
Joni bertambah murung pada saat mendengar kata-kata Milka yang keluar dari mulut Arya," nggak usah membahas Milka, karena aku sudah mundur darinya. Aku nggak ingin lagi berharap padanya, karena semua itu hanyalah kesia-siaan belaka."
"Hem...masa sih? kok aku nggak percaya ya, dengan apa yang kdnu katakan barusan?" ejek Arya terkekeh.
"Heh, kalau kamu terus saja menertawakanku nanti anak yang di kandung Kiara, bisa mirip aku loh," ucap Joni menakut-nakuti Arya.
"Ist amit-amit dech, jangan sampai anakku mirip kamu yang baperan."
Kiara langsung mengusap beberapa kali perutnya.
"Hem, gitu ya? kita lihat saja ya jika kelak sudah lahir pasti ganteng mirip aku. Nggak mirip Arya yang jelek," ejek Joni mencibir ke arah Arya.
"Ganteng dari Hongkong? ganteng kok nggak laku-laku? masih mending aku, walaupun nggak ganteng tapi laku."
Terus saja Si Joni dan Si Arya terus saja saling mengejek satu sama lain. Hingga pada akhirnya Kiara pun bangkit dari duduknya dan ia melangkah pergi dari hadapan keduanya, sambil menggelengkan kepalanya.
"Lihatlah, gara-gara kamu terus saja mengejekku. Kiara jadi pergi kan?" ucap Arya.
"Hem... sudahlah Arya. Aku kesini hanya ingin berbagi cerita bahwa aku kenal seseorang yang sangat mirip dengan Milka, namanya Mayang."
Joni menunjukkan foto Mayang, yang sangat mirip dengan Milka pada Arya.
"Hem, jangan-jangan Mayang itu saudara kembar dari Milka yang telah hilang. Apa kamu nggak merasa curiga sih?" ucap Arya.
"Makanya aku cerita padamu. Aku juga agak curiga, tapi aku bingung apakah aku harus cerita ini pada orang tua Milka atau pada Milka, atau tak usah? menurutmu bagaimana?" tanya Joni meminta saran dari Arya.
Joni pria yang sudah dewasa, tetapi dia tak bisa mengambil keputusan sendiri. Selalu saja bertanya pada Arya dan Kiara. Selalu dan selalu seperti itu. Dia tak pernah bisa mengambil keputusan sendiri.
"Ikuti kata hatimi saja, nggak usah selalu bergantung dengan keputusan atau saran dari orang lain. Apa kamu selalu seperti ini pada saat belum kenal aku dan Kiara? karena ini berbahaya loh?"
"Karena nggak semua teman itu baik, bisa jadi menjerumuskan dengan memberikan suatu saran yang menjatuhkan."
Mendengar apa yang di katakan oleh Arya, sejenak Joni celingukan dan raut wajahnya berubah merona merah. Karena ia memang menyadari dirinya seperti itu.
"Hehehe... sebenarnya sebelum aku kenal kamu. Aku nggak seperti sekarang ini, aku selalu ambil keputusan sendiri," ucapnya tertunduk malu.
"Lantas kenapa sekarang kamu malah seperti ini? maaf ya Joni, bukan aku tak mau untuk memberimu saran setiap kamu curhat," ucap Arya.
"Entahlah, Arya. Sejak aku kenal kamu dan Kiara, aku lebih cocok dengan saran yang kamu dan Kiara berikan. Hehe..maaf ya Arya, aku selalu membuatmu dan Kiara repot," ucap Joni merasa tidak enak hati.
__ADS_1
Tak berapa lama, asisten rumah tangga datang membawa nampan berisi minuman dan cemilan.
Mereka terus saja bercengkrama panjang lebar, bahkan Joni sama sekali tidak merasa tersinggung dengan apa yang barusan dikatakan oleh Arya. Ia terus saja ngoceh cerita tentang Mayang pada, Arya. sebetulnya di dalam hati Arya kadang kala merasa bosan jika harus memberikan saran tentang pribadi yang sedang terjadi di dalam kehidupan Joni.
Satu jam berlalu...
Joni pun berpamitan pulang ke rumah. tetapi sebenarnya dia tidak pulang ke rumah melainkan ke rumah, Milka.
Dia ingin menemui orang tua Milka, guna menceritakan tentang Mayang.
Hanya beberapa menit saja Joni telah sampai di rumah Milka.
"Untuk apa Joni datang lagi ke rumahku lagi? apakah belum cukup kata-kata peringatan yang telah aku katakan padanya?" batin Milka.
"Joni, untuk apa kamu datang kemari?" tanya Milka ketus.
"Aku sudah menerima keputusan yang telah kamu berikan dan aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku kemari hanya ingin bertemu dengan orang tuamu karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan," ucap Joni seraya menghela napas panjang.
"Ada apa ini Milka? biarkan saja Joni masuk, kenapa kamu berkata ketus seperti itu?" tegur Papahnya.
