Suamiku Boneka Ibunya

Suamiku Boneka Ibunya
Permintaan Maaf Di Tolak


__ADS_3

Dengan sangat terpaksa Kiara mengizinkan Bima untuk duduk, tapi hanya di teras halaman rumah. Kiara tidak mengizinkan Bima masuk ke dalam rumah.


Setelah merasa nyaman, barulah Bima mengatakan ulang tentang permintaan maaf dirinya pada, Kiara.


"Kiara, aku datang kemari dengan hati penuh penyesalan. Aku mohon maafkanlah atas segala dosaku padamu."


Ucap Bima memelas seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Kenapa tiba-tiba kamu minta maaf, mas? apa ada hal yang membuatmu menjadi sadar akan kesalahanmu ini?" tanya Kiara merasa heran dengan sikap Bima.


Bima pun tertunduk lesu, ia tak kuasa menceritakan kehidupannya yang sekarang," intinya aku sudah sadar akan kesalahanku padamu, Kiara."


Kiara tersenyum sinis," kamu hanya sadar kesalahanmu padaku saja, tapi tidak pada anakmu? aku benar-benar sakit hati padamu karena menuduhku telah selingkuh, bahkan pada saat aku sudah melakukan tes DNA, kamu juga masih menolak anak kandungmu sendiri. Aku minta maaf, tidak bisa memberikan maaf padamu."


"Astaga ..Kiara? Allah saja maha pengampun, kenapa kamu tidak mau memaafkanku?" rajuk Bima.


"Jangan samakan aku yang hanya manusia biasa dengan Allah yang KuasaNya luar biasa. Satu hal yang paling membuatku sakit hati adalah kamu menolak anak kandungmu darah dagingmu sendiri. Dan dengan tidak berperikemanusiaan kamu menuduhku selingkuh."


"Aku harap setelah ini kamu tidak menampakkan dirimu di hadapanku, karena aku benar-benar tidak ingin melihatmu lagi. Dan satu hal, kamu telah menolak anakmu sendiri dan selamanya aku juga tidak akan memberi tahu bahwa kamu adalah ayah kandungnya. Aku akan memberikan pengakuan kepada pria yang akan menikah denganku. Ia yang akan menjadi ayah dari anakku."


"Sekarang juga, pergilah dari rumahku dan ingat baik-baik untuk tidak menunjukkan wajahmu lagi di hadapanku."


Bima merasa tersinggung dengan perkataan dari Kiara, ternyata ia belum sepenuhnya berubah," dasar sombong! kamu pikir aku tidak bisa mencari wanita yang lebih baik darimu? dan aku juga sangat yakin, tidak akan ada pria yang mau menikah dengan seorang janda beranak satu. Paling yang ada pria yang mendekatimu hanya untuk main-main saja."


Setelah mengatakan hal itu, Bima bangkit dari duduknya dan ia berlalu pergi dengan mengendarai motor maticnya.

__ADS_1


Kiara hanya bisa menghela napas panjang seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku, Bima.


"Sudah sifat, maka tak akan bisa berubah. Hem.. menyumpahi aku, memang dia itu siapa? dan ia pikir aku akan takut dengan sumpahnya itu! mana mungkin Allah mengabulkan sumpah serapah seorang pria pendosa seperti dirinya." Gumamnya kesal seraya melangkah masuk ke dalam rumah.


Bu Darti dan Ayah Darwo segera menghampiri Kiara, mereka penasaran dengan apa yg di katakan oleh Bima pada anak sulungnya tersebut.


Mereka pun duduk di ruang tamu, dan Kiara menceritakan semua yang di katakan oleh Bima kepada orang tuanya. Baik Ayah Darwo maupun Bu Darti tak habis pikir dengan sikap Bima.


