Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 48


__ADS_3

"Untuk kamu."


Natha menatap kotak merah di depannya tertegun. Ia menggeleng menolak tanpa berfikir.


Melihat tolakkannya, senyum Alice tidak luntur sama sekali, "Jangan menolak dulu, Natha. Kamu harus melihat isi dan mendengar penjelasan mamah terlebih dahulu." Alice mengangkat dan meletakan kotak itu di telapak tangan Natha.


Natha tidak menolak lagi. Ia menerima dan membukanya dengan ragu. Saat melihat isinya, Natha sedikit terkejutt dengan isinya.


Lalu menatap Alice, "Gelang?"


Isinya adalah sebuah gelang giok. Melihat gelang itu berkilau, Natha teringat kalungnya. Yang membuat Natha kaget adalah gelang itu bukan gelang biasa. Melihat bentuk dan warnanya, gelang di tangannya terlihat sangat berharga.


"Gelang itu merupakan pusaka keluarga Grissham. Sebelum nenek Abyan menyerahkan kepada mamah, dia memperingati dan memberi pesan untuk mencari menantu perempuan yang baik." Senyum Alice lebih tulus, "Dan kamu, Natha. Kamu bukan hanya baik, namun keberuntungan kami memilikimu di  keluarga Grissham. Dengan sikap Abyan kepadamu selama ini, namah melihat bahwa Abyan sangat mencintaimu. Mamah sudah tidak meragukanmu lagi. Benda itu sudah menjadi milikmu sekarang. Mamah hanya berharap, kamu dan Abyan selalu bahagia."


Natha merasa terharu. Rongga matanya memerah menatap Alice dengan tulus, "Terima kasih, Mah."


Senyum di sudut mulut Alice lebih lebar dan cerah, "Sama-sama. Sekarang kamu dan Abyan sudah menjadi keluarga. Layanilah suamimu dengan baik. Jangan menentang semua larangan dan perintahnya dalam sesuatu hal yang baik. Kamu harus selalu patuh. Penuhilah tanggung jawabmu sebagai istri. Termasuk dalam berhubungan suami-istri."


Wajah Natha langsung memerah mendengar kalimat terakhir.


Alice tersenyum menggoda melihat Natha tersipu, "Kenapa kamu harus malu? Itu merupakan hal yang wajar."


Alice mendekat berbisik di telinga Natha, "Dan jangan lupa, beri mamah cucu yang banyak."


Natha semakin memerah sampai ke leher. Ia menatap Alice dengan raut malu dan kesal, namun suaranya mencicit, "Aku masih sekolah, Mah."


Alice tersenyum acuh tak acuh, "Ya, mamah tahu. Soal cucu, hanya menunggu beberapa waktu untuk menyelesaikan sekolahmu. Namun, dalam berhubungan Abyan tidak akan kuat menahannya selama itu."

__ADS_1


Natha ingin sekali bersembunyi dan menutup telinganya takut mendengar kelanjutan ucapan memalukan mertuanya.


"Mamah! Jangan membicarakan ini! Sangat memalukan!" gerutu Natha terdengar merengek. Seluruh wajahnya seperti apel matang.


Alice terkikik geli melihat ekspresi Natha. Ia merasa terhibur. Kapan lagi menggoda Natha seperti sekarang? Apalagi, wajahnya yang memerah, sangat lucu. Alice juga sedikit lega, dengan Natha yang sudah tidak canggung lagi dengannya. Bahkan, nada suaranya barusan terdengar merengek. Membuat Alice nyaman dan merasa lebih dekat dengan menantunya.


"Natha?"


Suara di samping, membuat Alice dan Natha menoleh. Saat melihat siapa, kikikan Alice berhenti. Senyum malu Natha luntur di gantikan wajah datar dan dingin.


Mereka melihat Sonia dan Nhita dengan pakaian sama-sama glamor.


Keraguan Sonia langsung hilang saat melihat Natha berbalik menatapnya.


Sonia dan Nhita tengah berbelanja. Mereka membutuhkan refresing untuk menyesuaikan suasana hati mereka yang selalu buruk dengan membeli beberapa pakaian cantik. Sangat kebetulan, keduanya menemukan sosok Natha saat mereka lewat.


Di sisi lain, Natha tidak menyahut atau menyapa mereka. Dia diam menatap mereka dengan datar.


"Ah, ternyata kalian." Suara Alice membuat Sonia dan Nhita melihat ke arah wanita di depan Natha itu.


Sonia dan Nhita terlalu fokus dengan Natha, sehingga mereka sama sekali tidak menyadari keberadaan Alice. Tentu saja, raut mereka sangat terkejut.


