Suamiku Boneka Ibunya

Suamiku Boneka Ibunya
Kesusahan Yang Melanda Bima


__ADS_3

Orang tua Kiara menghampiri Kiara, mereka mengucapkan rasa bahagianya kepada Kiara. Karena setelah apa yang menimpa pada Kiara, kini ia akan menemukan kebahagiaan.


"Nak, selamat ya. Kamu sudah benar-benar bertemu dengan belahan jiwamu. Ibu yakin, kali ini kamu akan hidup langgeng dan bahagia selalu bersama dengan Arya."


"Iya, Kiara. Ayah juga turut bahagia, ayah juga sangat yakin jika Arya itu pria yang baik dan bertanggung jawab."


Kedua orang tua Kiara memeluknya, hal ini membuat Riko iri," Hem...Mba Kiara di peluk tetapi aku nggak ikut di peluk. Ini namanya nggak adil."


Mendengar akan hal itu, membuat Kiara dan orang tuanya terkekeh seraya mereka memeluk Riko.


"Ya Allah semoga kali ini aku tidak salah pilih suami. Semoga Mas Arya benar-benar setia dan tanggung jawab serta punya pendirian sendiri. Intinya bisa bersikap dewasa tidak seperti Bima yang masih saja tergantung kepada segala keputusan yang dikatakan oleh mamahnya," batin Kiara masih memeluk kedua orang tuanya dan Riko.


Berbeda dengan nasib Bima dan Nindy. Kini mereka hidup sederhana sekali, bahkan setiap kali Nindy akan shopping, Bima selalu melarangnya.


"Mah, aku nggak izinkan untuk mamah shopping atau sekedar ngumpul sana teman-teman, mamah!" ucap lantang Bima.


"Heh, mamah shopping pakai uang tabungan mamah sendiri. Uang dari mamah jual semua perhiasan, jadi kamu nggak bisa larang mansh begitu saja!" bentak Nindy.


"Mah, sebaiknya uang mamah itu di simpan saja. Nggak usah untuk foya-foya, apa mamah nggak lihat kondisi kita saat ini sedang kritis. Aku belum juga mendapatkan pekerjaan yang tepat," ucap Bima ketus.


"Makanya cari kerja yang benar, jadi nggak kelamaan nganggur," ejek Mamah Nindy.

__ADS_1


"Mah, aku juga sudah mencari pekerjaan kesana kemari. Mungkin karena dulu aku pernah menipu para klien, jadi seperti ini. Banyak yang menolak dan nggak percaya lagi padaku."


Nindy memicingkan alisnya," apa, jadi menu pernah menipu para klienmu? seharusnya kamu jangan melakukan hal itu. Kini seperti ini kan?"


Ibu dan anak saling berselisih paham satu sama lain. Mereka benar-benar sudah tidak seperti dulu lagi dimana selalu akur dan Bima selalu menurut dengan aturan dari Mamah Nindy.


Yang tua nggak bisa mau mengalah dan mau menang sendiri. Tak mau mendengarkan nasehat yang muda. Sedangkan yang muda juga kini tak bisa lagi menghormati yang tua. Kini ia tak pernah bisa bicara dengan lemah lembut. Selalu saja kasar dan kesannya membentak pada mamahnya.


"Mamah nggak betah di dalam rumah kontrakan yang sempit dan panas ini, apa lagi melihat kamu setiap hari kerjanya hanya bisa marah-marah saja."


Saat itu juga Mamah Nindy berlaku pergi begitu saja. Ia akan berkumpul dengan para temannya yang kaya raya itu. Bahkan semua temannya belum tahu jika saat ini Kondisi Mamah Nindy sudah miskin.


"Eh, yang aku dengar Bima sudah tidak bekerja di kantorbya lagi. Dan bahkan rumah mewahnya kini sudah dihuni orang lain. Lantas sekarang kamu dan Bima tinggal dimana, Nindy?" tanya salah satu temannya yang membuat dirinya langsung gelagapan.


"Oh ya... anu...hem...maaf ya semuanya. Memang aku sebenarnya sudah pindah sejak lama, tetapi aku memang tak sengaja memberi tahu pada kalian," ucap gagap Mamah Nindy.


