Suamiku Boneka Ibunya

Suamiku Boneka Ibunya
Pertikaian Bima & Kiara


__ADS_3

Bima tetap berkeras hati akan melawan Bu Darti. Hal ini membuat Kiara semakin kesal di buatnya. Ia terus saja menghalangi Bima untuk bisa mendekati Bu Darti. Dan Ayah Darwo juga menghalangi Bu Darti yang kekeh akan melayani kemarahan Bima.


Bima yang sudah tak bisa lagi menyembunyikan kemarahan, akan bertindak kasar pada Kiara. Tetapi Bima malu, karena ternyata Kiara juga jago bela diri. Hingga pada akhirnya terjadi pertikaian sengit antara Bima dan Kiara.


Orang tua Kiara juga sempat heran, darimana Kiara bisa bela diri. Karena mereka sama sekali tidak tahu jika anak sulungnya bisa bela diri. Hanya Riko saja yang tahu akan hal ini.


Terus saja terjadi baku hantam antara Bima dan Kiara. Bahkan Bu Darti sangat antusias mendukung Kiara.


"Hajar terus Kiara! jangan beri ampun mantan suami yang hanya di jadikan boneka oleh Mamahnya!" teriak Bu Darti


"Bu, sudah tak usah berterima seperti itu. Malu tahu, bu. Seharusnya kita melerai mereka supaya tidak terjadi baku hantam seperti itu," ucap Ayah Darwo.


Selagi terjadi baku hantam, lagi-lagi datang Arya. Karena rutinitas paginya sebelum ke kantor pasti main kerumahn Kiara.


Arya sempat terperangah juga melihat aksi Kiara dalam melawan Bima. Apa lagi pada saat Kiara berhasil mengalahkan Bima dan membuat Bima malu lantas ngacir pergi tanpa pamit dengan mengendarai mobilnya begitu cepat.


"Aauh..."


Pada saat Kiara akan terjatuh karena merasakan kakinya seperti terlilit, secepat kilat Arya menangkap tubuh Kiara.


"Terima kasih ya, Tuan Arya."

__ADS_1


Pada saat Kiara ingin mencoba jalan sendiri, ia pun akan terjatuh lagi. Hingga tanpa izin terlebih dahulu pada Kiara. Arya mengangkat tubuh Kiara dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Tuan, jangan seperti ini.Toling turunkan saya." Kiara terus saja memukul-mukul dada bidang Arya secara perlahan.


Namun tetap saja Arya menggendong Kiar hingga masuk ke dalam rumah dan meletakkannya di sofa ruang tamu.


Orang tua Kiara hanya senyam senyum melihat hal itu. Mereka sangat senang.


"Kiara, jika kita di luar kantor tolong jangan memanggilku Tuan ya? panggil saja dengan sebutan yang lain, mas atau sayang hhee nggak kok bercanda," ucap Arya terkekeh.


"Bu, bisa minta obat urut nggak? sepertinya kaki Kiara terkilir. Jika tidak langsung di urut bisa berbahaya juga," ucap Arya.


Secepat kilat, Bu Darti mengambil minyak urut dan memberikannya pada Arya.


"Kamu maunya di apain sama aku?" canda Arya membuat semua yang ada di ruang tamu tergelak dalam tawa.


Kiara hanya menarik napas panjang seraya melirik sinis ke arah Arya. Justru Arya malah membalas lirikan Kiara dengan senyuman manisnya.


"Pertanyaan yang tak perlu aku jawab. Sudah tahu aku minta minyak urut sana ibumu, ya otomatis ngurut kakimu itu. Kok tanya mau ngapain?" goda Arya terkekeh.


"Nggak usah, Mas Arya. Nanti juga sembuh sendiri," tolak halus Kiara.

__ADS_1


Tetapi hal ini tak lantas membuat Arya mengurungkan niatnya untuk memijit kaki Kiara. Karena kebetulan Arya ahli juga untuk hal pijat memijat. Dengan penuh kelembutan Arya memijat kaki Kiara. Dan pada saat ia ingin membetulkan otot kaki yang terkilir. Kiara memekik kesaktian hingga ia tak sadar kedua tangga bertumpu pada leher Arya yang saat ini ada di hadapannya jongkok untuk mengurut kalinya.


"Maaf ya mas, reflek."


Kiara menarik kedua tangannya.


Hal ini membuat orang tuanya terkekeh. Begitu juga dengan Arya.


Selepas mengurut kaki Kiara, Arya tanpa ada rasa sungkan bertanya padanya tentang apa yang barusan terjadi. Bagaimana bisa dirinya berkelahi dengan Bima sedemikian rupa.


Tanpa sungkan pula, Kiara bercerita panjang lebar tentang maksud kedatangan Bima di pagi hari.


"Heran ya, kenapa juga kok sifatnya seperti anak kecil. Dan juga terlalu percaya dengan pengakuan dari sepihak saja," ucap Arya menggelengkan kepalanya.


"Aku sudah nggak kaget, mas. Karena aku sudah paham dengan tabiat ibu dan anak itu. Hanya yang tak habis pikir, untuk apa lagi mereka menggangu ketentraman keluargaku, toh aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan mereka. Bahkan aku tidak pernah menuntut nafkah untuk Alvaro," ucap Kiara kesal.


"Nah itu yang aku heran dengan mereka. Kegagalan Bima untuk bisa mendapatkan gadis membuatnya marah padamu. Dan berpikir semua itu karena kesalahanmu kan? apa lagi gadis itu sahabatmu," ucap Arya.


"Iya, mas. Terutama Mamahnya. Sebenarnya jika Ia tidak gampang terhasut oleh Mamahnya, hal ini tidak akan terjadi. Memang dari dulu ia itu anak mamah yang selalu saja gampang di atur oleh Mamahnya. Bahkan tidak bisa memilah mana perkataaan dari Mamahnya yang pantas di ikuti dan mana yang tidak. Semua perkataan dari Mamahnya, ia anggap selalu benar," ucap Kiara.


Orang tua Kiara memberikan satu masukan dan nasehat, supaya Kiara tak terlalu memikirkan Bima dan Mamahnya. Jika suatu saat mereka datang ya di hadapi saja. Dan jika sedang tidak datang, nggak usah di pikirkan apa yang telah terjadi.

__ADS_1


Toh pada suatu saat nanti Bima dan Mamahnya akan menyesali semua yang pernah mereka lakukan pada Kiara. Roda itu berputar, dan tak selamanya Bima dan Mamahnya terus saja berada sibatas dengan kesombongan mereka.


Kiara pun mendengarkan apa yang di nasehatkan padanya. Ia tidak akan lagi memikirkan tentang apa yang telah dilakukan oleh Bima padanya barusan.


__ADS_2