Suamiku Boneka Ibunya

Suamiku Boneka Ibunya
Berhasil Mendapatkan Maaf


__ADS_3

Di dalam hati Eli sebenarnya belum percaya jika Mamah Nindy meminta maaf. Tetapi ia tak enak hati jika tak memaafkan Mamah Nindy. Hingga saat itu juga Eli pun memaafkannya.


"Iya, Nyonya. Saya telah memaafkan anda," ucap Eli singkat.


"Cuma di bibir saja minta maafmu Nenek lampir. Sebenarnya di dalam hatimu tidak ikhlas, karena aku bisa melihat dari raut wajahmu itu," batin Eli.


"Nah begitu dong, aku harap kedepannya tidak akan terjadi hal seperti ini lagi. Aku harap juga, permintaan maaf mamah benar-benar tulus ikhlas dari dalam hati. Bukan hanya di bibir saja dan karena keterpaksaan semata."


Mendengar perkataan Bima, Mamah Nindy merasa tersentuh juga," Bima, kok kamu bicara seperti itu sih? apa yang harus Mamah lakukan lagi supaya kamu percaya jika mamah benar-benar tulus dari dalam hati meminta maafnya?"


"Mah, nggak perlu membuktikan apa pun. Jika mamah tak ulangi lagi itu sudah cukup membuatku percaya bahwa mamah tidak akan berulah menggangu, Mba Eli lagi. Ingat ya, mah. Aku memang tidak selalu ada di dalam rumah, tetali aku selalu mengawasi setiap tingkaj laku mamah. Dan ancamanku kali ini tidak main-main." Ucap Bima seraya berlalu dari hadapan Mamah Nindy dan juga Eli.


Selepas kepergian Bima, Mamah Nindy melotot ke arah Eli," heh, jangan senang dulu ya? aku akan balas semua kelakuau padaku! lihat saja!"


"Ternyata apa yang aku pikirkan benar juga, ternyata anda ini belum juga bisa berubah. Hingga mati pun sifat seseorang tidak akan bisa berubah, apa lagi orang seperti anda," ejek Eli seraya berlalu pergi dari hadapannya.


Mamah Nindy kesal mendengar apa yang barusan di katakan oleh Eli, pada saat tangannya sudah hampir melayang akan memukul Eli dari belakang. Ia segera menurunkan tangannya seraya celingukan.


"Sialan, aku lupa jika saat ini di semua ruangan telah terpasang CCTV. Kurang ajar, gara-gara Bima membela tuh asisten rumah tangga, hingga ia semakin besar kepala! tapi aku tidak akan tinggal diam, aku akan mencari cara untuk bisa menyingkirkan Eli dari rumah ini," batinnya kesal.


Mamah Nindy kembali ke dalam kamarnya dengan rasa penuh kekesalan.


Sementara Eli terus saja menggerutu di dalam hatinya.


"Aku heran dengan si nenek lampir. Kenapa dia begitu memusuhiku ya? dari awal aku datang kemari, dia sudah tidak bersahabat sama sekali denganku."


"Padahal aku tak melakukan apapun pada, Den Bima. Bahkan tidak ada mimpi sana sekali di dalam hatiku untuk mendapatkan, Den Bima."


"Aku juga sadar diri, siapa aku ini. Dan aku juga sama sekali tidak ada niat untuk

__ADS_1


meluluhkan hati, Den Bima."


"Niatku di rumah ini hanya bekerja saja untuk mencukupi kebutuhan keluargaku yang ada di kampung."


Setelah cukup lama menggerutu, ia pun melangkah ke dapur untuk segera memasak untuk makan malam.


Sementara saat ini Bima sedang membersihkan dirinya di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Sejenak ia teringat akan masa lalu bersama dengan Kiara.


"ya Allah, kenapa aku teringat dengan mantan istriku? padahal saat ini dia sudah memiliki suami."


"Apakah karena aku belum bisa mendapatkan hingga aku masih saja hingga aku masih saja teringat padanya?"


"Setelah ini, aku akan ke rumahnya untuk mencoba meminta maaf darinya kembali, mungkin saja kali ini Kiara mau memaafkanku."


Bima pun mempercepat ritual mandinya, supaya ia lekas pergi ke rumah Kiara untuk berusaha meminta maaf kembali.


Dia pergi tanpa berpamitan pada Mamahnya ataupun Eli, karena jika ia berpamitan pada mamahnya yang ada pasti akan terjadi cekcok atau keributan.