Milka pun berlalu pergi dari hadapan Joni tanpa mengatakan apapun, sementara Papahnya yang menemuinya.
"Om, maaf sebelumnya ya? jika aku bertanya seputar pribadi. Apakah Milka punya saudara kembar?" tanya Joni penasaran.
"Kenapa kamu bertanya hal ini, Joni?" papahnya Milka malah balik bertanya.
"Karena saya bertemu dengan seseorang yang mirip sekali dengan Milka, om? gadis itu namanya Mayang, wajahnya mirip sekali dengan Milka bagai pinang dibelah dua," ucap Joni.
Bahkan tanpa ada rasa sungkan Joni menunjukkan foto Mayang kepada papah nya Milka. Sejenak papahnya Milka terdiam.
"Kamu bertemu dengan Mayang di mana, Joni?" tanya Papahnya Milka.
Joni menceritakan bahwa Mayang bekerja sebagai SPG perabotan rumah tangga dan pada waktu itu dia menawarkannya tersebut karena rumahnya.
"Joni, om harap kamu merahasiakan hal ini. Jangan ceritakan hal ini pada Milka atau mamahnya," ucapnya lirih.
Joni semakin tidak mengerti dengan apa yang barusan di katakan oleh Papahnya Milka.
"Kamu nggak usah membahas hal ini di sini. Sebaiknya kita pergi saja kesuatu tempat."
__ADS_1
Saat itu juga Papahnya Milka mengajak Joni pergi untuk keluar. Dan Joni pun tidak menolaknya. Mereka pergi ke sebuah cafe, dan di cafe itu Papahnya Milka menceritakan sebuah rahasia penting di masa lalu.
"Joni, sebenarnya memang Milka memiliki saudara kembar. Tetapi memang terpisah."
"Sebenarnya istriku ini bukanlah ibu kandung dari Milka. Tetapi pada saat ia melahirkan anaknya meninggal dunia."
"Dan kebetulan waktu itu, om juga punya istri siri. Yang sama-sama melahirkan juga tetapi anaknya kembar."
"Dan om ambil satu anaknya untuk menggantikan anak istri sah om yang meninggal dunia. Karena om nggak ingin istri sah om terguncang jiwanya jika tahu bayinya meninggal."
"Oh ya, kedua istriku sama sekali tidak ada yang tahu. Baim istri sah maupun istri siri. Istri siriku tahunya satu anaknya telah meninggal dunia."
"Sedangkan istri sahku tahunya anaknya sehat, padahal anak itu adalah anak kandung dari istri siriku."
"Keduanya juga tidak tahu jika aku punya dua istri. Istri sah tidak tahu jika aku punya istri siri. Dan istri siriku juga nggak tahu jika aku punya istri sah."
"Aku membuat mereka hidup terpisah supaya tidak ada kecurigaan satu sama lain. Hingga pada akhirnya aku menceraikan istri siriku begitu saja."
"Aku menyesal telah meninggalkan dirinya. Dan pada saat aku mencari keberadaan dirinya, ia sudah tidak ada di rumah itu. Aku tidak tahu lagi untuk mencarinya kemana."
Joni sempat bingung dengan cerita yang barusan di katakan oleh Papahnya Milka. Karena begitu rumit baginya. Dan Joni juga tidak menyangka jika papah Milka punya suatu rahasia kelam di masa lalu.
"Astaga... ternyata papahnya Milka seperti ini? aku sama sekali tidak percaya dengan semua ini. Haduh... kenapa aku bertemu dengan orang-orang aneh dan hidupnya rumit," batin Joni.
"Joni, janji ya? jangan mengatakan hal ini pada Milka atau pada Mamahnya. Dan juga kamu jangan mengatakan pada Mayang tentang aku. Jika kamu bertemu kembali dengan Mayang."
Joni hanya mengiyakan saja, karena ia tak ingin pusing. Mendengar kisahnya saja sudah membuat pusing tujuh keliling, apa lagi sampai turut campur dengan kisah rumit itu.
"Apakah sebaiknya aku jauhi saja Mayang ya? karena jika tidak suatu saat nanti pasti Mayang akan bertemu dengan keluarganya Milka. Tetapi aku ingin menjadikan Mayang istriku. Hah, pusing sekali diriku gara-gara hal ini," batin Joni.
Melihat diamnya Joni, Papahnya Milka pu heran," Joni, kamu kenapa diam?"
"Nggak apa-apa kok, om. Hanya saja kepalaku sedikit pusing," ucap Joni bohong.
"Hah, kok tiba-tiba kamu pusing? apakah karena mendengar ceritaku barusan?" tanyanya.
"Nggak kok, om. Aku benar-benar pusing secara tiba-tiba," ucap Joni.
Hingga pada akhirnya Papahnya Milka mengajak pulang Joni.
__ADS_1