mendengar suara Abyan yang panik. Ia akan membuka suara, namun matanya melebar kaget saat Nhita tengah sudah menatapnya dengan ekspresi marah dan bengis.


Nhita merebut ponsel itu dari tangan Natha dan meletakkan di telinganya. "Wahh.. wah.. wah.. berani sekali istrimu itu meneleponmu di saat nyawanya terancam. Sayang sekali, aku gagal membunuh istrimu secara diam-diam. Tapi.. itu tidak masalah, karena kamu sudah tahu, aku bisa membunuhnya di depan pria yang selalu aku cintai. Bagaimana menurutmu, Abyan?"


"Jangan sakiti istriku, Nhita!"


Nhita mendengar suara Abyan yang penuh dengan ancaman. Dia tertawa lepas. "Kami di rooftop apartemen. Cepatlah ke sini. Jika kamu terlambat, aku hanya takut istrimu sudah tergeletak tak bernyawa saat kamu tiba di lantai bawah apartemen, hahaha.."


Nhita tertawa jahat sampi tubuhnya bergetar. "Dan satu lagi, kau harus datang ke sini sendirian. Jika aku melihatmu datang dengan orang lain ...." Nhita berbisik lembut. "Aku khawatir nyawa istrimu sudah melayang."


Nhita langsung menutup teleponnya dengan senyuman bahagia.


Setelah matanya tertuju pada Natha, senyumnya langsung luntur. Nhita mencengkeram kedua pipi Natha dengan kasar. "Kita membuat kejutan saat suamimu pulang, bagaimana?"


Natha menyusut ketakutan.


Natha yang berani dan tangguh benar-benar tidak ada. Mungkin karena efek kehamilannya, rasa takutnya benar-benar besar. Apalagi rasa sakit di tubuhnya membuatnya gemetar.


Natha hanya berharap Abyan cepat datang dan menyelamatkan bayinya.


***


Bulir-bulir keringat membasahi kening dan wajahnya. Bajunya kusut dan begitu berantakan. Rambutnya yang selalu rapi menjadi acak-acakan menutupi dahinya.


Setelah sampai, Abyan melihat dua sosok sehingga langkahnya melambat. Ia terengah-engah dengan nafas berantakan.


Pupil matanya gemetar saat melihat Natha terluka. Walaupun di malam hari, lampu di sisi gedung bisa memperjelas penglihatannya. Rahang Abyan mengeras dengan tinju terkepal.


Abyan bisa melihat Natha yang kesakitan. Dia duduk dengan tangan terikat ke belakang, di pipinya mengalir darah, begitupun dengan lengannya dengan luka yang terlihat dalam, rambutnya berantakan. Saat matanya bertemu, ia melihat mata Natha awalnya redup langsung bersinar seakan melihat harapan. Dan bibirnya bergerak memanggil namanya. "Abyan.."


"Untung saja kau tidak terlambat. Tadinya aku akan langsung mendorongnya ke bawah jika saja kamu terlambat satu menit."


Suara Nhita menarik pandangan Abyan dan Natha.


Ekspresi Abyan langsung mendingin. Melihat Nhita yang memegang pisau bersiap menusuk kulit Natha, ekspresi dinginnya menegang.


Ia berjalan satu langkah dan memohon. "Tolong ... jangan sakiti Natha ...."


Gerakan Nhita langsung berhenti. Dengan tertarik pandangannya langsung beralih pada Abyan. Matanya menajam. "Seharusnya kamu tidak pernah bangun, Abyan. Di kehidupan ini, mengapa kamu bangun dan berdiri di belakang Natha?"


Abyan menatapnya terkejut. Lalu setelah bereaksi, ia tersenyum hangat saat menatap Natha. "Dialah yang membuatku bangun, bukankah seharusnya aku membalas budi padanya? Selain itu, aku sangat mencintainya. Bahkan dengan kehidupanku, aku merasa itu tidak cukup untuk membalas kebaikannya."

__ADS_1


Nhita menggertakkan gigi. "Kau tahu ternyata ...."


Lalu Nhita tersenyum kembali. "Kau tahu? Dulu kehidupan Natha begitu sengsara, begitupun kematiannya. Dia datang kepadamu hanya menjadikanmu sebagai pegangan untuk kehidupannya. Itu berarti, dia memanfaatkanmu. Bisa saja, dia berpura-pura mencintaimu."


Ekspresi Abyan malah semakin bersyukur. "Itu sebabnya, aku membuat kehidupannya lebih baik sekarang. Aku sangat bersyukur atas pilihannya telah datang kepadaku, karena aku tidak akan pernah bangun tanpanya. Bahkan jika Natha memanfaatkanku, itu membuatku bahagia. Jika dia tidak mencintaiku, aku tidak memaksakannya. Aku akan tetap di sampingnya. Bahkan aku akan melindunginya dengan nyawaku."


Ekspresi Nhita semakin jelek. Dia tidak menduga jawaban Abyan jauh dari harapannya. Nhita yang semakin kesal dan marah, memegang punggung Natha dan berkata. "Bagaimana jika aku mendorongnya?"


Wajah Abyan berubah. Dia langsung berlutut. Matanya yang memerah menatap Natha. Lalu beralih pada Nhita dengan ekspresi memohon. "Aku akan melakukan apapun. Tapi jangan menyakitinya sedikitpun ... aku mohon ...."


Mata Nhita langsung berbinar. Kekesalannya lenyap. Ia tersenyum lebar. "Kalau begitu, datanglah padaku. Lalu kamu harus memeluk dan menciumku di depan Natha. Jika kamu menurut, aku akan melepaskan Natha. Namun jika kamu macam-macam, aku akan langsung mendorong Natha."


Mata Natha melebar terkejut. Itu lebih menyakitkan dari siksaan fisiknya.


"Kau benar-benar akan melepaskan istriku?" Abyan bertanya dengan suara rendah.


Nhita mengangguk dengan bibir melengkung ke atas.


Natha melihat Abyan yang berdiri dan benar-benar datang mendekat kepada Nhita. Natha menggeleng keras dan berteriak serak. "Tidak!"


Namun seakan tidak mendengar, Abyan terus mendekat. Ekspresi Nhita semakin bahagia. Karena Natha berada di belakang Nhita, Abyan tidak bisa menggapainya sedikit pun.


Mata Natha terbelalak saat Abyan merentangkan tangan dan memeluk Nhita. Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya. Matanya terlihat kosong.


Wajah Natha langsung memerah karena marah. Dia dengan kasar mencoba melepaskan tali yang mengikat lengannya. Setelah beberapa detik berjuang, akhirnya bisa terlepas dengan mudah. Lengannya langsung terluka dan memerah.


"Sekarang, cium aku."


Suara Nhita membuat Natha semakin marah. Ketakutan benar-benar hilang entah kenapa. Ia juga seakan melupakan rasa sakitnya.


Nhita yang terlalu bahagia dan menikmati apa yang Abyan lakukan, sehingga dia tidak memerhatikan gerakan Natha.


Saat jarak mereka akan semakin sempit, tiba-tiba Nhita merasakan rambutnya di tarik ke belakang. Ia meringis perih dan terkejut melihat wajah marah Natha.


Plak


Plak


Plak


Natha menampar bergantian pipi kanan dan kiri Nhita. Lalu ia meningkatkan kekuatannya untuk menjambak rambut Nhita dan meraung. "Apakah kau ingin mengambil suamiku lagi?! Tidak akan pernah! Kau j*l*ng penggoda! Enyahlah!"

__ADS_1


__ADS_2