
Tak terasa waktu berlalu, kini usia kandungan Kiara sudah memasuki empat bulan. Hari ini ia mengatakan acara syukuran di rumahnya dengan mengadakan pengajian dan mengundang para tetangga di sekitarnya.
Acara dilakukan begitu sederhana tetapi benar-benar mengutamakan doa. Karena Kiara hanya menginginkan calon anaknya, sehat untuk selamanya bukan hanya di dalam kandungan. Tetapi setelah lahir pun ingin anaknya kondisinya sehat jasmani rohani dan panjang umur.
Acara berjalan dengan sangat khusyuk dan lancar setelah acara pengajian untuk memperingati empat bulan usia kehamilan, Kiara.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Acara syukurannya lancar tidak kurang suatu apa pun. Dan semoga kelak anakku ini lahir dengan sehat tak kurang suatu apapun,' batinnya.
Selama kehamilan anaknya yang kedua, Kiara tidak merasakan ngidam muntah-muntah seperti yang ia rasakan pada waktu hamil Alvaro. Kiara justru terlihat sangat gemuk, karena makannya begitu banyak.
Saat ini Kiara sedang bercermin, dan ia cemberut. Hal ini membuat Arya heran dengan sikap istrinya. Ia melangkah menghampiri Kiara dan memeluknya dari arah belakang.
"Sayang, kenapa kamu terlihat murung? apakah ada yang merisaukan hatimu?" Arya menciumi tengkuk leher istrinya.
"Lihatlah, Mas. Tubuhku ini telah berubah seperti ini, gemuk sekali. Aku saja melihat tubuhku sendiri merasa.... ihhh nggak banget dech."
Mendengar apa yang merisaukan hati istrinya justru membuat Arya terkekeh," sayang, walaupun kamu ini gemuk aku tetap cinta. Yang terpenting kamu dan anak kita selalu sehat selamanya. Tak usah memikirkan tentang tubuh, nanti jika sudah melahirkan pasti tubuhmu bisa langsing lagi. Apa sih yang telah merisaukan hatimu?"
"Mas, aku khawatir kamu ini sebal melihat kondisi diriku ini," ucap Kiara tertunduk lesu.
"Sayang, masa iya kamu masih saja meragukan cintaku ini? apa kurang cukup kebersamaan kita untuk meyakinkan dirimu bahwa aku sangat cinta padamu? tolong jangan berprasangka buruk padaku, sayang. Aku selamanya cinta kamu dan tak akan pernah berpaling darimu," ucap Arya meyakinkan istrinya bahwa dirinya benar-benar cinta tak bersyarat padanya.
__ADS_1
Kiara sangat bersyukur memiliki suami seperti Arya yang sangat perhatian dan tanggung jawab. Dia sangat berbeda dengan Bima. Perbedaannya bagai langit dan bumi. Walaupun kini Bima telah berubah total tetapi Kiara sama sekali tidak mengetahui akan hal itu. Dan itu juga sudah tidak ada urusannya dalam Kiara lagi.
Walaupun usia kehamilan Kiara baru memasuki umur empat bulan, akan tetapi perhatian Arya seperti memperhatikan kehamilan Kiara dalam usia kehamilan tua. Kiara tak pernah berkekurangan suatu apapun. Segala yang ia inginkan selama kehamilannya selalu dicukupi dituruti oleh suaminya, tanpa pernah Arya berkeluh kesah. Ia selalu memberikan keinginan Kiara dengan senang hati.
Sementara Bima juga saat ini bekerja dengan penuh ketekunan kedisiplinan, selama empat bulan menjadi seorang direktur, ia tidak pernah berbuat kecurangan lagi. Ia benar-benar bekerja dengan penuh kejujuran. Pengalaman dimasa lalu membuat dirinya bisa mengoreksi diri, mengoreksi kesalahan.
Segala kinerja Bima selalu di laporkan oleh presiden direktur selaku sahabat Milka ke Milka.
Di suatu kesempatan Milka sengaja mengajak bertemu sahabatnya tersebut untuk makan siang di sebuah cafe.
