Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 117


__ADS_3

17+


***


"Jangan menolakku, Sayang." Suara serak dan magnetis itu membuat Natha lemas seketika. Apalagi ciumannya uang kuat


Abyan menopang pinggangnya dan memeluknya erat. Natha melingkarkan tangannya untuk menanggapinya.


Abyan memiringkan kepalanya dan menangkup tengkuknya untuk menciumnya lebih dalam. Natha terengah-engah dan mencoba menerimanya ciuman sengitnya.


Lidah keduanya saling beradu dan melilit satu sama lain. Suara air liur dan bibir saling adu terdengar jelas di keheningan.


Natha melingkarkan kakinya di pinggang pria itu membuat Abyan tersenyum di sela ciuman intensitas keduanya. Pria itu langsung menopang pinggulnya dan pinggangnya.


Abyan melangkah maju dan menjepit Natha di tembok membuat punggung Natha agak dingin dan meringis dengan erangan. "Sshh."


Ciuman Abyan semakin menuntut. Tangan pria itu tidak diam dan mulai memasuki baju Natha dan mengusap punggung Natha merayap ke depan dan memegang benda lembut di balik pakaian.


"Ah," erang Natha merasakan kesemutan, mati rasa, dan rasa nikmat.


Natha menghirup udara rakus saat Abyan melepas ciumannya. Namun nafasnya semakin berantakan saat ciuman pria itu turun ke leher dan dadanya yang sudah setengah terbuka.


Natha bisa mendengar Nafas Abyan semakin berat. Nafas dan lidah panasnya menyapu kulitnya membuat Natha memeluk kepalanya serta menjambak rambutnya lembut.


Keduanya terjalin begitu erat dengan punggung Natha yang menempel di tembok. Namun kegiatan panas keduanya langsung berhenti saat menangis tangisan bayi yang nyaring diikuti tangisan lainnya.


Natha langsung menurunkan kakinya dan merapikan bajunya. Nafsunya langsung memudar walaupun wajahnya begitu merah. Nafasnya masih terengah-engah.


Natha menatap Abyan yang tengah menutup mata dengan nafas yang berantakan. Natha tahu ia tengah menahannya.


Natha menepuk pipinya lembut, "Maaf, Sayang. Sepertinya mereka lapar. Sebelum mereka tidur aku belum menyusuinya."


Natha langsung melangkah tanpa menunggu tanggapan Abyan.


Abyan menunduk dan melihat sesuatu yang berdiri tegak di balik celananya. Ia menggeram pelan. "S*al."


Abyan berbalik dan melihat kedua anaknya itu tenang kembali karena Natha menyusui mereka dengan punggung menghadapnya.


Alexa terlihat di tidurkan kembali, namun Alex masih di pelukan ibunya.


Abyan menatapnya iri. Ia mendekat dan memanggil dengan rengekan. "Sayang.."

__ADS_1


Natha menoleh dengan wajah memerah. "Ka-mu ... kembali ke kamarmu."


Abyan terkekeh. Ia ikut duduk di belakang punggung Natha dan meletakkan dagunya di bahunya seraya berbisik. "Kenapa harus malu? Aku orang pertama yang kamu susui di banding mereka."


Natha semakin malu. Apalagi satu dadanya terekspos saat ini. Ia berbicara pelan dengan mengancam, "Jangan mengganggu! Pergi ke kamarmu dan segara membersihkan diri!"


Bahu Abyan terkulai seolah harapannya pupus. Ia mengendus leher Natha dan berkata rendah. "Kamu sangat tega kepadaku. Kamu menjadi acuh tak acuh setelah membuatnya berdiri tegak."


Natha melototinya, tapi ia tidak bisa menoleh karena takut gerakannya mengusik Alex. Apalagi Abyan berada di belakangnya, jadi Natha mengedikkan bahunya untuk menyingkirkannya. Abyan malah semakin menempel di punggung Natha.


Alex melenguh dan merengek di tengah menyusu.


Natha langsung berkata galak. "Cepat pergi! Kamu mengganggunya!"


Abyan berdecak dan menatap Alex kesal. "Huh, dasar perebut perhatian. Awas kamu."


"Sayaaaang ...." Natha memanggilnya dengan ramah namun nadanya mengancam.


Abyan bergidik. Ia mencium pipi Natha dahulu. "Selamat malam, Sayang.."