Hanya beberapa menit saja Bima telah sampai di pelataran rumah Kiara. Ia anak sedikit terkejut melihat perut Kiara yang terlihat agak membuncit karena kehamilannya empat bulan.


Baik Kiara maupun Arya yang sedang duduk di teras rumah merasa tidak suka dengan datangnya Bima kembali. Mereka merasa terganggu jika kedatangan dirinya.


Belum juga Bima mengatakan masuk kedatangannya tiba-tiba datang juga, Joni.


"Heh Bima, untuk apa kamu datang lagi kemari? apa ingin mencari masalah dengan Kiara dan suaminya? jika begitu hadapi dulu aku," tantangnya sombong.


"Joni, aku datang kemari bukan berurusan denganmu dan tidak ingin menjadi keributan. Aku kemari untuk menemui Kiara untuk meminta maaf atas kesalahanku di masa lalu kepadanya," ucap lantang Bima.


"Mas Bima, janganlah kamu datang lagi kemari! karena jika aku melihatmu, aku menjadi ingat kembali akan apa yang telah kamu lakukan kepadaku dan almarhum Alvaro. Sama saja membuka luka lama, dan ini akan membuatku sedih kembali. Jadi sebaiknya kamu pergi saja, mas. Dan aku harap jangan pernah menampakan dirimu di hadapanku untuk selamanya."

__ADS_1


Namun Bima tetap berdiri di depan Kiara, dia tidak juga pergi.


"Tolong maafkanlah aku lebih dahulu, setelah itu aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi dan aku janji tidak akan muncul di hadapanmu lagi."


Kiara hanya di saja tak merespon apa yang barusan di katakan oleh Bima. Hingga akhirnya Arya pun turut bicara.


"Sayang, sebaiknya kamu maafkan dia saja daripada dia terus-terusan datang kemari," saran Arya.


Akhirnya Kiara menuruti kemauan Arya, karena dia juga tak ingin melihat Bima lagi. Rasa sakit yang telah di torehkan oleh Bima begitu dalamnya.


"Baiklah, Mas Bima. Aku telah memaafkan dirimu dari dalem hatiku yang paling dalam. Sekarang kamu pergi dan aku harap kdu nggak usah ingkar janji untuk tidak memperlihatkan wajahmu di hadapanku."


Bima sedikit lega, walaupun di dalam hatinya masih ada rasa ragu. Karena Bima bisa melihat jika Kiara tidak ikhlas dalam berkata. Tetapi dia sama sekali tidak ingin membuat ulah lagi. Ia pun pamit pulang.


"Terima kasih, Kiara. Dengan begini aku lega, dan aku janji tidak akan menganggu hidupmu lagi. Aku pamit pulang ya. Doa yang terbaik untukmu dan calon anakmu itu"


Bima pun Melangkah pergi begitu saja. Walaupun di dalam hatinya masih di penuhi oleh rasa gundah gulana.


"Ya Allah, yang terpenting di dalam hatiku benar-benar ikhlas meminta maaf. Aku sudah tidak akan datang lagi kehadapan Kiara. Tak ingin membuat luka lamanya yang di sebabkan olehku ternganga lagi."


"Tetapi aku tidak akan pernah lupa untuk mendoakan keluarga Kiara dan juga almarhum anakku di setiap sujudku."


Bima pun melakukan motor matic nya menuju arah pulang. Sementara Joni komplen pada Kiara," seharusnya kamu jangan memaafkan Bima. Biar dia hidupnya terus di hantui oleh ras bersalah."


"Heh, seenaknya kamu mengajari istriku untuk hak yang tidak baik! Sayang, kdnu tak usah mendengarkan bisikan setan ya. Tetapi dengarkan saja apa kata hatimu."


Joni merasa kesal pada saat dirinya di katakan setan," sembarangan kamu mengatakan aku ini setan!" protes Joni


Baik Kiara maupun Arya terkekeh mendengar protes Joni yang di sertai dengan bibirnya yang manyun.

__ADS_1


Joni pun hanya bisa melirik sinis pada Arya dan juga Kiara tanpa ia berkata lagi dan hanya duduk di hadapan Arya dan Kiara dengan wajah murungnya.


"Wajah murung terus begitu, makanya Milka nggak mau sana kamu," ejek Arya.


__ADS_2