
Hari baru dan semangat yang baru, itulah yang kini sedang di rasakan oleh Bima. Hari ini Bima mulai bekerja menjadi seorang direktur di sebuah perusahaan milik salah satu sahabat Milka.
Antusiasnya begitu menggebu-gebu karena dirinya sudah mendapatkan pekerjaan yang layak yang selama ini ia harapkan.
"Ternyata jika sesuatu di jalani dengan ikhlas, hasilnya akan sangat memuaskan. Terima kasih ya Allah, atas anugerah terindah ini," batin Bima.
Dengan tak lupa mengucap kata bismillah, Bima berangkat kerja dengan mengendarai motor matic nya. Ia sama sekali tidak gengsi walaupun hanya mengendarai motor. Padahal ia seorang direktur.
Sesampainya di perusahaan tersebut, ia terlebih dahulu menemui seorang presiden direktur perusahaan tersebut.
"Pagi, Bima. Kamu sudah siap kan bekerja di perusahaan saya? keruangan saya sebentar ya, karena ada yang ingin saya bicarakan denganmu sekarang juga."
Saat itu juga Bima mengikuti atasannya melangkah menuju ke ruang kerja atasnya.
"Duduklah, Bima."
Bima pun lekas duduk di kursi di hadapan kursi kerja atasannya.
"Bima, saya menerimamu karena satu rekomendasi dari Milka. Dia mengatakan banyak hal tentangmu. Karena kamu di sini bekerja sebagai seorang direktur, perusahaan memberikan inventaris untuk menunjang kinerjamu. Yakni sebuah mobil dan juga sebuah rumah. Tolong bekerja dengan baik ya, jangan membuat saya kecewa. Dan juga jangan membuat kecewa Milka juga yang telah merekomendasikan kamu pada saya," ucap Bu Arsi.
"Baiklah, bu. Saya akan berusaha dengan sekuat tenaga dan bersungguh-sungguh dalam bekerja. Insa Allah, saya tidak akan mengecewakan ibu," ucap Bima.
Bu Arsi memberikan sebuah kontak mobil beserta surat-suratnya dan juga kontak rumah mewah yang ada di salah satu perumahan elite.
"Terima kasih, Bu. Atas kepercayaa dari ibu yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menjadi direktur di perusahaan ini."
Bima sangat bahagia atas apa yang ia dapat sekarang ini. Ia sama sekali tak pernah menyangka jika kehidupannya perlahan akan berangsur-angsur kembali seperti sedia kala.
Bu Arsi menunjukkan kepada Bima, ruang kerjanya. Dan setelah sampai di ruabg kerjanya, Bima menangis hari dan sujud syukur.
__ADS_1
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Jika di telusuri, aku tak pantas sana sekali mendapatkan semua anugerah ini. Padahal begitu besar dosaku di masa lalu, tetapi Allah masih sudi memberikan rezeki dan kesempatan baik ini kepadaku. Semoga saja Allah juga lekas membuka pintu hati Kiara, supaya aku bisa mendapatkan pintu maaf darinya."
Bima tak henti mengucapkan rasa syukur yang begitu besar pada Allah. Di hari awal bekerja, Bima benar-benar mulai dari awal. Dia seperti belajar kembali, supaya benar-benar tidak melakukan sebuah kesalahan.
Bima begitu fokus dengan pekerjaan barunya.
*******
Sore menjelang, Bima pulang ke rumah dengan perasaan bahagia. Tetapi ia sama sekali tidak berbagi kebahagiaan dengan Mamah Nindy. Ia diam saja, hanya saja ia ingat dengan pesan Bu Arsi. Untuk segera pindah ke rumah yang diberikan sebagai inventaris.
"Mah, cepat kemasi semua barang-barang. Kita akan pindah rumah sekarang juga," pinta Bima tanpa banyak kata.
"Memangnya kita akan pindah kemana lagi! jangan bilang ke kontrakan yang lebih kecil, mamah nggak mau!" ucapnya lantang.
