
Pada saat Bima dan Mamah Nindy masuk ke dalam rumah baru tersebut. Mamah Nindy lagi-lagi terperangah.
"Ya Allah.... rumahnya mewah sekali dan aku bisa pamer pada temsn sosialita aku yang sempat mengejekku karena aku jatuh miskin," batinnya.
"Mah, ingat ya! aku nggak mengizinkan Mamah memamerkan rumah ini kepada teman-teman Mamah. Aku akan mengawasi setiap gerak-gerik Mamah. Jika aku melihat Mamah membawa teman-teman Mamah ke rumah ini, aku tidak akan segan-segan mengusir Mamah. Karena aku tidak suka sifat Mamah yang masih saja belum berubah dengan tergiur oleh kekayaan," tegur Bima.
"Sialan, bagaimana Bima bisa tahu apa yang ada di dalam isi hatiku ini! gagal deh, niatku untuk pamer pada teman-teman sosialitaku. Jika sudah mendapatkan ancaman dari Bima seperti ini, aku tidak mau ya diusir dari rumah ini," batin Mamah Nindy.
Bima memilih kamar yang menurutnya strategis baginya, begitu pula dengan Mamah Nindy. Bima pun merencanakan untuk memasang CCTV di setiap penjuru ruangan, supaya ia bisa benar-benar selalu mengawasi gerak-gerik mamahnya. Bima juga akan mempekerjakan asisten rumah tangga.
Esok harinya kebetulan tanggal merah hingga kantor libur. Bima pun menggunakan kesempatan ini untuk mencari seorang asisten rumah tangga di sebuah yayasan penyalur tenaga kerja.
Pada saat Bima akan melangkah pergi, Mamah Nindy menghampiri," Bima, kamu akan kemana? mamah ikut donk?"
"Untuk apa ikut? Mamah di rumah saja, aku mau ke yayasan penyalur tenaga kerja untuk mencari asisten rumah tangga."
Bima sama sekali tak mengizinkan Mamah Nindy ikut.
"Ya ampun, ikut saja nggak boleh. Mamah kan sudah lama nggak naik mobil pribadi. Ayohlah, Bima. Izinkan mamah ikut donk," rengek Mamah Nindy hingga pada akhirnya Bima mengizinkan tetapi dengan satu syarat.
"Ya sudah, tapi ada syaratnya."
"Astaga...ke sebuah yayasan penyalur tenaga kerja saja pake syarat segala, baiklah apa syaratnya?" tanya Mamah Nindy kesal.
"Mamah nggak usah bawel ya, pokoknya diam saja nggak usah banyak bicara. Intinya ikut ya ikut saja, nggak usah komentar apa pun. Jika itu terjadi, akan aku tinggal pulang atau aku turunkan mamah di jalan," ucap Bima ketus.
__ADS_1
"Hem, baiklah. Mamah nggak akan komentar, dan akan diam saja."
Saat itu juga Bima pun lekas ke garasi mengambil mobil dan Mamah Nindy menunggu di pelataran rumah. Setelah mobil ada di depan mata Mamah Nindy, dia langsung masuk dan Bima langsung melajukannya.
Mamah Nindy tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia pun meraih ponselnya niat hati ingin Selfi berfoto ria di dalam mobil, tetapi di larang oleh Bima.
"Mah, awas loh ya? ingat dengan apa yang pernah aku katakan! aku nggak suka jika mamah pamer, baik pada teman maupun di akun sosial media mamah tentang mobil ini!' hardik Bima lantang.
"Ya ampun, Bima. Banyak sekali sih aturan darimu ini? foto saja nggak boleh, bawa teman-teman Mamah ke rumah juga nggak boleh. Bagaimana pun, mamah kan bangga padamu. Makannya Mamah ingin...
"Sudahlah, mah! nggak usah keras kepala, nggak usah membantah, nggak usah banyak alasan! intinya mulai sekarang mamah nggak bisa seenaknya sendiri!" Bima berkata lantang.