Sonia dengan cepat bereaksi dan menyapa dengan sopan, "Nyonya Grissham. Kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini. Apakah Anda mengajak Natha berbelanja? Saya berterima kasih untuk Natha. Anda sangat baik."


"Anda juga sangat baik. Anda selalu membawa putri Anda yang sudah menikah untuk berbelanja kemanapun. Anda sangat perhatian. Perlakuan keluarga Anda kepada Natha sepertinya tidak sebaik itu. Tapi, tenang saja, saya sebagai keluarga baru Natha akan memperlakukannya dengan baik. Kami akan memberi apa yang Natha inginkan." Alice menjawab dengan penuh perhatian. Namun, kata-katanya mengandung arti lain.


Sonia tersedak, merasa sangat tertohok. Nhita lahir dari perutnya sendiri, tentu saja Sonia akan memperlakukannya dengan baik. Namun, kenapa kata-kata Alice sangat ironis dan arogan?

__ADS_1


Sedangkan kedua tangan Nhita terkepal, apalagi mendengar kalimat terakhir Alice. Nhita sangat iri!


Sonia memaksakan senyum. Rasa percaya dirinya berkurang. Ia menatap Alice lebih sopan, "Tidak begitu, Nyonya. Saya juga sangat mencintai Natha. Saya tidak pernah pilih kasih antara Natha dan Nhita. Kalau Anda tidak percaya, Anda bisa bertanya kepada Natha. Bahkan sejak kecil, Saya dan suami selalu di dasarkan pada Natha sendiri. Nhita juga suka mengalah pada Natha. Namun, sepertinya Natha tidak suka pulang ke rumah kami setelah menikah. Sudah sangat lama terakhir dia pulang. Natha tidak memberi tahu nomor ponselnya membuat kami sulit menghubungi Natha jika kami rindu.."


Alice mencibir. Dengan cepat memotong ucapannya, "Oh? Benarkah? Melihat senyum Anda begitu bahagia, mungkin Anda tidak benar-benar merindukan Natha. Dalam krisis seperti ini, Anda mengatakan bahwa keluarga Anda mengutamakan Natha dalam hal apapun, namun kenapa Anda mengirimkan Natha kepada kami untuk melindungi Nhita?"


Senyum di wajah Alice penuh dengan cemooh dan ironis. Wajah Sonia pucat. Dia tidak bisa menahan senyumnya lagi.


Di belakang Sonia, Nhita hanya berdiri kaku. Dia tidak berbicara untuk meredakan suasana. Tapi, tatapannya menuju kotak merah di atas meja yang di tempati Natha dan Alice. Dengan ibu Abyan di hadapannya, dengan sopan Nhita langsung berseru, "Ah, apakah benda itu relix peninggalan ibumu, Natha? Apa isinya? Maukah kamu membukanya untuk kami?"


Natha mencibir. Matanya semakin dingin. Mungkin Nitha pikir, ini adalah kotak yang di tinggalkan orang tuanya? Heh, tidak tahu malu. Di depan Alice pun Nhita masih memikirkan harta. Natha tersenyum sinis.


Tanpa menahan citra baiknya di depan Alice, Natha menatap Nhita dengan senyuman yang tidak sampai ke matanya, "Kamu menginginkan kotak peninggalan orang tuaku?"


Mata Nhita berbinar. Lalu mengangguk semangat.


"Kalau begitu, tunggu sampai orang tuamu mati."


Senyum di wajah Nhita langsung luntur. Matanya meredup. Ia menggertakkan gigi menatap Natha penuh kebencian.


Alice sedikit kaget dengan perkataan Natha, namun ia tidak bereaksi apapun. Alice malah menopang dagu menonton pertunjukan di hadapannya dengan senyuman tertarik.


Wajah Sonia langsung pucat. Ia menatap Natha tidak percaya dan meraung, "Natha! Kenapa kamu begitu tega berbicara seperti itu! Walaupun aku bukan ibumu, tapi akulah yang membesarkanmu selama bertahun-tahun! Apakah ini balasanmu asuhanku terhadapmu?!"


"Ya! Ibu benar, Natha! Kenapa sikapmu seperti ini terhadap ibuku? Apakah kamu mengutuknya?! Bahkan jika aku salah, cukup tegur saja! Aku boleh saja kamu lawan, namun, jangan membawa ibuku. Dia sudah tua. Kenapa kamu memperlakukan ibuku dengan buruk? Semua pengorbananya merawatmu sedari kecil, apakah ini balasannya?" Nhita mengipasi api. Matanya berkaca-kaca menatap Natha dengan marah dan kesedihan.


Senyum di wajah Alice menghilang. Wanita yang selalu lembut itu menatap kedua orang di depannya dengan pandangan dingin membuat yang di pandang langsung bergidik.

__ADS_1


__ADS_2