"Sudahlah, Kiara. Kamu tak usah memikirkan apa yang di katakan oleh Bima. Sekarang lebih baik kamu pikirkan tentang pernikahanmu saja. Lagi pula apa yang di katakan Bima tidak berpengaruh bukan? nyatanya saat ini kamu malah akan menikah dengan Bls mu sendiri."


"Ya Kiara, kami yakin kelak Bima akan malu melihat mantan istrinya mendapatkan seorang presiden direktur, sedangkan ia apa coba?"


Ayah dan ibu Kiara menasehatinya, walaupun sebenarnya Kiara juga tidak pernah memikirkan apa yang barusan di katakan oleh Bima. Baginya kata-kata Bima bagaikan hembusan angin saja.


Sementara saat ini Bima terus saja menggerutu di dalam hatinya sepanjang perjalanan pulang ke rumah kontrakannya. ia sangat kesal karena Kiara tidak mau memberikan maaf padanya.


"Aku pikir, Kiara pasti memaafkan aku dan ia mau aku ajak rujuk. Lumayan kan, saat ini dia menjadi direktur utama dan rumahnya besar, nyaman. Tetapi belum apa-apa sudah sombong duluan."


"Aku sebagai pria merasa terhina juga, walaupun aku sudah tidak punya harta atau kedudukan yang bisa aku banggakan lagi. Tetapi aku tidak ingin di rendahkan oleh, Kiara."


"Orang kaya baru, sombongnya minta ampun! aku yakin besok atauusa, pasti Kiara akan mencari ku dan ia yang akan meminta maaf balik padaku, serta minta rujuk denganku."


"Secara aku tahu, Kiara itu sangat cinta padaku. Apa lagi ada anak dariku, makanya sampai detik ini aku tidak pernah melihat Kiara jalan dengan pria lain. Itu karena ia masih sangat cinta padaku dan belum bisa move on dariku."


Sepanjang perjalanan ia terus berpikir yang bukan-bukan tentang Kiara. Ia tidak tahu jika saat ini Kiara sebentar lagi akan menikah. Ia malah percaya diri jika suatu saat nanti Kiara akan datang lagi kepadanya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian....


"Bima, kamu lama sekali? dari mana sih?" tanya Mamah Nindy di depan rumah kontrakannya.


"Main, mah. Bosan di rumah saja,' ucapnya ketus.


"Main, memangnya kamu habis main dari mana sih?" kembali lagi Mamah Nindy bertanya yang membuat Bima semakin bertambah kesal padanya.


"Mamah bawel banget, kepo dech!" ucapnya seraya melangkah ke dalam rumah tanpa menghiraukan Mamah Nindy.


Mamah Nindy merasa kesal pada Bima, yang semakin hari semakin arogant dan dingin padanya. Tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena percuma baginya untuk selalu mengajak debat, Bima.


Sementara Bima saat ini merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan perlahan matanya terpejam begitu saja. Ia hari ini merasa sangat lelah.


*******


Pagi menjelang, Bima mulai aktifitasnya bekerja di sebuah perusahaan, tetapi ia hanya sebagai pegawai biasa. Di dalam hatinya merasa minder dan tak nyaman, karena para pegawai menatap ke arahnya secara berbisik-bisik.


"Baru mulai berangkat bekerja, sudah di buat tak nyaman seperti ini. Sebenarnya apa sih yang sedang mereka gosip kan dengan berbisik-bisik seperti itu ya?"


Ada rasa ingin tahu pada diri Bima, tapi ia gengsi untuk bertanya pada teman-teman barunya tersebut. Karena menurutnya, ia tak se level dengan para karyawan biasa tersebut.


Dia bekerja menjadi karyawan biasa itu karena terpaksa demi bisa melanjutkan hidup. Uang dari hasil menjual mobil sengaja ia tabung, untuk berjaga-jaga.


"Coba saja jika ada pekerjaan yang lebih meyakinkan, aku pasti tidak akan mau bekerja di sini. Bagiku sungguh memalukan!" batinnya kesal.

__ADS_1


__ADS_2