Bima sengaja melakukan hal itu supaya Mamah Nindy perlahan-lahan bisa merubah sikap buruknya.
Tak terasa mobil yang dikemudikan oleh Bima telah sampai di sebuah yayasan penyalur tenaga kerja. Bima dan Mamah Nindy lekas turun dari mobil, mereka melangkah masuk ke dalam yayasan tersebut. Bima pun menyampaikan apa maksud kedatangannya kepada salah satu petugas yang ada di yayasan tersebut.
Bima di beri daftar beberapa nama pekerja dan juga lengkap beserta status dan umur serta pendidikan terakhir. Bima pun benar-benar teliti dalam memilih untuk calon asisten rumah tangga.
Pada akhirnya Bima menemukan orang yang menurutnya cocok dan tepat. Ia sengaja memilih yang lumayan muda. Supaya jelas untuk kesehatan si pekerja tersebut. Saat itu juga Bima di izinkan untuk membawa calon asisten rumah tangga tersebut.
Sebelum pergi, Bima di minta mengisi daftar. Dan juga tanda tangan lengkap. Dan memenuhi persyaratan yang lainnya yang harus segera di penuhi.
"Hem.. Bima pilih asisten rumah tangga yang masih muda. Sebenarnya aku rada kurang setuju, karena aku khawatir Bima lama-lama bisa jatuh cinta padanya," batin Mamah Nindy.
Apa lagi asisten rumah tangga yang di pilih oleh Bima adalah seorang single parent dan wajahnya lumayan cantik. Hal ini membuat Mamah Nindy langsung berpikiran negatif pada anaknya sendiri.
__ADS_1
Tak berapa lama sampailah Bima di rumah mewahnya. Ia pun menunjukkan kamar untuk sang asisten rumah tangga tersebut.
"Mba Eli, sudah paham kan ya untuk pekerjaan yang di lakukan apa saja?" tanya Bima.
"Ya Den Bima, kebetulan sebelum bekerja di sini, saya sudah beberapa kali bekerja sebagai asisten rumah tangga. Hingga saya sudah hapal dengan tugas-tugas saya, Den," ucapnya sopan.
Mamah Nindy terus saja melirik sinis pada, Eli. Hal ini tentu saja membuat Eli merasa kagum, dan risih juga.
"Sepertinya, ibunya Den Bima tidak bersahabat dan terlihat tidak suka padaku," batin Eli.
"Nggak apa-apa dech, yang bayar aku kan Den Bima, bukan ibunya. Jadi aku tidak usah ambil pusing. Jika dia macam-macam akan aku laporkan pada, Den Bima atau pada yayasan," batin Eli kembali.
Saat itu juga Eli masuk ke dalam kamarnya yang letaknya dekat dengan dapur. Bima juga sudah tenang karena dirinya sudah mendapatkan seorang asisten rumah tangga.
"Alhamdulillah, semoga saja Eli bekerja dengan benar dan kerasan kerja di sini. Dan semoga saja Mamah juga nggak berbuat onar seperti yang sudah-sudah pada waktu dulu, dia selalu saja seenaknya sendiri hingga kita bolak balik ganti asisten rumah tangga. Karena banyak yang nggak betah," batin Bima.
Tanpa sepengetahuan Bima, belum apa-apa Mamah Nindy mendatangi kamar Eli.
Tok tok tok
Mamah Nindy mengetuk pintu kamar, Eli. Dan Eli segera membukanya," ada apa ya, Nyonya?"
"Heh, aku hanya ingin menasehati kamu! kerja yang benar dan jangan pernah berniat menggoda Bima ya? awas loh, jika kamu kecentilan!" ucapnya melotot.
"Astaghfirullah aladzim, saya kemari berniat kerja. Bukan menggoda lelaki, jadi nyonya jangan berprasangka buruk pada saya," ucap Eli ketus.
__ADS_1