"Ya sudah, jika nggak mau ikut. Silahkan mamah tetap di sini sendirian."
Bima melangkah menuju ke kamarnya untuk segera berkemas saat itu juga. Dia sama sekali tidak memperdulikan Mamahnya.
Beberapa menit kemudian...
"Mah, aku pergi ya? mamah hati-hati di rumah ini, karena aku tidak akan tinggal lagi di sini," ucap Bima pamit .
"Eh tunggu! seenaknya saja kamu mau meninggalkan mamah di sini! mamah ikut kamu, walaupun Mamah nggak setuju dengan keputusanmu," ucap Mamah Nindy ketus.
"Cepatlah sedikit, karena waktunya nggak banyak."
Bima melangkah ke luar rumah seraya menyeret kopernya. Dia duduk di kursi depan rumah kontrakannya. Tak berapa lama, Mamah Nindy Dateng dengan kopernya pula.
"Bu, sebentar ya. Aku akan ke rumah yang punya kontrakan, untuk berpamitan dan memberikan kontak rumah ini."
__ADS_1
"Hem, seharusnya dari tadi. Jadi mamah tak perlu lagi menunggu seperti ini," rajuk mamah Nindy.
Namun Bima hanya diam saja, ia sama sekali tak mengatakan apa pun. Segera berlalu pergi dari hadapan mamahnya.
Beberapa menit kemudian...
Bima sudah datang dan ia pun lekas mengajak Mamahnya naik motor maticnya. Dua koper kecil di letakkan di depan motornya. Dan Mamah Nindy lekas membonceng Bima.
Dengan perlahan Bima melajukan motornya menuju ke rumah mewah yang ada di ujung desa tepatnya di sebuah perumahan elite. Pada saat Bima menghentikan motornya di depan sebuah rumah mewah, Mamah Nindy terkejut.
"Mah, turunlah. Kira sudah sampai, kenala mamah masih saja diam!"
Hingga pada akhirnya Mamah Nindy turun. Dan ia masih saja terpaku diam menatap bangunan rumah yang sangat megah.
"Bima, apa benar kita akan tinggal di rumah mewah ini? lantas bagaimana kamu akan membayar angsurannya? pasti mahal sekali bukan?" celotehnya.
"Ini inventaris dari kantor baruku, mah," ucap singkat Bima.
Dia pun membawa motornya ke sebuah garasi, dan mamah Nindy mengikutinya. Saat Bima membuka garasi mobilnya, Mamah Nindy terperangah pada saat melihat ada sebuah mobil mewah keluaran terbaru.
"Bima, apakah mobil itu juga inventaris kantor? lantas bagaimana bisa kamu mendapatkan inventaris rumah dan mobil mewah? apa sih pekerjaanmu, atau kedudukan dirimu di kantor baru itu?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut Mamah Nindy.
"Mah, nggak usah banyak pertanyaan dech. Yang terpenting sekarang kita tak lagi tinggal di rumah kontrakan. Bukankah itu yang mamah inginkan sejak dulu," ucap Bima kesal.
Bima lekas melangkah menuju ke depan pintu rumah. Tanpa ia lupa menutup kembali pintu garasinya.
Mamah Nindy mengikuti langkah kaki anaknya menuju ke pintu rumah. Walaupun di dalam hatinya masih di liputi oleh berbagai rasa penasaran.
"Apa susahnya sih, menjawab semua pertanyaanku? kenapa begini amat sih Bima! pelit dengan informasi tentang kedudukan dirinya di kantor barunya. Banyak sekali perubahan pada diri Bima. Dia sekarang dingin padaku,' batin Mamah Nindy.
__ADS_1
Dirinya benar-benar penasaran dengan jabatan Bima yang baru. Dan ia juga penasaran dimana saat ini Bima bekerja.
"Jika Bima tak mau mengatakan sejujurnya padaku tentang pekerjaan barunya. Aku yang akan mencari tahu sendiri, menyelidiki sendiri, lihat saja Bima, mamah pasti akan tahu kok," batin Mamah Nindy.