"Mbak, bagaimana kinerja Mas Bima apakah dia berulah atau tidak?" tanya Milka penasaran.
"Syukurlah kalau begitu, mbak. Semoga saja selamanya Mas Bima benar-benar bekerja dengan penuh kedisiplinan dan tanggung jawab serta paling utama kejujuran. Jika ada hal yang tak di inginkan, cerita saja padaku. Atau kalau perlu tegur saja secara langsung, Mas Bima," ucap Milka.
"Siap, Milka. Sepertinya Bima yang sekarang bukan Bima yang dulu. Karena ia benar-benar tidak sesuai dengan apa yang kamu ceritakan tentang masa lalunya. Selama berada dalam pantauan, Bima tidak banyak bertingkah. Doa malah sering bekerja lembur."
Sahabat Milka yang satu ini tidak seperti sahabat Milka yang lainnya, di mana sahabat Milka yang satu ini bersifat bijaksana, walaupun ia telah tahu masa lalu Bima. Ia masih bersedia memberinya kesempatan untuk bekerja di perusahaannya sebagai seorang direktur.
"Terima kasih ya, Mbak. Telah bersedia menolongku dengan memberikan pekerjaan kepada Mas Bima. Aku bahkan sama sekali tidak menyangka loh, Mbak mau memberinya kepercayaan sebagai seorang direktur. Padahal Mas Bima di pekerjakam di staf biasa juga nggak apa-apa, dia nggak komplen sama sekali," ucap Milka.
"Aku kan juga melihat CV serta sempat aku wawancarai dan ternyata dia pantas untuk berada di posisi direktur. Ya sudah aku kerjakan saja dia di bagian direktur. Aku hanya percaya dengan hati nurani sendiri, jika Bima lelaki yang baik," ucapnya.
__ADS_1
*******
Sore menjelang, di saat Bima belum pulang. Mamah Nindy sengaja berulah, dia sengaja membuat repot asisten rumah tangganya.
"Eli, tolong ini. Kopi tumpah di ruang tamu, cepar di bersihkan karena bisa lengket dan banyak semut jika di biarkan saja!" teriaknya.
Hingga Elo berlari kecil pada saat dirinya sedang bada di dapur.
"Ada apa sih, nyah? teriak-teriak saja. Saya kan sedang sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk sore nanti," ucap Eli kesal.
"Masih tanya lagi ada apa ada apa! apa kamu tidak bisa melihat tumpahan kopi yang ada di lantai ini? cepat kamu bersihkan sekarang juga sebelum Bima pulang, jangan sampai dia marah-marah karena melihat ruang tamu yang berantakan!" perintah Mamah Nindy seraya tangannya berkacak pimgu pindah pinggang dan matanya melotot ke arah, Eli.
Saat itu juga Eli mencari kain lap untuk membersihkan ruang tamu yang berantakan karena tumpahan kopi di lantai. Dalam hatinya ia sempat menggerutu kesal atas apa yang telah dilakukan oleh, mamah Nindy.
"Semakin hari tingkah laku si nenek lampir semakin tidak bisa ditolerir lagi. selama empat bulan di sini ada saja yang dilakukan oleh si nenek lampir untuk berulah, membuatku kesal. Lihat saja, aku akan membuatnya jera dengan semua yang telah ia lakukan padaku. Jangan salahkan aku ya nenek lampir, aku akan membalas segala kelakuanmu, kamu licik aku bisa lebih licik lagi."
Saat itu juga Eli melaporkan semua yang telah di lakukan oleh Mamah Nindy selama ini pada Bima. Dia selama empat bulan ini sudah cukup bersabar dengan tingkah Mamah Nindy, tetapi semakin hari semakin menjadi saja.
Eli berpura-pura dirinya berpamitan untuk tidak lagi bekerja di rumah Bima.
[Maaf, Den Bima. Sepertinya saya sudah tidak bisa bekerja di rumah Aden. Karena saya rasa Nyonya Nindy, tidak pernah suka dengan saya. Hingga dia selalu melakukan segala cara untuk membuat saya tidak kerasan bekerja di rumah, Aden.]
__ADS_1