"Loh, memangnya kenapa tidak memberi tahu pada kami? lantas jika kami ingin bermain kerumahmu yang baru bagaimana? karena kamu sama sekali tidak memberi tahu pada kami," ucap salah satu temannya yang lain.


"Memang untuk sementara waktu aku belum bisa memberitahu kepada kalian tentang rumahku yang baru karena saat ini sedang direnovasi. Jika ingin bertemu kan kita bisa seperti ini, janji bertemu di cafe atau restoran seperti biasa saja. Nggak usah di pusing kan, aku saja tidak pernah meminta untuk bermain ke rumah kalian bukan?" ucap Nindy santainya.


Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Nindy, tidak ada satupun lagi temannya yang mengatakan sesuatu. Bahkan salah satu dari mereka membahas tentang rencana untuk tamasya ke sebuah negara yakni di Jepang.

__ADS_1


"Waduh, kalau bepergian ke luar negeri pasti uangnya kan banyak ya. Sedangkan aku uang harus diiris-irit apalagi Bima menasehati aku memperingati aku. Ia juga belum menemukan pekerjaan yang tepat. Tetapi kalau aku tidak ikut pasti aku akan diejek oleh mereka, dibully oleh mereka dan yang ada nanti aku ketahuan jika sekarang ini sudah tidak sekaya dulu lagi," batin Mamah Nindy.


Hingga dengan terpaksa Mamah Nindy pun bersedia untuk ikut tamasya ke negara Jepang. Ia sama sekali tidak memikirkan tentang kondisi keuangan yang saat ini sedang benar-benar harus di irit seirit mungkin.


pada saat Mamah Nindy membawa koper untuk acara tamasya tersebut, Bima merasa heran padanya.


"Mah, bawa koper seperti itu memangnya Mamah mau pergi ke mana?" tanya Bima menyelidik.


"Mamah mau jalan-jalan sama temen-temen ke negara Jepang," jawabnya singkat.


"Astaga...mah, kondisi keuangan kita sedang kritis seperti ini. Mamah malah menghamba-hamburkan uang begitu saja. Jika kondisi keuangan kita sedang baik aku tidak akan melarangnya seperti waktu dulu, mah. Mamah biasa sesekali pergi ke luar negeri, tapi untuk saat ini tolong mengerti aku," ucap Bima menahan rasa emosi.


Tapi Mamah Nindy sama sekali tidak mau mengerti apa lagi mendengarkan nasehat dari, Bima. Ia pun berlalu pergi begitu saja. Hingga akhirnya Bima berteriak lantang, untuk mencegah kepergiannya.


"Jika mamah tidak mendengarkan apa yang aku katakan barusan dan akan tetap pergi saja. Aku tidak akan mengizinkan mamah tinggal lagi bersamaku? sans mamah pergi selamanya dari kehidupan aku!" bentak Bima lantang.


Hingga langkah Mamah Nindy terhenti pada saat mendengar ancaman dari Bima," kamu tega mengusir Mamah begitu saja. Apa kamu lupa siapa yang telah melahirkanmu dan membesarkan dirimu dan memberikan pendidikan yang layak untukmu? apa kamu tidak takut menjadi anak yang durhaka pada orang tua dan mendapatkan karma yang buruk dari yang maha kuasa?"


Bima tersenyum sinis mendengar apa yang dikatakan oleh mamahnya," jika anak mendapatkan karma dari orang tuanya itu kalau anak tersebut benar-benar durhaka kepada orang tuanya, tetapi di sini aku tidak berbuat jahat pada mamah. Hanya ingin Mamah mengerti kondisi kita saat ini sedang dalam masa kritis keuangan, tapi mamah sama sekali tidak memperdulikan kesulitan yang sedang aku hadapi," ucap Bima sedih.


Sementara Mamah Nindy terdiam, Ia seolah sedang berpikir apa yang harus ia lakukan. Akan membatalkan rencananya atau tetap pergi bersama teman-teman sosialisasinya ke negara Jepang.

__ADS_1


__ADS_2