Abyan berpindah pada putrinya yang sudah tidur nyenyak kembali. Abyan mencium kening dan pipinya. "Selamat malam, Putri kecil ayah."


Abyan cemberut. Namun kilatan licik melintas di matanya. "Kenapa, Sayang? Aku hanya ingin mencium pipinya."


Natha mencibir, "Tidak biasanya kamu menciumnya, kalian selalu ribut setiap bertemu. Aku tidak percaya."


Terdengar suara tawa lucu membuat atensi keduanya tertarik. Mereka menunduk dan melihat Alex tertawa dengan mata menatap ayahnya. Namun mulutnya masih asik menyedot ASI.


Abyan menatapnya jengkel. "Kamu mengejekku, ya?!"


"Ayah, ini anakmu. Kenapa kamu sangat galak?" Natha berkata geli.


Mata besar Alex menatap ayahnya polos seraya terkikik. Lalu tatapannya beralih pada ibunya.


Natha merasa hatinya selembut aromanis saat Alex menatapnya. Ia berkata hangat. "Kenapa, Sayang?"


Alex malah tertawa dengan mulut terbuka menampilkan gusi yang belum menumbuhkan gigi. Natha memeluknya gemas. "Lucunya putra ibu."


Abyan mengembungkan pipinya menatap keduanya dengan cemburu. Ia berdiri dan berbalik berniat pergi, namun hatinya berharap Natha menahannya.


Sudah lima langkah, tapi tidak sesuai harapannya. Abyan menoleh. Wajahnya semakin masam melihat ibu dan putra itu terkikik bahagia tanpa memerhatikannya.

__ADS_1


"Sayang ... aku pergi dulu."


"Ya sudah. Selamat malam." Natha menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari Alex.


"Sayang ... Aku pergi," ucap Abyan lagi.


"Say--"


"Pergilah! Kenapa harus meminta izin?!" sahut Natha kesal. Saat matanya kembali pada Alezx yang cekikikan, kekesalan hilang.


Abyan mengerucutkan bibirnya. Ia melanjutkan langkahnya dengan kaki di hentakkan.


"Jika saat ini aku tidak butuh mandi dengan air dingin, aku tidak akan kalah darinya."


***


Langit yang mendung menambah kesuraman suasana di bawahnya. Kematian seseorang yang paling penting, membuat semua orang begitu sedih atas kepergiannya.


"Terima kasih."


Itulah kalimat dan ucapan terakhir yang Natha dengar dari mulut kakeknya--Albert sebelum kematiannya.


Karena yang paling Albert syukuri adalah kedatangan Natha yang membuat Abyan bangun. Ia juga bersyukur karena Natha telah melahirkan dua bayi yang sangat lucu untuk keluarga Grissham.


Awalnya Albert berpikir bahwa sampai ia menutup mata dan meninggalkan dunia, ia tidak akan pernah melihat cicitnya, tapi Natha menjadi vitalitas ke keluarga Grissham. Albert sangat menghargai Natha bersama cucunya--Abyan.


Natha dan Abyan berdiri depan batu nisan Albert dengan masing-masing bayi di pelukan mereka.


Semua orang sudah pergi, sedangkan keduanya masih setia berdiri diam. Seakan mengerti suasana kedua orang tuanya, kedua bayi yang tengah di gendong itu sama-sama diam dengan wajah mendongak menatap wajah orang tuanya dengan mimik polos.


Natha langsung menatap Alex saat anak itu menatap wajahnya dengan ekspresi sedih. Ia berusaha tersenyum dan mencium pipinya.


Natha memeluknya dan menutup mata saat mulai merasakan matanya panas dan berkaca-kaca. Ia merasakan tangan kecil putranya itu melingkari lehernya untuk balas memeluk dirinya.


Natha sendiri ingin sekali mengucapkan rasa terima kasihnya kepada kakek Albert. Jika bukan karena kepercayaan Albert saat itu, ia belum tentu bisa tinggal di kediaman Grissham, ia tidak akan bisa mengenal Abyan, ia juga tidak akan mendapatkan kesempatan.


Albertlah yang memberinya kesempatan untuk memulai kehidupan baru, ialah yang seharusnya berterima kasih kepadanya.


Natha membuka mata saat badannya di tarik ke pelukan hangat dengan posisi menyamping. Sebelum ia mendongak, kecupan hangat di keningnya ia rasakan.


"Ayo, kita pulang, Sayang.."

__ADS_1


__ADS_2